<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975</id><updated>2011-11-22T08:49:21.258+07:00</updated><category term='politik'/><category term='sosialita'/><category term='puisi/kesah'/><category term='diaryku'/><category term='budaya'/><category term='filsafat'/><title type='text'>Hidden Treasure...</title><subtitle type='html'>bahwa...
kesendirian itu ibarat pusaka yang terpendam.
Ada, tapi tak ada yang tahu.
Ada, tapi tak ada yang mau tahu.
Maka lebih baik tidak ada.
Tapi aku ada dan aku ingin orang lain tahu dan untuk itu mereka jadi mau tahu, kalau aku....ada.

tapi aku bukan ada yang mengada
aku ada karena potensi
dari sebab sang maha penyebab ada...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4713538517786655245</id><published>2011-04-05T12:38:00.000+07:00</published><updated>2011-04-05T12:39:30.659+07:00</updated><title type='text'>PROGRAM-PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA</title><content type='html'>A. Pengurangan Resiko Bencana (PRB)- Disaster Risk Reduction&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pasal 5 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana dikatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah daerah menjadi penanggungjawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Tanggungjawab pemerintah dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana diantaranya adalah Pengurangan risiko bencana dan pemaduannya dengan program pembangunan. Sedangkan Pengurangan risiko bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 huruf b undang-undang yang sama, dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi bencana yang meliputi:&lt;br /&gt;a. pengenalan dan pemantauan risiko bencana;&lt;br /&gt;b. perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;&lt;br /&gt;c. pengembangan budaya sadar bencana;&lt;br /&gt;d. peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana; dan&lt;br /&gt;e. penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan  penanggulangan bencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 pasal 7 dikatakan bahwa Pengurangan risiko bencana merupakan kegiatan mengurangi ancaman dan kerentanan serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana. Pengurangan risiko bencana dilakukan melalui kegiatan:&lt;br /&gt;• Pengenalan dan pemantauan risiko bencana &lt;br /&gt;• Perencanaan partisipatif penanggulangan bencana &lt;br /&gt;• Pengembangan budaya sadar bencana &lt;br /&gt;• Peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana dan&lt;br /&gt;• Penerapan upaya fisik, non fisik dan pengaturan penanggulangan bencana &lt;br /&gt;• Pengkajian Risiko dan Kepedulian&lt;br /&gt;• analisis ancaman, kerentanan dan kemampuan&lt;br /&gt;• Pengembangan Pengetahuan; pendidikan, pelatihan, penelitian and informasi Komitmen Politik dan Kerangka Kelembagaan&lt;br /&gt;• organisasi, kebijakan, legislasi and aksi masyarakat&lt;br /&gt;• Upaya Penerapan terhadap; pengelolaan lingkungan, penataan ruang dan perencanaan kota, perlindungan fasilitas penting, penerapan iptek, kemitraan dan jejaring, serta lembaga keuangan. &lt;br /&gt;• Sistem Peringatan Dini yang mencakup; Peramalan, penyebaran peringatan, upaya kesiapan dan kemampuan tanggap darurat. &lt;br /&gt;• Mengintegrasikan PRB dalam Rencana Pembangunan Nasional &lt;br /&gt;• Kebijakan, Perundangan dan Pengaturan Kelembagaan untuk PRB &lt;br /&gt;• Rencana Kesiapan untuk Tanggap Darurat dan Pemulihan &lt;br /&gt;• Perencanaan PB dan Mitigasi &lt;br /&gt;• Membangun PRB di setiap tingkatan serta mengimplementasikan  proyek-proyek PRB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan PRB antara lain;&lt;br /&gt;• Meningkatkan kemampuan nasional dalam penanganan bencana, terutama pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan.  &lt;br /&gt;• Mengelola dan mengerahkan semua sumberdaya (SDM, prasarana dan sarana dalam pencegahan, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan.  &lt;br /&gt;• Memperkuat pemerintah daerah dalam mengantisipasi dan tanggap darurat bencana di wilayahnya. &lt;br /&gt;• Mengkoordinasikan parapelaku dan kegiatan dalam pengurangan risiko bencana. &lt;br /&gt;• Memadukan PRB dalam rencana pembangunan nasional dan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan pengurangan resiko bencana ini harus dibarengi dengan Penyusunan rencana aksi pengurangan risiko bencana, yang terdiri  Rencana aksi nasional PRB dan Rencana aksi daerah PRB. Rencana aksi disusun secara menyeluruh dan terpadu dalam suatu forum yg meliputi unsur dari pemerintah, non pemerintah, masyarakat dan lembaga usaha yang dikoordinasikan oleh BNPB dan atau BPBD. Penyusunan rencana aksi pengurangan resiko bencana juga menjadi kerangka konseptual dari berbagai elemen yang dianggap dapat mengurangi kerentanan dan risiko bencana dalam suatu komunitas, untuk mencegah (preventif) dan mengurangi (mitigasi) dampak yang tidak diinginkan dari ancaman, dalam konteks yang luas dari pembangunan berkelanjutan  (UN-ISDR, 2004).  Sebelumnya, upaya penanggulangan bencana melalui pengurangan resiko bencana ini sudah dijalankan diberbagai negara, diantaranya;&lt;br /&gt;• International Decade for Natural Disaster Reduction (IDNDR), 1990-2000&lt;br /&gt;• World Conference on Natural Disaster Reduction, Yokohama,  1994&lt;br /&gt;• International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR),  2000&lt;br /&gt;• World Conference for Disaster Reduction (WCDR) in Kobe, 2005&lt;br /&gt;• Global Platform for Disaster Risk Reduction&lt;br /&gt;• Asian Minister Conference for DRR &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRB harus menjalin kemitraan dengan berbagai instansi lainnya guna mempermudah akses-akses yang diperlukan dalam kondisi bencana. Kemitraan tersebut dapat dibentuk dalam mekanisme koordinasi dan arahan kebijakan PRB, yang bersifat multi-sektor, lintas disiplin melibatkan partisipasi publik, swasta dan masyarakat sipil dan badan-badan terkait di suatu daerah (termasuk badan-badan PBB). Diantaranya;&lt;br /&gt;• Kementerian/Lembaga terkait &lt;br /&gt;• Badan Penanggulangan Bencana &lt;br /&gt;• Lembaga ilmiah dan akademisi &lt;br /&gt;• LSM (Masyarakat Sipil)&lt;br /&gt;• Palang Merah/Bulan Sabit Merah &lt;br /&gt;• Lembaga Usaha&lt;br /&gt;• Media&lt;br /&gt;• Sektor-sektor lain yng terkait &lt;br /&gt;Adapun wujud implementatif dari dibuatnya PRB antara lain;&lt;br /&gt;- Membentuk tim reaksi cepat&lt;br /&gt;- membuat PRB berbasis sekolah, atau biasa disebut  Pendidikan Siaga Bencana (PSB) dalam bentuk Sekolah Siaga Bencana (SSB)&lt;br /&gt;- membentuk Desa Siaga Bencana&lt;br /&gt;- Kampanye, Seminar dan Lokakarya&lt;br /&gt;- Simulasi, drill dan Capacity Building Skill, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SEKOLAH SIAGA BENCANA (SSB)-School Disaster Preparedness&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu wujud penerapan dari PRB adalah dibentuknya Sekolah Siaga Bencana atau SSB. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2003, menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengedalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Kegiatan pengurangan risiko bencana  sebagaimana dimandatkan oleh Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana harus terintegrasi ke dalam program pembangunan, termasuk dalam sektor pendidikan. Ditegaskan pula dalam undang-undang tersebut bahwa pendidikan menjadi salah satu faktor penentu dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. &lt;br /&gt;Mengapa pengurangan resiko bencana harus dilakukan disekolah? Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain; sekolah adalah tempat pendidikan bagi anak-anak bangsa. Dan anak-anak merupakan bagian kelompok yang sangat rentan bencana. Akibat bencana, pendidikan anak-anak menjadi terlantar, terlebih lagi kita belum memiliki metode pendidikan yang standar yang bisa diterapkan pada kondisi pasca bencana. Sekalipun ada, belum tersosialisasikan dengan baik. Karena itulah diperlukan pendidikan yang berbasis krisis sebagai acuan bagi guru untuk melakukan model pembelajaran yang sesuai dengan situasi yang dihadapi.  Disisi lain, Sekolah adalah pusat belajar dan pusat keunggulan yang memiliki sistem baku. Melalui sekolah cikal bakal lahirnya generasi yang sadar akan budaya keselamatan. Di sekolah juga sering dijadikan sebagai tempat evakuasi aman sementara pada saat bencana. Serta nuansa pembelajaran PRB di sekolah bisa menjadi investasi masa depan dalam menyelamatkan manusia dari ancaman bencana. &lt;br /&gt;Berdasarkan Surat Edaran MENDIKNAS No. 70a/SE/MPN/2010 mengenai Pengarusutamaan PRB di Sekolah menghimbau kepada para Gubernur, Walikota dan Bupati di Seluruh Indonesia untuk menyelenggarakan penanggulangan bencana di Sekolah melalui 3 hal yaitu: &lt;br /&gt;1. Pemberdayaan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolah, &lt;br /&gt;2. Pengintegrasian PRB ke dalam kurikulum satuan pendidikan formal, baik intra maupun ekstra kurikuler; &lt;br /&gt;3. Membangun kemitraan dan jaringan antar pihak untuk mendukung pelaksanaan PRB di sekolah. &lt;br /&gt;Penyelenggaraan penanggulangan bencana di sekolah ini mengacu pada pedoman yang telah disusun oleh Pusat Kurikulum berupa 15 modul ajar dan 1 modul pelatihan pengintegrasian PRB ke dalam system pendidikan. 15 modul ajar tersebut terdiri atas modul ajar untuk guru SD, SMP dan SMA yang mencakup 5 topik ancaman bencana yaitu Gempa, Tsunami, Longsor, Kebakaran dan Banjir; yang berisi cara-cara untuk menyusun silabus dan indicator serta model ajar dalam pengintegrasian PRB ke mata pelajaran, muatan lokal dan ekstra kurikuler.&lt;br /&gt;PRB berbasis sekolah bertujuan untuk menciptakan sekolah yang aman bencana (Building Disaster Resilience Schools) sehingga anak-anak akan tetap bisa menikmati haknya akan pendidikan. Sekolah yang aman dapat di artikan banyak hal;&lt;br /&gt;• Komunitas sekolah yang mengenali resiko bencana di lingkungannya &lt;br /&gt;• Sekolah yang menerapkan prosedur keselamatan &lt;br /&gt;• Bangunan sekolah yang dirancang memperhitungkan resiko bencana &lt;br /&gt;• Komunitas sekolah yang secara berkala berlatih siaga bencana &lt;br /&gt;Sekolah aman adalah sekolah yang Siaga Bencana, tujuannya antara lain:&lt;br /&gt;1. Memberikan bekal pengetahuan kepada peserta didik tentang adanya risiko bencana yang ada di lingkungannya, berbagai macam jenis bencana, dan cara-cara mengantisipasi/mengurangi risiko yang ditimbulkannya. &lt;br /&gt;2. Memberikan keterampilan agar peserta didik mampu berperan aktif dalam pengurangan risiko bencana baik pada diri sendiri dan lingkungannya&lt;br /&gt;3. Memberikan bekal sikap mental yang positif tentang potensi bencana dan risiko yang mungkin ditimbulkan.&lt;br /&gt;4. Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang bencana di Indonesia kepada siswa sejak dini. &lt;br /&gt;5. Memberikan pemahaman kepada guru tentang bencana, dampak bencana, penyelamatan diri bila terjadi bencana.&lt;br /&gt;6. Memberikan keterampilan kepada guru dalam menyusun perencanaan, melaksanakan dan melakukan pendidikan bencana kepada siswa.&lt;br /&gt;7. Memberikan wawasan, pengetahuan dan pemahaman bagi pihak terkait, sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan terhadap kelancaran pelaksanaan pembelajaran tentang bencana. (www.MPBI.org)&lt;br /&gt;Agar PRB disekolah dapat segera diselenggarakan, perlu diadakan pelatihan atau TOT (Training for Trainer) bagi guru-guru dan tim pengembang kurikulum di tingkat nasional dan lokal. Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan memberdayakan peran komunitas sekolah dalam menyelenggarakan penanggulangan bencana di lingkungan sekolah. Dalam pelatihan itu para peserta akan mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan mengenai cara mengintegrasikan pengetahuan PRB ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan ekstra kurikuler; menyusun rencana aksi sekolah tentang PRB; cara mengidentifikasi risiko bencana, ancaman, kerentanan dan kapasitas sekolah; serta melakukan analisis konteks untuk mengidentifikasi stakeholders yang dapat membantu dalam memobilisasi sumberdaya yang diperlukan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di lingkungan sekolah. Pelatihan ini diharapkan dapat mencetak para fasilitator atau pelatih yang dapat menyebarluaskan ilmu, pengetahuan dan ketrampilan tersebut kepada guru-guru dan komunitas sekolah lainnya di lingkungannya masing-masing.&lt;br /&gt;Selanjutnya para peserta diharapkan dapat menyelesaikan draft Rencana Aksi Sekolah tentang PRB yang telah disusun oleh masing-masing peserta sekolah selama pelatihan untuk difinalisasi pada kegiatan pendampingan yang akan diselenggarakan oleh Pusat Kurikulum dalam satu bulan ke depan. Diharapkan setelah finalisasi tersebut Rencana Aksi Sekolah PRB dapat dilaksanakan oleh masing-masing sekolah sebagai bentuk operasionalisasi dari mandat Surat Edaran MENDIKNAS tentang Pengarusutamaan PRB di Sekolah, dan dapat direplikasi oleh sekolah lain di daerahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4713538517786655245?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4713538517786655245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4713538517786655245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4713538517786655245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4713538517786655245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2011/04/program-program-penanggulangan-bencana.html' title='PROGRAM-PROGRAM PENANGGULANGAN BENCANA'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-2463904715664081726</id><published>2011-04-05T12:12:00.002+07:00</published><updated>2011-04-05T12:36:24.880+07:00</updated><title type='text'>Nicomachean Ethics, by Aristotle</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;omachean Ethics, by Aristotle&lt;/title&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="dc.Title" content="Nicomachean Ethics"&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="dc.Creator" content="Aristotle"&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="dc.Contributor" content="Ross, W. D. (William David), 1877-1971"&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="dc.Description" content="Nicomachean Ethics, by Aristotle"&gt;&lt;a onclick="if (this.className.indexOf(&amp;quot;ubtn-disabled&amp;quot;) == -1) {var e = document['stuffform'].publish;(e.length) ? e[0].click() : e.click(); if (window.event) window.event.cancelBubble = true; return false;}" id="publishButton" class="cssButton" href="javascript:void(0)" target=""&gt;&lt;div class="cssButtonOuter"&gt;&lt;div class="cssButtonMiddle"&gt;&lt;div class="cssButtonInner"&gt;Publish Post&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta name="dc.Description.TableofContents" content=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="book1" class="chapter" title="Book I"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;Nicomachean Ethics, by Aristotle&lt;/h1&gt;Book I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="1"&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;EVERY art and every inquiry, and similarly every action and pursuit, is thought to aim at some good; and for this reason&lt;br /&gt;the good has rightly been declared to be that at which all things aim. But a certain difference is found among ends; some&lt;br /&gt;are activities, others are products apart from the activities that produce them. Where there are ends apart from the&lt;br /&gt;actions, it is the nature of the products to be better than the activities. Now, as there are many actions, arts, and&lt;br /&gt;sciences, their ends also are many; the end of the medical art is health, that of shipbuilding a vessel, that of strategy&lt;br /&gt;victory, that of economics wealth. But where such arts fall under a single capacity — as bridle-making and the other arts&lt;br /&gt;concerned with the equipment of horses fall under the art of riding, and this and every military action under strategy, in&lt;br /&gt;the same way other arts fall under yet others — in all of these the ends of the master arts are to be preferred to all the&lt;br /&gt;subordinate ends; for it is for the sake of the former that the latter are pursued. It makes no difference whether the&lt;br /&gt;activities themselves are the ends of the actions, or something else apart from the activities, as in the case of the&lt;br /&gt;sciences just mentioned.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="2"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;2&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;If, then, there is some end of the things we do, which we desire for its own sake (everything else being desired for the&lt;br /&gt;sake of this), and if we do not choose everything for the sake of something else (for at that rate the process would go on&lt;br /&gt;to infinity, so that our desire would be empty and vain), clearly this must be the good and the chief good. Will not the&lt;br /&gt;knowledge of it, then, have a great influence on life? Shall we not, like archers who have a mark to aim at, be more likely&lt;br /&gt;to hit upon what is right? If so, we must try, in outline at least, to determine what it is, and of which of the sciences or&lt;br /&gt;capacities it is the object. It would seem to belong to the most authoritative art and that which is most truly the master&lt;br /&gt;art. And politics appears to be of this nature; for it is this that ordains which of the sciences should be studied in a&lt;br /&gt;state, and which each class of citizens should learn and up to what point they should learn them; and we see even the most&lt;br /&gt;highly esteemed of capacities to fall under this, e.g. strategy, economics, rhetoric; now, since politics uses the rest of&lt;br /&gt;the sciences, and since, again, it legislates as to what we are to do and what we are to abstain from, the end of this&lt;br /&gt;science must include those of the others, so that this end must be the good for man. For even if the end is the same for a&lt;br /&gt;single man and for a state, that of the state seems at all events something greater and more complete whether to attain or&lt;br /&gt;to preserve; though it is worth while to attain the end merely for one man, it is finer and more godlike to attain it for a&lt;br /&gt;nation or for city-states. These, then, are the ends at which our inquiry aims, since it is political science, in one sense&lt;br /&gt;of that term.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="3"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;3&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Our discussion will be adequate if it has as much clearness as the subject-matter admits of, for precision is not to be&lt;br /&gt;sought for alike in all discussions, any more than in all the products of the crafts. Now fine and just actions, which&lt;br /&gt;political science investigates, admit of much variety and fluctuation of opinion, so that they may be thought to exist only&lt;br /&gt;by convention, and not by nature. And goods also give rise to a similar fluctuation because they bring harm to many people;&lt;br /&gt;for before now men have been undone by reason of their wealth, and others by reason of their courage. We must be content,&lt;br /&gt;then, in speaking of such subjects and with such premisses to indicate the truth roughly and in outline, and in speaking&lt;br /&gt;about things which are only for the most part true and with premisses of the same kind to reach conclusions that are no&lt;br /&gt;better. In the same spirit, therefore, should each type of statement be received; for it is the mark of an educated man to&lt;br /&gt;look for precision in each class of things just so far as the nature of the subject admits; it is evidently equally foolish&lt;br /&gt;to accept probable reasoning from a mathematician and to demand from a rhetorician scientific proofs.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Now each man judges well the things he knows, and of these he is a good judge. And so the man who has been educated in a&lt;br /&gt;subject is a good judge of that subject, and the man who has received an all-round education is a good judge in general.&lt;br /&gt;Hence a young man is not a proper hearer of lectures on political science; for he is inexperienced in the actions that occur&lt;br /&gt;in life, but its discussions start from these and are about these; and, further, since he tends to follow his passions, his&lt;br /&gt;study will be vain and unprofitable, because the end aimed at is not knowledge but action. And it makes no difference&lt;br /&gt;whether he is young in years or youthful in character; the defect does not depend on time, but on his living, and pursuing&lt;br /&gt;each successive object, as passion directs. For to such persons, as to the incontinent, knowledge brings no profit; but to&lt;br /&gt;those who desire and act in accordance with a rational principle knowledge about such matters will be of great benefit.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;These remarks about the student, the sort of treatment to be expected, and the purpose of the inquiry, may be taken as&lt;br /&gt;our preface.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="4"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;4&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Let us resume our inquiry and state, in view of the fact that all knowledge and every pursuit aims at some good, what it&lt;br /&gt;is that we say political science aims at and what is the highest of all goods achievable by action. Verbally there is very&lt;br /&gt;general agreement; for both the general run of men and people of superior refinement say that it is happiness, and identify&lt;br /&gt;living well and doing well with being happy; but with regard to what happiness is they differ, and the many do not give the&lt;br /&gt;same account as the wise. For the former think it is some plain and obvious thing, like pleasure, wealth, or honour; they&lt;br /&gt;differ, however, from one another — and often even the same man identifies it with different things, with health when he is&lt;br /&gt;ill, with wealth when he is poor; but, conscious of their ignorance, they admire those who proclaim some great ideal that is&lt;br /&gt;above their comprehension. Now some thought that apart from these many goods there is another which is self-subsistent and&lt;br /&gt;causes the goodness of all these as well. To examine all the opinions that have been held were perhaps somewhat fruitless;&lt;br /&gt;enough to examine those that are most prevalent or that seem to be arguable.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Let us not fail to notice, however, that there is a difference between arguments from and those to the first principles.&lt;br /&gt;For Plato, too, was right in raising this question and asking, as he used to do, ‘are we on the way from or to the first&lt;br /&gt;principles?’ There is a difference, as there is in a race-course between the course from the judges to the turning-point and&lt;br /&gt;the way back. For, while we must begin with what is known, things are objects of knowledge in two sensessome to us, some&lt;br /&gt;without qualification. Presumably, then, we must begin with things known to us. Hence any one who is to listen intelligently&lt;br /&gt;to lectures about what is noble and just, and generally, about the subjects of political science must have been brought up&lt;br /&gt;in good habits. For the fact is the starting-point, and if this is sufficiently plain to him, he will not at the start need&lt;br /&gt;the reason as well; and the man who has been well brought up has or can easily get startingpoints. And as for him who&lt;br /&gt;neither has nor can get them, let him hear the words of Hesiod:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="quote"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Far best is he who knows all things himself;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Good, he that hearkens when men counsel right;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But he who neither knows, nor lays to heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another’s wisdom, is a useless wight.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="5"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;5&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Let us, however, resume our discussion from the point at which we digressed. To judge from the lives that men lead, most&lt;br /&gt;men, and men of the most vulgar type, seem (not without some ground) to identify the good, or happiness, with pleasure;&lt;br /&gt;which is the reason why they love the life of enjoyment. For there are, we may say, three prominent types of life — that&lt;br /&gt;just mentioned, the political, and thirdly the contemplative life. Now the mass of mankind are evidently quite slavish in&lt;br /&gt;their tastes, preferring a life suitable to beasts, but they get some ground for their view from the fact that many of those&lt;br /&gt;in high places share the tastes of Sardanapallus. A consideration of the prominent types of life shows that people of&lt;br /&gt;superior refinement and of active disposition identify happiness with honour; for this is, roughly speaking, the end of the&lt;br /&gt;political life. But it seems too superficial to be what we are looking for, since it is thought to depend on those who&lt;br /&gt;bestow honour rather than on him who receives it, but the good we divine to be something proper to a man and not easily&lt;br /&gt;taken from him. Further, men seem to pursue honour in order that they may be assured of their goodness; at least it is by&lt;br /&gt;men of practical wisdom that they seek to be honoured, and among those who know them, and on the ground of their virtue;&lt;br /&gt;clearly, then, according to them, at any rate, virtue is better. And perhaps one might even suppose this to be, rather than&lt;br /&gt;honour, the end of the political life. But even this appears somewhat incomplete; for possession of virtue seems actually&lt;br /&gt;compatible with being asleep, or with lifelong inactivity, and, further, with the greatest sufferings and misfortunes; but a&lt;br /&gt;man who was living so no one would call happy, unless he were maintaining a thesis at all costs. But enough of this; for the&lt;br /&gt;subject has been sufficiently treated even in the current discussions. Third comes the contemplative life, which we shall&lt;br /&gt;consider later.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;The life of money-making is one undertaken under compulsion, and wealth is evidently not the good we are seeking; for it&lt;br /&gt;is merely useful and for the sake of something else. And so one might rather take the aforenamed objects to be ends; for&lt;br /&gt;they are loved for themselves. But it is evident that not even these are ends; yet many arguments have been thrown away in&lt;br /&gt;support of them. Let us leave this subject, then.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="6"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;6&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;We had perhaps better consider the universal good and discuss thoroughly what is meant by it, although such an inquiry is&lt;br /&gt;made an uphill one by the fact that the Forms have been introduced by friends of our own. Yet it would perhaps be thought to&lt;br /&gt;be better, indeed to be our duty, for the sake of maintaining the truth even to destroy what touches us closely, especially&lt;br /&gt;as we are philosophers or lovers of wisdom; for, while both are dear, piety requires us to honour truth above our&lt;br /&gt;friends.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;The men who introduced this doctrine did not posit Ideas of classes within which they recognized priority and&lt;br /&gt;posteriority (which is the reason why they did not maintain the existence of an Idea embracing all numbers); but the term&lt;br /&gt;‘good’ is used both in the category of substance and in that of quality and in that of relation, and that which is per se,&lt;br /&gt;i.e. substance, is prior in nature to the relative (for the latter is like an off shoot and accident of being); so that&lt;br /&gt;there could not be a common Idea set over all these goods. Further, since ‘good’ has as many senses as ‘being’ (for it is&lt;br /&gt;predicated both in the category of substance, as of God and of reason, and in quality, i.e. of the virtues, and in quantity,&lt;br /&gt;i.e. of that which is moderate, and in relation, i.e. of the useful, and in time, i.e. of the right opportunity, and in&lt;br /&gt;place, i.e. of the right locality and the like), clearly it cannot be something universally present in all cases and single;&lt;br /&gt;for then it could not have been predicated in all the categories but in one only. Further, since of the things answering to&lt;br /&gt;one Idea there is one science, there would have been one science of all the goods; but as it is there are many sciences even&lt;br /&gt;of the things that fall under one category, e.g. of opportunity, for opportunity in war is studied by strategics and in&lt;br /&gt;disease by medicine, and the moderate in food is studied by medicine and in exercise by the science of gymnastics. And one&lt;br /&gt;might ask the question, what in the world they mean by ‘a thing itself’, is (as is the case) in ‘man himself’ and in a&lt;br /&gt;particular man the account of man is one and the same. For in so far as they are man, they will in no respect differ; and if&lt;br /&gt;this is so, neither will ‘good itself’ and particular goods, in so far as they are good. But again it will not be good any&lt;br /&gt;the more for being eternal, since that which lasts long is no whiter than that which perishes in a day. The Pythagoreans&lt;br /&gt;seem to give a more plausible account of the good, when they place the one in the column of goods; and it is they that&lt;br /&gt;Speusippus seems to have followed.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;But let us discuss these matters elsewhere; an objection to what we have said, however, may be discerned in the fact that&lt;br /&gt;the Platonists have not been speaking about all goods, and that the goods that are pursued and loved for themselves are&lt;br /&gt;called good by reference to a single Form, while those which tend to produce or to preserve these somehow or to prevent&lt;br /&gt;their contraries are called so by reference to these, and in a secondary sense. Clearly, then, goods must be spoken of in&lt;br /&gt;two ways, and some must be good in themselves, the others by reason of these. Let us separate, then, things good in&lt;br /&gt;themselves from things useful, and consider whether the former are called good by reference to a single Idea. What sort of&lt;br /&gt;goods would one call good in themselves? Is it those that are pursued even when isolated from others, such as intelligence,&lt;br /&gt;sight, and certain pleasures and honours? Certainly, if we pursue these also for the sake of something else, yet one would&lt;br /&gt;place them among things good in themselves. Or is nothing other than the Idea of good good in itself? In that case the Form&lt;br /&gt;will be empty. But if the things we have named are also things good in themselves, the account of the good will have to&lt;br /&gt;appear as something identical in them all, as that of whiteness is identical in snow and in white lead. But of honour,&lt;br /&gt;wisdom, and pleasure, just in respect of their goodness, the accounts are distinct and diverse. The good, therefore, is not&lt;br /&gt;some common element answering to one Idea.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;But what then do we mean by the good? It is surely not like the things that only chance to have the same name. Are goods&lt;br /&gt;one, then, by being derived from one good or by all contributing to one good, or are they rather one by analogy? Certainly&lt;br /&gt;as sight is in the body, so is reason in the soul, and so on in other cases. But perhaps these subjects had better be&lt;br /&gt;dismissed for the present; for perfect precision about them would be more appropriate to another branch of philosophy. And&lt;br /&gt;similarly with regard to the Idea; even if there is some one good which is universally predicable of goods or is capable of&lt;br /&gt;separate and independent existence, clearly it could not be achieved or attained by man; but we are now seeking something&lt;br /&gt;attainable. Perhaps, however, some one might think it worth while to recognize this with a view to the goods that are&lt;br /&gt;attainable and achievable; for having this as a sort of pattern we shall know better the goods that are good for us, and if&lt;br /&gt;we know them shall attain them. This argument has some plausibility, but seems to clash with the procedure of the sciences;&lt;br /&gt;for all of these, though they aim at some good and seek to supply the deficiency of it, leave on one side the knowledge of&lt;br /&gt;the good. Yet that all the exponents of the arts should be ignorant of, and should not even seek, so great an aid is not&lt;br /&gt;probable. It is hard, too, to see how a weaver or a carpenter will be benefited in regard to his own craft by knowing this&lt;br /&gt;‘good itself’, or how the man who has viewed the Idea itself will be a better doctor or general thereby. For a doctor seems&lt;br /&gt;not even to study health in this way, but the health of man, or perhaps rather the health of a particular man; it is&lt;br /&gt;individuals that he is healing. But enough of these topics.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="7"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;7&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Let us again return to the good we are seeking, and ask what it can be. It seems different in different actions and arts;&lt;br /&gt;it is different in medicine, in strategy, and in the other arts likewise. What then is the good of each? Surely that for&lt;br /&gt;whose sake everything else is done. In medicine this is health, in strategy victory, in architecture a house, in any other&lt;br /&gt;sphere something else, and in every action and pursuit the end; for it is for the sake of this that all men do whatever else&lt;br /&gt;they do. Therefore, if there is an end for all that we do, this will be the good achievable by action, and if there are more&lt;br /&gt;than one, these will be the goods achievable by action.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;So the argument has by a different course reached the same point; but we must try to state this even more clearly. Since&lt;br /&gt;there are evidently more than one end, and we choose some of these (e.g. wealth, flutes, and in general instruments) for the&lt;br /&gt;sake of something else, clearly not all ends are final ends; but the chief good is evidently something final. Therefore, if&lt;br /&gt;there is only one final end, this will be what we are seeking, and if there are more than one, the most final of these will&lt;br /&gt;be what we are seeking. Now we call that which is in itself worthy of pursuit more final than that which is worthy of&lt;br /&gt;pursuit for the sake of something else, and that which is never desirable for the sake of something else more final than the&lt;br /&gt;things that are desirable both in themselves and for the sake of that other thing, and therefore we call final without&lt;br /&gt;qualification that which is always desirable in itself and never for the sake of something else.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Now such a thing happiness, above all else, is held to be; for this we choose always for self and never for the sake of&lt;br /&gt;something else, but honour, pleasure, reason, and every virtue we choose indeed for themselves (for if nothing resulted from&lt;br /&gt;them we should still choose each of them), but we choose them also for the sake of happiness, judging that by means of them&lt;br /&gt;we shall be happy. Happiness, on the other hand, no one chooses for the sake of these, nor, in general, for anything other&lt;br /&gt;than itself.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;From the point of view of self-sufficiency the same result seems to follow; for the final good is thought to be&lt;br /&gt;self-sufficient. Now by self-sufficient we do not mean that which is sufficient for a man by himself, for one who lives a&lt;br /&gt;solitary life, but also for parents, children, wife, and in general for his friends and fellow citizens, since man is born&lt;br /&gt;for citizenship. But some limit must be set to this; for if we extend our requirement to ancestors and descendants and&lt;br /&gt;friends’ friends we are in for an infinite series. Let us examine this question, however, on another occasion; the&lt;br /&gt;self-sufficient we now define as that which when isolated makes life desirable and lacking in nothing; and such we think&lt;br /&gt;happiness to be; and further we think it most desirable of all things, without being counted as one good thing among others&lt;br /&gt;— if it were so counted it would clearly be made more desirable by the addition of even the least of goods; for that which&lt;br /&gt;is added becomes an excess of goods, and of goods the greater is always more desirable. Happiness, then, is something final&lt;br /&gt;and self-sufficient, and is the end of action.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Presumably, however, to say that happiness is the chief good seems a platitude, and a clearer account of what it is still&lt;br /&gt;desired. This might perhaps be given, if we could first ascertain the function of man. For just as for a flute-player, a&lt;br /&gt;sculptor, or an artist, and, in general, for all things that have a function or activity, the good and the ‘well’ is thought&lt;br /&gt;to reside in the function, so would it seem to be for man, if he has a function. Have the carpenter, then, and the tanner&lt;br /&gt;certain functions or activities, and has man none? Is he born without a function? Or as eye, hand, foot, and in general each&lt;br /&gt;of the parts evidently has a function, may one lay it down that man similarly has a function apart from all these? What then&lt;br /&gt;can this be? Life seems to be common even to plants, but we are seeking what is peculiar to man. Let us exclude, therefore,&lt;br /&gt;the life of nutrition and growth. Next there would be a life of perception, but it also seems to be common even to the&lt;br /&gt;horse, the ox, and every animal. There remains, then, an active life of the element that has a rational principle; of this,&lt;br /&gt;one part has such a principle in the sense of being obedient to one, the other in the sense of possessing one and exercising&lt;br /&gt;thought. And, as ‘life of the rational element’ also has two meanings, we must state that life in the sense of activity is&lt;br /&gt;what we mean; for this seems to be the more proper sense of the term. Now if the function of man is an activity of soul&lt;br /&gt;which follows or implies a rational principle, and if we say ‘so-and-so-and ‘a good so-and-so’ have a function which is the&lt;br /&gt;same in kind, e.g. a lyre, and a good lyre-player, and so without qualification in all cases, eminence in respect of&lt;br /&gt;goodness being idded to the name of the function (for the function of a lyre-player is to play the lyre, and that of a good&lt;br /&gt;lyre-player is to do so well): if this is the case, and we state the function of man to be a certain kind of life, and this&lt;br /&gt;to be an activity or actions of the soul implying a rational principle, and the function of a good man to be the good and&lt;br /&gt;noble performance of these, and if any action is well performed when it is performed in accordance with the appropriate&lt;br /&gt;excellence: if this is the case, human good turns out to be activity of soul in accordance with virtue, and if there are&lt;br /&gt;more than one virtue, in accordance with the best and most complete.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;But we must add ‘in a complete life.’ For one swallow does not make a summer, nor does one day; and so too one day, or a&lt;br /&gt;short time, does not make a man blessed and happy.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Let this serve as an outline of the good; for we must presumably first sketch it roughly, and then later fill in the&lt;br /&gt;details. But it would seem that any one is capable of carrying on and articulating what has once been well outlined, and&lt;br /&gt;that time is a good discoverer or partner in such a work; to which facts the advances of the arts are due; for any one can&lt;br /&gt;add what is lacking. And we must also remember what has been said before, and not look for precision in all things alike,&lt;br /&gt;but in each class of things such precision as accords with the subject-matter, and so much as is appropriate to the inquiry.&lt;br /&gt;For a carpenter and a geometer investigate the right angle in different ways; the former does so in so far as the right&lt;br /&gt;angle is useful for his work, while the latter inquires what it is or what sort of thing it is; for he is a spectator of the&lt;br /&gt;truth. We must act in the same way, then, in all other matters as well, that our main task may not be subordinated to minor&lt;br /&gt;questions. Nor must we demand the cause in all matters alike; it is enough in some cases that the fact be well established,&lt;br /&gt;as in the case of the first principles; the fact is the primary thing or first principle. Now of first principles we see&lt;br /&gt;some by induction, some by perception, some by a certain habituation, and others too in other ways. But each set of&lt;br /&gt;principles we must try to investigate in the natural way, and we must take pains to state them definitely, since they have a&lt;br /&gt;great influence on what follows. For the beginning is thought to be more than half of the whole, and many of the questions&lt;br /&gt;we ask are cleared up by it.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="8"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;8&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;We must consider it, however, in the light not only of our conclusion and our premisses, but also of what is commonly&lt;br /&gt;said about it; for with a true view all the data harmonize, but with a false one the facts soon clash. Now goods have been&lt;br /&gt;divided into three classes, and some are described as external, others as relating to soul or to body; we call those that&lt;br /&gt;relate to soul most properly and truly goods, and psychical actions and activities we class as relating to soul. Therefore&lt;br /&gt;our account must be sound, at least according to this view, which is an old one and agreed on by philosophers. It is correct&lt;br /&gt;also in that we identify the end with certain actions and activities; for thus it falls among goods of the soul and not&lt;br /&gt;among external goods. Another belief which harmonizes with our account is that the happy man lives well and does well; for&lt;br /&gt;we have practically defined happiness as a sort of good life and good action. The characteristics that are looked for in&lt;br /&gt;happiness seem also, all of them, to belong to what we have defined happiness as being. For some identify happiness with&lt;br /&gt;virtue, some with practical wisdom, others with a kind of philosophic wisdom, others with these, or one of these,&lt;br /&gt;accompanied by pleasure or not without pleasure; while others include also external prosperity. Now some of these views have&lt;br /&gt;been held by many men and men of old, others by a few eminent persons; and it is not probable that either of these should be&lt;br /&gt;entirely mistaken, but rather that they should be right in at least some one respect or even in most respects.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;With those who identify happiness with virtue or some one virtue our account is in harmony; for to virtue belongs&lt;br /&gt;virtuous activity. But it makes, perhaps, no small difference whether we place the chief good in possession or in use, in&lt;br /&gt;state of mind or in activity. For the state of mind may exist without producing any good result, as in a man who is asleep&lt;br /&gt;or in some other way quite inactive, but the activity cannot; for one who has the activity will of necessity be acting, and&lt;br /&gt;acting well. And as in the Olympic Games it is not the most beautiful and the strongest that are crowned but those who&lt;br /&gt;compete (for it is some of these that are victorious), so those who act win, and rightly win, the noble and good things in&lt;br /&gt;life.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Their life is also in itself pleasant. For pleasure is a state of soul, and to each man that which he is said to be a&lt;br /&gt;lover of is pleasant; e.g. not only is a horse pleasant to the lover of horses, and a spectacle to the lover of sights, but&lt;br /&gt;also in the same way just acts are pleasant to the lover of justice and in general virtuous acts to the lover of virtue. Now&lt;br /&gt;for most men their pleasures are in conflict with one another because these are not by nature pleasant, but the lovers of&lt;br /&gt;what is noble find pleasant the things that are by nature pleasant; and virtuous actions are such, so that these are&lt;br /&gt;pleasant for such men as well as in their own nature. Their life, therefore, has no further need of pleasure as a sort of&lt;br /&gt;adventitious charm, but has its pleasure in itself. For, besides what we have said, the man who does not rejoice in noble&lt;br /&gt;actions is not even good; since no one would call a man just who did not enjoy acting justly, nor any man liberal who did&lt;br /&gt;not enjoy liberal actions; and similarly in all other cases. If this is so, virtuous actions must be in themselves pleasant.&lt;br /&gt;But they are also good and noble, and have each of these attributes in the highest degree, since the good man judges well&lt;br /&gt;about these attributes; his judgement is such as we have described. Happiness then is the best, noblest, and most pleasant&lt;br /&gt;thing in the world, and these attributes are not severed as in the inscription at Delos&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="quote"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Most noble is that which is justest, and best is health;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But pleasantest is it to win what we love.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;For all these properties belong to the best activities; and these, or one — the best — of these, we identify with&lt;br /&gt;happiness.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yet evidently, as we said, it needs the external goods as well; for it is impossible, or not easy, to do noble acts&lt;br /&gt;without the proper equipment. In many actions we use friends and riches and political power as instruments; and there are&lt;br /&gt;some things the lack of which takes the lustre from happiness, as good birth, goodly children, beauty; for the man who is&lt;br /&gt;very ugly in appearance or ill-born or solitary and childless is not very likely to be happy, and perhaps a man would be&lt;br /&gt;still less likely if he had thoroughly bad children or friends or had lost good children or friends by death. As we said,&lt;br /&gt;then, happiness seems to need this sort of prosperity in addition; for which reason some identify happiness with good&lt;br /&gt;fortune, though others identify it with virtue.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="9"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;9&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;For this reason also the question is asked, whether happiness is to be acquired by learning or by habituation or some&lt;br /&gt;other sort of training, or comes in virtue of some divine providence or again by chance. Now if there is any gift of the&lt;br /&gt;gods to men, it is reasonable that happiness should be god-given, and most surely god-given of all human things inasmuch as&lt;br /&gt;it is the best. But this question would perhaps be more appropriate to another inquiry; happiness seems, however, even if it&lt;br /&gt;is not god-sent but comes as a result of virtue and some process of learning or training, to be among the most godlike&lt;br /&gt;things; for that which is the prize and end of virtue seems to be the best thing in the world, and something godlike and&lt;br /&gt;blessed.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;It will also on this view be very generally shared; for all who are not maimed as regards their potentiality for virtue&lt;br /&gt;may win it by a certain kind of study and care. But if it is better to be happy thus than by chance, it is reasonable that&lt;br /&gt;the facts should be so, since everything that depends on the action of nature is by nature as good as it can be, and&lt;br /&gt;similarly everything that depends on art or any rational cause, and especially if it depends on the best of all causes. To&lt;br /&gt;entrust to chance what is greatest and most noble would be a very defective arrangement.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;The answer to the question we are asking is plain also from the definition of happiness; for it has been said to be a&lt;br /&gt;virtuous activity of soul, of a certain kind. Of the remaining goods, some must necessarily pre-exist as conditions of&lt;br /&gt;happiness, and others are naturally co-operative and useful as instruments. And this will be found to agree with what we&lt;br /&gt;said at the outset; for we stated the end of political science to be the best end, and political science spends most of its&lt;br /&gt;pains on making the citizens to be of a certain character, viz. good and capable of noble acts.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;It is natural, then, that we call neither ox nor horse nor any other of the animals happy; for none of them is capable of&lt;br /&gt;sharing in such activity. For this reason also a boy is not happy; for he is not yet capable of such acts, owing to his age;&lt;br /&gt;and boys who are called happy are being congratulated by reason of the hopes we have for them. For there is required, as we&lt;br /&gt;said, not only complete virtue but also a complete life, since many changes occur in life, and all manner of chances, and&lt;br /&gt;the most prosperous may fall into great misfortunes in old age, as is told of Priam in the Trojan Cycle; and one who has&lt;br /&gt;experienced such chances and has ended wretchedly no one calls happy.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="10"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;10&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Must no one at all, then, be called happy while he lives; must we, as Solon says, see the end? Even if we are to lay down&lt;br /&gt;this doctrine, is it also the case that a man is happy when he is dead? Or is not this quite absurd, especially for us who&lt;br /&gt;say that happiness is an activity? But if we do not call the dead man happy, and if Solon does not mean this, but that one&lt;br /&gt;can then safely call a man blessed as being at last beyond evils and misfortunes, this also affords matter for discussion;&lt;br /&gt;for both evil and good are thought to exist for a dead man, as much as for one who is alive but not aware of them; e.g.&lt;br /&gt;honours and dishonours and the good or bad fortunes of children and in general of descendants. And this also presents a&lt;br /&gt;problem; for though a man has lived happily up to old age and has had a death worthy of his life, many reverses may befall&lt;br /&gt;his descendants — some of them may be good and attain the life they deserve, while with others the opposite may be the case;&lt;br /&gt;and clearly too the degrees of relationship between them and their ancestors may vary indefinitely. It would be odd, then,&lt;br /&gt;if the dead man were to share in these changes and become at one time happy, at another wretched; while it would also be odd&lt;br /&gt;if the fortunes of the descendants did not for some time have some effect on the happiness of their ancestors.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;But we must return to our first difficulty; for perhaps by a consideration of it our present problem might be solved. Now&lt;br /&gt;if we must see the end and only then call a man happy, not as being happy but as having been so before, surely this is a&lt;br /&gt;paradox, that when he is happy the attribute that belongs to him is not to be truly predicated of him because we do not wish&lt;br /&gt;to call living men happy, on account of the changes that may befall them, and because we have assumed happiness to be&lt;br /&gt;something permanent and by no means easily changed, while a single man may suffer many turns of fortune’s wheel. For clearly&lt;br /&gt;if we were to keep pace with his fortunes, we should often call the same man happy and again wretched, making the happy man&lt;br /&gt;out to be chameleon and insecurely based. Or is this keeping pace with his fortunes quite wrong? Success or failure in life&lt;br /&gt;does not depend on these, but human life, as we said, needs these as mere additions, while virtuous activities or their&lt;br /&gt;opposites are what constitute happiness or the reverse.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;The question we have now discussed confirms our definition. For no function of man has so much permanence as virtuous&lt;br /&gt;activities (these are thought to be more durable even than knowledge of the sciences), and of these themselves the most&lt;br /&gt;valuable are more durable because those who are happy spend their life most readily and most continuously in these; for this&lt;br /&gt;seems to be the reason why we do not forget them. The attribute in question, then, will belong to the happy man, and he will&lt;br /&gt;be happy throughout his life; for always, or by preference to everything else, he will be engaged in virtuous action and&lt;br /&gt;contemplation, and he will bear the chances of life most nobly and altogether decorously, if he is ‘truly good’ and&lt;br /&gt;‘foursquare beyond reproach’.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Now many events happen by chance, and events differing in importance; small pieces of good fortune or of its opposite&lt;br /&gt;clearly do not weigh down the scales of life one way or the other, but a multitude of great events if they turn out well&lt;br /&gt;will make life happier (for not only are they themselves such as to add beauty to life, but the way a man deals with them&lt;br /&gt;may be noble and good), while if they turn out ill they crush and maim happiness; for they both bring pain with them and&lt;br /&gt;hinder many activities. Yet even in these nobility shines through, when a man bears with resignation many great misfortunes,&lt;br /&gt;not through insensibility to pain but through nobility and greatness of soul.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;If activities are, as we said, what gives life its character, no happy man can become miserable; for he will never do the&lt;br /&gt;acts that are hateful and mean. For the man who is truly good and wise, we think, bears all the chances life becomingly and&lt;br /&gt;always makes the best of circumstances, as a good general makes the best military use of the army at his command and a good&lt;br /&gt;shoemaker makes the best shoes out of the hides that are given him; and so with all other craftsmen. And if this is the&lt;br /&gt;case, the happy man can never become miserable; though he will not reach blessedness, if he meet with fortunes like those of&lt;br /&gt;Priam.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Nor, again, is he many-coloured and changeable; for neither will he be moved from his happy state easily or by any&lt;br /&gt;ordinary misadventures, but only by many great ones, nor, if he has had many great misadventures, will he recover his&lt;br /&gt;happiness in a short time, but if at all, only in a long and complete one in which he has attained many splendid&lt;br /&gt;successes.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;When then should we not say that he is happy who is active in accordance with complete virtue and is sufficiently&lt;br /&gt;equipped with external goods, not for some chance period but throughout a complete life? Or must we add ‘and who is destined&lt;br /&gt;to live thus and die as befits his life’? Certainly the future is obscure to us, while happiness, we claim, is an end and&lt;br /&gt;something in every way final. If so, we shall call happy those among living men in whom these conditions are, and are to be,&lt;br /&gt;fulfilled — but happy men. So much for these questions.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="11"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;11&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;That the fortunes of descendants and of all a man’s friends should not affect his happiness at all seems a very&lt;br /&gt;unfriendly doctrine, and one opposed to the opinions men hold; but since the events that happen are numerous and admit of&lt;br /&gt;all sorts of difference, and some come more near to us and others less so, it seems a long — nay, an infinite — task to&lt;br /&gt;discuss each in detail; a general outline will perhaps suffice. If, then, as some of a man’s own misadventures have a&lt;br /&gt;certain weight and influence on life while others are, as it were, lighter, so too there are differences among the&lt;br /&gt;misadventures of our friends taken as a whole, and it makes a difference whether the various suffering befall the living or&lt;br /&gt;the dead (much more even than whether lawless and terrible deeds are presupposed in a tragedy or done on the stage), this&lt;br /&gt;difference also must be taken into account; or rather, perhaps, the fact that doubt is felt whether the dead share in any&lt;br /&gt;good or evil. For it seems, from these considerations, that even if anything whether good or evil penetrates to them, it&lt;br /&gt;must be something weak and negligible, either in itself or for them, or if not, at least it must be such in degree and kind&lt;br /&gt;as not to make happy those who are not happy nor to take away their blessedness from those who are. The good or bad fortunes&lt;br /&gt;of friends, then, seem to have some effects on the dead, but effects of such a kind and degree as neither to make the happy&lt;br /&gt;unhappy nor to produce any other change of the kind.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="12"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;12&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;These questions having been definitely answered, let us consider whether happiness is among the things that are praised&lt;br /&gt;or rather among the things that are prized; for clearly it is not to be placed among potentialities. Everything that is&lt;br /&gt;praised seems to be praised because it is of a certain kind and is related somehow to something else; for we praise the just&lt;br /&gt;or brave man and in general both the good man and virtue itself because of the actions and functions involved, and we praise&lt;br /&gt;the strong man, the good runner, and so on, because he is of a certain kind and is related in a certain way to something&lt;br /&gt;good and important. This is clear also from the praises of the gods; for it seems absurd that the gods should be referred to&lt;br /&gt;our standard, but this is done because praise involves a reference, to something else. But if if praise is for things such&lt;br /&gt;as we have described, clearly what applies to the best things is not praise, but something greater and better, as is indeed&lt;br /&gt;obvious; for what we do to the gods and the most godlike of men is to call them blessed and happy. And so too with good&lt;br /&gt;things; no one praises happiness as he does justice, but rather calls it blessed, as being something more divine and&lt;br /&gt;better.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Eudoxus also seems to have been right in his method of advocating the supremacy of pleasure; he thought that the fact&lt;br /&gt;that, though a good, it is not praised indicated it to be better than the things that are praised, and that this is what God&lt;br /&gt;and the good are; for by reference to these all other things are judged. Praise is appropriate to virtue, for as a result of&lt;br /&gt;virtue men tend to do noble deeds, but encomia are bestowed on acts, whether of the body or of the soul. But perhaps nicety&lt;br /&gt;in these matters is more proper to those who have made a study of encomia; to us it is clear from what has been said that&lt;br /&gt;happiness is among the things that are prized and perfect. It seems to be so also from the fact that it is a first&lt;br /&gt;principle; for it is for the sake of this that we all do all that we do, and the first principle and cause of goods is, we&lt;br /&gt;claim, something prized and divine.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="section" title="13"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4&gt;13&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Since happiness is an activity of soul in accordance with perfect virtue, we must consider the nature of virtue; for&lt;br /&gt;perhaps we shall thus see better the nature of happiness. The true student of politics, too, is thought to have studied&lt;br /&gt;virtue above all things; for he wishes to make his fellow citizens good and obedient to the laws. As an example of this we&lt;br /&gt;have the lawgivers of the Cretans and the Spartans, and any others of the kind that there may have been. And if this inquiry&lt;br /&gt;belongs to political science, clearly the pursuit of it will be in accordance with our original plan. But clearly the virtue&lt;br /&gt;we must study is human virtue; for the good we were seeking was human good and the happiness human happiness. By human&lt;br /&gt;virtue we mean not that of the body but that of the soul; and happiness also we call an activity of soul. But if this is so,&lt;br /&gt;clearly the student of politics must know somehow the facts about soul, as the man who is to heal the eyes or the body as a&lt;br /&gt;whole must know about the eyes or the body; and all the more since politics is more prized and better than medicine; but&lt;br /&gt;even among doctors the best educated spend much labour on acquiring knowledge of the body. The student of politics, then,&lt;br /&gt;must study the soul, and must study it with these objects in view, and do so just to the extent which is sufficient for the&lt;br /&gt;questions we are discussing; for further precision is perhaps something more laborious than our purposes require.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Some things are said about it, adequately enough, even in the discussions outside our school, and we must use these; e.g.&lt;br /&gt;that one element in the soul is irrational and one has a rational principle. Whether these are separated as the parts of the&lt;br /&gt;body or of anything divisible are, or are distinct by definition but by nature inseparable, like convex and concave in the&lt;br /&gt;circumference of a circle, does not affect the present question.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Of the irrational element one division seems to be widely distributed, and vegetative in its nature, I mean that which&lt;br /&gt;causes nutrition and growth; for it is this kind of power of the soul that one must assign to all nurslings and to embryos,&lt;br /&gt;and this same power to fullgrown creatures; this is more reasonable than to assign some different power to them. Now the&lt;br /&gt;excellence of this seems to be common to all species and not specifically human; for this part or faculty seems to function&lt;br /&gt;most in sleep, while goodness and badness are least manifest in sleep (whence comes the saying that the happy are not better&lt;br /&gt;off than the wretched for half their lives; and this happens naturally enough, since sleep is an inactivity of the soul in&lt;br /&gt;that respect in which it is called good or bad), unless perhaps to a small extent some of the movements actually penetrate&lt;br /&gt;to the soul, and in this respect the dreams of good men are better than those of ordinary people. Enough of this subject,&lt;br /&gt;however; let us leave the nutritive faculty alone, since it has by its nature no share in human excellence.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;There seems to be also another irrational element in the soul-one which in a sense, however, shares in a rational&lt;br /&gt;principle. For we praise the rational principle of the continent man and of the incontinent, and the part of their soul that&lt;br /&gt;has such a principle, since it urges them aright and towards the best objects; but there is found in them also another&lt;br /&gt;element naturally opposed to the rational principle, which fights against and resists that principle. For exactly as&lt;br /&gt;paralysed limbs when we intend to move them to the right turn on the contrary to the left, so is it with the soul; the&lt;br /&gt;impulses of incontinent people move in contrary directions. But while in the body we see that which moves astray, in the&lt;br /&gt;soul we do not. No doubt, however, we must none the less suppose that in the soul too there is something contrary to the&lt;br /&gt;rational principle, resisting and opposing it. In what sense it is distinct from the other elements does not concern us. Now&lt;br /&gt;even this seems to have a share in a rational principle, as we said; at any rate in the continent man it obeys the rational&lt;br /&gt;principle and presumably in the temperate and brave man it is still more obedient; for in him it speaks, on all matters,&lt;br /&gt;with the same voice as the rational principle.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Therefore the irrational element also appears to be two-fold. For the vegetative element in no way shares in a rational&lt;br /&gt;principle, but the appetitive and in general the desiring element in a sense shares in it, in so far as it listens to and&lt;br /&gt;obeys it; this is the sense in which we speak of ‘taking account’ of one’s father or one’s friends, not that in which we&lt;br /&gt;speak of ‘accounting for a mathematical property. That the irrational element is in some sense persuaded by a rational&lt;br /&gt;principle is indicated also by the giving of advice and by all reproof and exhortation. And if this element also must be&lt;br /&gt;said to have a rational principle, that which has a rational principle (as well as that which has not) will be twofold, one&lt;br /&gt;subdivision having it in the strict sense and in itself, and the other having a tendency to obey as one does one’s&lt;br /&gt;father.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Virtue too is distinguished into kinds in accordance with this difference; for we say that some of the virtues are&lt;br /&gt;intellectual and others moral, philosophic wisdom and understanding and practical wisdom being intellectual, liberality and&lt;br /&gt;temperance moral. For in speaking about a man’s character we do not say that he is wise or has understanding but that he is&lt;br /&gt;good-tempered or temperate; yet we praise the wise man also with respect to his state of mind; and of states of mind we call&lt;br /&gt;those which merit praise virtues.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="docinfo"&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Last updated on Tue Apr 5 12:34:35 2011 for &lt;a href="http://thitamazya.blogspot.com/"&gt;thitamazya&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-2463904715664081726?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/2463904715664081726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=2463904715664081726' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2463904715664081726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2463904715664081726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2011/04/nicomachean-ethics-by-aristotle.html' title='Nicomachean Ethics, by Aristotle'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-2611579251099718553</id><published>2010-11-13T11:37:00.001+07:00</published><updated>2010-11-13T14:04:25.610+07:00</updated><title type='text'>PENGUMUMAN CPNS TANGSEL 2010</title><content type='html'>PENGUMUMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor : 813/Kep.3200-BKD/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DARI PELAMAR UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERINTAH KOTA TANGERANG SELATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN ANGGARAN 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mengisi lowongan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Tahun Anggaran 2010, sebagaimana telah ditetapkan dalam surat Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 218.F/M.PAN-RB/07/2010 tanggal 21 Juli 2010 perihal Persetujuan Prinsip Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Tahun 2010 dan Nomor B/2685/M.PAN-RB/10/2010 tanggal 29 Oktober 2010 perihal Perubahan Persetujuan Rincian Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Kota Tangerang Selatan Tahun 2010, maka Pemerintah Kota Tangerang Selatan memberi kesempatan bagi Warga Negara Republik Indonesia yang berminat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk melamar, dengan kualifikasi pendidikan dan syarat-syarat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.     FORMASI KEBUTUHAN BERDASARKAN KUALIFIKASI PENDIDIKAN&lt;br /&gt;klik ini ajalah.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; http://cpnsd.bkd-tangsel.info/tangsel/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.     PERSYARATAN UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Warga Negara Indonesia (WNI);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Memiliki integritas yang tinggi terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri Sipil, Calon/Anggota TNI/POLRI;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Tidak berkedudukan sebagai anggota/pengurus Partai Politik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil/Swasta;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Tidak pernah dihukum penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Berkelakuan baik, dengan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.       Sehat jasmani dan rohani, dengan Surat Keterangan Sehat dari Dokter Rumah Sakit Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.   Surat Keterangan bebas narkoba dan zat adiktif dari Dokter Rumah Sakit Pemerintah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan tersebut di atas dibuat dan dilampirkan apabila calon pelamar telah dinyatakan lulus seleksi/lulus testing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.     PERSYARATAN KHUSUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Usia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         Berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun per 1 Januari 2011;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.         Berusia 40 (empat puluh) tahun per 1 Januari 2011 bagi yang bekerja pada instansi pemerintah atau lembaga swasta yang berbadan hukum yang menunjang kepentingan nasional sejak 17 April 1997 sampai dengan melamar, yang dibuktikan dengan foto copy surat Keputusan Pengangkatan Pertama dari instansi/lembaga yang bersangkutan (dilegalisir), dan melampirkan asli Surat Keterangan dari Instansi yang bersangkutan, menerangkan bahwa sampai dengan saat ini masih aktif menjalankan tugas secara terus menerus tidak pernah terputus (masa kerja sampai dengan saat ini menjadi 13 tahun 8 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Kualifikasi Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         Sesuai kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan untuk formasi jabatan lowong sebagaimana tersebut pada butir A di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Pelamar yang ijasahnya tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti seleksi CPNSD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Pelamar membuat surat lamaran yang ditulis tangan dengan tinta warna hitam dan ditandatangani sendiri oleh pelamar bermaterai Rp.6.000,- serta dalam lamaran harus mencantumkan Nama Jabatan Formasi yang dilamar dan kualifikasi pendidikan, ditujukan kepada Walikota Tangerang Selatan melalui Ketua Panitia Penerimaan CPNSD Kota Tangerang Selatan Tahun 2010, dengan melampirkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Foto copy ijasah berikut transkrip nilai yang sudah dilegalisir (cap dan tanda tangan asli) dari perguruan tinggi negeri/swasta yang telah mendapat akreditasi dari pejabat yang berwenang, dan khusus pelamar kualifikasi jabatan guru SMK yang non kependidikan (ilmu terapan) harus melampirkan akta mengajar (Akta IV) dan/atau sertifikat profesi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Pas photo terakhir ukuran 3 x 4 (berwarna) sebanyak 4 (empat) lembar dan pada bagian belakang pas photo tertulis Nama, tempat/tanggal lahir pelamar, dan nomor registrasi pendaftaran;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       Foto copy Kartu Tanda Penduduk yang masih berlaku;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.     Kelengkapan berkas lamaran dimasukan dalam map, dengan ketentuan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.         Tenaga Kependidikan : Map warna merah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.         Tenaga Teknis : Map warna hijau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.         Tenaga Kesehatan : Map warna biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.     PENDAFTARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran harus dilakukan melalui proses REGISTRASI ON-LINE dengan website http//:www.bkd-tangsel.info, dan mencetak/print formulir registrasi pendaftaran serta dimasukan dalam berkas lamaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.      WAKTU DAN TEMPAT PENYAMPAIAN LAMARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.      Pendaftaran registrasi online dimulai tanggal 13 November 2010 pukul 09.00 WIB s/d 16 November 2010 pukul 21.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Pelamar melakukan registrasi on-line dan mengirimkan berkas lamaran hanya untuk 1 (satu) jabatan formasi yang ditetapkan, dengan alamat Panitia Penerimaan CPNSD Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 melalui :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       TROMOL POS 1001 UNTUK TENAGA TEKNIS,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       TROMOL POS 1002 UNTUK TENAGA KESEHATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.       TROMOL POS 1003 UNTUK TENAGA PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkas lamaran dimasukan dalam amplop coklat dan pada pojok kiri atas ditulis Nama formasi jabatan dan Nama pendidikan, pengiriman berkas lamaran dimulai dari tanggal 13 s/d 17 November 2010 (Cap Pos).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F.      KARTU TANDA PESERTA UJIAN, WAKTU DAN TEMPAT UJIAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Daftar nama pelamar yang dinyatakan lulus seleksi administrasi dan berhak mengikuti ujian dapat diakses melalui website http//:www.bkd-tangsel.info mulai tanggal 23 s/d 26 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Kartu Tanda Peserta Ujian dapat didownload dan diprint melalui website http//:www.bkd-tangsel.info pada tanggal 25 s/d 26 November 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Kartu Peserta Ujian yang telah diprint diwajibkan menempelkan pas photo berwarna ukuran 3 x 4 pada tempat yang telah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Waktu dan tempat pelaksanaan ujian tertera pada Kartu Tanda Peserta Ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G.     MATERI UJIAN DAN PERLENGKAPAN SELEKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Materi Ujian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.       Tes Kompetensi Dasar (TKD) terdiri dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Tes Pengetahuan Umum (TPU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Tes Bakat Sekolastik (TBS)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Tes Skala Kematangan (TSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.       Tes Kompetensi Bidang (TKB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sesuai jurusan masing-masing pelamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Perlengkapan seleksi pada saat ujian, setiap peserta harus membawa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Kartu Tanda Peserta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Pensil 2B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Penyerut Pensil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Karet Penghapus Pensil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Ballpoint Tinta Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.     PENGUMUMAN HASIL SELEKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman hasil seleksi akan diumumkan melalui website di http//:www.bkd-tangsel.info, dan surat kabar lokal Fajar Banten, Tangsel Pos, Tangerang Express, Radar Tangerang / Banten, Satelite News pada tanggal 10 Desember 2010.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.        LAIN-LAIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Adanya ketidak cocokan antara data yang tercantum dalam website dengan berkas outentik yang dikirim pelamar, panitia berhak untuk tidak memberikan kartu peserta ujian kepada pelamar dan pelamar tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk mengikuti ujian penerimaan CPNSD Kota Tangerang Selatan Tahun 2010;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.       Bagi Pelamar yang dengan sengaja memberikan surat keterangan atau bukti yang tidak benar dan seharusnya tidak memenuhi syarat untuk diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil apabila telah memperoleh NIP dan diangkat menjadi CPNS maka kelulusan dan pengangkatannya dinyatakan gugur/dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.       Apabila peserta ujian mengundurkan diri dan tidak bersedia mengikuti ujian dan/atau telah dinyatakan lulus tetapi tidak bersedia diangkat menjadi CPNSD Kota Tangerang Selatan, yang bersangkutan harus membuat surat pernyataan pengunduran diri secara tertulis dan disampaikan kepada Walikota Tangerang Selatan melaui Kepala Badan Kepegawaian Daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.       Berkas lamaran yang sudah diterima panitia menjadi milik Pemerintah Daerah dan tidak dapat diminta kembali oleh pelamar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.       Tidak ada pungutan biaya apapun dalam pelaksanaan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil Kota Tangerang Selatan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.       Panitia Penerimaan CPNSD Kota Tangerang Selatan tidak bertanggungjawab atas pungutan atau tawaran berupa apapun oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan Panitia dan/atau Pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.       Hal-hal lain yang bersifat teknis dan belum tertuang dalam ketentuan ini akan ditentukan kemudian;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.       Keputusan Panitia Penerimaan CPNSD Kota Tangerang Selatan Tahun 2010 bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengumuman&lt;br /&gt;Penerimaan CPNS KOTA TANGERANG SELATAN 2010 unduh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-2611579251099718553?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/2611579251099718553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=2611579251099718553' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2611579251099718553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2611579251099718553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2010/11/pengumuman-cpns-tangsel-2010.html' title='PENGUMUMAN CPNS TANGSEL 2010'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-2021453375558393934</id><published>2010-10-30T22:25:00.000+07:00</published><updated>2010-10-30T22:27:28.971+07:00</updated><title type='text'>SEPUTAR KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK</title><content type='html'>A. Pentingnya UU KIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini salah satu yang menjadi penyebab terhambatnya kemajuan bangsa kita adalah persoalan birokrasi, terutama izin birokrasi.  Misalnya saja di persoalan yang paling sederhana; pembuatan KTP. Dulu, betapa panjangnya tahapan yang harus dilalui untuk sekedar membuat KTP. Belum lagi pada tiap tahapnya harus mengeluarkan sejumlah biaya/pungutan tertentu. Mulai dari saat meminta surat pengantar RT, setidaknya harus mengeluarkan “upah surat pengantar” tersebut untuk penjabat RT. Pengeluaran tersebut menjadi keharusan yang tak tertulis dan membudaya di hampir setiap wilayah negri ini. Itu baru ditingkat RT, belum lagi ditingkat RW, Lurah bahkan tukang ketik KTP-nya pun tak luput dari keharusan tak tertulis tersebut.  Alih-alih agar proses pembuatan KTP berjalan lancar, jika tidak begitu, pembuatan KTP bisa memakan waktu yang sangat lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitulah kira-kira gambaran birokrasi yang terjadi dilevel terendah negri. Kita bisa bayangkan bagaimana jika hal tersebut terjadi dilevel yang lebih tinggi? Kompleksitas birokrasi  semacam inilah yang membuat investor-investor asing seringkali ‘malas’ berinvestasi dinegri ini. Pengusaha-pengusaha kecil dan menengah menjadi sulit berkembang. System pendidikan bangsa tidak mengalami kemajuan  berarti, desa-desa di daerah menjadi lamban bertumbuh serta penyelesaian kasus-kasus besar seringkali tak berujung pangkal. Semua terjadi lantaran birokrator alias birokreator (saya lebih suka menyebutnya demikian, karena mereka menciptakan sendiri aturan sesuka mereka) seringkali menetapkan aturan tanpa dasar hokum yang jelas. Mereka seringkali memanfaatkan kekuasaan dan kewenangan mereka untuk kepentingan pribadinya. ‘power tends to corrupt’ begitu kata Lord Acton. Oleh karena ketiadaan aturan/hokum yang jelas dalam mengatur antara hak dan kewajiban Negara dan masyarakat inilah memunculkan celah-celah kesewenangan. Padahal, setiap warga Negara berhak mendapatkan pelayanan yang baik dari pemerintahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Pettit dalam bukunya “Republicanisme and Government” tahun 1997 pernah menyatakan bahwa dalam posisi seseorang yang terdominasi seringkali menjadi peluang munculnya tekanan oranglain untuk sewenang-wenang. Dimana orang yang mendominasi seringkali memanfaatkan posisi lawannya yang terjepit dan menekan lawan untuk memenuhi keinginannya. Demikian juga halnya dengan kisah pembuatan KTP tadi, si pengaju KTP ditekan untuk mengeluarkan sejumlah uang karena dominasi si pembuat (oknum apparatus) ada tekanan berupa ancaman jika tidak memberikan sejumlah uang lelah maka pembuatan KTP itu tidak akan dituntaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, pihak yang terdominasi tak bisa begitu saja melaporkan apa yang dialaminya pada pihak yang berwajib lantaran memang tidak ada bukti nyata atau tertulis. Lagipula, jika hal itu dilaporkannya kemungkinan ia tidak akan mendapatkan KTP seperti yang ia inginkan. Di sisi lain, tidak ada juga kejelasan aturan tentang bagaimana seharusnya cara membuat KTP, berapa biayanya dan apa saja syaratnya. Ketidak jelasan aturan yang seharusnya menjadi standar pelayanan public inilah yang menjadi kendala ketidak jelasan informasi. Baik bagi apparatus pemerintahan maupun bagi masyarakat itu sendiri. Inilah yang menjadi pemicu ketertinggalan bangsa ini pada akhirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar dari kesalahan dan munculnya kesadaran akan semangat hak-hak kewarganegaraan dan konstitusi, perlahan persoalan inipun mulai diantisipasi. Di awali dengan kesadaran akan hak asasi yang menjadi bagian kehidupan manusia yang tak terpisahkan. Hak atas kehidupan yang menjadi hak asasi ini dilindungi, dihormati, dan dijunjung tinggi oleh setiap orang, Negara, hokum dan pemerintahan. Hak asasi ini kemudian  memberikan inspirasi akan hak-hak kebebasan tiap individu untuk menikmati kehidupannya.  salah satunya adalah hak untuk memperoleh informasi seperti dijamin dalam UUD 1945 pasal 28f; “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyim¬pan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh mengenai hak informasi ini, dalam Deklarasi PBB No 59 ayal 1 Tahun 1946 menegaskan bahwa hak atas informasi merupakan hak asasi fundamental dan merupakan tanda dari seluruh kebebasan yang akan menjadi pusat perhatian PBB. Dengan demikian jelaslah payung hokum ini. Bahwa setiap warganegara berhak mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan dirinya, termasuk informasi mengenai aturan dan tatacara pembuatan KTP tanpa dipungut bayaran. Pernyataan terakhir itu penting, karena trauma masyarakat bisa mengurungkan niat baik konstitusi nanti. Untuk lebih menyakinkan dan menguatkan UUD 1945 tersebut, maka dibuatlah peraturan yang menjamin hak warganegara dalam memperoleh informasi. Peraturan itu baru disahkan penggunaanya April 2010 lalu tentang Keterbukaan Informasi Publik, UU No.14/2008&lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;B. Peran, Tugas dan Fungsi KIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam UU No.14/2008 tersebut  setiap warga Negara diberikan informasi yang sangat jelas tentang tata cara memperoleh informasi dari badan publik. Diantaranya;  &lt;br /&gt;• menjamin hak warga negara mengetahui rencana pem¬buatan kebijakan publik, program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan publik, serta ala¬san pengambilan suatu keputusan publik;mendorong partisipasi masyarakat dalam proses peng¬ambilan kebijakan publik; &lt;br /&gt;• meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengam¬bilan kebijakan publik dan pengelolaan Badan Publik yang baik; &lt;br /&gt;• mewujudkan penyelenggaraan Negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dab efisien, akuntable serta dapat dipertanggung jawabkan mengetahui alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak;&lt;br /&gt;• mengembangkan ilmu pengetahuan dan mencerdas¬kan kehidupan bangsa; dan&lt;br /&gt;• meningkatkan pengelolaan dan pelayanan informa¬si di lingkungan badan publik untuk menghasilkan layanan informasi yang berkualitas.&lt;br /&gt;Di dalam UU ini juga dijelaskan apa yang dimaksud dengan informasi public, pemohon informasi, pemberi informasi, informasi yang boleh diakses dan yang dikecualikan, sanksi serta keterangan lain. Melalui UU ini, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkannya sebaik mungkin. Tidak ada lagi alasan birokrasi untuk  bergerak maju mengembangkan diri.  Sekarang aturannya sudah jelas, termasuk sanksi pelanggaranya.&lt;br /&gt; Guna terlaksananya Undang-undang ini maka perlu dibuat sebuah lembaga yang berfungsi sebagai wadah penyelenggara pelayanan public dimasyarakat. Adapun fungsi utama komisi informasi ini antara lain;  menyelesaikan sengketa informasi baik me¬lalui mediasi maupun ajudikasi, Komisi Informasi juga mempunyai fungsi menjalankan UU KIP dan peraturan pelaksananya serta menetapkan petunjuk teknis stan¬dar layanan informasi. Standar layanan yang dimaksud adalah standar pelayanan informasi yang harus dipenuhi oleh badan publik, dan lebih lanjut Komisi Informasi akan mengatur tentang tatacara mendapatkan informasi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebenarnya Komisi Informasi adalah lembaga mandiri yang berfungsi menjalankan Undang-Undang ini dan peraturan pelaksanaannya, menetapkan petunjuk teknis standar layanan informasi publik dan menyelesaikan sengketa informasi publik melalui mediasi dan/atau ajudikasi nonlitigasi. Kemandirian Komisi Informasi dimaksudkan agar lembaga ini tidak menjadi alat kekuasaan atau partai politik yang bisa mengancam netralitasnya dalam mengawal implementasi UU ini. Kemandirian tersebut juga menjadi syarat penting bagi lembaga ini untuk menjalankan wewenangnya, yakni memanggil dan/atau mempertemukan para pihak yang bersengketa meminta catatan atau bahan yang relevan yang dimiliki oleh badan publik terkait untuk mengambil keputusan dalam upaya menyelesaikan sengketa informasi publik; meminta keterangan atau menghadirkan pejabat badan publik ataupun pihak yang terkait sebagai saksi dalam penyelesaian sengketa informasi publik; dan mengambil sumpah setiap saksi yang keterangannya didengar dalam ajudikasi nonlitigasi penyelesaian sengketa informasi publik. Terlaksananya berbagai peran dan kewenangan di atas menuntut kompetensi, keteguhan sikap, dan profesionalisme Komisi Informasi. Lembaga ini harus mampu menyosialisasikan secara cepat UU ini kepada masyarakat, institusi pendidikan, lembaga-lembaga politik, dan mendorong penguatan kapasitas badan publik untuk memahami filosofi dan hakikat informasi publik, klasifikasi informasi publik, dan standar pelayanan yang murah, mudah, dan tepat waktu. Pemenuhan berbagai ketentuan tersebut berperan untuk mengakselerasi perwujudan cita-cita dasar UU ini, yakni memenuhi hak setiap orang atas informasi publik, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses penentuan dan implementasi kebijakan publik dan mendorong penyelenggaraan negara yang baik, yang transparan, efektif, efisien, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, yang menjadi tugas komisi informasi berdasarkan pasal 26 bagian keempat UU no 14/2008 antara lain;&lt;br /&gt;(1) Komisi Informasi bertugas :&lt;br /&gt;a. menerima, memeriksa, dan memutus permohonan penyelesaian Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi yang diajukan oleh setiap Pemohon Informasi Publik berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini;&lt;br /&gt;b. menetapkan kebijakan umum pelayanan Informasi Publik; dan&lt;br /&gt;c. menetapkan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis.&lt;br /&gt;(2) Komisi Informasi Pusat bertugas:&lt;br /&gt;a. menetapkan prosedur pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi;&lt;br /&gt;b. menerima, memeriksa, dan memutus Sengketa Informasi Publik di daerah selama&lt;br /&gt;Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota belum terbentuk; dan&lt;br /&gt;c. memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya berdasarkan Undang Undang ini kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia setahun sekali atau sewaktuwaktu jika diminta.&lt;br /&gt;(3) Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota bertugas menerima,memeriksa, dan memutus Sengketa Informasi Publik di daerah melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       C.  Implementasi UU KIP di Era Otonomi Daerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika system keterbukaan informasi sudah menjadi bagian dari aturan yang dilindungi, maka segala akses baik itu berupa informasi maupun izin birokrasi akan mudah diperoleh dan jelas pertanggungjawabannya. Kemudahan ini tentu sangat berpengaruh besar bagi kemajuan bangsa. Investor-investor asing akan mempercayakan menanamkan modalnya, hubungan antara masyarakat dan Negara akan harmonis dan pertumbuhan pesat bangsa pun akan segera terlihat. Ibarat batu yang menyumbat selang air, kompleksitas birokrasi dan keremangan informasi telah memacetkan segala peluang dan kemajuan. Lalu ketika sumbatan itu sudah dikeluarkan, maka mengalirlah air dengan lancarnya. Demikian pula diharapkan kehadiran UU keterbukaan informasi ini, dapat memperlancar segala arus ketersumbatan kemajuan. Terutama bagi wilayah yang sudah otonom, keterbukaan informasi menjadi mutlak diperlukan guna meningkatkan kemandirian dan keberhasilan daerah. Ini merupakan langkah yang berani dan revolusioner bagi bangsa Indonesia untuk mendorong demokratisasi dan pemerintahan yang bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang dalam penerapan UU KIP ini masih banyak ditemukan kendala, diantaranya ; Komisi Informasi di daerah, provinsi khususnya, masih belum terbentuk secara merata. Padahal, keberadaannya sangat menentukan hadirnya keterbukaan informasi bagi masyarakat. Selain itu, peraturan organik terkait dengan UU KIP belum juga terbit sampai saat ini, termasuk peraturan teknis Komisi Informasi. Hal ini agak sedikit ironis memang, dan cenderung akan menjadi preseden buruk dalam upaya menegakkan kepastian hukum KIP. Selain itu, Komisi Informasi juga harus segera menetapkan standar layanan informasi dari badan-badan publik, sehingga terbangun kesepahaman yang terbuka dan jujur dalam kerangka Standing Operation Procedure (SOP) yang teruji&lt;br /&gt;Hal lain yang juga penting dipahami menyangkut penerapan UU KIP, adanya korelasi positif antara UU KIP dengan UU lainnya, seperti UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, UU No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan ICCPR, UU No. 12 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, dan UU No. 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan.  Hal ini karena UU KIP tidak bisa berjalan sendiri. Keterkaitannya sangat kuat dan membutuhkan sinkronisasi dan harmonisasi dalam kerangka impelementasinya.  lepas dari semua itu, penerbitan UU keterbukaan informasi itu sendiri sudah merupakan langkah revolusioner dan patut dihargai. Ini adalah upaya menciptakan pemerintahan yang lebih bersih dan transparan. Adapun kendala dan kekurangannya bisa menjadi perbaikan dimasa mendatang seiring implementasi dan sosialisasi. (Thita M/49)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-2021453375558393934?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/2021453375558393934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=2021453375558393934' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2021453375558393934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2021453375558393934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2010/10/seputar-keterbukaan-informasi-publik.html' title='SEPUTAR KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-659243547648197818</id><published>2010-03-11T08:40:00.002+07:00</published><updated>2010-03-11T08:48:11.999+07:00</updated><title type='text'>PERANAN MAJLIS TAKLIM DALAM MENGEMBANGKAN KUALITAS PEREMPUAN INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketika berbicara mengenai majlis taklim, sebenarnya kita sudah bicara mengenai pendidikan alternative untuk kaum perempuan…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Majilis taklim “Al Ghifariyah” Lengkongwetan, Peng(k)ajian bulanan. Pimp. Thita Mazya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, sector pendidikan formal masih banyak menyisakan ruang yang tidak dapat diakses oleh kaum perempuan. Ditingkat pendidikan formal, jumlah laki-laki masih lebih besar yang mengeyam pendidikan ketimbang perempuan. Tercatat, berdasarkan data BPS tahun 2003, penduduk Indonesia yang berumur 10 tahun ke atas yang masih buta huruf sebanyak hampir 15 juta orang dan kebanyakan juga perempuan (67,9% dibanding laki-laki sekitar 32,1%). Sementara, penduduk perempuan usia 20 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah jumlahnya 5,43% lebih kecil dibanding penduduk laki-laki yang berjumlah sekitar 11,56%.    &lt;br /&gt;Adapun ruang pendidikan formal yang kurang memberi perhatian pada kebutuhan kaum perempuan, antara lain; pendidikan tentang akidah agama, baca tulis Alquran, kesehatan reproduksi perempuan, trafficiking, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi perempuan, hak-hak dan fiqih kaum perempuan dan lain sebagainya. System pendidikan formal juga tidak bisa mengakses mereka yang sudah lanjut usia, karena ada batasan umur ketika seseorang hendak masuk sekolah. Oleh karena itu, pendidikan alternative menjadi sangat penting, salah satu jenis pendidikan alternative itu adalah mejlis taklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mejlis taklim merupakan sebuah wadah yang dibentuk untuk mengajarkan tentang hal-hal keagamaan. Dalam hal agama, islam terutama, laki-laki tidak boleh menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Oleh karena itu dalam proses pengajaran tersebut laki-laki dipisahkan dari perempuan, maka ada pengajian laki-laki ada juga pengajian perempuan. Kelompok pengajian ini kemudian berkembang tidak hanya berfokus pada soal baca tulis Alquran saja, tetapi kesemua hal menyangkut soal agama dan keyakinan. Dari situlah kemudian kelompok pengajian itu menjadi majlis taklim, yang artinya tempat belajar atau menuntut ilmu. Dikarenakan yang berkembang hingga sekarang adalah pengajian oleh kaum perempuan, maka, pengajian atau mejlis taklim ini identik dengan kegiatan perempuan. Pada masa sekarang, fungsi majlis taklim semakin berkembang. Tidak hanya menjadi tempat belajar tentang agama saja, tetapi juga menjadi tempat belajar semua aspek kehidupan social, pendidikan, ekonomi bahkan politik. Mejlis taklim kemudian menjadi wadah pendidikan alternative yang paling strategis dapat menembus berbagai persoalan dan pemberdayaan bagi kaum perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Perempuan dalam Keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perempuan sebagai mahluk social memiliki setidaknya dua peran penting dalam hidupnya; yaitu peran di dalam keluarga dan peran di masyarakat. Di dalam keluarga, perempuan adalah istri sekaligus ibu bagi rumahtangganya. Ia yang menjadi pelita bagi sakinah wa mawaddahnya sebuah keluarga. Sebagai ibu, perempuan memiliki peranan dominan dalam membentuk karakteristik anak-anaknya. Ibu paling berperan dalam mendidik anaknya, seperti kata mutiara dari Ahmad Syauqi; “ ummi madrosati; ibu adalah bangunan utama, jika engkau persiapkan anak-anakmu dengan sungguh-sungguh, maka engkau telah mempersiapkan sebuah generasi bangsa yang harum namanya”. Dan sebaik-baiknya pengalaman/pengajaran orangtua kepada anaknya adalah pendidikan adab yang mulia (al-akhlaq al-karimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu perempuan atau para ibu harus cerdas, harus sekolah. Karena sekolah adalah wadah pendidikan formal yang bisa membantu kita cerdas. Namun, kebanyakan pendidikan formal kurang mampu menampung berbagai persoalan tentang perempuan. Persoalan tentang hak-hak kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan, misalnya, atau tentang undang-undang kekerasan dalam rumah tangga, tidak banyak disosialisasikan disitu. Padahal, fenomena-fenomena deviasi terhadap perempuan adalah realitas sehari-hari yang membutuhkan penanganan dan pencegahan dini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan seringkali dibilang pasif, lemah dan tidak kritis, tetapi jika kita perhatikan apa yang sudah perempuan lakukan terhadap keluarganya? Mulai bangun tidur; membangunkan anak &amp; suami untuk sholat, memandikan anak, masak dan menyiapkan sarapan untuk mereka, menyiapkan baju-bajunya. Selama suami dan anak bekerja/bersekolah, ibu membersihkan rumah; menyapu, ngepel, cuci piring dan baju serta memasak lagi untuk makan siang nanti. Lepas anaknya pulang sekolah; menyuapi makan siang, merapikan baju dan bukunya menemani tidur siang sambil membacakan buku, lalu menyetrika baju, menyiapkan lagi untuk makan malam, menemani belajar anak, menyiapkan susu sebelum tidur, hingga menemani mereka tidur, plus belum kalau bapaknya minta jatah, ia harus melayaninya juga. Itu bagi perempuan yang tidak bekerja, sudah sebegitu padatnya pekerjaan mereka, belum lagi perempuan yang merangkap bekerja, belum lagi, perempuan yang menjadi orangtua tunggal! Yang harus mengerjakan semuanya sendirian termasuk mencari nafkah dan menjadi bapak bagi anak-anaknya. Betapa luar biasanya perempuan yang dibilang lemah dan pasif itu.&lt;br /&gt;Satu hal yang belum terbiasa di Indonesia, adalah melihat apa yang dilakukan iburumah tangga seperti itu dianggap bukan suatu pekerjaan. Pekerjaan ibu rumah tangga seperti itu dianggap sebagai kategori ‘pengangguran’, karena dilihat tidak menghasilkan uang. Ini salah!, bahwa justru status menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang berat dan mulia, bahkan mungkin lebih tanpa tanda jasa dibanding dengan guru. Selama ini, kita mengabaikannya dan cenderung tak menyadari jika pekerjaan menjadi ibu rumah tangga itu jauh lebih berat, mendidik anak agar menjadi anak sholeh dan berguna itu tidak mudah!. Ibu itu adalah guru seumur hidup dan 24 penuh bagi anak-anaknya. Tapi selama ini sepertinya semua diukur oleh angka nominal, jika tidak menghasilkan nominal ya dianggap pengangguran. Pandangan seperti ini harus berubah! Perempuan harus tetap bangga menjadi ibu rumah tangga, adapun karir dan prestasi lain adalah sebuah nilai tambah. &lt;br /&gt;Ironisnya, di tengah beratnya beban perempuan dan ibu rumah tangga, kekerasan seringkali juga menimpa. Salah sedikit saja dengan sang suami, sudah habis menjadi bulan-bulanan. Menjadi alasan untuk perselingkuhan, melakukan kekerasan fisik dan ancaman. Misalnya saja, istri yang kelelahan mengurusi rumah tangga dan pekerjaannya lalu tak sanggup melayani keinginan biologis suami di malam hari, harus menanggung akibatnya. Suami memukul, mengardik, berselingkuh, bahkan hingga menceraikannya. Jika sudah begitu, perempuan kebanyakan tak berdaya. Mengapa? Inilah masalahnya; kebanyakan perempuan tak berdaya dalam kondisi seperti ini lantaran karena kurangnya pengetahuan mereka dan ketidak mandiriannya. Anak yang banyak , tak punya keahlian dan ketergantungan pada suami menjadikan kaum perempuan lebih banyak ‘diam’, nrimo saja dan mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;islam memang mengajarkan kepatuhan istri kepada suami, namun bukan berarti pengabaian hak-hak istri oleh suami. Justru, islam mengajarkan suami agar menghormati juga istri-istri mereka seperti kata rosulullah dalam hadistnya;&lt;br /&gt;“Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya”&lt;br /&gt; (HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;Islam juga mengajarkan etika suami pada istrinya, seperti dalam QS. An-Nisa (4) : 1; &lt;br /&gt;“Dan bergaullah dengan mereka (isterimu) secara patut. Apabila kamu benci kepada mereka (hendaklah kamu sabar) karena boleh jadi kamu benci kepada sesuatu, sedang Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam surat Al-baqarah :222 tentang larangan menggauli istri dalam keadaan haid, menggauli dari dubur maupun sodomi. Serta dalam hadist HR Bukhari &amp; Muslim;&lt;br /&gt;“Apabila kamu menggauli isterimu maka pergaulilah dengan lemah-lembut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga islam mengatur tentang kewajiban suami kepada istrinya, seperti menyediakan rumah tinggal atau memberi nafkah;&lt;br /&gt; “tempatkanlah istrimu dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka dan menyedihkan hatinya….” At-thalaq :  (6-7) atau Al-baqarah: 228&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jelaslah, jika islam pun mengajarkan ketersalingan antara suami dengan istri. Saling menghargai, saling menghormati hak-haknya sebagai suami-istri, saling memahami kesetaraan social diantara keduanya. Kepatuhan istri kepada suami lebih kepada menghormati suami. Demikian juga suami, sebagai imam, pemimpin dalam keluarga bukan berarti menjadi pendominasi. Karena pada dasarnya, baik istri maupun suami adalah sama-sama pemimpin keluarga, seperti sabda Rasulullah s.a.w.; &lt;br /&gt;“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas (rakyat) yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas mereka; dan istri adalah (juga) pemimpin di rumah suaminya, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Sungguh, setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.”  (H.R. muttafaq ‘alayh, dari Ibnu Umar r.a)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya kita mau melihat contoh kehidupan rosulullah dengan Siti Khodijah yang perbedaan usia lumayan jauh, 15 tahun!. Dari sisi status social maupun usia, jelas Siti Khodijah lebih tua dan lebih kaya di banding rosulullah, akan tetapi rumah tangga mereka bisa berjalan baik-baik saja. Atau Rosulullah dengan Siti Aisyah yang juga sangat jauh selisih usianya, tetap rumah tangga mereka juga baik-baik saja. Mengapa kita perlu membina rumahtangga? Dalam suatu ayat telah difirmankan Allah bahwa;&lt;br /&gt;“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir “(QS. Ar-Rum [30]: 21).&lt;br /&gt;Membina rumah tangga dalam sebuah istilah sama artinya dengan membangun sebuah mesjid, yakni membangun ibadah kepada allah swt. Salah satu alasan kita beribadah kepada allah adalah supaya kita mendapat ketenangan dan berumah tangga adalah upaya mencari tempat dimana kita bisa memperoleh rasa tenang. Tenang untuk bisa bercurah kasih sayang, tenang untuk menghadapi kesulitan karena ada pasangan, tenang untuk mengarungi kehidupan karena ada yang kita jadikan pegangan, ada yang menjadikan kita pasangan. Seperti firman allah; &lt;br /&gt;"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Al Qur'an, 36:36) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep berpasang-pasangan pada mahluk ini jelas menunjukkan arti memasangkan atau menyatukan dari yang berbeda, yakni jantan dan betina atau lelaki dan perempuan. Bukan pasangan dalam arti betina dan betina ataupun sebaliknya. Konsep berpasang-pasangan inipun telah dikuatkan juga oleh penemuan Paul Dirac yang meraih Nobel pada tahun 1933 dengan apa yang disebutnya sebagai “parite” . Ia menemukan bahwa setiap materi di dunia ini berpasangan dengan lawan jenisnya, yakni anti materi. Jadi jelaslah, jika tidak ada penciptaan Allah yang tidak ada tujuannya. Begitu pula dengan tujuan dipasang-pasangkannya manusia, diantaranya adalah untuk meraih sakinah mawaddah warohmah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana konsep sakinah mawaddah warohmah itu bisa diperoleh? Antara lain dengan; &lt;br /&gt;1) mengerahkan kemampuan seluruh komponen keluarga agar dapat mengelola perbedaan menjadi sebuah sinergi yang saling menguatkan dan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;2) Menghindari sikap terlalu menonjolkan diri dan dominasi. Mengutamakan sikap saling menghargai  dan menyadari adanya kesamaan hak antara suami/istri.&lt;br /&gt;3) Menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya.&lt;br /&gt;Suami-istri yang menjadi orangtua bagi anak-anaknya merupakan sumber transformasi nilai-nilai pembentuk karakteristik mereka. Seorang anak adalah seperti sehelai kertas putih, suci, seperti tabularasa (John locke) atau  fitrah seperti kata Rasulullah, “orang tuanyalah yang (potensial) menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Dengan kata lain,  pengalaman, atau peran yang orangtua mainkanlah yang akan menjadikan mereka seperti apa. Dan keluarga adalah pena yang menggoreskan pengalaman-pengalaman tersebut buat anak-anaknya. Oleh karena itu, harus ada komunikasi yang baik antar keluarga, saling mendengarkan dan mencoba mengatasi perbedaan bersama-sama. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sakinah, insya allah akan menjadi anak yang sholeh, yang menjadi tabungan pahalanya kelak.&lt;br /&gt;Demikian islam mengajarkan terciptanya keluarga sakinah mawaddah warohmah, yang jauh dari adanya kekerasan dalam rumah tangga, jauh sebelum ditetapkannya UU-nya yakni, UU no.23 tahun 2004 tentang KDRT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Perempuan dalam Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dalam rumah tangga, perempuan juga mempunyai peran penting dalam masyarakatnya. Kita hidup tak bisa sendiri-sendiri, selalu membutuhkan oranglain, disitulah pentingnya berteman, bersahabat dan bertetangga. Bagaimana peran social perempuan dimasyarakat? Salah satunya adalah melalui mejlis taklim. Dengan wadah alternative inilah perempuan Indonesia banyak memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar lagi, mencerdaskan diri dan beraktualisasi guna meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sebagai perempuan mandiri. Adapun majlis taklim yang menjadi wadah pendidikan alternative perempuan, memiliki beberapa fungsi diantaranya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan agama&lt;br /&gt;Sebagai sarana pendidikan secara umum, peranan majlis taklim sangat besar. System pembelajaran yang bermetode klasik, mentransmisi ilmu dengan taken for granted. Figure guru/ustazah menjadi sangat berperan sebagai panutan bagi murid-muridnya. Metode ini dalam istilah Paulo Freire sebagai metode bejana; dimana murid menerima bulat-bulat pengetahuan dari sang guru seperti sebuah bejana kosong yang diisi ilmu. Demikian juga pada mejlis taklim, murid-murid yang berasal dari latar belakang yang bermacam-macam berkumpul mendengarkan ceramah ustazahnya. Pada umumnya mereka sangat nurut dan patuh pada gurunya serta memiliki loyalitas yang tinggi. Selama ini, majlis taklim memberikan pembekalan-pembekalan seputar pengetahuan agama dan kehidupan social yang dibutuhkan warga sehari-hari. Adapun materi yang diberikan dalam pembekalan agama ini antara lain; Baca tulis Alquran, Aqidah akhlak, Fiqih wanita, Tafsir hadist, Ibadah muamalah dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus utama pembekalan ini adalah mengajarkan bagaimana kedudukan seorang perempuan dalam mengatur rumah tangganya, bersosialisasi dengan masyarakat dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa.  Sayangnya, kelemahan system pembelajaran ini adalah kurangnya ruang dialog dan diskusi yang kritis, karena sifatnya yang pasif. Disisi lain, kelemahan ini bisa menjadi peluang bagi seorang pemimpin majlis taklim untuk membentuk dan memberdayakan kelompoknya sesuai dengan yang dibutuhkan. Karenanya penting, bagi seorang pemimpin mejlis taklim memiliki wawasan dan intelektual yang bervisi ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;System Paule Freire dalam Majlis Taklim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan kualitas system pembelajaran majlis taklim, saya sebagai salah satu pimpinan majlis taklim, mencoba memberikan pendidikan yang membebaskan. Seperti yang disebutkan Paulo Freire, bahwa pendidikan itu seharusnya membebaskan; membebaskan dari kemiskinan, dari ketertindasan. Majlis taklim, sudah berupaya kearah itu, mencoba membebaskan kaum perempuan mulai dari buta huruf, buta Alquran hingga mereka mengerti akan peran dan hak-haknya dimasyarakat. Apa yang diberikan dalam mejlis taklim dus, sudah menyerupai apa yang dikatakan freire. Tidak hanya memberikan teori saja, meski diberikan dalam bentuk ceramah akan tetapi langsung juga pada aplikasinya. Ada tiga tahap model pendidikan ini dalam menghadapi realitas; pertama, tahap investigasi. Dimana dalam pemberian materi ceramah, seorang ustazah selalu mencontohkan peristiwa yang terjadi sehari-hari. Ustazah memberikan tuntunan untuk melihat fenomena-fenomena yang terjadi disekitar masyarakatnya, tentu dengan menyisipkan nilai-nilai agama di dalamnya. Kedua, tahap tematisasi; dimana murid-murid majlis taklim setelah diajak melihat fenomena social yang ada kemudian diajak untuk memetakan, mengelompokkan persoalan-persoalan yang terjadi. Dengan kata lain, mengidentifikasi persoalan dan menjadikannya sebagai cermin dan hikmah kehidupan. Ketiga, tahap problematisasi, yaitu murid diajak juga untuk bisa berpendapat, mengkritisi dan menganalisa persoalan-persoalan yang terjadi, berharap agar murid mampu melakukan atau mensikapi lingkungan yang bersituasi demikian. Sehingga, sikap praksis tersebut membawa kesadaran masyarakat akan kebijaksanaan dalam bertindak dan berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep praksis ini, sekarang menjadi bagian system pembelajaran di majlis taklim yang saya pimpin. Konsep yang mengedepankan system dialogis, menghilangkan secara bertahap suasana formalitas dalam proses belajar-mengajar dan fungsi ustazah yang menjadi fasilitator, bukan lagi menjadi sosok guru atau ustazah yang serba bisa, bukan juga yang selalu merasa paling pintar. Secara bertahap, tongkat kepemimpinan harus diwariskan, oleh karenanya metode praksis dengan prinsip aksi dan refleksi ini menjadi sangat penting untuk melihat kapabilitas calon-calon ustazah unggulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;b. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan ekonomi rakyat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan peserta majlis taklim yang berasal dari seluruh Jabotabek, katakanlah jika dalam sebuah kelurahan/desa terdapat 5-10 majlis taklim dan setiap majlis taklim beranggotakan 200 orang, maka ditiap desa saja sudah 1000 orang. Jika jumlah kecamatan rata-rata pada setiap wilayah terdapat 10 kecamatan maka itu sudah berjumlah 10.000 orang perwilayah. Bayangkan jika jumlah itu dikalikan dengan jumlah wilayah yang ada di sepanjang Jabodetabek? Tentu sangat banyak!. Jumlah tersebut sangat sayang jika tidak diberdayakan. Sebagaimana kita ketahui, perputaran ekonomi itu sebenarnya berpusat ditangan perempuan. Perempuan atau ibu-ibu rumah tangga yang mengatur keuangan keluarga. Mereka dapat melakukan dua pekerjaan ekonomi sekaligus! Sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Hal ini terlihat dalam setiap kehadiran mereka di majlis taklim; majlis taklim tak hanya digunakan sebagai tempat mereka belajar menimba ilmu, akan tetapi juga sebagai pusat bisnis. Mereka menawarkan aneka jajanan, belanjaan hingga barang jasa. Pada majlis taklim terdapat semua kalangan strata social masyarakat, dan perputaran bisnis perempuan terjadi disini sehingga menjadi sasaran tepat ekonomi bisnis rakyat.  Karena itu, majlis taklim pun mengelola perputaran keuangan mereka melalui koperasi internal yang nonformal (kopwani= koperasi wanita Assuryaniyah). System koperasi yang sangat sederhana tanpa struktur organisasi yang formil, telah dijalankan sebagai wadah saling bantu atau simpan pinjam. Sayangnya, hingga kini belum sempat terbentuk system koperasi majlis taklim yang terpadu; yang membentuk bank-bank kecil sebagai wadah perputaran transaksi bisnis mereka, memberikan pinjaman modal maupun sebagai tempat menabung mereka. Barangkali inilah yang akan menjadi rencana majlis taklim ke depan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;c. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan social &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sarana pendidikan social, majlis taklim sangat potensial dijadikan tempat sosialisasi berbagai produk social. Disini, tak hanya belajar agama saja, tetapi nilai-nilai dalam kehidupan keseharian pun diajarkan tentu bersumberkan norma agama. Perempuan sebagai anggota majlis taklim juga sebagai istri, ibu, mertua, dan bagian dari lingkungan masyarakatnya yang tak luput juga dari berbagai masalah. Persoalan-persoalan kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi, traficiking, hak dan kewajiban juga menjadi bagian kehidupan mereka. Rata-rata, para ibu anggota mejlis taklim ini pun mengalami persoalan yang sama. Kebanyakan dari mereka mengalami persoalan kekerasan dalam rumah tangga. Untuk itu, majlis taklim pun menjadi tempat bercurah, berkeluh kesah dan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun juga, majlis taklim memberikan peranan besar bagi anggotanya, menampung aspirasi mereka, mendengarkan persoalan mereka turut berbagi bersama dan saling menguatkan dengan nilai-nilai akidah agama. Hal ini dapat mengantisipasi tingginya nilai kematian akibat bunuh diri. Seperti kita ketahui tingkat kematian akibat bunuh diri salah satu penyebabnya adalah tidak ada tempat berbagi. Tidak bisa mengeluarkan persoalan dalam dirinya pada orang lain, lantaran tak ada yang bisa dijadikan tempat untuk itu. Lalu hidup menyendiri dan terjerat bunuh diri. Disini, majlis taklim justru memberikan ruang untuk saling berbagi dan saling menguatkan diri (konseling). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, majlis taklim bisa menjadi pilar utama pendidikan berbasis kesetaraan, dalam arti setara secara social atau bahasa kininya emansipasi. Ketokohan pemimpin majlis taklim yang menjadi panutan dan tuntunan sangat potensial menciptakan peluang-peluang bagi perkembangan kemajuan kaum perempuan. Banyak pengetahuan yang belum bisa menembus ruang majlis taklim lantaran minimnya sumber daya manusia yang dapat mengakses hal tersebut. Tak heran jika selama ini majlis taklim hanya menjadi pusat belajar agama saja. Padahal, majlis taklim bisa bergandengan tangan dengan LSM-LSM perempuan maupun instansi-instansi pemerintah untuk bekerjasama dalam memberdayakan sesama mereka. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi perempuan, pendidikan tentang hak-hak kaum perempuan, tentang kepemimpinan, diskriminasi dan life skill masih banyak yang belum tersentuh ke dalam. Padahal, agama saja mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan, agama juga mengajarkan untuk mencari ilmu sampai kenegri cina dan mengajarkan juga tentang hak-hak dan kewajiban terhadap sesama. Jadi, sebenarnya ini bisa menjadi sebuah sinergi pemberdayaan yang saling menguatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;d. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun, sehabis lebaran, majlis taklim kami selalu membuka ruang bagi jemaahnya untuk bersilaturahmi (open house). Dari setiap tahun acara itu diadakan selalu berjumlah di atas 10.000 orang. Dengan jumlah jemaah anggota mejlis taklim sebanyak itu, tidakkah potensial untuk dimanfaatkan? Jumlah sebanyak itu bisa menggiring seorang calon pejabat politik menuju kemenangannya. Lepas dari itu, pendidikan politik dalam mejlis taklim adalah sebuah proses pembelajaran. Bagaimana ibu-ibu mejlis taklim ini bisa memahami situasi politik, bisa memilih pemimpin yang sesuai kriterianya, bisa mengantisipasi keadaan jika ada kebijakan politik yang tidak berpihak pada mereka serta yang penting adalah mereka memahami partisipasi politiknya bukan sekedar ikut-ikutan saja. Tetapi lebih kepada kesadaran mereka akan perlunya demokrasi dan bijak dalam berpihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, sebagai sarana pendidikan politik, majlis taklim pun tak luput dari bargening-bargening politik para elit. Mereka ingin memanfaatkan jumlah besar para jemaah yang mayoritasnya memang perempuan. Jumlah anggota Majlis taklim yang besar menjadi salah satu sasaran incaran kemenangan mereka. Terlebih lagi, adanya peraturan yang mengharuskan porsi 30% posisi pemerintahan harus diisi oleh kaum perempuan. Disinilah pentingnya peranan majlis taklim dan Inilah kekuatan bargening majlis taklim dalam mensikapi dan memperjuangkan peranan kaum perempuan. Demikian tanpa disadari, majlis taklim yang tadinya hanya wadah pengajian keagamaan yang jauh sebetulnya dari perbincangan politik namun ternyata bisa mempunyai andil besar justru dalam perpolitikan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kiranya, mulai saat ini kita tak boleh lagi memandang remeh majlis-majlis taklim mengingat perannya yang begitu besar. Terlebih lagi sekarang, keanggotaan mejlis taklim menjadi syarat tak tertulis terhadap status social dan eksistensi seseorang dilingkungannya. &lt;br /&gt;Suatu hari nanti, majlis taklim akan menjadi pusat pendidikan alternative terpadu dan menjadi sarana utama pemberdayaan dan peningkatan kualitas, baik secara EQ, IQ, maupun ESQ kaum perempuan. Insya allah, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-659243547648197818?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/659243547648197818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=659243547648197818' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/659243547648197818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/659243547648197818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2010/03/peranan-majlis-taklim-dalam.html' title='PERANAN MAJLIS TAKLIM DALAM MENGEMBANGKAN KUALITAS PEREMPUAN INDONESIA'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8669943830321142522</id><published>2010-02-24T10:30:00.000+07:00</published><updated>2010-02-24T10:31:01.668+07:00</updated><title type='text'>soal dialog calon pemimpin tangsel</title><content type='html'>kemarin, tgl 23 feb 2010 dipuspitek diselenggarakan dialog calon pemimpin kota tangsel...yg hadir diantaranya adalah ayi ruhiyat, suwandhi, iskandar dll....mereka memaparkan visi dan misi mereka untuk tangsel...yang menarik adalah sesi tanya jawab ketika ada seorang peserta bertanya mempertanyakan dalam kapasitas apa mereka duduk di depan forum sebagai bakal/calon pemimpin tangsel, sementara persoalan kapan pilkada dan peraturan lainnya saja belum ditetapkan pasti. pertanyaan ini menarik, sekaligus membuat saya gak antusias lagi untuk melanjutkan acara tersebut. menurut saya pertanyaan peserta itu tepat sekali, lantaran terkesan seolah-olah mereka adalah calon yang sudah ditetapkan...padahal sebenarnya belum apa-apa. jadi, pengajuan pertanyaan2 seputar tangsel dan perkembangannya menjadi mubazir. pertanyaan2 tsb akan tepat diajukan jika memang sudah ada penetapan calon resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi jika hanya ingin memperkenalkan calon2 pemimpin tangsel seharusnya tema-nya tidak seperti itu. lagi pula, dg penetapan bakal calon yg belum resmi tsb memungkinkan siapa saja sebenarnya bisa duduk didepan forum tsb....siapa saja bisa bisa bicara dirinya sbagai calon tangsel, tidak hanya mereka yg duduk disitu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paling tidak, buka dulu lah forum diskusi yang menginventarisir kriteria2 bakal calon pemimpin tangsel seperti apa...lalu buka saja forum siapa yg berani bicara jika mereka jadi pemimpin tangsel...jadi kesannya tidak kentara sekali jika acara tsb rekayasa branding image unk bakal calon2 tertentu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8669943830321142522?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8669943830321142522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8669943830321142522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8669943830321142522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8669943830321142522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2010/02/soal-dialog-calon-pemimpin-tangsel.html' title='soal dialog calon pemimpin tangsel'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-564111017766616342</id><published>2009-12-22T02:14:00.002+07:00</published><updated>2009-12-22T02:19:23.008+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diaryku'/><title type='text'>Is my 36 years of my life</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTHITAM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Chiller; 	panose-1:4 2 4 4 3 16 7 2 6 2; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:decorative; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Tonight, 1.30 am..22 dec 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Is my 36 years of my life…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Mungkin belum terlalu banyak jalan yang kutempuh, belum juga terlalu banyak cerita yang kubuat tapi setidaknya sudah ada beberapa yang menjadi hikmah buatku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Di penghujung 36 tahun ini, aku bertanya pada diri sendiri, sudah bergunakah diriku bagi orang banyak? Sudah berapa banyak kebaikan yang kubuat? Dan sudah berapa &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;banyakkah dosa yang aku perbuat? Di penghujung malam ini, aku merenungi lagi…perjalanan duniaku yang tak seberapa ini. Awal tahun lalu, aku masih gelisah dengan diriku, aku masih bertanya tentang dimana seharusnya aku. Dua bulan kemarin, aku sudah putuskan langkahku dan merasa mantap dengan keputusanku itu, walau hingga kini masih abu-abu. Walau terkesan konyol, tapi aku sudah membuat keputusanku sendiri, yang aku sadari sendiri konsekwensinya dan menerimakan apa adanya. Mungkin, ini kali pertama dalam alur kedewasaanku membuat jalanku sendiri. Agak terlambat memang, dibanding orang-orang lain yang diusia ini sudah mengukir banyak prestasi. Aku hanya baru menyadarinya saja sekarang…jika ternyata sangat menyenangkan menjadi dirimu sendiri yang bisa membuat keputusanmu sendiri dan melakukan segalanya tanpa harus ada yang takut menghalangi. Masa itu ternyata baru kudapati diusia ini!. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Mengapa aku mengatakan begitu? Sewaktu kecil, semenjak mulai bangun tidur hingga hendak tidur lagi, semua sudah diatur oleh ibu, bapak, kakak atau nenek kita. Dari mulai pakai baju, diambilkan yang sama dan harus seragam dengan kakak, makan disuapi barengan dengan kakak, tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Apalagi aku perempuan. Seperti terpenjara saja rasanya saat itu menjadi perempuan. Smua serba dilarang. Katanya, in the name of martabat perempuan! Basi!!...tidak untuk dipintarkan, melainkan untuk dibodohi. Itulah makanya, perempuan terkonstruksi oleh patriarki. Bahkan tak bebas menjadi dirinya sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Begitupun yang namanya ‘istri’, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terpenjara yang sama. Hanya saja modelnya berbeda. Malah lebih parah lagi, perempuan atau aku bahkan sama sekali tak mengenal diriku lagi!. Aku adalah boneka ciptaan suami, pemanis pajangan status berumah tangga, pelacur setia disetiap tidurnya dan pelayan yang ramah dirumah tangganya. Itu aku, memposisikan apa itu ‘istri’ bagiku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Dulu aku berjalan dengan kaki terantai. Dalam sel yang terbuat dari aneka perhiasan. Aku seperti kata lagu, adalah burung dalam sangkar emas; yang dipelihara, dibelai dan diberi makan dari dalam kurungan. Aku memang tak boleh terluka, tak boleh lelah dan tak boleh terlihat jelek. Aku harus tetap terlihat rapi, bagus dan bersiul indah; dari dalam kurungan. Sementara, si pemburu pergi lagi mencari buruan yang lainnya. Aku harus tetap terawat indah, tersenyum palsu dari dalam kurungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Ketika suatu hari, aku berhasil melarikan diri aku terbang bebas….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Memang aku bisa terbang bebas, tapi rantai itu masih tersisa dijemari kaki..itu yang membuatku tak bisa terbang tinggi…aku tersesat dalam hutan yang pekat, yang belum pernah aku jamah sama sekali. Aku terantuk batu, pohon, dan karang…aku coba tak merasakan sakitnya. Aku sadari, aku ketakutan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;Tapi satu hal yang paling kusukai dalam hidup duniawi ini adalah ‘prosesnya’. Itu yang membuat langkahku sekarang tegak. Beraniku muncul dan yang terpenting lagi adalah, aku bisa membuat keputusanku sendiri!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengapa itu penting buatku? Yup, karena disitulah aku menyadari jika aku sudah menjadi aku. This is what I am…so, happy birthday to me…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%; color: rgb(84, 141, 212);font-family:Chiller;font-size:14pt;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-564111017766616342?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/564111017766616342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=564111017766616342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/564111017766616342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/564111017766616342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/12/is-my-36-years-of-my-life.html' title='Is my 36 years of my life'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1051877468399270095</id><published>2009-12-15T18:03:00.002+07:00</published><updated>2009-12-15T18:06:10.007+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>TAKUTT??????................</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///D:%5CDOCUME%7E1%5CIRM%7E1.IPC%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Seringkali kita takut oleh sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Anehnya, ketakutan itu seringkali juga menjadi beban sendiri. Padahal kalo dipikir-pikir apa yang ditakuti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; belum benar-benar menimpa…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoNormal"&gt;Apa sih takut?&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 102, 102);" class="MsoNormal"&gt;Aku rasa takut itu adalah sesuatu perasaan, asumsi, perkiraan dan kecemasan yang berbaur sekaligus terhadap sesuatu yang kita belum ketahui, belum kita kenali atau belum kita pahami. Masalahnya yang juga jadi pertanyaanku selama ini adalah, dari mana asal takut ? kenapa ada rasa takut? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seperti hal nya lidah yang dapat mengecap rasa asin, asam, manis dan pedas. Barangkali demikian juga dengan rasa takut, tetapi tentu saja bukan lidah, mungkin otak. Otak mengirim perintah untuk membuat perisai-perisai antibody terhadap apa yang dicemaskan diri dari ketidak tahuannya itu. Antibody itu mungkin berupa kulit yang merinding, keringat dingin, atau mata yang terpejam. Dengan kata lain, otak mengirim sinyal perlindungan diri dari kecemasan manusia terhadap ketidak tahuannya terhadap sesuatu berupa itu tadi, bulu kuduk berdiri, keringat dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk antibody atau perlindungan diri itulah yang kemudian dikenal dengan rasa takut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 102, 255);" class="MsoNormal"&gt;Kenapa kita suka takut sama setan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama ini salah satu hal yang paling&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditakuti manusia adalah setan, jin atau mahluk halus lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pertanyaannya adalah; mengapa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Aku rasa, takutnya kita terhadap setan, jin, tuyul dan mahluk halus lainnya itu dikarenakan kita belum pernah melihat mahluk itu sebelumnya. Bisa juga karena kita tidak biasa melihat wujud mahluk aneh itu dalam keseharian yang nyata. Normalnya kita melihat sesame manusia dengan gambaran fisik yang seperti sehari-hari kita temui, karena terbiasa dengan sosok nyata dan kita anggap normal itulah maka kita tidak takut dan biasa saja. Lain halnya dengan sosok setan yang misalnya tiba-tiba muncul tanpa kepala, tentu kita akan takut!. Mungkin lebih kepada syok sebenarnya, kaget karena tak terbiasa melihat sosok diluar ukuran normal kita. Jadi kita anggap itu takut. Barangkali jika sosok tanpa kepala itu sudah seringkali muncul dan ada dikeseharian kita dan berinteraksi seperti biasa, tentu kita sudah tidak kaget lagi dan tidak takut lagi lantaran sosok itu sudah familiar. Sosok itu sudah tidak kita anggap menakutkan lagi. Jadi, seandainya wujud aneh setan-setan itu muncul saja dipandangan nyata manusia dan menjadi bagian keseharian kita, barangkali kita tidak perlu takut lagi pada yang namanya setan itu. Ya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Takut pada musuh?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sama halnya rasa takut dengan yang lain, takut pada musuhpun dikarenakan kita tidak mengenali sang musuh sebelumnya. Sehingga, kecemasan-kecemasan yang belum tentu terjadi itu menguasai pikiran dan hati lalu terekspresi pada keluarnya keringat dingin atau pun perut yang mules. Kenapa harus takut sama musuh? Takut, bisa juga karena rasa bersalah yang muncul di dalam diri. Kenapa rasa takut muncul setelah merasa bersalah? Hal itu karena kita tidak mengetahui apakah yang kita anggap salah itu benar salahnya, kita juga tidak mengetahui jika itu benar salahnya hukuman apa yang akan kita terima. Jadi, ketakutan-ketakutan itu muncul selalu disebabkan oleh yang namanya’ KETIDAK TAHUAN’ kita akan apa yang belum terjadi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Takut pada Tuhan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bersambung…….&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1051877468399270095?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1051877468399270095/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1051877468399270095' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1051877468399270095'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1051877468399270095'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/12/takutt_15.html' title='TAKUTT??????................'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-615247501104484828</id><published>2009-12-07T12:23:00.003+07:00</published><updated>2009-12-07T12:25:18.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosialita'/><title type='text'>BEBEK &amp; AYAM BERCINTA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SxyRUFYxy3I/AAAAAAAAAKA/xKj0qApX4a0/s1600-h/duck.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 84px; height: 63px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SxyRUFYxy3I/AAAAAAAAAKA/xKj0qApX4a0/s200/duck.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412360626422008690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Senin, 7 des 09, 08:30 am&lt;br /&gt;Pagi ini aku menyaksikan fenomena yang luarrr biasa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan aku sedang libur, pekerjaan rutin seperti menyapu, ngepel dan masak menjadi hal yang biasa kulakukan tiap kali ada dirumah. Sedang asyik-asyiknya aku ngepel teras depan rumahku..tiba-tiba perhatianku teralih oleh pemandangan yang menurutku lucu!. Seekor bebek putih yang tengah sibuk mengejar seekor ayam betina hitam. Nampaknya, si bebek ini sedang ingin bercinta. Kebetulan diantara kerumunan ayam hanya dialah bebek satu-satunya, apa mau dikata, ketika hasrat sudah membara; tak ada bebek, ayampun jadi!....hahahahaha…geli aku melihatnya. Si bebek mematuk leher sang ayam, sementara si ayam yang mungkin merasa risih? Terus tak mau diam. Sementara,  sibebek juga tak mau kalah sigap, ia tak sedikitpun melepaskan patukannya. aku sendiri akhirnya, menghentikan pekerjaan ngepelku dan malah mengikuti kemana dua sejoli itu pergi, aku mengintai dari kejauhan. (ihh,najong! Pagi-pagi sudah ngintip yang lagi mau ‘gituan’ ): ) bebek tersebut mencoba menaiki si ayam, tetapi berulangkali meleset, lantaran tubuh bebek yang lebih besar ketimbang sang ayam yang lebih kecil (mungkin ayamnya baru beranjak dewasa). Setelah melalui usaha yang gigih, akhirnya sang bebek berhasil menaiki sang ayam, si ayampun nampaknya sudah lelah mengelak dan ia akhirnya pasrah saja. Entah kenapa, aku sangat menikmati sekali tontonan pagi itu. Aku sempat berfikir, apa yang dilakukan hewan itu tak jauh dari manusia, sama-sama punya hasrat! Hasrat untuk bercinta, inikah yang seringkali disebut manusia ‘hasrat binatang’ ketika ada manusia  melakukan hal yang sama? Nampaknya begitu, lihat saja perilaku bebek itu, ia tak peduli itu ayam, ia tak peduli itu hitam, yang penting ia bisa lampiaskan birahinya.  Manusia juga begitu, ia tak peduli itu anaknya, istri orang atau ibunya sendiri…ketika nafsu birahi menyelimuti akal dan hati, semua terlihat sama yang penting bisa terpenuhi!. Yups! Itu nafsu binatang!, lalu, perilaku si binatang sendiri apa perlu kita sebut juga sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, back to the stories. Si bebek ternyata masih perlu usaha lagi ketika ia sudah berhasil menaiki/meniduri si ayam untuk bisa penetrasi. Aku yang menyaksikan, jadi ikut tegang…tanpa disadari, aku sedang nongkrong di pinggiran kebun depan rumahku sambil memegang gagang pel-an. Aku meremas jari merasa gemas melihat usaha si bebek yang keras sekali untuk bisa penetrasi. Setelah sekian lama, akhirnya berhasil juga. Hanya sekitar satu menit saja yang dibutuhkan si bebek untuk bisa menyentuh liang pantat si ayam, setelah itu ia melepaskan si ayam. Si bebek lantas kabur begitu saja setelah kejadian. That’s it? Kataku dalam hati. Apa hewan tak melalui masa ‘menikmati’ percintaanya? Benar-benar binatang! Kataku geram!. Kasihan si ayam, mungkin ia tak menikmati hubungan kilat tersebut, atau mungkin ia juga terpaksa ya, karena sepertinya si bebek memang sedang memperkosanya. Seperti halnya manusia, dalam hubungan suami-istri, seringkali juga kejadian serupa. Suami melakukan penetrasi sekedar untuk memenuhi birahinya sendiri, tak memikirkan si istri, sehingga kenikmatannya hanya dirasakan dia sendiri sedangkan istrinya tidak. Atau ketika terjadi pemerkosaan terhadap dua kelamin berbeda tanpa ikatan, atau samakah artinya si istri tengah mengalami perkosaan dari sang suami? Perlukah kita mengecap suami itu binatang? Sementara percintaan yang mengasyikan itu adalah ketika kedua pasangannya saling memberi dengan ketulusan hati, tanpa paksaan, tanpa kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huffs!! Akhirnya pekerjaan mengepelku selesai sudah!. Aku melihat si bebek itu dari kejauhan, anehnya, si ayam hitam itu kini sedang bersamanya. Seperti sepasang sejoli yang tengah pacaran. Si ayam sedang mematuk-matuki punggung si bebek, seperti sedang membersihkan tubuh pasangannya. Keduanya tenggelam di tengah rerimbunan rerumputan, asyik sekali, akrab penuh kemesraan. Ternyata, zaman memang sudah modern, hewan pun tak lagi mengenal diskriminasi rasis dalam pergaulan. Lucunya, justru manusia sampai sekarang masih ada saja yang saling membedakan!. Malu ah sama ayam!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oia, satu lagi yang terlupa! Aku sempat kepikiran juga, jika terjadi kehamilan pada si ayam betina…nanti telurnya jadi seperti apa ya??????...................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-615247501104484828?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/615247501104484828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=615247501104484828' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/615247501104484828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/615247501104484828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/12/bebek-ayam-bercinta_9175.html' title='BEBEK &amp; AYAM BERCINTA'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SxyRUFYxy3I/AAAAAAAAAKA/xKj0qApX4a0/s72-c/duck.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-5092542703282451007</id><published>2009-06-24T19:21:00.001+07:00</published><updated>2009-06-24T19:25:02.484+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SkIaxZnPBsI/AAAAAAAAAJY/DkWpoNxF-eI/s1600-h/15102008197.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SkIaxZnPBsI/AAAAAAAAAJY/DkWpoNxF-eI/s200/15102008197.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350868743260931778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-5092542703282451007?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/5092542703282451007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=5092542703282451007' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/5092542703282451007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/5092542703282451007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/06/blog-post.html' title=''/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SkIaxZnPBsI/AAAAAAAAAJY/DkWpoNxF-eI/s72-c/15102008197.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8296256839202737905</id><published>2009-06-24T19:17:00.001+07:00</published><updated>2009-06-24T19:17:57.630+07:00</updated><title type='text'>Nilai Kuantitas Prestasi</title><content type='html'>Pada suatu hari ada seorang anak yang seringkali menjadi objek pelecehan teman-temannya. Sebut saja namanya Joko. Dari penampilannya Joko ini memang terlihat kurang rapi, rambut selalu berantakan, dan nilai disekolahpun selalu di bawah rata-rata. Tiap kali pelajaran sekolah, Joko selalu dijadikan objek tudingan. Bicara sedikit saja, selalu menjadi olok-olokan temannya. Ini membuat Joko semakin minder  dan merasa tak nyaman jika berada dilingkungan sekolah. Ia akhirnya sering bolos, dan sering mendapat teguran sekolah.  Ketika ibu gurunya tengah santai dijam istirahat, sambil menyantap makan siang, matanya tertuju pada headline berita dikoran hari itu. Tentang prestasi seorang anak dalam kejuaran menyanyi  internasional. Dibacanya berita itu dengan seksama, ternyata anak yang berprestasi itu tak lain adalah Joko yang selama ini seringkali dianggap aneh oleh teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini kita menganggap apa yang disebut berprestasi adalah mereka yang pintar dikelas, yang dapat mencapai nilai tertinggi disekolah, mendapat ranking kelas pertama dan mendapat predikat juara kelas. Jadi, yang berprestasi itu adalah mereka yang pinter dan yang pinter selalu mendapat nilai bagus tiap kali ulangan, selalu jadi wakil sekolah tiap kali ada acara dan selalu terpilih pada tiap kali ada kegiatan sekolah.&lt;br /&gt;Kecenderungan bagi anak yang pintar dan selalu mendapat nilai bagus memang begitu. Dengan sendirinya, segala jalur kemudahan dan kesempatan selalu terbuka bahkan menghampiri dirinya. sebaliknya, bagi mereka yang tidak pintar disekolah semua fasilitas itu seolah tidak ada. &lt;br /&gt;Hal ini terjadi, karena sekolah sebagai tempat belajar siswa merupakan sebuah lembaga formil yang sudah terstruktur dan terformat dalam segi metode, kompetensi standard dan materialnya. apa yang menjadi standar penilaian diukur secara nominal. Penilaian ini memang lebih bersifat empiris dan praktis ketimbang penilaian yang bersifat kualitatif. Selama ini kebanyakan sekolah cenderung melakukan penilaian secara kuantitatif, karena penilaian secara kualitatif dianggap tidak representative, tidak praktis dan tidak objektif.&lt;br /&gt; Jika kita lihat kembali pada apa yang menjadi  tujuan pendidikan, seperti yang dijelaskan dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 No.1, berbunyi:&lt;br /&gt;Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jelas sekali maksud dari tujuan pendidikan ini yaitu untuk mencetak siswa-siswi kita menjadi manusia yang berkualitas. Selain memiliki keterampilan yang berguna bagi dirinya kelak namun juga memiliki akhlak yang mulia. Ini artinya potensi yang tumbuh nantinya menjadi sebuah prestasi baik secara akademik maupun secara mental.&lt;br /&gt; Persoalannya adalah, selama ini kebanyakan sekolah senantiasa menggunakan system penilaian terhadap potensi akademik siswa saja dan itupun bersifat kuantitatif. Padahal, penilaian seperti ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya; &lt;br /&gt;1. Diskriminasi. Penempatan nilai berdasarkan ranking kelas bisa menimbulkan perasaan terdiskriminasi bagi siswa. Hal ini berdasarkan adanya potensi siswa yang masing-masing berbeda&lt;br /&gt;2. Mutu hasil pendidikan yang rendah yang mengabaikan aspek-aspek moral, budi pekerti , seni, life skill dan lain sebagainya&lt;br /&gt;3. Adanya persaingan global yang bisa menempatkan yang maju hanya yang punya kemampuan, sedangkan yang kurang akan tertinggal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ini juga membuat Depdiknas sempat menerapkan system KBK beberapa waktu lalu. Selain itu, dampak lain yang bisa ditimbulkan dari system ini adalah adanya motivasi untuk berkompetisi yang mengarah pada konflik. Persaingan global akan melahirkan bentuk diskriminasi atau stratifikasi social yang jika tidak bisa dikendalikan akan berujung pada permusuhan dan chaos. Tidak hanya itu, system ini juga bisa memicu timbulnya sikap mental yang tidak sehat. Sebagai contoh; supaya bisa dianggap lulus sekolah, siswa harus bisa mencapai nilai 7 pada tiap mata pelajaran. Kita tahu, potensi tiap siswa itu berbeda, oleh karenanya tidak semua siswa akan memperoleh nilai 7. Akan tetapi, demi bisa lulus, maka sebagian siswa yang kurang mampu tadi akan mengambil cara praktis, yakni dengan mencontek. di satu sisi, jika nilai semua siswa bagus maka semua siswa akan lulus. Jika semua siswa lulus maka sekolah akan mendapat akreditasi baik. Selanjutnya, jika sekolah terakreditasi baik, akan berimbas pada banyaknya siswa yang akan mendaftar disekolah tersebut. Akhirnya pragmatism ini tidak hanya dianut oleh siswanya saja, tetapi juga sekolah. Sekarang kita balik hipotesanya, jika sekolah terakreditasi baik maka semua siswanya harus lulus. Demi siswanya lulus, maka menyontek dibiarkan atau bahkan dipersilakan. Realitas yang terjadi kebanyakan justru hipotesa terbalik ini. Semua karena ingin mencapai tujuan pragmatis. Jika ini yang terjadi, maka sekolah secara tidak langsung telah berkontribusi terhadap pembentukan sikap mental siswa yang tidak sehat tadi. Dan ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan pendidikan dalam undang-undang RI. &lt;br /&gt; Oleh karena itu, sebaiknya system pembelajaran itu harus mencakup ; learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Siswa tidak hanya belajar sesuatu untuk mengetahui saja, tetapi juga untuk bisa aktif berbuat sesuatu, menganalisa dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya merangsang kecerdasan cognitive saja tetapi juga aspek konstruktifnya. Adapun yang dimaksud dengan aspek konstruktif, menurut Jean Piaget (1896 - 1980); manusia itu membangun pengetahuannya secara internal dalam diri individu masing-masing melalui proses adaptasi dan organisasi terhadap segala peristiwa eksternal menjadi pengetahuan dan ketika pengetahuan lama dan pengetahuan baru di organisasikan menjadi pengetahuannya yang lebih kompleks maka pengetahuannya akan terbangun secara terus menerus. Dengan demikian, Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. Akhirnya, Von Glaseserfeld 1996, mengatakan bahwa pada dasarnya pengetahuan itu adalah bentukan kita sendiri.  &lt;br /&gt;Oleh karena itu penerapan teori konstruktivitas ini sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Dengan penerapan metode konstruktivitas ini, tidak hanya potensi akademik siswa yang muncul tetapi juga potensi non akademiknyapun akan lebih terlihat. Begitu juga dengan system penilaian siswa, sebaiknya juga bersifat konstruktif. Tidak hanya mengedepankan potensi akademik saja, tetapi juga potensi lain yang sesuai dengan tujuan pendidikan dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003. Artinya, system penilaian potensi siswa tidak hanya meliputi bidang akademik saja, tidak juga berdasarkan nominal saja tetapi juga secara kualitatif. Misalnya saja, penghapusan system peringkat kelas yang Alhamdulillah telah diberlakukan hampir diseluruh sekolah di Indonesia. Penilaian dalam setiap bidang studi harus meliputi kedua aspek kuantitatif dan kualitatifnya. Misalnya, penilaian terhadap bidang studi matematika, tidak hanya memasukkan nilai kognitifnya saja, tetapi juga aspek lain seperti; penguasaan materi, analisa teori, nalar rasio dan lain sebagainya. Dalam hal ini beberapa sekolah telah menerapkannya. &lt;br /&gt;Dengan penerapan system penilaian baik secara kuantitatif maupun kualitatif, tentunya setiap siswa akan memiliki penilaian sesuai dengan aspek potensinya masing-masing. Aspek potensi ini menurut kalangan ahli, tergantung dari  potensi otak kiri dan otak kanan manusia. Menurut Tony Buzan (Use Your Head: 1993) prestasi akademis seseorang yang cenderung pada logika dan angka (kuantitatif) itu biasanya dikuasai oleh mereka yang memiliki potensi besar pada otak kiri. Sedangkan potensi kualitatif, seperti; imaginasi, analisa, seni dan irama itu dikuasai oleh otak kanan. &lt;br /&gt;Pada akhirnya, apa yang disebut dengan prestasi siswa adalah aktualisasi dari potensi yang dimiliki setiap siswa, baik secara akademisi maupun secara mental. Adapun yang menjadi standar penilaian prestasi selama ini, cenderung bersifat kuantitatif (nominal, angka). Ini membentuk pola pemikiran siapa yang berprestasi, dia yang meraih nilai tertinggi, juara ke satu, dan lain sebagainya. Pola ini menjerumuskan siswa maupun sekolah untuk selalu mengejar angka. Pola ini mengabaikan aspek moralitas yang tidak bisa dinominalkan dengan angka.  Seorang anak  yang mencontek bisa saja meraih nilai tinggi dan menjadi juara, artinya ia bisa unggul secara kuantitas, tetapi secara kualitas, ia tidak memiliki sikap mental yang sehat. Oleh karena itu, untuk menghasilkan siswa yang berprestasi dan berkualitas, diperlukan system pendidikan yang juga berkualitas. System pendidikan yang berkualitas adalah system yang mampu memadukan aspek kognitif dan konstruktif dalam metode pembelajarannya. System pendidikan yang berkualitas juga harus didukung tidak hanya dengan fasilitas dan dasar aturan yang jelas tetapi juga dengan tenaga pendidiknya yang berkualitas. Tenaga pendidik yang berkualitas dapat menghasilkan siswa yang berprestasi baik secara akademik maupun secara mental.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8296256839202737905?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8296256839202737905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8296256839202737905' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8296256839202737905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8296256839202737905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/06/nilai-kuantitas-prestasi.html' title='Nilai Kuantitas Prestasi'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4658764403768577323</id><published>2009-06-02T15:56:00.003+07:00</published><updated>2009-06-02T16:19:10.024+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diaryku'/><title type='text'>BUNGA DI TAMAN...</title><content type='html'>dear blogiary&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemarin, hampir saja kutemukan dunia. dibelahan lain yang hijau dengan tunas-tunas muda. wewangian bunga semerbak dimana-mana, buah-buah pun ranum dipohonnya. semula aku takut, jangan-jangan ini bukan duniaku sebenarnya. maka kucabuti rumput, pohon dan bunga-bunga itu. meyakini diriku jika masih berpijak dibumi yang sama....separuh taman itu kini telah tak indah, karena keindahannya telah kunodai dengan keraguan hati ini. taman itu tampak menangis...memohon padaku agar aku menanaminya kembali, merawatnya dan menyiraminya dengan hati.  tapi aku justru tak peduli dan melangkah pergi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setangkai bunga yang kupetik, ternyata mengundang tarik mahluk lain. ia datang dengan riang dan keceriaannya. tanpa tanya mengambil bunga yang tengah kugenggam dan menanaminya kembali ditaman itu. ia merawatnya dengan hati dan cinta...hingga taman itu kini tampak lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika langkah lurusku terantuk batu, aku baru menyadari jika dunia yang kupijak ini nyata.&lt;br /&gt;kakiku terluka, tak lama kemudian...hatikupun terasa terluka...aku baru menyadarinya....&lt;br /&gt;jika aku bisa merasakan perihnya terluka....aku baru menyadarinya jika ini, ternyata memang ada...&lt;br /&gt;ketika taman itu telah menjelma, aku menyesali telah menodainya...&lt;br /&gt;tapi disana sudah ada penjaga cantik yang merawat dengan hatinya.&lt;br /&gt;akupun tersenyum...&lt;br /&gt;aku baru menyadarinya...&lt;br /&gt;aku masih bisa terluka...yang perih...namun indah...&lt;br /&gt;indah karena aku menikmatinya dan perih karena aku terlambat menyadarinya..&lt;br /&gt;akupun tersenyum...&lt;br /&gt;melihat keindahan taman itu dari kejauhan...&lt;br /&gt;indah asri dengan bunga-bunga yang bermekaran...&lt;br /&gt;terawat rapi dan sangat menawan..&lt;br /&gt;aku hanya bisa menjagamu kini dari kejauhan.&lt;br /&gt;aku tak ingin lagi merusak alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku akan terus berjalan&lt;br /&gt;dan berhenti pada yang memang benar menghendaki&lt;br /&gt;dan tertambat pada memang yang benar ingin memiliki&lt;br /&gt;dan terkubur pada yang memang benar ingin disetiai...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4658764403768577323?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4658764403768577323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4658764403768577323' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4658764403768577323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4658764403768577323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/06/bunga-di-taman.html' title='BUNGA DI TAMAN...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8226028040852323891</id><published>2009-05-09T21:03:00.001+07:00</published><updated>2009-05-09T21:06:56.818+07:00</updated><title type='text'>MY OLD NEIGHBOUR..DEAREST EMAK IINK..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SgWNwfZPtNI/AAAAAAAAAJM/vQ9rWXZlhLc/s1600-h/24102008264.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SgWNwfZPtNI/AAAAAAAAAJM/vQ9rWXZlhLc/s200/24102008264.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333825197890843858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8226028040852323891?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8226028040852323891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8226028040852323891' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8226028040852323891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8226028040852323891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/05/my-old-neighbourdearest-emak-iink.html' title='MY OLD NEIGHBOUR..DEAREST EMAK IINK..'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SgWNwfZPtNI/AAAAAAAAAJM/vQ9rWXZlhLc/s72-c/24102008264.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-6673892799495352200</id><published>2009-04-20T15:32:00.003+07:00</published><updated>2009-04-20T15:37:42.230+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MARI JADIKAN TANGERANG SELATAN LEBIH BAIK!!!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-6673892799495352200?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/6673892799495352200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=6673892799495352200' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/6673892799495352200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/6673892799495352200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/04/mari-jadikan-tangerang-selatan-lebih.html' title=''/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1702315784501209124</id><published>2009-04-20T14:04:00.013+07:00</published><updated>2009-04-20T16:10:46.682+07:00</updated><title type='text'>hari ini aku terluka...jika idealisme pendidikan yang seharusnya menjadi wadah produksi generasi bangsa ternodai oleh pendidik itu sendiri.</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;lembaga pendidikan adalah tempat dimana putra putri bangsa kita mengenyam nilai-nilai dan norma serta pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun  pengetahuan umum. sekolah, adalah tempat putra putri kita mengenal dan belajar, bagaimana menjadi pribadi yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;cerdas dan berakhlak!.&lt;/span&gt;tempat belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri, santun, bermoral dan berintelektual. sekolah merupakan agen sosialisasi yang penting ke dua setelah keluarga. bagaimana mereka menjadi nanti adalah tergantung bagaimana pendidik mendidiknya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;barangkali tak heran, jika korupsi di negri ini sudah menjadi tradisi. jika merunut ke belakang, bisa jadi peran sekolah menjadi salah satu sumber kontribusinya. perilaku korupsi adalah perilaku yang dilandasi oleh kecenderungan manusia yang tak pernah merasa puas dan tidak pernah merasa cukup. merasa ingin serba ada, tanpa harus banyak mengeluarkan keringat kerja keras dan menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat. untuk itu , korupsi berteman dekat dengan suap, karena pola pikir dan latar belakang yang sama.  akibatnya, tidak hanya merusak akhlak individu tersebut tapi juga merusak negara!. bayangkan jika semua berpola perilaku begitu, tentu kebenaran dan kebaikan akan hilang, kita akan tersesat dan kerusakan akan terjadi dimana-mana. tidak hanya krisis kepercayaan, kita juga akan kehilangan jatidiri, anomie-frustasi-derpresi lalu bisa-bisa gantung diri. bukan cuma itu, Tuhanpun akan memberikan konsekwensinya. dalam arti, jika kita tidak bisa memelihara diri sendiri, bagaimana bisa memelihara negara, bagaimana bisa memelihara dunia? jika dunia tak lagi terpelihara, tumbuhan, gunung, lautan semua akan murka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa ngeri jika kita melihat akhir dari sikap suap dan korupsi ini, tapi benarkah, sekolah menjadi salah satu faktor pengkontribusi sikap dan nilai-nilai yang salah ini????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh kecil saja, ketika ulangan disekolah, guru pasti melarang menyontek. karana sikap menyontek adalah cikal bakal lahirnya sikap korup dan suap.  tetapi, karena tidak menyontek nilai anak menjadi jelek. karena nilai si anak jelek, guru mendapat teguran pihak sekolah. pertanyaannya adalah; apakah guru tidak maksimal mengajarnya, ataukah memang siswanya yang terbatas kemampuannya??? apapun alasan itu, berdampak akhirnya pada kredibilitas sekolah. sementara setiap sekolah tengah berlomba dan berkompetisi dengan sekolah lain untuk menjadi sekolah yang terbaik di kotanya, kalau perlu terbaik se Indonesia. untuk itu, sekolah akan berusaha semaksimal mungkin mengupayakan karakater building, set image, dan mengejar sertifikat-sertifikat kelayakan sebagai sekolah terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konsekwensi dari semua itu akhirnya adalah; sekolah dan pendidik/guru akan berupaya, bahkan dengan segala cara untuk bisa meraih sekolahnya sebagai sekolah terbaik.  salah satu caranya adalah, ketika si anak dengan nilai jelek tadi, menjadi hambatan sekolah untuk mendapat 'good image' yang akan berpengaruh pada akreditasi, prestasi dan reputasi, maka, ...............dibuatlah 'shortcut'nya. setelah melewati standar prosedur remedial, nilai si anak masih belum memadai, kemudian si anak pun diberi tugas pengganti semudah mungkin, seperti; kliping paper. atau kadang, lebih ekstrim lagi, nilai dari guru (atau kadang dari guru itu  sendiri) langsung menyulap angka seketika, dan persoalanpun selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekilas standar prosedur it memang baik, namun ketidak maksimalan siswa dan guru disitu menyisakan pola perilaku yang pragmatis, (instant behaviour). tidak memacu siswa untuk belajar keras, tapi cukup memenuhi standar prosedur (ikut remedial selama 1-3 kali berturut-turut tak peduli hasilnya tetap jelek) siswa sudah dianggap lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali pada persoalan menyontek, jika dikelas pada saat ulangan guru melarang siswa menyontek, tapi ketika dihadapkan pada kepentingan sekolah demi untuk mendapatkan 'good image', reputasi dan akreditas bahkan iso sekalipun akhirnya lembaga pendidikan yang dalam hal ini adalah kepala sekolah, guru dan karyawan pun menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersikap konformis (kompromis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;konformis dalam hal ini adalah guru bukan hanya membiarkan siswanya menyontek, terlebih lagi, guru memberikan jawaban contekannya itu sendiri kepada para siswanya!. ironisnya lagi, semua itu atas instruksi kepala sekolah!. jika sudah demikian, tidakkah sudah tergambar dikepala kita akan menjadi seperti apakah potret pendidikan di negri ini nanti? atau akan seperti apakah sikap mental putra putri bangsa ini nanti???&lt;br /&gt;namun, lepas dari semua itu, yang lebih ironisnya lagi adalah jika ada orangtua yang juga konformis dengan kondisi ini. demi alasan anak-anaknya, tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa ngeri membayangkan semuanya...............&lt;br /&gt;semoga saja tidak terjadi di kota ini, tidak juga di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk itu, marilah kita berdoa, semoga lembaga pendidikan yang ada di negri kita ini tidak sedemikian rupa, tidak menjadi salah satu unit kontribusi terhadap cikal bakal sikap suap dan korupsi. semoga sekolah-sekolah di negri ini, menjadikan siswa-siswinya penghantar masa depan yang berkepribadian, beriman, cerdas dan berakhlak. menjadikan putra-putri generasi penerus bangsa ini lebih baik, demi Indonesia yang lebih baik lagi...amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya allah ya robbi, maafkan hambamu ini, jika dalam menjalani profesi yang dianggap orang mulia ini justru tidak seperti kelihatannya. ya allah ya robbi, maafkan idealisme ini, jika engkau anggap salah. dan jauhkan aku dari kezaliman-kezaliman dan kerusakan iman di dunia ini. amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="content"&gt;&lt;a href="http://thitamazya.blogspot.com/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1702315784501209124?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1702315784501209124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1702315784501209124' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1702315784501209124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1702315784501209124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/04/hari-ini-aku-terluka-idealisme.html' title='hari ini aku terluka...jika idealisme pendidikan yang seharusnya menjadi wadah produksi generasi bangsa ternodai oleh pendidik itu sendiri.'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-5506842985610141861</id><published>2009-04-10T15:38:00.004+07:00</published><updated>2009-04-10T16:30:21.866+07:00</updated><title type='text'>cerita saat penyontrengan.....</title><content type='html'>usai sudah pesta demokrasi yang baru kemaren digelar...nampak banyak wajah kecewa tergurat diwajah-wajah rakyat. kecewa oleh banyak hal tentang penyelenggaraan pemilu ini. sewaktu aku duduk di dekat kerumunan TPS, seorang tua bertanya padaku; " de, doakan ya semoga bapak bisa...maklum, bapak buta huruf dan gak tau warna..." aku menjawab, " pasti bisa pak, bapak tinggal lihat gambar yang sering bapak kenali saja...lalu coret!" kataku tanpa bisa menjelaskan lebih banyak lagi. tadinya aku mau berniat promosi, untuk memilih gambar PNBKI, tapi percuma wong dia buta huruf dan buta warna. kalau kusuruh pilih gambar banteng, banyak yang pake gambar banteng...ya sudah aku bilang saja, gitu, yang bapak kenali sajalah...ini baru satu kejadian, tak lama aku beranjak dari situ melihat simulasi gambar di lembar pemilih yang dipajang di depan TPS tersebut, hmm....ada juga fotoku, tapi orang disekitar situ ketika kutanya, mereka hendak memilih saudaranya yang juga jadi caleg disitu. kerabat, familiy anak cucu mereka yang lebih mengenali caleg tersebut ketimbang aku. sedih juga sih. tapi begitulah kenyataanya, mereka lebih memilih pada nama atau orang yang 'pernah mereka kenal' dari pada gak sama sekali. ini artinya aku kurang begitu dikenali. mungkin juga karena aku kurang sosialisasi. walaupun dikampung itu aku tergolong baru, namun, sejauh yang kutahu warga mengenaliku tapi mereka tetap memilih caleg yang mereka kenal.  alasan mereka karena hubungan kekerabatan atau dalam istilah Ferdinand Tonnies, Gemeinschaft lebih kuat. maklum, aku tinggal dikampung yang dikelilingi tembok perumahan elit, BSD. jadi, solidaritas kekerabatan mereka lebih kuat. wal hasil, suaraku tidak banyak diperoleh disitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak lama aku pun melaju pergi, tapi sempat mampir sebentar melihat orang jualan gado-gado yang menggugah seleraku. akupun mampir lalu memesan satu bungkus. seorang ibu muda yang sedang menunggu antrian gado-gado sedang asyik curhat kepada si ibu penjual gado-gado tersebut. aku tertarik mendengarkanya. mereka bilang sekarang mereka tidak bisa memilih, karena nama mereka tidak ada di dalam daftar DPT. padahal waktu pemilihan bupati yang lalu, mereka bisa memilih. alasan ketua rt setempat, data yang dipakai adalah data DPT tahun lalu. tapi anehnya kok nama mere, ka tak ada. terus, mereka bilang; " jangan salahkan kami jika golput, salah sendiri kami gak boleh milih"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena tertarik, aku jadi bertanya ke si ibu muda, " ibu kenapa gak milih? jawabnya, kalau si ibu yang orang asli sini aja gak ada datanya disitu apalagi saya yang orang baru...katanya, sudah gak dapat surat panggilan ngapain juga...biarin aja, bukan salah saya. katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara si ibu yang sebelahnya nyeletuk, " kalau saya mba, males milih, karena kagak ngarti, pegimane milihnye, kagak ngarti juga siape yang mesti dipilih saking banyaknya tuh partai..ribet!! selorohnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uhh....ironis ya...aku jadi mikir; kalau warga aslinya saja masih banyak yang tidak terdata, dan tidak masuk daftar pemilih, bagaimana warga pendatang yang tinggal dikontrak-kontrakan dan mereka tidak pulang kampung untuk memilih? sudah pasti mereka golput kan??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;usai pesananku selesai akupun pamit pulang. sepanjang jalan menuju kerumah, aku sengaja memutar ke jalan raya dan mampir sebentar ke toko buah. disitu aku berniat membeli jeruk. si mba penjaga toko kuperhatikan tangannya tak ada yang tercelup tinta hitam maka akupun iseng bertanya, "mbak, tadi milih gak? si mba itupun tersenyum sipu, dan menjawab;" gak bu, soalnya saya mesti jaga toko jadi gak sempet milih"...wow!! pikirku dalam hati. tambah lagi yang golput karena alasan mesti kerja. kalau mereka yang dikantoran sih enak bisa libur untuk memilih, tetapi bagi mereka yang penjual dan berdagang??? pastikan dihadapkan sama pilihan, jualan menghasilkan uang atau, jaga toko daripada dipecat daripada nyontreng pemilu yang mereka juga gak paham mo pilih siapa/yang mana...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesimpulannya, kupikir, pemerintah mesti belajar dari kejadian pemilu sekarang. tapi kayaknya tahun-tahun kemarin juga gak jauh beda masalahnya. tapi kok gak da perbaikan ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;paling gak pemerintah mesti memikirkan lagi cara praktis untuk masyarakat supaya bisa memilih. pemerintah meski memikirkan nasib mereka yang buta huruf, buta warna, tuna netra, pekerja buruh yang tetap mesti masuk kerja di saat pemilu, mereka yang urban ke kota jauh dari kampungnya dan gak bisa pulang kampung untuk sekedar memilih. mereka yang sedang dirawat di rumahsakit, dan lain-lainnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mesti ada cara praktis dan lebih baik yang bisa mengantisipasi semua persoalan tersebut.&lt;br /&gt;tidak dengan lembaran yang sangat lebar dan memakan waktu untuk sekedar membuka lembarannya saja....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemerintah juga mestinya memikirkan lagi data pemilih yang tidak terdata tersebut, bagaimana mengantisipasinya...aku jadi mikir, sebenarnya kita ini punya data valid gak sihh tentang berapa sebenarnya jumlah penduduk indonesia ini yang berhak memilih???? gimana juga hak si pemilih itu biar gak dobel-dobel....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku rasa pemerintah mesti pikirin hal tersebut...jika tidak, ini memberikan peluang untuk banyak terjadinya kecurangan, rekayasa dan floating suara...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-5506842985610141861?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/5506842985610141861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=5506842985610141861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/5506842985610141861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/5506842985610141861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/04/cerita-saat-penyontrengan.html' title='cerita saat penyontrengan.....'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1346701568840832417</id><published>2009-03-24T17:30:00.002+07:00</published><updated>2009-03-24T17:58:16.841+07:00</updated><title type='text'>SERUUUU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci20F5qORI/AAAAAAAAAJE/mF6k0sh3b6E/s1600-h/IMG00115.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci20F5qORI/AAAAAAAAAJE/mF6k0sh3b6E/s200/IMG00115.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316700366164343058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci20Pbkj9I/AAAAAAAAAI8/pdYN1nwJ7_M/s1600-h/IMG00111.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci20Pbkj9I/AAAAAAAAAI8/pdYN1nwJ7_M/s200/IMG00111.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316700368722497490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci2zljZsII/AAAAAAAAAI0/8gDxkfIyW00/s1600-h/IMG00107.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 152px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci2zljZsII/AAAAAAAAAI0/8gDxkfIyW00/s200/IMG00107.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316700357481050242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1346701568840832417?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1346701568840832417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1346701568840832417' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1346701568840832417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1346701568840832417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/03/seruuuu.html' title='SERUUUU'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sci20F5qORI/AAAAAAAAAJE/mF6k0sh3b6E/s72-c/IMG00115.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-6998980793519664723</id><published>2009-03-24T17:16:00.003+07:00</published><updated>2009-03-24T17:29:39.006+07:00</updated><title type='text'>serba serbi kampanye PNBKI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRWW0STI/AAAAAAAAAIs/QZ9DpPhJjk4/s1600-h/IMG00110.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRWW0STI/AAAAAAAAAIs/QZ9DpPhJjk4/s200/IMG00110.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316696470751299890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRdEEEOI/AAAAAAAAAIk/svucHV2RtQg/s1600-h/IMG00109.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRdEEEOI/AAAAAAAAAIk/svucHV2RtQg/s200/IMG00109.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316696472551690466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRXZXCEI/AAAAAAAAAIc/FUmywv3pAfs/s1600-h/IMG00115.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRXZXCEI/AAAAAAAAAIc/FUmywv3pAfs/s200/IMG00115.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316696471030401090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRD9xfmI/AAAAAAAAAIU/H8Rr0WQtNQA/s1600-h/IMG00116.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRD9xfmI/AAAAAAAAAIU/H8Rr0WQtNQA/s200/IMG00116.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316696465814421090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-6998980793519664723?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/6998980793519664723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=6998980793519664723' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/6998980793519664723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/6998980793519664723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/03/serba-serbi-kampanye-pnbki.html' title='serba serbi kampanye PNBKI'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ScizRWW0STI/AAAAAAAAAIs/QZ9DpPhJjk4/s72-c/IMG00110.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4607455320439716104</id><published>2009-03-24T17:03:00.003+07:00</published><updated>2009-03-24T17:08:38.984+07:00</updated><title type='text'>HARI INI KAMPANYE PNBK DI LAP. CILENGGANG SERPONG TNG...DIGUYUR HUJAN...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SciwSp5ztBI/AAAAAAAAAHk/5a5198Me00g/s1600-h/IMG00118.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SciwSp5ztBI/AAAAAAAAAHk/5a5198Me00g/s200/IMG00118.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316693194643321874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4607455320439716104?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4607455320439716104/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4607455320439716104' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4607455320439716104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4607455320439716104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/03/hari-ini-kampanye-pnbk-di-lap.html' title='HARI INI KAMPANYE PNBK DI LAP. CILENGGANG SERPONG TNG...DIGUYUR HUJAN...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SciwSp5ztBI/AAAAAAAAAHk/5a5198Me00g/s72-c/IMG00118.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1842149102688139740</id><published>2009-03-01T23:16:00.004+07:00</published><updated>2009-03-01T23:35:31.746+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diaryku'/><title type='text'>masokis!</title><content type='html'>dear diary...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terlalu mudah mempercayainya...hingga berani menukar jiwa demi sebuah rasa indah.&lt;br /&gt;indah dalam fatamorgana.&lt;br /&gt;bukan aku tidak tahu akan jadi bagaimana, tapi manusianya aku ini yang memanusiakan aku.&lt;br /&gt;manusia yang selalu ingin tahu sesuatu yang sudah diketahuinya, hanya demi sensasi.&lt;br /&gt;walau berkata 'siap' tapi tetap saja, merasakan sakitnya.&lt;br /&gt;           mungkin, nestapa yang lama membuatku gila&lt;br /&gt;kedamaian  yang jadi harapan, ternyata hanya wacana.&lt;br /&gt;ternyata, bukan kedamaian yang aku cari.&lt;br /&gt;tapi, sensasi dari kehidupanku sendiri. aku masokis!&lt;br /&gt;tidak hanya aku yang masokis, hampir semua manusia di dunia ini masokis!&lt;br /&gt;alih-alih mencari kesenangan, kebahagiaan, kedamaian...tapi sesungguhnya menikmati kesakitan, penderitaan dan kekecewaannya sendiri.&lt;br /&gt;               penyesalan? hanya nama lain dari kesadaran.&lt;br /&gt;sedang kesadaran, hanya milik orang beriman.&lt;br /&gt;maka aku??? belum sepenuhnya beriman.&lt;br /&gt;maka aku??? belum banyak memiliki kesadaran.&lt;br /&gt;untuk itu, aku terus harus berjalan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1842149102688139740?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1842149102688139740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1842149102688139740' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1842149102688139740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1842149102688139740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/03/masokis.html' title='masokis!'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-3517723550041677223</id><published>2009-02-28T00:23:00.001+07:00</published><updated>2009-02-28T00:25:27.619+07:00</updated><title type='text'>sama bos PNBKI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sagh68bwV9I/AAAAAAAAAHc/TrPFtWsQM-M/s1600-h/27022008703.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sagh68bwV9I/AAAAAAAAAHc/TrPFtWsQM-M/s200/27022008703.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307529457394800594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-3517723550041677223?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/3517723550041677223/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=3517723550041677223' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3517723550041677223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3517723550041677223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/sama-bos-pnbki.html' title='sama bos PNBKI'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/Sagh68bwV9I/AAAAAAAAAHc/TrPFtWsQM-M/s72-c/27022008703.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4674739695908014032</id><published>2009-02-27T23:47:00.003+07:00</published><updated>2009-02-28T00:14:12.585+07:00</updated><title type='text'>ikutan demo for power 100 beautiful voices in election...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SagZo-mtQJI/AAAAAAAAAHM/B1YtMKzWOGA/s1600-h/27022008699.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SagZo-mtQJI/AAAAAAAAAHM/B1YtMKzWOGA/s200/27022008699.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307520352646938770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4674739695908014032?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4674739695908014032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4674739695908014032' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4674739695908014032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4674739695908014032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/ikutan-demo-for-power-100-beautiful.html' title='ikutan demo for power 100 beautiful voices in election...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SagZo-mtQJI/AAAAAAAAAHM/B1YtMKzWOGA/s72-c/27022008699.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-3925149335146078919</id><published>2009-02-21T11:26:00.003+07:00</published><updated>2009-02-21T11:28:06.293+07:00</updated><title type='text'>MERINDU.............</title><content type='html'>Hari ini dadaku serasa penuh&lt;br /&gt;Gumpalan yang menyeruak memenuhi rongga hingga aku tak bisa bernafas lega, kemudian hanyut perlahan dri tebing dada yang curam sampai dilubuk terdalam.&lt;br /&gt;Mendesir terburu angin dan memompa dada hingga degupnya menggelora.&lt;br /&gt;Seolah ia menangkap sinyal kerinduan seseorang.....hingga getaran frekwensi rindunya begitu terasa................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerangan siapakah ia???&lt;br /&gt;Hati ini hanya tau beberapa nama&lt;br /&gt;Namun pikiran tak mau menyebutkannya&lt;br /&gt;Bahkan menolak mendeteksi visualisasinya&lt;br /&gt;Pikiran sudah mengunci diri&lt;br /&gt;Membuang jauh keinginan pelukan, ciuman bahkan dekapan...&lt;br /&gt;Meski dada dalam hati terus berdegup kencang, inginkan sentuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu cinta bersenandung membangunkan hasrat lama&lt;br /&gt;Kadang kubiarkan diri terbang bersama kesyahduannya&lt;br /&gt;Kutenggelamkan semua dalam nostalgia kebahagiaan&lt;br /&gt;Yang sebenarnya ada dalam anganku saja....&lt;br /&gt;Itu lebih indah, lebih sempurna dan lebih seperti yang kuingini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jiwa ini melayang bersama dentingan lagu mendayu&lt;br /&gt;Betapa aku bisa merasakan jatuh cinta &lt;br /&gt;Walau entah dengan siapa&lt;br /&gt;Tapi aku bisa merasakannya dalam lagu itu dijiwaku&lt;br /&gt;Hingga ketika hasrat ini membawanya pada kepala&lt;br /&gt;Ia menutup pintunya rapat-rapat, ogah memberi celah&lt;br /&gt;Ia lebih inginkan aku terus melayang dalam kebahagiaan yang kuciptakan&lt;br /&gt;Dalam angan..............&lt;br /&gt;Agar aku tak menderita lagi....” bisiknya &lt;br /&gt;Kadang aku tak mengenali aku dalam diriku...&lt;br /&gt;Aku yang mana yang telah berani membuat keputusan demikian&lt;br /&gt;Aku tak tau&lt;br /&gt;Aku yang mana.........mengapa begitu banyak aku dalam diriku???&lt;br /&gt;Hingga aku tak mengerti mana yang seharusnya menjadi real aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengk0ng wetan, minggu 6 mei o7. 12:07&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-3925149335146078919?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/3925149335146078919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=3925149335146078919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3925149335146078919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3925149335146078919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/merindu.html' title='MERINDU.............'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-180369075264679075</id><published>2009-02-21T11:24:00.002+07:00</published><updated>2009-02-21T11:26:15.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi/kesah'/><title type='text'>LAPAK VAGINA........1</title><content type='html'>Lengkong wetan, 3 may 07. 11:23pm&lt;br /&gt;Ranjang.............&lt;br /&gt;Disinilah tempat aku dibesarkan&lt;br /&gt;Disini jugalah semua kebutuhanku tercukupkan&lt;br /&gt;Tapi disini dosa tak berlaku lagi&lt;br /&gt;Walau tangis dan tawa berpadu padan&lt;br /&gt;Tempat ini menyimpan sejuta kenangan&lt;br /&gt;Dari seribu wajah yang terus membayang&lt;br /&gt;Bayangan seribu yang serupa&lt;br /&gt;Bayangan sejenis dari kelamin yang sama...&lt;br /&gt;Tempat ini juga asal aku mengenal dunia&lt;br /&gt;Tempat aku bermimpi indah juga gundah&lt;br /&gt;Tempat pertama aku memindai darah &lt;br /&gt;Sebagai perawan diusia belasan&lt;br /&gt;Disini juga aku memindai darah kedua&lt;br /&gt;Sebagai yang sudah bukan perawan&lt;br /&gt;Tempat ini adalah jiwaku&lt;br /&gt;Duniaku....surgaku......nerakaku......&lt;br /&gt;Aku tak tau dunia lain, jika itu ada...&lt;br /&gt;Disinilah segala penatku lantah&lt;br /&gt;Disini juga segala tangisku, tawaku dan ketubanku......tumpah!&lt;br /&gt;Tempat ini adalah saksi sejarah&lt;br /&gt;Yang bisu dan ramah&lt;br /&gt;Yang sabar dan tabah&lt;br /&gt;Meski tercabik hingga berdecit...&lt;br /&gt;Disini, aku bisa membahagiakan orang&lt;br /&gt;Membuatnya tertawa dan terpuaskan&lt;br /&gt;Hingga derita dan beban mereka terlepaskan....&lt;br /&gt;Hanya ini kebaikan yang bisa kuberikan&lt;br /&gt;Meski itupun tidak gratisan&lt;br /&gt;Di tiap waktu helaan nafasku berpacu&lt;br /&gt;Bergemuruh bersama derasnya aliran darahku&lt;br /&gt;Tertumpah bersama kenikmatannya&lt;br /&gt;Untuk setiap lembaran rupiah&lt;br /&gt;Ini adalah lapak vaginaku&lt;br /&gt;Yang kupajang tanpa bandrolan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-180369075264679075?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/180369075264679075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=180369075264679075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/180369075264679075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/180369075264679075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/lapak-vagina1.html' title='LAPAK VAGINA........1'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8790134503643118623</id><published>2009-02-18T14:47:00.005+07:00</published><updated>2009-02-18T15:06:06.544+07:00</updated><title type='text'>BIAR..</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SZvBUP5l6_I/AAAAAAAAAG0/dp8ajslZzIc/s1600-h/13022009617.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SZvBUP5l6_I/AAAAAAAAAG0/dp8ajslZzIc/s200/13022009617.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304045539768527858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;aku kali ini mencoba memilih membiarkan saja...&lt;br /&gt;orang-orang halus dan kasar berkeliling disekitarku. aku biarkan saja...&lt;br /&gt;aku ingin menikmati saja apa yang datang padaku...&lt;br /&gt;baik, buruk,tua, muda, siang ataupun malam...&lt;br /&gt;biar, kubiarkan saja..&lt;br /&gt;aku ingin tau&lt;br /&gt;apa setelah itu&lt;br /&gt;tanpa aku melakukan sesuatu..&lt;br /&gt;biar..biarkan saja...&lt;br /&gt;jika mereka tertawai, menangisi, membenci atau mencintaiku&lt;br /&gt;biar kunikmati saja&lt;br /&gt;apa yg melintas didepanku&lt;br /&gt;apa yang hadir dihatiku..&lt;br /&gt;tanpa kamu perlu tau&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8790134503643118623?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8790134503643118623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8790134503643118623' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8790134503643118623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8790134503643118623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/biar.html' title='BIAR..'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SZvBUP5l6_I/AAAAAAAAAG0/dp8ajslZzIc/s72-c/13022009617.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4636955798244839605</id><published>2009-02-01T21:29:00.005+07:00</published><updated>2009-02-01T21:36:55.602+07:00</updated><title type='text'>GAK CUMA MURID, GURU JUGA BISA GAYA....</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;POSE CANTIK YA...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;ACARA TAHUN BARU ISLAM MUHARAM 31 JAN 09&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;DISEKOLAH AL AZHAR BSD TANGERANG&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#cc33cc;"&gt;IKUTAN FASHION SHOW...EH LUMAYAN LHO JUARA 1...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SYWyH_m2TTI/AAAAAAAAAGs/DAxgOJ3oZsM/s1600-h/30012009577.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297836387074460978" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SYWyH_m2TTI/AAAAAAAAAGs/DAxgOJ3oZsM/s320/30012009577.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4636955798244839605?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4636955798244839605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4636955798244839605' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4636955798244839605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4636955798244839605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/02/gak-cuma-murid-guru-juga-bisa-gaya.html' title='GAK CUMA MURID, GURU JUGA BISA GAYA....'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SYWyH_m2TTI/AAAAAAAAAGs/DAxgOJ3oZsM/s72-c/30012009577.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8824045441337258036</id><published>2009-01-25T21:41:00.006+07:00</published><updated>2009-01-25T21:58:59.706+07:00</updated><title type='text'>QONG XI FAT CAI..!</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXx815mk91I/AAAAAAAAAGc/0a3fFqj2uc8/s1600-h/08122008419.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295244527318398802" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXx815mk91I/AAAAAAAAAGc/0a3fFqj2uc8/s320/08122008419.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;QONG XI FAT CAI...MET TAHUN BARU IMLEK....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;TAHUN KERBAU TANAH, SEMOGA TIDAK MALAS BEKERJA&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;lokasi; Tepekong Tanjung Kait&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8824045441337258036?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8824045441337258036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8824045441337258036' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8824045441337258036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8824045441337258036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/01/qong-xi-fat-cai.html' title='QONG XI FAT CAI..!'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXx815mk91I/AAAAAAAAAGc/0a3fFqj2uc8/s72-c/08122008419.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8274792347426498526</id><published>2009-01-25T20:52:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T22:03:38.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>VOTE FOR ME...........</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXxu6HcUd3I/AAAAAAAAAGU/FkGWE29L6Mg/s1600-h/pnbkcaleg.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295229206590158706" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 226px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXxu6HcUd3I/AAAAAAAAAGU/FkGWE29L6Mg/s320/pnbkcaleg.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;salah satu cara berpartisipasi dalam politik, menjadi caleg untuk wilayah dapil V kabupaten Tangerang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;sekelumit mimpi untuk sebuah perubahan; PERTAMA, untuk KAMPUNGKU; KEDUA, untuk PARA PEREMPUAN&lt;/div&gt;&lt;div&gt;mohon doa restu.. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;AGENDA MIMPI &lt;/div&gt;&lt;div&gt;__________________&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. MEMBANGUN KARAKTERISTIK KOTA&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. BANGUN  PERTANIAN UNTUK SWASEMBADA&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. EMANSIPASI WANITA &amp;amp; CHILD CARE&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;VOTE FOR ME...VOTE FOR INDONESIA!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8274792347426498526?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8274792347426498526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8274792347426498526' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8274792347426498526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8274792347426498526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2009/01/vote-for-me.html' title='VOTE FOR ME...........'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SXxu6HcUd3I/AAAAAAAAAGU/FkGWE29L6Mg/s72-c/pnbkcaleg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-486880680593859177</id><published>2008-12-26T12:22:00.005+07:00</published><updated>2008-12-26T12:54:24.558+07:00</updated><title type='text'>happy b'day to me, happy b'day ibu...</title><content type='html'>kemarin aku pergi ke pegunungan Purwakarta, berbarengan dengan acara live in sekolah. walaupun tak ada waktu untuk mengagumi semestamu di alam itu, saat itu..namun aku sempat merasakan syukur yang teramat sangat...terlahir sebagai perempuan dan kelahiran yang juga kebetulan tepat dengan hari perempuan alias hari ibu...sekilas, terdapat kesan setumpuk beban dengan segala yang disandang, tapi ini beban yang membanggakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku wanita yang sempurna (dibalik segala kekurangannya)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;hampir semua kekerasan yang dilakukan umumnya pada wanita, aku pernah rasakan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;sewaktu kecil bandel dan di pukul gagang sapu oleh ibu, aku pernah rasakan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;sewaktu remaja, bandel juga sama guru-guru dan di setrap, juga pernah aku rasakan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;sewaktu kuliah, bandel dan dimarahi dosen juga pernah aku rasakan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#33ff33;"&gt;sewaktu menanjak dewasa, menikah pernah aku rasakan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sewaktu menikah, tersakiti, terkasihi dan tersisihkan pun pernah aku rasakan...&lt;br /&gt;punya anak? jadi istri, jadi ibu, pun pernah aku rasakan...&lt;br /&gt;apa lagi?...jadi wanita yang dikagumi banyak laki-laki...pernah aku rasakan...&lt;br /&gt;jadi wanita yang bikin iri wanita lain, karena entah apa...pernah juga aku rasakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku juga pernah merasakan tidur dijalanan...&lt;br /&gt;hidup pas-pasan...&lt;br /&gt;atau hidup berkecukupan...naek mobil mewah, rumah bertingkat pernah aku rasakan...&lt;br /&gt;atau hidup sendirian seperti sekarang...tengah aku rasakan...&lt;br /&gt;sekolah tinggi sampai s2, juga sudah aku rasakan...&lt;br /&gt;apalagi, apalagi yang aku butuhkan...hampir semua sudah aku rasakan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku sudah merasa sempurna menjadi wanita...&lt;br /&gt;tak ada lagi yang menghalangi aku berjalan...&lt;br /&gt;tak ada lagi yang mencegahku mendekatimu...&lt;br /&gt;aku ingin berkuasa...&lt;br /&gt;aku ingin mengendalikan semua...&lt;br /&gt;aku ingin taklukkan...&lt;br /&gt;satu-satunya yang menjadi musuhku, selama hidupku...&lt;br /&gt;yakni...diriku sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;ibu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;kini aku tau bagaimana menjadi dirimu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;ibu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;mengapa laki-laki yang suka menyakiti wanita itu tak mengerti..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;jika ia dilahirkan dari rahim ibu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;mengapa laki-laki yang sok berkuasa itu begitu arogan dan merasa jagoan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;padahal mereka lahir dari rahim seorang perempuan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;yang mereka suka permainkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;yang mereka suka tindas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;yang mereka suka jadikan barang pemuas...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;ibu....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;sadarkan lah laki-laki itu..ibu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;jika mereka itu tak akan ada di dunia ini, tak akan merasa arogan dan jagoan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;jika tidak ibu lahikan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;ibu...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#cc66cc;"&gt;semoga ibu tak menyesali kelahiran laki-laki yang suka menyakiti kaum-mu, ibu....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-486880680593859177?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/486880680593859177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=486880680593859177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/486880680593859177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/486880680593859177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/12/happy-bday-to-me-happy-bday-ibu.html' title='happy b&apos;day to me, happy b&apos;day ibu...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1849035173968488293</id><published>2008-12-08T21:29:00.007+07:00</published><updated>2009-01-25T22:03:52.955+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>TEPEKONG UNIK DI TANGERANG</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ST00UlWamoI/AAAAAAAAAFw/xwleKXXQMew/s1600-h/tjkait17.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277431866576247426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 301px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ST00UlWamoI/AAAAAAAAAFw/xwleKXXQMew/s320/tjkait17.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ST0wr33tLTI/AAAAAAAAAFo/ERRuPWyypLY/s1600-h/tjkait16.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#003300;"&gt;salah satu budaya asli Tangerang, tempat peribadatan umat Budha di klenteng Tanjung kait. klenteng ini sangat unik, besar dan megah berada di pesisir tanjung lautan. di dalamnya terpajang lukisan raksasa para dewa. konon, disetiap tempat berdirinya klenteng, selalu ada juga makam muslim yang sering diziarahi justru oleh masyarakat beretnis Cina. kenapa ya??? ada yang tahu....???&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1849035173968488293?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1849035173968488293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1849035173968488293' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1849035173968488293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1849035173968488293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/12/tepekong-unik-di-tangerang.html' title='TEPEKONG UNIK DI TANGERANG'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/ST00UlWamoI/AAAAAAAAAFw/xwleKXXQMew/s72-c/tjkait17.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-7513851961872463887</id><published>2008-12-06T20:45:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T22:05:57.506+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>TARI COKEK KEBUDAYAAN ASLI TANGERANG</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/STqCzMnmcmI/AAAAAAAAAFg/GyVj6a-jI4k/s1600-h/cokek.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276673729490219618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 110px; CURSOR: hand; HEIGHT: 115px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/STqCzMnmcmI/AAAAAAAAAFg/GyVj6a-jI4k/s200/cokek.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik.Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong.Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing.Bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Sumber; ZIARAH BUDAYA KOTA TANGERANG oleh H. Wahidin Halim &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;alhamdulillah, setidaknya Tangerang memiliki kebudayaannya sendiri, meski ini tidak 100% asli dari Tangerang, karena kebudayaan ini pun dimiliki serupa dengan kebudayaan Betawi. tapi setidaknya, Tangerang juga punya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;sewaktu kecil, saya ingat sekali, betapa tarian ini selalu ada pada setiap hajat orang-orang di Tangerang. Dengan iringan musik gambang kromong para penari berjajar secara horizontal menari sambil sesekali menarik pengunjung untuk menjadi pasangannya. memang agak erotis juga bagi ukuran anak kecil seperti saya waktu itu, tapi sekarang saya melihatnya itu sebagai seni dengan cirinya sendiri. sayang, kebudayaan ini sekarang sudah sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah lagi kelihatan. kemanakah mereka? apakah tidak ada yang mau meneruskan kebudayaan ini hingga sekarang tidak kelihatan lagi? kenapa tidak ada yang mau? padahal, tarian ini bisa sedikit dimodifikasi agar tidak terlalu kelihatan erotisnya dan bisa dipelajari sebagai bagian dari mulok disekolah-sekolah? dengan begitu, tarian ini bisa terus terpelihara dan justru menjadi ciri khas bagi Tangerang sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;ironisnya, banyak sekolah di Tangerang  yang justru mengajarkan tarian dari daerah lain dan menjadikannya ekstra kulikuler mereka. kesenian daerah manapun baik untuk dipelajari dan harus dipelihara, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita menguasai lebih dulu kesenian budaya daerah sendiri, kan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-7513851961872463887?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/7513851961872463887/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=7513851961872463887' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/7513851961872463887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/7513851961872463887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/12/tari-cokek-kebudayaan-asli-tangerang.html' title='TARI COKEK KEBUDAYAAN ASLI TANGERANG'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/STqCzMnmcmI/AAAAAAAAAFg/GyVj6a-jI4k/s72-c/cokek.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-3382053027860484538</id><published>2008-11-18T21:31:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T22:02:37.408+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>eksteriorisasi.........</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SSPmr2_7u9I/AAAAAAAAAFY/ZgqYNHPgwLg/s1600-h/pool.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270309630126046162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 114px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SSPmr2_7u9I/AAAAAAAAAFY/ZgqYNHPgwLg/s200/pool.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;once in our lifetime, pasti pernah mengalami yang namanya disorientasi, alineasi dan stagnasi. sesuatu yang 'this is not me', 'who am i ?' atau 'where am i supposed to do..?' sesuatu yang menjadi sesuatu dalam benak dan pikiran namun sulit tergambarkan dalam kongkritisasinya. sesuatu yang mencoba untuk mengeluarkan dan mengungkapkannya menjadi 'wujud' sesuatu yang bisa dimaknai, dipahami, maupun dilihat. namun, pengalaman telah membentuk sebuah sejarah, seperti kata Rocky Gerung; ' sejarah memerlukan peristiwa dan peristiwa memerlukan tokoh, hingga sejarah dapat menjadi sejarah yang selalu dikenang. sejarah inilah pengalaman yang sebenarnya sudah terperangkap dalam objektivasi ketidak bebasan. sejarah merupakan pengalaman dari upaya membendakan keberadaan, hingga memunculkan apa yang Rocky sebut dengan sensasi politik. objektivasi dari sensasi politik itu diantaranya merupakan rutinitas pemberian penghargaan bagi siapa yang ditunjuknya sebagai pahlawan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;dalam hal ini, sesuatu yang menjadi alineasi, terutama dalam diri, selalu mencari simbol kebendaan agar bisa terepresentasikan secara faktual, sekalipun tidak sepenuhnya simbol representasi tersebut mewakili makna yang sesungguhnya. sesuatu inilah yang bisa disebut juga sebagai eksteriorisasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;pembendaan terhadap keberadaan itu merupakan ketidak berdayaan diri dalam membebaskan kedalaman ungkapan-ungkapan yang ada dibenak tadi. sejak ketidak berdayaan tersebut muncul, maka sejak itulah ketidak bebasan berada. sesuatu yang sudah menjadi pengalaman dan sejarah tadi menjadi penguasa bagi ketidak berdayaan kita, dan membuat belenggu yang membatasi gagasan-gagasan dan daya kreasi yang unlimited berhiruk pikuk dalam wacana kita. ini merupakan bentuk ketidak bebasan dalam tataran diri. bagaimana dalam tataran yang lebih luas lagi?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;agama merupakan tataran yang lebih luas, tataran sosial dimana setiap individu membutuhkannya sebagai pedoman. agama itu sendiri merupakan keyakinan yang sudah terobjektivasi. bahkan kini agama sudah terlembaga menjadi sebuah konstruksi keyakinan yang terstruktur dan bersifat mendominasi. orang sudah tidak melihat lagi agama sebagai sesuatu yang religius mistis, tetapi agama sudah menjadi sebuah organisasi kekuasaan. dimana para umatnya dibentuk untuk memiliki loyalitas yang tinggi, tanpa pamrih (konsep ikhlas), dan mau mengikuti segala apa yang disebutnya sebagai ajaran, norma dan hukum-hukumnya. bahkan, pada zaman dahulu, kekuasaan gereja lebih berpengaruh ketimbang kekuasaan raja. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;mengapa agama menjadi wujud objektivasi ?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tuhan dalam penciptaannya, selalu memberikan pasangan. ada langit, ada bumi. ada siang ada malam, ada dunia ada akhirat, hingga dengan inilah kita memiliki konsep tentang angka dua. dua merupakan konsep yang lahir untuk memudahkan manusia dalam kehidupannya. dua yang membuat manusia bisa memilih jalan hidupnya setelah melalui 'dua' dalam keduanya. artinya, Tuhan memberikan kebebasan sepenuhnya pada manusia, untuk bertindak, berfikir dan memutuskan apa yang hendak dilakukannya. Tuhan hanya fasilitator dari penciptaanya bagi manusia. Tuhan membebaskan manusia untuk memilih dengan cara apa mereka menjalani hidupnya. Tuhan memberi petunjuk, yang lengkap dengan konsekwensinya. karenanyalah kebenaran hanya milik Tuhan. Seperti yang dikatakan Nikolay Bardiayev, 'sesuatu yang bisa disebut sebagai kebenaran, jika ia bisa membebaskan'. Tuhan yang maha benar, bukanlah merupakan personifikasi dari keharusan manusia menjalankan norma. Tuhan adalah fasilitator, pelindung bagi kebebasan manusia. oleh karena itu, agama yang benar adalah agama yang membebaskan. Bardiayev meyakini jika manusia semakin meyakini agamanya (Tuhan) niscaya mereka disatu sisi memang menjadi semakin mistis, namun disisi lain, dapat mencegah mereka dari kecenderungan membendakan Tuhan dan memenjarakan Tuhan dalam konsep agamanya tersebut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;dengan kata lain, jika semakin manusia menemukan jalan kebenarannya, maka semakin ia mendekati kebebasannya. dan jika manusia sudah menemukan kebebasannya, maka ia semakin merasakan kebersatuannya bersama sang pencipta; manunggaling kawulo gusti. dalam hal ini, konsep pemikiran Bardiayev serupa dengan konsep 'aku adalah Tuhan-nya Syech Siti Jenar, atau ' Anal Haqq' -nya Al-Hallaj. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;eksteriorisasi, dengan begitu, merupakan upaya pembelengguan wacana. karena ketika ia menjadi interiorisasi, disitulah kebebasan sebenarnya berada. sekalipun eksteriorisasi ingin tidak terobjektivasi, barangkali hanya bayi-bayi mungil yang menangis ketika minta disusui-lah yang belum terkontaminasi oleh perangkap objektivikasi dunia. karena kita yang justru mewarnai dengan segala persepsi untuk merepresentasi maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebebasan, bagi Bardiayev, dalam bukunya yang berjudul'Kebebasan kreatif' merupakan sesuatu yang kreatif bagi semua yang memberinya ruang untuk mengaktualisasikan dirinya dan merupakan subversif bagi yang hendak memenjarakannya. sedangkan bagiku; ' sekali lagi,.......&lt;br /&gt;..........kebebasan hanya ada dalam wacana............22:57-181108&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-3382053027860484538?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/3382053027860484538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=3382053027860484538' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3382053027860484538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3382053027860484538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/11/eksteriorisasi.html' title='eksteriorisasi.........'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SSPmr2_7u9I/AAAAAAAAAFY/ZgqYNHPgwLg/s72-c/pool.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1248480925277252220</id><published>2008-11-02T23:24:00.004+07:00</published><updated>2009-01-25T22:06:24.607+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diaryku'/><title type='text'>LARA..............</title><content type='html'>ini tentang lara...&lt;br /&gt;yang terendap sekian lama...&lt;br /&gt;hingga kini masih terus terakumulasi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lara ini membawa keraguan sang esa&lt;br /&gt;menafikan segala kuasanya&lt;br /&gt;meninggikan diri dalam anomie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lara selalu tentang cinta&lt;br /&gt;karena cinta selalu berteman duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam dominasi emosi&lt;br /&gt;kucoba rasionalkan rasa&lt;br /&gt;meraba untuk terbuka&lt;br /&gt;agar diri tetap terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku seperti orang mabuk!&lt;br /&gt;kadang meraung marah&lt;br /&gt;kadang tersadar merendah&lt;br /&gt;kadang kupertanyakan keadilan-Nya&lt;br /&gt;kadang kusyukuri ujian-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya robb!!...&lt;br /&gt;aku tak bisa lagi berkata-kata...&lt;br /&gt;kuatkan saja aku...&lt;br /&gt;untuk tidak merasa lara dengan luka dunia&lt;br /&gt;untuk tidak menangis jika tersakiti dialam maya-Mu ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya robb!..&lt;br /&gt;ingatkan saja aku...&lt;br /&gt;jika panasnya api-Mu melebihi laraku di dunia.&lt;br /&gt;maka, padamkanlah apiku yang tak seberapa&lt;br /&gt;dan jangan hilangkan pahalaku karena menangisi sang lara...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1248480925277252220?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1248480925277252220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1248480925277252220' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1248480925277252220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1248480925277252220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/11/ini-tentang-lara.html' title='LARA..............'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1595255819235316119</id><published>2008-10-27T17:54:00.003+07:00</published><updated>2008-10-27T18:27:57.746+07:00</updated><title type='text'>bravo you kid!</title><content type='html'>hari ini aku merasa sedikit lega...pasalnya untuk tahun sekarang siswa yang kuajar terkesan terlalu &lt;em&gt;&lt;strong&gt;high power distance &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;dalam menanggapi pelajaran disekolah. kelegaanku bukanlah pada situasi siswanya yang mengalami high power distance, sebaliknya, hari ini aku merasa kelas lebih hidup dari biasanya. keberanian salah satu siswa dalam mengkritisi soal yang kuberikan patut aku hargai. yah, walau bagaimana guru tetap manusia juga. ini bukan apologi tapi fakta. masalahnya banyak diantara kita yang berasumsi guru adalah dewa yang maha betul akan segala yang diajarkannya. bagiku itu tidak berlaku. justru kadang aku banyak belajar dari siswa-siswaku. ketika guru mengalami kekeliruan adalah hal yang biasanya sulit diakui oleh guru sendiri, in the name of wibawa or istilah orang sekarang, 'jaim' alias jaga image. namun, jika kita menyadari bahwa proses belajar mengajar adalah proses siswa dan guru saling belajar, (tidak hanya siswa saja) tentu ini akan menjadi petanda sikap individu yang modern; yang terbuka pada perubahan, kritik dan transparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam hal ini, bukan sebagai guru aku keliru dalam menjawab soal, namun, argumentasi siswa yang kuat dalam mempertahankan pendapatnya sekaligus bisa menjelaskan dengan baik argumentasinya dari yang aku berikan adalah suatu prestasi buatku. hal ini menunjukkan jika proses penyampaian pelajaranku berhasil. sebagai gurunya tentu saja aku tersenyum bangga, mereka lebih peka, kritis jika mereka memang tau dan memahami apa yang telah diajarkannya. tentu saja pendapat mereka aku hargai dan aku bersepakat. ini, bukan soal kalah menang, namun sisi lain yang selama ini aku coba hidupkan adalah membangun keberanian mereka dalam berfikir kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;justru ini membuatku berpikir, ternyata, beginilah caranya membangkitkan rasa &lt;strong&gt;&lt;em&gt;'low power distance'&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; (ketiadaan jarak untuk berinteraksi dengan lawan yang berbeda, baik secara umur, performance maupun intelektual) mereka dikelas. memancing rasa keingintahuan mereka dengan sedikit menyimpang dari keharusan, ternyata mengusik mereka untuk tidak tinggal diam. ini berarti kepekaan mereka terhadap masalah sosial dan lingkungannya masih tinggi. aku berharap mereka bisa lebih terpacu lagi, tidak hanya menjadi kucing tidur yang terbangun ketika kumisnya ditarik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1595255819235316119?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1595255819235316119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1595255819235316119' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1595255819235316119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1595255819235316119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/10/bravo-you-kid.html' title='bravo you kid!'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-988194577035016070</id><published>2008-10-14T09:50:00.005+07:00</published><updated>2008-10-23T22:30:55.636+07:00</updated><title type='text'>MY LOVE WILL NEVER END...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SQCWdYdq8lI/AAAAAAAAAFA/x6pyfkGazPs/s1600-h/Picture+0009.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SPQJcJgNPHI/AAAAAAAAAEY/zWkuB-tOXx8/s1600-h/Fhoto152.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5260369368364839810" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 191px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SQCWEeS7c4I/AAAAAAAAAE4/J1Dx4-mIPt4/s200/18102008250.jpg" border="0" /&gt; &lt;span style="color:#330033;"&gt;"Ya allah ya Rabb...!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="color:#330033;"&gt;aku percaya seutuhnya padamu, tak akan ada yang dapat meruntuhkan kebersatuanmu dalam aku. aku berlindung dari segala sesuatu yang tak pasti dan tak abadi di dunia ini padamu, maka, berikanlah aku dan matahariku yang terbaik di layar semu-Mu...Amin".&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-988194577035016070?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/988194577035016070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=988194577035016070' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/988194577035016070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/988194577035016070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/10/my-love-will-never-end.html' title='MY LOVE WILL NEVER END...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SQCWEeS7c4I/AAAAAAAAAE4/J1Dx4-mIPt4/s72-c/18102008250.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4334496505359898028</id><published>2008-10-14T09:44:00.002+07:00</published><updated>2009-01-25T22:06:53.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>ANDAI AKU JADI ‘SESUATU ‘ DI TANGERANG.</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Melihat perkembangan kota tangerang selama tiga puluh lima tahun masa saya dibesarkan dikota ini, bisa dibilang lambat dan tidaklah terlalu menggembirakan. Sekalipun tangerang telah terbagi ke dalam kewilayahan kotamadya dan kabupaten, bahkan rencananya nanti ada pengembangan lagi menjadi tangerang selatan namun tetap saja secara statistic tidak mengalami peningkatan yang menonjol. Dari segi perencanaan tata kota, infrastruktur, sector pendidikan, regulasi hingga kebudayaan, tangerang belum banyak mengalami perubahan. Barangkali, jika tidak ada pengembang-pengembang real estate yang membangun dikota ini, mungkin tangerang masih jauh tertinggal. Mengapa demikian?, secara umum, hadirnya para pengembang real estate yang membangun perumahan-perumahan elit telah banyak dengan sendirinya membangun sebuah perubahan. Perubahan yang sangat berpengaruh terhadap pola hidup dan struktur masyarakat. Misalnya saja, konsep salah satu pengembang yang menslogankan sebagai kota mandiri, telah benar-benar membangun sebuah kota yang memang secara structural mandiri seperti; membangun fasilitas jalan, transportasi dan lain sebagainya. Pengaruhnya terlihat pada pembenahan pola hidup masyarakat yang tadinya sangat tradisional menjadi lebih modern, tersedianya banyak lapangan pekerjaan dengan banyaknya dibangun ruko-ruko, mall, pasar modern dan fasilitas social lainnya serta peningkatan kualitas pendidikan yang telah banyak menghadirkan sekolah-sekolah swasta yang cukup ternama. Dengan sendirinya, laju pertumbuhan ekonomi dikota inipun mengalami pergerakan.&lt;br /&gt;Pengembang vs pemerintah kota tangerang.&lt;br /&gt;Jika dilihat dari sisi perkembangan kota, tangerang telah lumayan mengalami kemajuan. Salah satunya berkat campur tangannya para pengembang perumahan ini tadi. Perkembangan ini telah dibuktikan dengan bergesernya pusat kota yang menjadi sentral perhatian masyarakat dari yang tadinya berada di depan gedung DPRD dekat mesjid agung tangerang hingga alun-alun beralih ke mall Sumarecon, Gading Serpong, Lippo Karawaci dan Bumi Serpong Damai. Pusat kota tangerang hampir tidak memiliki daya tarik lagi bagi masyarakatnya, sebagian besar sudah beralih ke kabupaten yang kebetulan banyak memiliki perumahan estate.&lt;br /&gt;Hadirnya para pengembang yang turut membangun tangerang ini, selain berdampak positif bagi masyarkat dalam menyediakan lapangan pekerjaan, alternative sarana pendidikan, hingga fasilitas rekreasi masyarakat juga memberi dampak yang kurang menyehatkan. Misalnya saja, dengan mengkondisikan lahan agar bisa dibeli oleh pengembang dengan harga murah tanpa memikirkan keberlangsungan hidup terutama penggantian lahan yang dibelinya dengan lahan lain bagi sipenjual. Mengingat kondisi masyarakat tradisionil yang kurang bisa memahami regulasi, kurang bisa memanfaatkan hasil penjualan tanahnya pada pengembang serta kurangnya tingkat pendidikan mereka, sehingga yang terjadi adalah mereka kehilangan lahan untuk survive hidupnya dan uang yang diperoleh sebagai hasil penjualan yang tidak terkelola secara baik membuat mereka dengan cepat menjadi miskin. Secara psikologis, ketika mereka mendapatkan uang hasil penjualan lahannya itu dipergunakan untuk sesaat mereka dapat menikmati gaya hidup perkotaan. Masyarakat tradisionil cenderung menghabiskannya pada barang-barang yang bersifat material tanpa berfikir untuk ditabung dan sebagainya, akibatnya ketika uangnya habis, mereka tidak mendapatkan apa-apa; tanah sudah tidak ada, uangpun begitu. Jika demikian yang terjadi, ini berdampak besar terhapap meningkatnya jumlah kemiskinan. Ditambah lagi dengan tidak adanya kapabilitas mereka untuk bisa survive, selain berladang.&lt;br /&gt;Selain itu, dengan dibangunnya perumahan-perumahan estate dikawasan ini, telah membangunkan pula jarak kontras antara si kaya dan si miskin. Ini terlihat sekali seperti dikampong-kampung yang terkepung oleh perumahan elit. Dimana masyarakat masih banyak yang memasak dengan kayu bakar dan MCK yang dibuat sembarangan saja dengan empang yang berdekatan dengan sumber air sumur. Sedangkan jarak antara kampong dan perumahan hanya dibatasi oleh pagar beton saja. Ironis sekali. Hal ini perlu dipertanyakan peran CSR ( Coorporate Social Responsibility ) dari para pengembang terhadap lingkungan sekitarnya. Bagimana tanggung jawab social si pengembang terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitarnya, sehingga pengembang tidak hanya semata-mata mencari untung saja. Jika ada upaya yang kongkret dari pengembang untuk CSR seperti menyediakan fasos fasum, sekolah, balai warga, puskesmas, koperasi dan lain sebagainya untuk kesejahteraan warga sekitarnya, setidaknya dapat menjaga keseimbangan alam, mengurangi kesenjangan.&lt;br /&gt;Di pihak lain, pemerintah setempat juga tidak banyak memberi peran yang berarti bagi pembangunan kota tangerang. Pembangunan infrastruktur belum terlihat mengalami kemajuan, masih banyak jalanan rusak, fasilitas umum yang kurang baik, dan kurang lengkap serta lain sebagainya. Pemerintah seolah hanya berfokus pada urusan politik, yang menyangkut masing-masing kepentingan jabatannya hingga kurang kreatif dalam usaha memajukan wilayah kota tangerang. Entah karena sikap mental yang terkonstruksi sejak zaman colonial ataukah memang proses perekrutan sumber daya manusianya yang kurang memenuhi standar atau jugakah karena kurangnya kesadaran akan sense of belonging terhadap kota ini yang membuat mereka menjadi hanya sekedar ‘gugur kewajiban’ dalam memenuhi tugasnya saja. Pemerintah kurang peka terhadap apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya, pemerintah juga kurang peka terhadap apa yang menjadi kekurangan kota ini untuk kemudian memajukannya. Sekalinya membuat sebuah regulasi, justru malah meresahkan warganya terutama kaum perempuan. Regulasi yang dimaksud disini salah satunya adalah PP Daerah No. 8 th.2005 terutama dalam pasal 4 ayat (1) yang berbunyi; “ Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan-jalan umum, dilapangan-lapangan, dirumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung kopi, tempat hiburan, gedung tempat tontonan, disudut-sudut jalan atau dilorong-lorong jalan atau ditempat lain di daerah,” adalah peraturan yang jelas-jelas berdasarkan asumsi belaka, dan ini tidak sesuai dengan asas pembentukan peraturan perundangan yang diatur dalam pasal 5 UU no. 10 th2004. Peraturan yang seperti ini bisa menyesatkan, salah-salah, perempuan yang bekerja dengan shif malam bisa disangka pelacur, dan ini justru bisa menjadi pelanggaran hak asasi manusia.&lt;br /&gt;Oleh karena itu sebagai warga tangerang yang lahir dan besar di kota ini, saya sangat peduli dan mencintai tangerang. Saya ingin tangerang ini maju, mandiri dan menarik banyak investor kesini. Ketika keinginan untuk memajukan kota ini terlintas, ternyata banyak sekali yang mesti dibenahi. Namun, setidaknya berani memulai daripada tidak pernah sama sekali, sekecil apapun bentuknya. Persoalanya ketika hendak memulai adalah hendak memulai dari mana? Mana lebih dulu yang harus dibenahi? Meskipun berfikir untuk skala kota kecil, tetap dibutuhkan perencanaan yang matang dan serius. Akhirnya, berlagak layaknya seorang pemimpin, saya mencoba memetakan persoalan dengan mengumpulkan apa-apa saja yang mesti dikurang atau ditambahi di kota ini. Diantaranya adalah sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Pertama yang menjadi tujuan atau focus utamanya adalah membentuk dahulu apa yang menjadi cirri dan karakteristik kota tangerang. Apa yang menjadi kepribadian kota tangerang hingga bisa membedakannya dengan kota-kotalain. bagi saya ini penting, selama ini kota tangerang tidak terasa istimewa lantaran tidak memiliki cirri budaya, tidak memiliki identitas sehingga tidak memiliki daya jual yang menarik investor datang. Jika kita lihat Jogjakarta yang terkenal sebagai kota gudeg, kerajinan tangan dan kota pelajar. Bogor terkenal sebagai kota talas, asinan dan pertanian, tangerang? Tangerang tidak memiliki ciri khas. Oleh karena itu, tangerang mesti membentuk karakteristiknya, membentuk kebudayannya lebih dahulu sehingga tangerang memiliki kepribadian yang dikenali kota lain. Tentu saja untuk membentuk karakteristik kota tangerang ini, kita mesti melihat dulu sumber daya potensial yang ada. Tangerang tidak kalah kaya dalam memiliki sumber daya alam, ada pantai, air terjun, persawahan, industry, dan lain sebagainya yang bisa dikelola. Tangerang juga memiliki kebudayaan local seperti tari cokek yang khas, makanan khas, bahasa khas, tempat-tempat bersejarah serta bangunan-bangunan khas. Tangerang juga memiliki kekhasan dalam lokalitas masyarakatnya seperti etnis Cina Benteng yang berwarna kulit beda dari kebanyakan etnis Cina pada umumnya. Tidakkah semua ini sangat potensial untuk dikelola dan membentuk kepribadian kota?&lt;br /&gt;2. Secara khusus, pertama-tama yang harus dibenahi adalah persoalan tata kota. Guna menciptakan penataan kota yang teratur, tidak tumpang tindih dan tertib, baik dari segi bangunan, jalan-jalan maupun lokalisasi tempat-tempat pendidikan dan industry.&lt;br /&gt;3. lalu penertiban kartu identitas penduduk, yang alangkah baiknya kartu tersebut disertai juga sebagai kartu asuransi social masyarakat. Numerisasi yang tersentral, sehingga tidak bisa diduplikasi dan multiguna. Hal ini berguna dalam mengantisipasi hak pilih ganda dan mempermudah pengidentifikasian warganya.&lt;br /&gt;4. penertiban system dan struktur organisasi yang lebih ramping, padat dan efisien.; Menempatkan tenaga yang memiliki keterampilan dalam mengatasi beberapa masalah, baik secara administrative maupun social. Sehingga tidak perlu memperkerjakan banyak pegawai yang hasilnya juga tidak efektif. Selain itu, kelengkapan perangkat kerja yang serba komputerized, berteknologi sangat diperlukan guna mempermudah akses dalam bekerja. Menyederhanakan birokrasi. Tidak mempersulit warga dalam memperoleh hak-haknya. Apalagi harus membayar biaya-biaya ekstra sebagai upah uang lelah dan sebagainya. Tetapi tetap harus tegas dalam menentapkan regulasi yang ada. Misalnya pemberian izin bersyarat yang berkonsekuensi kebaikan bagi kedua belah pihak. Menertibkan oknum-oknum yang terbiasa dengan upah ekstra, korupsi dan pungutan-pungutan liar lainnya. Serta proses kerja yang disiplin dan professional.&lt;br /&gt;5. Membenahi sector pendidikan. membangun pusat perpustakaan terbesar dan terlengkap di tangerang sebagai wadah data base dan pengetahuan bagi para warganya. Sebagai konsekuensi, setiap sekolah wajib memiliki ruang perpustakaan yang menyediakan kebutuhan pendidikan bagi para muridnya.&lt;br /&gt;§ Menyediakan sarana hotspot dibeberapa tempat tertentu&lt;br /&gt;§ Mewajibkan setiap anak untuk menguasai computer dan bahasa inggris sedini mungkin, tanpa melupakan bahasa local dan akidah agama.&lt;br /&gt;§ Menstandarkan uang sekolah baik bagi swasta maupun negri, hingga pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang mahal untuk dijangkau. Atau memberikan pinjaman biaya sekolah yang bisa dilunasi setelah sekolah selesai.&lt;br /&gt;6. Membenahi kebutuhan sekunder masyarakat.&lt;br /&gt;Membuat tempat hiburan masyarakat yang terlengkap di kota tangerang, yang dikelola oleh swasta dan pemerintah. Seperti; dunia fantasi ancol di tangerang atau Disneyland di tangerang. Membuat tempat berkesenian terlengkap di tangerang yang memenuhi standar internasional. Dimana para seniman bisa mengekspresikan diri baik untuk pementasan drama, film, music, konser klasik dan lain sebagainya. Membuat tempat olah raga terlengkap di tangerang, sehingga mau olah raga apa saja bisa ditandingkan di tangerang.&lt;br /&gt;7. Membenahi sikap mental masyarakat.&lt;br /&gt;v Membiasakan menghijaukan lahan yang ada, sekurang-kurangnya menyediakan tanaman disetiap pekarangan dan mewajibkan menanam apotik hidup disetiap rumah warga.&lt;br /&gt;Ø Membiasakan back to nature, daur ulang, dan pengaturan pemisahan sampah organic dan non organic.&lt;br /&gt;Ø Mengantisipasi persoalan sampah kota dengan membuat pembuangan sampah disetiap desa, lengkap dengan peralatan prosesinya sehingga sampah bisa berdaya guna dan sampah tidak menjadi sampah.&lt;br /&gt;Ø Mewajibkan sekolah bagi setiap generasi bangsa, apapun alasannya minimal sampai tamat SMA.&lt;br /&gt;8. Bagi perusahan besar yang berinvestasi di kota ini, bisa menggantikan pembayaran pajaknya dengan memberikan bea siswa bagi setiap generasi bangsa yang cerdas, maupun yang tidak mampu. Mempersiapkan setiap desa dengan keahlian/keistimewaannya masing-masing untuk mandiri, seperti membentuk desa kerajinan dsb. Menyediakan ruang public setidaknya dimasing-masing kecamatan. Ruang public yang merupakan ruang kebebasan masyarakat untuk berekspresi dan berekreasi. Ruang bebas berdemonstrasi, memaki, berkreasi dsb.. asal bebas bertanggungjawab.&lt;br /&gt;Akhirnya, meski barangkali belum semua tertuang apa yang mestinya dibenahi dan disempurnakan setidaknya, impian mewujudkan kota kecilku yang tercinta ini lewat siapa saja yang hendak menjadi pemimpinnya semoga gagasan-gagasan ini bisa terwakili. 131008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4334496505359898028?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4334496505359898028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4334496505359898028' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4334496505359898028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4334496505359898028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/10/andai-aku-jadi-sesuatu-di-tangerang_14.html' title='ANDAI AKU JADI ‘SESUATU ‘ DI TANGERANG.'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-3500277394987987582</id><published>2008-10-04T18:21:00.003+07:00</published><updated>2009-01-25T22:08:57.979+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi/kesah'/><title type='text'>Bunga ini sebentar lagi layu...</title><content type='html'>masa itu akan tiba juga nantinya...&lt;br /&gt;hari ini dipuja, esok dilupa&lt;br /&gt;hari ini digilai banyak lebah,esok rontok kelopaknya&lt;br /&gt;hari ini kusadari...jika hidup itu tak selamanya indah&lt;br /&gt;jika hidup tak sekedar dipuja atau menyerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-3500277394987987582?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/3500277394987987582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=3500277394987987582' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3500277394987987582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3500277394987987582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/10/bunga-ini-sebentar-lagi-layu.html' title='Bunga ini sebentar lagi layu...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4401858034021603969</id><published>2008-09-29T20:19:00.001+07:00</published><updated>2009-01-25T22:09:18.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosialita'/><title type='text'>Monkey thinking..???</title><content type='html'>Yang tiap hari diperbudak manusia untuk menghidupi kebutuhannya&lt;br /&gt;Diajak keliling kampong untuk beratraksi…demi sekeping rupiah&lt;br /&gt;Dengan leher terikat rantai panjang, mereka menarik, menghentak bahkan kadang mencambukku dengan libasan rantai tersebut. Mengharap aku patuh pada setiap permintaannya&lt;br /&gt;Mereka tak peduli pada lelahku, pada sakitnya rantai yang menjerat leherku…&lt;br /&gt;Mereka tak merasa kasihan padaku…padahal aku merasa kasihan pada mereka..&lt;br /&gt;Aku bi sa hidup tanpa mereka, tapi mereka tak bi sa hidup tanpaku…&lt;br /&gt;Akulah harapan masa depannya, akulah kepala keluarganya, akulah yang memberinya nafkah pada istri dan lima anak mereka…&lt;br /&gt;                Jika bukan karena aku kasihan pada mereka, aku mungkin sudah mencabik-cabik wajahnya…&lt;br /&gt;Tapi mereka tak merasa kasihan padaku…ataukah mereka terlalu mencintaiku????&lt;br /&gt;Apakah manusia itu mencintaiku hingga harus membelengguku dengan rantai agar aku tak pergi?&lt;br /&gt;Apakah manusia itu takut kehilanganku hingga mau merawatku dengan kemiskinan mereka sendiri?&lt;br /&gt;Aku bingung dengan cinta manusia dan hewan peliharaannyaa…&lt;br /&gt;Lagi-lagi kupertanyakan batasan cinta dengan nafsu sejauh mana….&lt;br /&gt;Hingga akhirnya kupertanyakan lagi, apakah manusia itu punya cinta??&lt;br /&gt;Apakah itu wujudnya cinta???&lt;br /&gt;                Berkilo-kilo meter mereka membawaku keliling desa…&lt;br /&gt;Dengan raut lelah terus mengejar rupiah demi rupiah…setiap kali tampil, alunan gamelan seadanya mengiringi penampilanku…aku harus tetap focus dan konsentrasi! Jika tidak, mereka akan menghentakkan rantai yang akan mencambukku, atau mereka menarik rantai itu hingga aku tak bisa bernafas…mereka tak peduli jika aku sangat kelelahan…tigapuluh kali beratraksi seharian…&lt;br /&gt;Aku benar-benar kelelahan…mataku mulai berbayang, tubuhku gontai kekiri ke kanan…aku tak bisa berdiri tegak lagi…brakkk!!! Aku pun tersungkur…gamelan terus dinyanyikan. Mereka tak tahu aku pingsan, mereka malah bertepuk tangan. Seolah itu menjadi bagian atraksiku. Sang pawang terus menghentak-hentakkan rantainya, menarik tubuhku  entah keberbagai arah…aku tetap tersungkur…&lt;br /&gt;Pelan-pelan kugerakkan kaki dan tangan…berupaya lagi untuk bangun, kulihat sekelilingku para manusia itu sedang riang menertawakanku…seorang bocah menghampiri dan menjambak kepalaku…aku Cuma bias diam…dunia disekitarku terasa berputar begitu cepat. Samar-samar ku melihat teman-teman keraku sedang asyik bergelayutan dialam bebas…bercanda dari satu dahan kedahan lainnya…&lt;br /&gt;Tak ada rantai yang menjerat leher mereka, tak ada tarian konyol yang harus tiap hari dilakoninya. Gelak tawa mereka dipucuk pepohonan seolah turut menertawakan nasibku yang menjadi budak manusia.&lt;br /&gt;                Andai mereka tahu, aku sedang berjasa…pada manusia yang tak tahu berbalas jasa…&lt;br /&gt;Aku sedang memperpanjang usia dan kehidupan mereka, demi kelima anak-anak mereka…&lt;br /&gt;Jika aku tidak bekerja, kelima anaknya tak bisa makan apa-apa…karena Cuma aku yang mereka punya…&lt;br /&gt;Tak ada kemampuan, tak ada pengetahuan, tak ada kebisaan. Kalo aku boleh bilang, mereka itu tak jauh berbeda denganku. Atau bahkan lebih bodoh dari aku yang Cuma seekor kera. Bagaimana tidak, aku bisa mencarikan mereka uang, aku bisa hidup cari makan sendirian, dilepas dimanapun aku bisa cari makan, tapi mereka….??? Biarlah urusan siapa yang dapat pahala atau tanda jasa, biar menjadi urusan Tuhan. Kalau aku diperbudak manusia, karena entah kecintaanya ataukah karna kepentingannya saja…&lt;br /&gt;Merekapun akan diperbudak lagi oleh kebodohannya, kemiskinannya dan dunia.&lt;br /&gt;Begitu juga manusia yang sudah kaya, mereka memperbudak para pekerjanya dan mereka pun diperbudak lagi oleh uang dan kekuasannya…mereka pikir  mereka sudah kaya dan berkuasa, padahal mereka Cuma budak dari uang, kekuasaan dan nafsu mereka saja.&lt;br /&gt;                Justru orang yang berkuasa itu adalah orang yang sudah bisa membebaskan dirinya dari segala hasrat dunia.  bisa mengendalikan hasrat dirinya.  bisa menguasai dirinya dari keinginan-keinginan dan nafsu yang tak pernah ada puasnya…&lt;br /&gt;                Selama tubuh keraku masih ada, biarlah kuabdikan hidupku untuk manusia ini. Setidaknya mereka kadang tidak membedakan aku diantara anak-anaknya. Setidaknya aku berbuat baik sesama manusia, eh kera, eh entahlah.  Kuharap para manusia yang memperkerjakanku ini belajar hiduplah dariku….(tertanda, kera, yang bukan kura dan tidak kere) 21808thaz.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4401858034021603969?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4401858034021603969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4401858034021603969' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4401858034021603969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4401858034021603969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/09/monkey-thinking.html' title='Monkey thinking..???'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8725901517679802913</id><published>2008-09-21T15:30:00.005+07:00</published><updated>2008-09-21T15:41:51.777+07:00</updated><title type='text'>cantikku luka..</title><content type='html'>aku bukan magnet...&lt;br /&gt;aku bukan racun...&lt;br /&gt;aku juga bukan penghipnotis...&lt;br /&gt;jika jiwamu datang padaku, itu bukan mauku&lt;br /&gt;jika maksudmu menyukaiku, itu juga bukan mauku&lt;br /&gt;menyukai adalah hak setiap pribadi&lt;br /&gt;kamu berhak suka, aku juga berhak tidak&lt;br /&gt;atau sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cintaku saat ini adalah rasionalitas&lt;br /&gt;seberapapun orang bilang cinta itu tidak logis&lt;br /&gt;tapi waktu telah mengajariku banyak hal&lt;br /&gt;untuk aku tidak terjerumus lubang yang sama dua kali&lt;br /&gt;karena itu, jangan paksa aku angkat telponmu, bicara denganmu atau..&lt;br /&gt;menemuimu..karena aku punya hak untuk tidak melakukannya.&lt;br /&gt;aku mau jika aku yang mau...&lt;br /&gt;mencari mauku tidaklah mudah...apalagi untuk yg pernah terluka..&lt;br /&gt;maka, ketika kesempatan aku bisa 'mau' itu tiba...&lt;br /&gt;seharusnya itu menjadi anugerah...&lt;br /&gt;tapi sayang, banyak yg tak kau pahami tentang aku.&lt;br /&gt;karena kau terlalu sibuk untuk ingin dipahami terus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau bilang aku cantik...&lt;br /&gt;maka cantikku ini adalah luka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kau bilang aku ini racun..&lt;br /&gt;mungkin kau benar, karena itu juga luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cantikku telah membiusmu dan meradang menjadi amarah&lt;br /&gt;jika kau tidak bisa memilikinya...karena itu lah luka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan petik bunga yang beracun!! itu kata orang bijaksana...&lt;br /&gt;agar kau tak terluka nantinya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8725901517679802913?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8725901517679802913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8725901517679802913' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8725901517679802913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8725901517679802913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/09/cantikku-luka.html' title='cantikku luka..'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4414181461700197083</id><published>2008-09-11T13:18:00.003+07:00</published><updated>2008-09-11T16:11:26.427+07:00</updated><title type='text'>HORMAATTTT!!!!!!!!!!....GRAKKKK!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SMja69oKqJI/AAAAAAAAAEQ/t7kod8Fub8I/s1600-h/PICT0672.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5244682472583243922" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SMja69oKqJI/AAAAAAAAAEQ/t7kod8Fub8I/s200/PICT0672.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;kadang kita tak menyadari, jauh di atas gelar sarjana ataupun status pejabat negara seringkali lupa pada siapa kita sebenarnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dalam bicara kita bisa lontarkan beribu kata-kata bijaksana...namun, dalam realita, terkadang jauh lebih bodoh dari seekor kera! ketika kita dikuasai nafsu, ego dan syahwat, seringkali keluar kata-kata cerca, umpatan dan sumpah serapah;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;segala gelar intelektual saat itu mungkin tidak ada artinya. dan jika kita sadari, kita sangat jauh sekali dari kesan seorang intelektual. apalagi bagi mereka yang berani melakukannya pada seorang wanita. dengan serta merta kesan  yang selama ini terlihat sangat terhormat dan berwibawa, bisa lenyap seketika. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;barangkali, benar apa kata filsafat Cina tentang Yin dan Yang, bahwa kehidupan ini haruslah berjalan dengan harmoni. bahwa ada siang ada malam, ada gelap ada terang, yang bila salah satunya tak berfungsi, maka semuanya akan goyang. artinya, jika kecerdasan tidak diimbangi dengan keimanan atas kemaha kuasaan Tuhan maka yang terjadi adalah kekerasan, ketimpangan, dan kehancuran!. jika kita melakukan kekerasan pada orang lain, berarti kita tidak menghormati diri sendiri. orang yang menghormati/menghargai dirinya sendiri  adalah orang yang memahami kecerdasan dan keimanan yang diberikan Tuhan. dia tidak berbuat bodoh untuk menunjukkan kebodohannya hingga terlihat benar-benar bodoh!&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4414181461700197083?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4414181461700197083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4414181461700197083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4414181461700197083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4414181461700197083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/09/hormaattttgrakkkk.html' title='HORMAATTTT!!!!!!!!!!....GRAKKKK!'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SMja69oKqJI/AAAAAAAAAEQ/t7kod8Fub8I/s72-c/PICT0672.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4075633783619206537</id><published>2008-09-01T10:06:00.002+07:00</published><updated>2008-09-01T10:10:59.907+07:00</updated><title type='text'>N A R S I S..................!!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLtc04D5eRI/AAAAAAAAAEI/6-0pOxzdiAs/s1600-h/Image(031).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240884654847392018" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLtc04D5eRI/AAAAAAAAAEI/6-0pOxzdiAs/s200/Image(031).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;CANT SAY A WORD....AHH!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4075633783619206537?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4075633783619206537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4075633783619206537' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4075633783619206537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4075633783619206537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/09/n-r-s-i-s.html' title='N A R S I S..................!!!'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLtc04D5eRI/AAAAAAAAAEI/6-0pOxzdiAs/s72-c/Image(031).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-9088053232983367323</id><published>2008-09-01T09:34:00.001+07:00</published><updated>2008-09-01T09:35:26.966+07:00</updated><title type='text'>Manusia Sempurna</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kita tidak pernah tahu akan apa yang akan terjadi pada setiap diri.Kesempurnaan tubuh kadang tak jauh lebih berharga dari mereka yang tak memilikinya.Apa yang  dimiliki mereka yang tidak sempurna yang tidak dimiliki mereka yang sempurna yaitu, asa.&lt;br /&gt;Seharusnya, melihat mereka yang tak sesempurna kita, membuat kita bersyukur  dan merawat apa yang sudah kita punya. Tapi ironisnya, kesempurnaan yang ada selalu diperjual belikan demi materi belaka. Tak menyadari kesempurnaannya hanyalah titipan semata. Bahwa kesempurnaanya adalah ketidak sempurnaan dalam sisi lainnya. Dan ketidak sempurnaan mereka adalah kesempurnaan disisi lain. Dengan begitu, tidak ada satupun yang sempurna. Dan yang tidak sempurna itulah manusia.(maka yang sempurna adalah yang menciptakannya). July, 8,2008&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-9088053232983367323?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/9088053232983367323/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=9088053232983367323' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/9088053232983367323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/9088053232983367323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/09/manusia-sempurna.html' title='Manusia Sempurna'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-650782589503483679</id><published>2008-08-30T16:07:00.004+07:00</published><updated>2008-08-30T16:19:47.846+07:00</updated><title type='text'>selamat datang ramadhan.</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLkQnuzVkRI/AAAAAAAAAEA/LIrVN2pQdVY/s1600-h/image003.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240237916186579218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLkQnuzVkRI/AAAAAAAAAEA/LIrVN2pQdVY/s200/image003.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;trimakasih ya allah...&lt;br /&gt;setahun hanya kau beri satu bulan saja berpuasa&lt;br /&gt;trimakasih ya allah&lt;br /&gt;seumur hidup hanya sekali kau wajibkan haji...&lt;br /&gt;trimakasih ya allah...&lt;br /&gt;tiap hari perut ini terus penuh padat terisi&lt;br /&gt;seperti tong sampah yang memuat apa saja&lt;br /&gt;sampai kita lupa menyadari...&lt;br /&gt;jika apa yang kita makan, ternyata akan membentuk kepribadian diri&lt;br /&gt;dari apa yang kita makan, akan membentuk persona diri&lt;br /&gt;dari apa yang kita makan, akan memuat seberapa kita emosi&lt;br /&gt;dari apa yang kita makan, adalah apa yang menjadikan kita sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puasa ramadhan, dengan begitu menjadi evaluasi diri&lt;br /&gt;dengan menahan lapar, menahan emosi, mengurai diri...&lt;br /&gt;puasa adalah proses kontemplasi&lt;br /&gt;untuk kita bertajalli...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat datang ya ramadhan!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-650782589503483679?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/650782589503483679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=650782589503483679' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/650782589503483679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/650782589503483679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/selamat-datang-ramadhan.html' title='selamat datang ramadhan.'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SLkQnuzVkRI/AAAAAAAAAEA/LIrVN2pQdVY/s72-c/image003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8275240129295880337</id><published>2008-08-27T21:34:00.001+07:00</published><updated>2008-08-27T21:35:49.629+07:00</updated><title type='text'>USAI SUDAH...........</title><content type='html'>semoga waktu mendewasakan kita........trimakasih untuk pernah singgah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8275240129295880337?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8275240129295880337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8275240129295880337' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8275240129295880337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8275240129295880337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/usai-sudah_27.html' title='USAI SUDAH...........'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-8107942206323506501</id><published>2008-08-27T20:59:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T21:01:45.320+07:00</updated><title type='text'>Multikulturalisme- PerempuanWamena</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Desa Jiwika terletak di lembah,dikelilingi dinding pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 4750 m, dpl. Oleh filsuf Belanda di beri nama Lembah Baliem,karena dihuni oleh masyarakat atau’’suku bangsa’’yang berkulit hitam,dan kaum lelakinya memakai koteka,dan perempuan memaki rumbai-rumbai dengan dada terbuka tanpa busana,dengan suhu rata-rata 12.4 derajat celcius dan curah hujan rata-rata 2.082 mm atau 233 hari dalam setahun sehingga cocok untuk bercocok tanam,yang terkenal hasil umbi-umbian,dengan 53 jenis varitas.Sebelum Indonesia merdeka beberapa antropolog baik luar maupun dalam negri seperti Jan boeliars,Van de Bergh,Hoagenband HI,Penters,OFM,Van Nunen,Chairol Haider,Wen Sargine ,Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan dan lain-lain, telah mengangkat irian jaya ke dalam berbagai manuskrip, juga menjadi sasaran misi zending. Pastor,pendeta,suster,dan para penginjil katolik dan keristen.Desa Jiwika didiami oleh suku dani yang merupakan salah satu suku dari 375 suku yang ada di Irian Jaya. Pada umumnya mereka sangat tergantung pada alam, dengan kondisi budaya yang sederhana dan saling ketergantungannya dengan alam membuat mereka bisa menjaga ekosistem yang ada.Perjodohan Perempuan WamenaPerempuan di Jiwika cenderung kawin pada usia muda, karena pemilihan jodoh ditentukan oleh orang tuanya, setelah haid pertama orang tua sudah berhak untuk mengawinkan anak gadisnya dengan lelaki selera orang tuanya. Untuk anak laki-laki usia kawin diatas 15 tahun atau sesudah masa inisiasi selesai, anak laki-laki harus rajin membantu ibunya karena mas kawin yang berupa babi dimiliki ibunya. Bila anak laki tidak mau membantu ibunya bisa menjadi anak yang malang atau kurang beruntung karena ibunya bisa marah dan tidak akan memberikan mas kawinnya sehingga ia tidak bisa kawin dan menjadi perjaka tua, karena dianggap pemalas kadang menjadi gila dan disisihkan masyarakat.Pertemuan jodoh di desa jiwika disebut pesta Mawe,diadakan setiap lima tahun sekali dari tiap-tiap desa,pesta diadakan di tempal lapangan terbuka dan dihadiri oleh mereka yang memenuhi syarat seperti mas kawin,usia dan lain-lain.pada umumnya yang datang perempuan yang sudah menstrusi dan laki laki yang punya babi,apabila laki laki menginginkan perempuan maka orang tua perempuan didekati dan tawar menawar, mas kawin tergantung tawaran minimum 4 ekor Babi.biasanya orang laki laki yang sudah punya istri juga bisa ikut asal punya banyak babi.dan dalam perjodohan anak gadis sebelumnya tidak pernah kenal.PerceraianDalam kasus perceraian biasanya disebabkan oleh si istri yang menyeleweng karena kurang perhatian dari suami dan sering terjadi pertengkaran dalam keluarga. Biasanya si istri yang melakuan penyelewengan di biarkan oleh suaminya karena semakin sering ia melakukan penyelewengan, semakin banyak pula denda yang suami dapatkan. Suami akan menuntut pria yang melakuan penyelewengan dengan istrinya dengan denda 20 ekor Babi.KematianBila ada anggota keluarga yang meninggal, maka perempuanlah yang harus melakuan ritual duka cita dengan cara melumuri seluruh tubuhnya dengan Lumpur selama satu tahun. Selain itu mereka juga harus memotong jari-jarinya sampai ruas, tergantung berapa banyak saudaranya yang meninggal. Ada juga yang harus dilakukan perempuan selain kedua hal tersebut, yaitu dengan mengiris kupingnya sedikit demi sedikit dengan sembilu, namun meskipun menyakitkan mereka tetap melaksanakanya dengan iklas demi adat istiadat bahkan mereka tetap ceria menikmatinya meskipun sebenarnya mereka diperalat oleh adat istiadat setempat.Perempuan Wamena dan beban kerjaAda cara lain untuk mengurangi beban kerja yang berat bagi perempuan di desa Jiwika yaitu dengan menyuruh suaminya kawin lagi. Semakin banyak babi yang mereka miliki tak cukup tenaga istri untuk mengurusnya, semakin leluasa suami kawin lagi. Dengan menyuruh suami kawin lagi beban kerja dapat dipikul bersama. Bagi perempuan Irian, adalah tabu bila yang menjadi urusan rumah tangga dibantu oleh suami karena perbuatan itu bukan suatu penghormatan yang baik bagi suaminya. Bagi mereka, semakin babi terurus semakin makmur status social mereka, karenanya mereka kadang lebih memperhatikan babi mereka ketimbang anaknya sendiri bahkan ada yang sampai menyusui babi (bukan baby) nya. Kemudian dengan datangnya para misionaris barulah mereka mengubah kebiasaannya tersebut. [1](sumber diperoleh melalui media Journal Perempuan edisi XIII tahun 2000). &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Melihat kasus perempuan Wamena mengingatkan hal yang serupa dengan kasus Sati yang terjadi di India. Perempuan janda yang menceburkan dirinya kedalam pembakaran mayat suaminya adalah tradisi penghormatan istri terhadap suami, begitu pula jari-jari tangan perempuan Waimena yang harus dipotong tiap kali ada saudaranya yang meninggal atau mengiris telinga mereka dengan sembilu adalah tradisi penghormatan mereka terhadap anggota keluarganya yang berduka.Ini adalah gambaran perempuan yang oleh Gayatri Spivak disebut dengan subaltern.[2] Perempuan-perempuan yang terjajah oleh adat istiadat mereka. Seperti halnya teori Spivak mengatakan bahwa perempuan subaltern itu mengalami kekerasan epistemis; terjajah baik secara internal maupun eksternal. Secara internal mereka terjajah oleh adat istiadat masyarakat mereka yang jelas merugikan pihak perempuan disatu sisi (pascakolonial) dan mengukuhkan dominasi patriarkhi disisi lain.(kolonialis, imperialis Barat atau dunia kesatu).Perempuan sebagai pascakolonial yang tidak identik dengan dunia ketiga oleh Spivak dimaksudkan bahwa meskipun perempuan telah berupaya untuk mencapai rekognisinya untuk homogenitas entosentris (Barat, kolonial atau dunia pertama) akan sama halnya untuk semakin mengukuhkan peranan etnosentris itu sebagai logosentris dalam kultur masyarakat tersebut. Akhirnya memposisikan perempuan sebagai subordinat. Artinya kembali diposisi sebagai subaltern, posisi yang tetap terjajah karena dalam proses aplikasinya perempuan justru akan dihadapkan kepada persoalan-persoalan baru.Sebagai contoh dari kasus sati di India, yang berawal dari tradisi yang merugikan perempuan dengan penceburan dirinya dalam pembakaran kemudian tradisi tersebut dihapuskan oleh kolonial Inggris dalam upaya penyelamatan perempuan. Begitu pula dengan kasus perempuan Waimena yang harus memikul beban berat kehidupannya dan cara penghormatan mereka yang harus mengorbankan pemotongan jari-jari tangannya. Sampai misi zending datang untuk mengikis adat itu secara perlahan.Upaya tersebut memposisikan perempuan sebagai yang diselamatkan oleh lelaki…..akibat kolonialisme yang kemudian membuat perempuan lebih memiliki emansipasi….atau pascakolonial yang bergantung pada dunia pertama. Bentuk-bentuk yang hanya dirubah dari tradisi menjadi legal, karena legalitas erat kaitannya dengan konstitusi dan konstitusi merupakan produk kolonial dunia pertama. Yang pada akhirnya tetap saja perempuan diposisi yang disingkirkan, terjajah dan menjadi subaltern.Secara eksternal yang dimaksudkan adalah, posisi perempuan setelah peralihan good society oleh kolonialis tadi, dimana perempuan berupaya untuk satu suara (identitas cultural kolektif ) dapat berbicara atas nama mereka sendiri pun masih tetap mengandalkan intelektual kolonialisme sebagai penguatnya. Sehingga perempuan kemudian terposisikan sebagai subordinat, subaltern.Kolonialisme telah menekan masyarakat lewat mekanisme Oedipus Complex begitu kata Guattari dan Deleuze, [3] dengan kata lain, kolonialisme itu seolah menjadi Oedipus Complex dalam istilah Freud; kecenderungan untuk bergantung, mencintai ataupun berpihak kepada ibunya. Kolonialis disini adalah ibu bagi para dunia ketiga. Kolonialisme masuk melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan kekerasan fisik, pemaksaan melalui proses deteritorialisasi. Proses ini yang kemudian menjalin relasi antara kelompok penjajah dan yang dijajah, namun proses ini dengan sendirinya akan mengarah pada reteritorialisasi atau akulturasi, dimana ada persinggungan antara kebudayaan yang menjajah dan yang dijajah yang kemudian menghasilkan sesuatu yang baru. Hibriditas ras adalah salah satu kemungkinan produk akulturasi yang bisa muncul dari persinggungan dua kebudayaan ini.[4]Kiranya hal seperti itulah yang terjadi di Waimena, kehadiran para misi zending, misionaris adalah kata lain dari kolonialis yang masuk dengan cara penginjilan dan mereka menempati wilayah-wilayah jajahannya (deteritorialisasi) dan mengembangkan ajarannya sehingga ada pertukaran kebudayaan antara adat tradisi memotong jari, mengiris telinga dan melumuri tubuh dengan Lumpur ataupun mengurangi beban kerja perempuan Waimena dengan konstruksi yang lebih modern, lebih beradab; (adat tersebut dihilangkan perlahan) menurut versi kolonialis. Kemudian dari persinggungan kultur ini menghasilkan hibriditas ras baru, pascakolonial. (Seperti halnya Spivak yang menganalogikan perempuan subaltern dengan pascakolonial. )Peralihan evolusi tradisi yang merugikan perempuan oleh kolonialis yang kemudian dirubah menjadi yang lebih baik dan beradab adalah tujuan lain dari kepentingan dunia pertama dalam membangun good image-nya. Upaya memproklamirkan dirinya tetap sebagai negara dunia pertama dengan membangun masyarakat sipil yang baik, memperbaiki adat yang merugikan masyarakat, terutama perempuan adalah salah satunya. Sehingga, masyarakat yang tadinya tidak baik menjadi baik atau masyarakat yang baik dilahirkan dari kekacauan masyarakat sebelumnya. Pendapat Spivak ini serupa pula dengan istilah konsep hibriditasnya Deleuze dan Gauttari, dimana hibriditas merupakan sebuah keniscayaan dalam relasi yang selalu beragam. Dengan kata lain, kemurnian selalu berada dalam ketidak murnian.[5] (Negara yang baik terlahir dari kekacauan negara itu sebelumnya).Kembali pada Spivak yang mencoba mendongkrak wacana kekuasaan dunia pertama dalam studi pascakolonial dengan strategi dekonstruksi yang juga aplikasi dari teorinya Derrida. Menurut Spivak, dekonstruksi bukanlah sekadar praktek pembongkaran belaka, yakni pembongkaran kesalahan, melainkan lebih sebagai upaya untuk memeriksa bagaimana kebenaran-kebenaran itu diproduksi dalam dan melalui formasi-formasi social dan politik.[6]Sama halnya dengan Spivak, melihat kondisi perempuan seperti Waimena bagi Trinh Minh-ha adalah gambaran perempuan dunia ketiga.[7] Perempuan dengan beban pekerjaan yang lebih berat daripada lelaki seperti dalam kehidupan suku Dani di Waimena, memberi makan suami dan anak dipagi hari, menggemburkan tanah ladang, mengurus ternak babi, mencari garam ke bukit hingga waktu makan malam tiba adalah pekerjaan rutin perempuan disana. Belum lagi pengorbanan mereka untuk mengiris telinga, melumuri tubuh dengan Lumpur hingga pemotongan jari tangan mereka bagi familiy mereka yang meninggal adalah tradisi yang harus dijalani mereka.Tidak hanya itu, dalam hal perjodohan pun, perempuan Waimena dihargai sama dengan seekor babi; bila seseorang mamak memiliki babi maka ia dapat melamarkan anaknya untuk mempersunting gadis sesuai seleranya. Disisi lain, semakin banyak babi semakin mempermudah suami, bahkan dianjurkan istrinya untuk kawin lagi; dengan demikian beban pekerjaan perempuan itu teratasi.Gambaran ini adalah realitas dari dunia ketiga bagi Trinh. Sebuah bangsa yang terbelakang, terjajah dan tersingkirkan. Meski patut diakui bila akhirnya menjadi powerlees state, perempuan menjadi terlemahkan karenanya. Beban kerja serta tradisi yang merugikan perempuan Waimena adalah konstruksi tradisi atau proses layering yang membentuk continuitas chain, atau Oedipus Complex menurut Deleuze, yang membuat kaum perempuan tak berdaya. Dengan demikian selalu bergantung pada kekuasaan dunia pertama, patriarkhi yang hanya beralih fungsi tetapi berstatus sama; penjajah.Walaupun perempuan di Waimena itu seolah tidak merasakannya justru menikmatinya sebagai tradisi leluhur mereka yang harus diterimakan. Perempuan seolah harus menerima takdir mereka sebagai dunia ketiga; yang terjajah. Oleh karenanya Spivak ingin mengupayakan emansipasi yang terbentuk pascakolonialis tersebut dalam sebuah homogenitas identitas cultural, kolektif dan satu suara agar mereka kaum perempuan bisa mewakili sendiri dirinya.Begitu juga dengan Trinh Minh-ha, gambaran perempuan Waimena yang tetap terlihat bahagia dengan tradisi yang membelenggu kebebasannya itu merupakan pemandangan umum yang terjadi didunia yang terjajah. Minh mengupayakan perempuan untuk bisa melihat dirinya melalui kacamatanya sendiri dan tidak melulu melalui kacamata patriarkhi, dunia pertama. Minh dengan alasan itu ingin menghadapkan perempuan pada realita yang sebenarnya, membangunkan perempuan dari tidurnya agar dapat mensejajarkan mereka dengan dunia pertama. Setidaknya seperti yang sudah dilakukan negara-negara dunia ketiga yang bersatu dan membangun diri dengan mempertaruhkan identitas dan budaya mereka pada dunia pertama telah membuka mata mereka akan kekuatan dunia ketiga yang ternyata patut pula diperhitungkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesimpulan &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Gambaran kehidupan perempuan di Waimena terutama soal pemotongan jari perempuan sebagai tradisi, merupakan contoh serupa yang dipaparkan Gayatri Spivak dengan kasus sati-nya di India. Bagi Spivak perempuan menjadi subaltern baik itu secara internal tradisional maupun secara eksternal kolonial. Oleh karenanya Spivak berupaya untuk mendongkrak fenomena tersebut melalui teori dekonstruksinya Derrida dan wacananya yang ingin membentuk kolektifitas identitas cultural perempuan. Spivak berharap dan tidak setuju dengan konsep subaltern bagi perempuan.Demikian juga bagi Trinh Minh-ha, gambaran kehidupan perempuan Waimena yang terhinakan tersebut merupakan wacana yang terjadi didunia ketiga. Dunia yang selalu dikategorikan sebagai yang tersisih, urban, kumuh dan rendah. Perempuan sebagai dunia ketiga bagi Minh terjadi karena adanya proses infinite layering yang membentuk Oedipus Complex dalam istilah Deleuze sehingga selalu ada asal usul kolonialisme dalam pembentukannya. Dan ini yang diupayakan Minh agar perempuan/dunia ketiga dapat melihat dirinya sendiri tanpa meminjam lagi kacamata kolonialis, sehingga upaya tersebut dapat membuat dunia ketiga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia Barat. Begitu juga dengan yang dipaparkan Edward Said dalam bukunya Orientalisme, dimana ada ketidak seimbangan dari cara Barat dalam melihat Timur.[8]Kalau boleh dilihat, kata kolonialisme umumnya dipahami sebagai penguasaan banga Barat atas Timur yang dimulai sejak petualangan bangsa-bangsa Eropa dari abad kelima belas hingga duapuluh. Namun, seperti kata J.C. Young, bentuk-bentuk kolonialis diperluas lagi wacananya menjadi bersifat lintas waktu.[9] Dimana persoalan-persoalan pascakolonialis ini belum juga selesai hingga sekarang, persoalan dari negara-negara yang pernah dijajah mengalami proses yang berbeda-beda, seperti India yang dijajah Inggris, berbeda dengan Indonesia yang dijajah Belanda.Budaya bangsa yang pernah terjajah hingga saat ini masih menyisakan produk-produk jajahannya meski telah melewati masa penjajahan tersebut, sebagai misal di Indonesia yang masih menggunakan peraturan perundang-undangan warisan penjajah yang didalamnya tidak banyak memuat hak-hak kaum perempuan dan tentu saja menjadi sangat merugikan kaum perempuan. Tidak hanya itu, ideology ras putih lebih tinggi disbanding ras coklat dan warna lainnnya juga merupakan kolonialisme yang mereka bangun untuk pengukuhan dominasi dirinya. Hingga kini, kolonialis itu masih saja ada hanya saja masuk dengan jalan yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Reference;-&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Edward Said, Orientalisme, Pustaka Bandung, 1978- M.H. Nurul Huda, Membongkar Kekerasan Epistemis, Kanisius, Jogja, 2004- Trinh Minh-ha, Infinite Layer/Third World, 1989, acuan dosen- Sunaryo, Rasisme dalam Hasrat Kolonialisme, Kanisius, Jogja,2004- Tatik Cahyani, Perempuan Waimena, Journal Perempuan edisi XIII th.2000- Gayatri Spivak, Can Subaltern Speak? 1988, Acuan dosen- Gilles Deleuze dan Felix Guattari, A thausand Plateaus, Univ of Minnesota Press, 1991[1] Tatik Cahyani, Perempuan Waimena, Journal Perempuan edisi XIII th.2000[2] Gayatri Spivak, Can Subaltern Speak? 1988, Acuan dosen, hal.610[3] Sunaryo, Rasisme dalam Hasrat Kolonialisme, Kanisius, Jogja,2004 hal.124[4] ibid, Sunaryo…lihat juga Gilles Deleuze dan Felix Guattari, A thausand Plateaus, Univ of Minnesota Press, 1991,hal.202[5] ibid Sunaryo hal.128[6] M.H. Nurul Huda, Membongkar Kekerasan Epistemis, Kanisius, Jogja, 2004 hal.113[7] Trinh Minh-ha, Infinite Layer/Third World, 1989, acuan dosen hal. 607[8] Edward Said, Orientalisme, Pustaka Bandung, 1978 hal.6[9] Ibid Sunaryo hal.125 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-8107942206323506501?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/8107942206323506501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=8107942206323506501' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8107942206323506501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/8107942206323506501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/multikulturalisme-perempuanwamena.html' title='Multikulturalisme- PerempuanWamena'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-95342263080393745</id><published>2008-08-27T02:26:00.000+07:00</published><updated>2008-08-27T02:28:06.171+07:00</updated><title type='text'>THE IMPORTANCE OF LOGIC FOR PHILOSOPHY</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;What is logic? Before we talking about how important logic for philosophy, maybe we should know first what the logic itself. The term “logic” is used quite a lot, but not always in its technical sense. Logic, strictly speaking, is the science or study of how to evaluate arguments and reasoning&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;. Logic is what allows us to distinguish correct reasoning from poor reasoning. Logic is important because it helps us reason correctly — without correct reasoning, we don’t have a viable means for knowing the truth or arriving at sound beliefs. Logic is not always a matter of opinion: when it comes to evaluating arguments, there are specific principles and criteria which should be used. If we use those principles and criteria, then we are using logic; if we aren’t using those principles and criteria, then we are not justified in claiming to use logic or be logical. This is important because sometimes people don’t realize that what sounds reasonable isn’t necessarily logical in the strict sense of the word. Our ability to use reasoning is far from perfect, but it is also our most reliable and successful means for developing sound judgments about the world around us. Tools like habit, impulse, and tradition are also used quite often and even with some success, yet not reliably so. In general, our ability to survive depends upon our ability to know what is true, or at least what is more likely true than not true. For that, we need to use reason. Of course, reason can be used well or it can be used poorly and that is where logic comes in. Therefore, we can say that logic is concerned with reason, mind and a method of thinking to be coherent and consistent, a way to use the mind properly.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Over the centuries, philosophers have developed systematic and organized criteria for the use of reason and the evaluation of arguments. Those systems are what have become the field of logic within philosophy some of it is difficult, some of it is not, but it is all relevant for those concerned with clear, coherent, and reliable reasoning. Logic sounds like an esoteric subject for academic philosophers, but the truth of the matter is that logic is applicable anywhere that reasoning and arguments are being used. Whether the actual subject matter is politics, ethics, social policies, raising children, or organizing a book collection, we use reasoning and arguments to arrive at specific conclusions. If we don’t apply the criteria of logic to our arguments, we cannot trust that our reasoning is sound. When a politician makes an argument for a particular course of action, how can that argument be properly evaluated without an understanding of the principles of logic? When a salesman makes a pitch for a product, arguing that it is superior to the competition, how can we determine whether to trust the claims if we aren’t familiar with what distinguishes a good argument from a poor one? There is no area of life where reasoning is completely irrelevant or wasted — to give up on reasoning would mean to give up on thinking itself. Of course, the mere fact that a person studies logic doesn’t guarantee that they will reason well, just as a person who studies a medical textbook won’t necessarily make a great surgeon. The correct use of logic takes practice, not simply theory. On the other hand, a person who never opens a medical textbook probably won’t qualify as any sort of surgeon, much less a great one; in the same way, a person who never studies logic in any form probably won’t do a very good job at reasoning as someone who does study it. This is partly because the study of logic introduces one to many common mistakes that most people make, and also because it provides a lot more opportunity for a person to practice what they learn. It is important to keep in mind that while much of logic appears to be concerned solely with the process of reasoning and arguing, it is ultimately the product of that reasoning which is the purpose of logic. Critical analyses of the way an argument is constructed are not offered simply to help improve the thinking process in the abstract, but rather to help improve the products of that thinking process, for example; our conclusions, beliefs, and ideas. In the other side, Logic also is the science that explains what conditions must be fulfilled in order that a proposition may be proved, if it admits of proof. Not, indeed, every such proposition; for as to those that declare the equality or inequality of numbers or other magnitudes, to explain the conditions of their proof belongs to Mathematics: they are said to be quantitative. But as to all other propositions, called qualitative, like most of those that we meet with in conversation, inliterature, in politics, and even in sciences so far as they are not treated mathematically (say, Botany and Psychology); propositions that merely tell us that something happens (as that _salt dissolves in water_), or that something has a certain property (as that _ice is cold_): as to these, it belongs to Logic to show how we may judge whether they are true, or false, or doubtful. When propositions are expressed with the universality and definiteness that belong to scientific statements, they are called laws; and laws, so far as they are not laws of quantity, are tested by the principles of Logic, if they at all admit of proof. But it is explain that the process of proving cannot go on for ever; something must be taken for granted; and this is usually considered tobe the case (1) with particular facts that can only be perceived and observed, and (2) with those highest laws that are called 'axioms' or 'first principles,' of which we can only say that we know of no exceptions to them, that we cannot help believing them, and that they are indispensable to science and to consistent thought. Logic, then, may be briefly defined as the science of proof with respect to _qualitative_laws and propositions, except those that are axiomatic. What is Philosophy? Philosophy is a study that seeks to understand the mysteries of existence and reality. It tries to discover the nature of truth and knowledge and to find what is of basic value and importance in life&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; It also examines the relationships between humanity and nature and between the individual and society. Philosophy arises out of wonder, curiosity, and the desire to know and understand. Philosophy is thus a form of inquiry--a process of analysis, criticism, interpretation, and speculation. Philosophic thought is an inescapable part of human existence&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Almost everyone has been puzzled from time to time by such essentially philosophic questions as "What does life mean?" "Did I have any existence before I was born?" and "Is there life after death?" Most people also have some kind of philosophy in the sense of a personal outlook on life. Even a person who claims that considering philosophic questions is a waste of time is expressing what is important, worthwhile, or valuable&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; A rejection of all philosophy is in itself philosophy. By studying philosophy, people can clarify what they believe, and they can be stimulated to think about ultimate questions. A person can study philosophers of the past to discover why they thought as they did and what value their thoughts may have in one's own life. Why Study Logic? Logic is the study of the principles and methods of reasoning. It explores how we distinguish between good (or sound) reasoning and bad (or unsound) reasoning. An instance of reasoning is called an argument or an inference&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; An argument consists of a set of statements called premises together with a statement called the conclusion, which is supposed to be supported by or derived from the premises. A good argument provides support for its conclusion, and a bad argument does not. Two basic types of reasoning are called deductive and inductive&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; A good deductive argument is said to be valid--that is, the conclusion necessarily follows from the premises. A deductive argument whose conclusion does not follow necessarily from the premises is said to be invalid. The argument "All human beings are mortal, all Greeks are human beings, therefore all Greeks are mortal" is a valid deductive argument. But the argument "All human beings are mortal, all Greeks are mortal, therefore all Greeks are human beings" is invalid, even though the conclusion is true&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; On that line of reasoning, one could argue that all dogs, which are also mortal, are human beings. Deductive reasoning is used to explore the necessary consequences of certain assumptions. Inductive reasoning is used to establish matters of fact and the laws of nature and does not aim at being deductively valid. One who reasons that all squirrels like nuts, on the basis that all squirrels so far observed like nuts, is reasoning inductively. The conclusion could be false, even though the premise is true&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.totse.com/en/ego/self_improvement/philo1.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Nevertheless, the premise provides considerable support for the conclusion. Logic is necessary to analyze other people’s beliefs. Logical fallacies are everywhere in our society. If we cannot detect the logical mistakes we hears, then how will we discern who is right? The study of logical fallacies (common mistakes in reasoning) is important to critically reason through the arguments of others. Logic also is necessary to understand and communicate our own beliefs. The Scripture commands us to prove our doctrines and practices. We are to reason and dispute from the Scriptures with persuasive and convincing arguments. If we are able to think through and clearly reason from the Koran, then we will be better equipped to give a proper defense of our faith. Once again, without learning how to think properly, we shall misunderstand Scripture. Peter warns against those who twist the Scripture to their own destruction. A study of logic will help us avoid twisting the Scripture and trying to make it imply something it does not imply. The Westminster Confession, written in England in 1648, says all things necessary for our faith and life are either expressly set down in Scripture or may be deduced by good and necessary consequence from Scripture. It is only through a study of logic that we can distinguish a valid deduction from an invalid deduction.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Why Logic is Important for Philosophy? Logic is important for philosophy because its encourage us to have critical thinking and to make us to be careful in drawing conclusion and decision. Logic also educates us to take responsibility, where thinking is taking responsibility. With logic, we can explain to formulating the problems properly and also avoid us to make fallacies in reasoning. With doing logic, any matter in philosophy can be clarified, since logic as also a tool of analysis and systematic explanation for any phenomenon. Logic is not psychology. It does not describe what people think about or how they reach conclusions; it describes how they ought to think if they wish to reason correctly. It is more like arithmetic than history, for it explains the rules one must follow in order to reach correct conclusions, just as arithmetic explains the rules one must follow to arrive at correct answers. Logic concerns all thought; it is fundamental to all disciplines, from agriculture to astronautics. There are not several kinds of logic, one for philosophy and one for religion; but the same rules of thought that apply in politics, for example, apply also in chemistry. But in order to say that there are many different sorts of logic, one must use the rules of the logic there is. Let those who say there is another kind of logic express in their views using that other logic. It’s as though one were to claim that there are two (or more) sorts of arithmetic-the arithmetic in which two plus two equals four, and a second arithmetic in which two plus two equals twenty-two. Anyone who ridicules logic must use logic in his attack, thus damaging his own argument. That’s way we need a law of logic. Let say we use one of logic’s law, which is called; ‘contradiction’, but recently some people have begun to call it the law of non-contradiction-the two phrases refer to the same law. Aristotle expressed the law in these words: “The same attribute cannot at the same time belong and not belong to the same subject and in the same respect.” The law is expressed symbolically as: “Not both A and not-A.” A maple leaf may be both green and not-green (yellow), but it cannot be both green and yellow at the same time and in the same respect-it is green in the summer, yellow in the fall. If it is green and yellow at the same time, it cannot be green and yellow in the same respect; one part, however small, will be green, another yellow. Greenness and not-greenness cannot at the same time and in the same way belong to a maple leaf. To suggest another example: A line may be both curved and straight, but not in the same respect. One portion of it may be curved, another portion straight, but the same portion cannot be both curved and straight.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; The use of logic is not optional. Logic is so fundamental, so basic, that those who attack it must use logic in order to attack logic. They intend the words “Logic is invalid” to have specific meanings. The opponents of logic must use the law of contradiction in order to denounce it. They must assume its legitimacy, in order to declare it illegitimate. They must assume its truth, in order to declare it false. They must present arguments if they wish to persuade us that argumentation is invalid. Wherever they turn, they are boxed in. They cannot assault the object of their hatred without using it in the assault. That is why logic so important in philosophical term, it’s enhance us to having a critical thinking. Speaking of critical thinking, accordance to The Watson-Glaser in Critical Thinking Appraisal which is a well-known psychological test of critical thinking ability has defined critical thinking as: ... A composite of attitudes, knowledge and skills. This composite includes: (1) attitudes of inquiry that involve an ability to recognize the existence of problems and an acceptance of the general need for evidence in support of what is asserted to be true; (2) knowledge of the nature of valid inferences, abstractions, and generalizations in which the weight or accuracy of different kinds of evidence are logically determined; and (3) skills in employing and applying the above attitudes and knowledge.&lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Since one of benefit logic is to make critical thinking, which is the ability to think clearly and rationally. That includes the ability to engage in reflective and independent thinking. Someone with critical thinking skills will able to do the following: understand the logical connections between ideas identify, construct and evaluate arguments detect inconsistencies and common mistakes in reasoning solve problems systematically identify the relevance and importance of ideas reflect on the justification of one's own beliefs and values Critical thinking is not a matter of accumulating information. A person with a good memory and who knows a lot of facts is not necessarily good at critical thinking. A critical thinker is able to deduce consequences from what he knows, and he knows how to make use of information to solve problems, and to seek relevant sources of information to inform him. Critical thinking should not be confused with being argumentative or being critical of other people. Although critical thinking skills can be used in exposing fallacies and bad reasoning, critical thinking can also play an important tale in cooperative reasoning and constructive tasks. Critical thinking can help us acquire knowledge, improve our theories, and strengthen arguments. We can use critical thinking to enhance work processes and improve social institutions. Good critical thinking might be seen as the foundation of science and a liberal democratic society. Science requires the critical use of reason in experimentation and theory confirmation. The proper functioning of a liberal democracy requires citizens who can think critically about social issues to inform their judgments about proper governance and to overcome biases and prejudice. So did philosophy need critical thinking to drawing conclusion properly and to avoid fallacies in reasoning so we can be responsible for what we have already done in speaking, behavior even in thinking. Conclusion; Logic and philosophy are just like a door and it’s key. Which is we cannot open the door without a key. So did philosophy, we cannot learn much about it without knowing the logic. Logic in philosophy is just like a key where philosophy itself is the door. To open the door we need a key, so to know about philosophy we must know about logic. Logic for philosophy is a tool to analyze problems and to make the explanation systematic. Therefore we can avoid any fallacies and any mistakes in the way of thinking- therefore we can avoid wrong conclusion or make decision that is not properly. In other word; philosophy is a fundamental component to all areas of human inquiry while logic is the fundamental basis on which philosophy itself can be done. Reference books; - Ir. Husain Heriyanto, M.Hum, ‘An Introduction to Logic’ for the Preliminary Semester Academic Year 2004-2007, ICAS Jakarta. - Article online, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/index.htm" target="_top"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Philosophy Archive @ marxists.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; - John W. Robbins, ‘Why Study Logic’ article online, Copyright (C) 1998-2008 The Trinity Foundation.com - &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hku.hk/philodep/joelau"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Joe Lau&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; and &lt;/span&gt;&lt;a href="http://rel.hkbu.edu.hk/info_klchan.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Jonathan Chan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;, online article. 2004-2008 &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Article online, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/index.htm" target="_top"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Philosophy Archive @ marxists.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Ir. Husain Heriyanto, M.Hum, ‘An Introduction to Logic’ for the Preliminary Semester Academic Year 2004-2007, ICAS Jakarta. P.1. &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; John W. Robbins, ‘Why Study Logic’ article online, Copyright (C) 1998-2008 The Trinity Foundation.com &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn4" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; Op.cit &lt;/span&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn5" href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=1394077296481782975&amp;amp;postID=1833995719972926321#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.hku.hk/philodep/joelau"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Joe Lau&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt; and &lt;/span&gt;&lt;a href="http://rel.hkbu.edu.hk/info_klchan.html"&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;Jonathan Chan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffccff;"&gt;, online article. 2004-2008&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-95342263080393745?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/95342263080393745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=95342263080393745' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/95342263080393745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/95342263080393745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/importance-of-logic-for-philosophy.html' title='THE IMPORTANCE OF LOGIC FOR PHILOSOPHY'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1193244549017229469</id><published>2008-08-25T20:41:00.001+07:00</published><updated>2009-01-25T22:09:44.930+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosialita'/><title type='text'>SEBUAH NEGARA DALAM KERETA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Saat itu adalah perjalanan saya menuju kota Bogor. Dengan menggunakan kereta api saya mencoba menghilangkan penat kota Jakarta bersama seorang teman. Selama ini, bukan tidak pernah saya menggunakan jasa kereta tetapi sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari selama hidup saya naik kereta dalam kota. Selebihnya saya lebih sering berkendaraan sendiri atau naik motor ojek.Selama dalam perjalanan itu, saya sudah menghitung lebih dari 20 jenis dagangan yang ditawarkan. Belum termasuk pekerja jasa dan sejenisnya seperti pengamen, pengemis, peminta dana sumbangan, penyapu kereta, penyanyi karoke serta penyaji atraksi topeng monyet. Mereka terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai anak dibawah umur sampai kakek dan nenek-nenek.Sementara dari segi komunitas masyarakat yang ada dikereta tersebutpun beraneka ragam. Ada komunitas pelajar, pekerja, pedagang, pengusaha bahkan sampai komunitas masyarakat yang memiliki keunikan tersendiri seperti para punker hampir mendominasi pengamatan saya selama perjalanan dikereta. Belakangan diketahui, memang komunitas para punk ini lumayan banyak di kota Bogor.Kereta api bukan saja menjadi alat transportasi yang murah meriah dan anti macet, namun juga menjadi ajang bisnis yang strategis. Banyaknya transaksi jual beli dalam kereta seolah menjadi dunia tersendiri, kereta api menjadi semacam ‘walking store’ yang bebas pajak dan bebas biaya sewa tempat.Disisi lain, padatnya jumlah penumpang dan para pedagang seolah tidak mengganggu kenyamanan penggunanya. Hal ini nampaknya juga tidak disia-siakan oleh para pencopet dan para pencabul jahil untuk memperoleh kesempatan. Diantara desakan dan sesaknya isi gerbong, mereka beraksi untuk mencuri. Sementara para pencabul jahil tak kalah saing untuk bisa menikmati asyiknya berdempetan dengan penumpang wanita dan sesekali mendorongkan badannya seolah mengikuti liuknya laju kereta. Tak jarang mereka menempatkan tangan-tangan jahilnya diposisi vital wanita sehingga ketika terjadi hentakan dan tarikan rem kereta tangan tersebut mendarat dilahan yang tepat.Rasanya saya tidak sempat memperhatikan pemandangan indah diluar kereta sepanjang perjalanan itu. Padahal tujuan saya adalah agar bisa menikmati kota-kota yang terlewati beserta pemandangannya. Hal ini, dikarenakan pemandangan di dalam kereta ternyata begitu beragam dan lebih menarik perhatian. Dunia dalam kereta adalah salah satu sisi kehidupan tersendiri, seperti sebuah ‘negara’ kecil berjalan (moving country) . Betapa tidak, semua yang terlihat dalam sebuah kota ada dan tumplek komplit di dalamnya. Sebuah negara yang mirip dengan konsep negara alami yang diidealkan John Locke. Negara yang bebas untuk mengatur orang-orang dan hartanya, dimana tak seorangpun boleh merugikan orang lain dalam hidupnya, kesehatannya, kebebasannya atau kepemilikannya (locke: 2002:818). Masing-masing survive bagi dirinya, sehingga seolah tidak lagi memerlukan seorang presiden untuk menjadi pemimpinnya. Bukan saja mereka tidak sempat memikirkan soal negara, barangkali (pemimpin) negaranya itu sendiri pun tidak sempat memikirkan nasib mereka, seonggok komunitas dalam sebuah kereta.Komunitas dalam kereta seolah menjadi tersubordinasi dari dunia luar kereta. Di Barat, masyarakat yang terpinggirkan biasanya membentuk komunitasnya sendiri di bawah stasiun-stasiun kereta, atau yang disebut ‘underground people’. Di Indonesia, justru komunitas itu terbentuk di dalam kereta itu sendiri.Negara dalam kereta tidak saja tak terjangkau pajak dan biaya sewa tempat, namun juga tak terjangkau oleh hukum. Tindak kekerasan terhadap perempuan melalui tangan-tangan jahil oknum penumpang, pencopetan, serta hak-hak perlindungan anak tidak terlihat disini. Tidak hanya itu, pelacuran dalam kereta yang sudah menjadi fenomena lebih tak tersentuh lagi. Jangankan dalam kereta, dalam keseharian saja di negara ini belum jelas aturan yang berkenaan membahas soal pelacuran. Maka tak heran, bila transaksi esek-esek dalam kereta menjadi peluang yang aman bagi para laki-laki dan perempuan jalang. Selain itu, hak-hak dimana anak seharusnya mendapat perlindungan hukum, dalam negara kereta itu tidak berlaku. Seperti tiga orang bocah yang berusia sekitar 4 hingga 7 tahun yang asyik bermain gamelan, gendang dan menarik-narik monyetnya untuk dipertunjukkan. Padahal, saat itu jam menunjukkan pukul 20.15 wib. Mereka beratraksi mulai pagi hingga kereta usai. Tak kenal sekolah, tak kenal lelah, demi recehan rupiah. Salah seorang bocah yang terkecil menangis, ketika monyet yang dikendalikannya tidak mau beraksi menuruti perintahnya. Wajah mungilnya menunjukkan kekesalan dan lelah. Miris sekali rasanya hati, ketika melihat tiga orang bocah cilik yang sedang beratraksi topeng monyet itu. Miris juga hati ketika melihat si monyet yang lehernya terikat rantai panjang berlari kemudian ditarik dengan cara dihentakkan oleh bocah . Saya jadi merasa ikut tercekik melihatnya. Diluar itu, atraksi ini sangat menarik perhatian para penumpang. Tidak saja bocah-bocah itu pandai bermain gendang dan gamelan tetapi juga lebih jauh lagi, mereka begitu kuat dan tahan bantingan; baik secara fisik maupun mentalnya.Bukan hanya bocah-bocah itu saja yang bekerja sebagai penyaji topeng monyet, masih banyak bocah-bocah pekerja lain yang memanfaatkan situasi dalam kereta tersebut. Diantaranya ada yang menjadi penyapu kereta. Tentu saja bocah itu bukanlah pekerja kebersihan resmi kereta, namun mereka menyapu secara sukarela berharap penumpang yang iba memberinya rupiah. Ada juga yang menjajakan mainan, rokok, buah-buahan hingga peminta-minta. Bocah-bocah itu mencoba survive di negara kereta dan harus bersaing dengan mereka yang dewasa. Hal tersebut sangat rawan kekerasan, mengingat usia mereka yang masih belia dan tekanan, ancaman bahkan kekerasan fisik dari orang dewasa bisa saja mereka alami. Mereka dibentuk oleh kondisi hingga bisa jadi, kekerasan dan ancaman sudah bukan sesuatu yang menakutkan mereka lagi. Hukum dalam negara kereta seperti hukum alam, siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Namun, dilihat dari kondisi tersebut yang sudah berjalan lama, akhirnya terbentuk juga suatu solidaritas diantara sesama pekerja. Antara pekerja anak dan orang dewasa tampak terjalin suatu keharmonisan untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing tanpa saling mengganggu. Barangkali, kesamaan tujuan dan kesamaan kondisi dalam menempuh cara untuk mempertahankan hiduplah yang mengkonformiskan mereka. Akhirnya secara alami mereka belajar untuk saling menghargai, meski kekerasan tentu tak kan begitu saja hilang dirasakan.Kereta, menjadi kantor, ruko, pasar, kafe, dan bahkan hotel bagi mereka yang tuna wisma. Kereta menjadi tempat beraneka transaksi bisnis, baik barang maupun jasa. Tempat dealing bisnis pengusaha maupun dealing kencan lelaki hidung belang. Kereta juga menjadi sarana bisnis yang efektif dan efisien dalam hal biaya; cukup dengan membeli tiket seharga 2000an bahkan ada yang tidak perlu membayar asal tidak ketahuan petugas tiketnya. Tak ada pungutan pajak, sewa tempat, biaya keamanan, kebersihan atau biaya-biaya lainnya. Cakupan wilayahnya antar kota, cepat, tidak macet dan strategis.Kehidupan dalam kereta berjalan secara begitu saja, seolah tidak memerlukan sebuah negara karena mereka menjadi negara dalam negara dengan aturan dan sistem yang alami. Kereta menjadi sarana yang tepat bagi mereka yang ingin membangun self esteem atau personality. Kereta menjadi tempat uji nyali bagi mereka yang tidak punya rasa percaya diri. Sebut saja kegigihan tiga bocah penyaji topeng monyet atau segelintir anak muda dengan gaya rambut punk dan warnanya yang menyala, begitu eksis tak tergubris oleh rasa minder dan cuek saja. Tak ada beban, tak memikirkan takut ketinggalan trend merek versace atau lainnya. Bagi para punker, tak perlu kocek mahal untuk bisa menjadi diri yang berbeda. Serta bagi bocah pekerja, tak perlu sekolah mahal untuk bisa menghidupi dirinya.Fenomena dalam kereta menjadi aspirasi bahkan inspirasi bagi mereka yang kehabisan gagasan dalam kreativitasnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1193244549017229469?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1193244549017229469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1193244549017229469' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1193244549017229469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1193244549017229469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/sebuah-negara-dalam-kereta_25.html' title='SEBUAH NEGARA DALAM KERETA'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4782695291639923346</id><published>2008-08-25T19:48:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T19:55:14.856+07:00</updated><title type='text'>Listen! and please look at me...</title><content type='html'>aku ingin mencinta&lt;br /&gt;tapi tidak dengan berdusta...&lt;br /&gt;jangan tempatkan aku&lt;br /&gt;diposisi yang tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan buat aku berdusta&lt;br /&gt;atas nama cinta&lt;br /&gt;jangan paksa aku berkata&lt;br /&gt;untuk sesuatu yang nantinya membuat luka&lt;br /&gt;cukup beri aku jeda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;agar aku bisa lebih bijaksana&lt;br /&gt;dalam tentukan langkah&lt;br /&gt;dalam tentukan siapa yang patut kucinta&lt;br /&gt;dengan hati...bukan dengan kata-kata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4782695291639923346?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4782695291639923346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4782695291639923346' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4782695291639923346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4782695291639923346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/listen-and-please-look-at-me.html' title='Listen! and please look at me...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-3985372361101294554</id><published>2008-08-24T23:36:00.000+07:00</published><updated>2008-08-25T00:01:54.455+07:00</updated><title type='text'>"teruntuk yang pernah menjadi anak-anakku..."</title><content type='html'>aku mungkin bukan ibu biologismu, nak.........&lt;br /&gt;tapi aku pernah menjadi ibu ideologismu. dengan cinta dan kasih yang kupunya.&lt;br /&gt;ku jaga engkau dan kuiringi menuju dewasa...hingga kau bisa tentukan langkah.&lt;br /&gt;ku jaga engkau dan kutemani disaat kau tak dapati cinta mereka&lt;br /&gt;ku jaga engkau dan kutemani disaat tak ada yang memberimu cinta&lt;br /&gt;ku jaga engkau dan ku lindungi disaat dunia disekitarmu menggila...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini kau sudah besar dan dewasa....&lt;br /&gt;aku tak mengharap apa-apa...tidak untuk sebuah pujian atau kado istimewa.&lt;br /&gt;jika itu karena dosaku, ku anggap dengan mengasihi dan membesarkanmu terbayar sudah.&lt;br /&gt;kini kau sudah besar dan dewasa...&lt;br /&gt;sudah bisa tentukan sendiri langkah.&lt;br /&gt;sudah bisa melihat sendiri dunia ini nyata&lt;br /&gt;tapi nak, lihat dan dengarlah dengan hatimu...&lt;br /&gt;karena mata saja tak cukup, mata yang kau lihat nyata bisa saja hanya maya.&lt;br /&gt;telinga yang kau pakai bisa saja mendengar suara yang salah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku memang hanya ibu ideologis bagimu...&lt;br /&gt;tangan yang menyuapi dan memandikan ini, mungkin tak berarti bagimu&lt;br /&gt;karena tangan ini memang bukan tangan ibu biologismu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi percayalah...&lt;br /&gt;cinta dan sayang ini, tetap cinta dan sayang seorang ibu...&lt;br /&gt;yang merindukan anaknya kembali...&lt;br /&gt;yang ingin melihat anaknya tertawa bahagia...&lt;br /&gt;karena aku tak mengharapkan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;separuh usiaku sudah kuhabiskan untuk menjagamu&lt;br /&gt;jika ini pun belum cukup untuk menghapus luka&lt;br /&gt;aku akan pasang dada...&lt;br /&gt;kuberikan untuk kau lampiaskan...&lt;br /&gt;ku ikhlaskan demi kau bahagia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(right midnight,sad and sad.24.00 wib)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-3985372361101294554?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/3985372361101294554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=3985372361101294554' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3985372361101294554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/3985372361101294554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/teruntuk-yang-pernah-menjadi-anak.html' title='&quot;teruntuk yang pernah menjadi anak-anakku...&quot;'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-2882371170280383547</id><published>2008-08-24T08:38:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T09:12:10.246+07:00</updated><title type='text'>maafkan aku cinta 2.......................</title><content type='html'>cinta itu sebuah kekuatan.........&lt;br /&gt;jika bukan karena cinta, tak seorangpun mampu melakukan kebodohan-kebodohan dirinya dengan sengaja. jika bukan karena cinta, tak seorangpun mau mengalah, mau menghilangkan rasionalitas dirinya. jika bukan karena cinta, tak seorangpun mau tunduk patuh dan merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta itu tak menuntut syarat apa-apa...&lt;br /&gt;ia hanya tau memberi dengan kerelaan hati dan kebesaran jiwa&lt;br /&gt;maka jika ada yang membunuh karena cinta, itu bukan cinta&lt;br /&gt;jika ada yang menyantet karena cinta, itu bukan cinta&lt;br /&gt;jika ada yang dendam karena cinta, itu  bukan cinta&lt;br /&gt;jika ada yang benci karena cinta, itu juga bukan cinta.&lt;br /&gt;itu nafsu. maka jangan jangan sembarang bilang cinta jika tidak tau hakikatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mabuk cinta justru menjadikan diri merasa sangat kecil dihadapan Tuhannya.&lt;br /&gt;karena dibanding cinta-Nya, cinta kita tidak ada apa-apanya...&lt;br /&gt;maka cintailah sang pencinta sejati, yaitu sang pencipta alam ini..illahi robbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta itu buta, katanya..............&lt;br /&gt;tak memandang kasta, usia dan muka&lt;br /&gt;tapi benarkah cintanya yang buta, ataukah nafsu yang menguasai jiwanya?&lt;br /&gt;jiwa yang dipenuhi nafsu akan memperbudak diri melakukan apa saja...&lt;br /&gt;sejauh syahwat, birahi, dan emosi bisa tersuapi.&lt;br /&gt;lihatlah lagi, cinta ataukah emosi yang mengendalikan diri?&lt;br /&gt;karena cinta seharusnya membahagiaan, bukan menyengsarakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta butuh pengujian............&lt;br /&gt;untuk mengetahui kadar dan kualitas yang mencintai dan dicintainya&lt;br /&gt;karena itu cinta butuh waktu, butuh sebuah proses.........&lt;br /&gt;cinta pada pandangan  pertama hanyalah petanda&lt;br /&gt;cinta tidak datang dalam sekejap mata, itu hanya petanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta adalah 'proses'.&lt;br /&gt;dimana hasil akhirnya nanti hanyalah dua kata; cinta atau nafsu?&lt;br /&gt;bersatu atau berpisah, menikah atau bercerai, cinta atau tidak cinta.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;padamu sang pencinta........&lt;br /&gt;selamat berjuang!&lt;br /&gt;semoga menemukan kesejatiannya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-2882371170280383547?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/2882371170280383547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=2882371170280383547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2882371170280383547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2882371170280383547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/maafkan-aku-cinta-2.html' title='maafkan aku cinta 2.......................'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-4791526668857350376</id><published>2008-08-23T23:42:00.000+07:00</published><updated>2008-08-24T00:39:38.131+07:00</updated><title type='text'>Maafkan aku cinta...............</title><content type='html'>bagiku, cinta pada manusia itu tidaklah nyata. cinta manusia tak lebih dari muatan hasrat pusar semata. ketika kita mencintai seseorang, sesungguhnya apakah yang terjadi??? keinginan memiliki dia, ingin menguasainya, ingin dia memenuhi apa yang kita ingini, ingin mencumbuinya dengan alih-alih melindungi, menjaga atau dengan bahasa; mencintainya. benarkah semua itu makna dari mencintai? tidakkah itu cuma muatan keinginan kita terhadap seseorang, alias hasrat, nafsu diri ingin menguasai?  atas nama cinta, ciuman terjadi, atas nama cinta, kepasrahan menyerahkan diripun terjadi. saat itu biasanya kata-kata yang terucap adalah; 'karena aku mencintaimu' tapi lihatlah lebih jeli. apa iya itu cinta? cinta atau nafsu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa bedanya cinta dan nafsu kalau begitu? menurut Shindunata yang mengarang buku 'Anak bajang...Cinta adalah kerelaan melepaskan kekasihnya untuk mencari bahagia. mungkin ini bisa juga berarti, cinta itu seharusnya membebaskan, tidak membelenggu. mencintai dia berarti merelakan dia menjadi dirinya, bukan menjadikannya seperti diri kita. merelakan apa yang bisa membuatnya bahagia, artinya, memberi kebebasan dia mencari apa yang bisa membahagiakan dirinya. tidak justru membelenggu, tidak terikat oleh segala sesuatu yang atas nama 'ingin melindungi'lalu berbuat aturannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta, seharusnya membahagiakan, bukan membuat kesengsaraan..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang dalam cinta ada pengorbanan. sebagai bentuk kerelaan diri melakukan apa saja demi sang kekasih. namun, sekali lagi...perlu kerelaan hati. jika cinta membuat salah satunya merasa teraniaya, tersiksa, tertekan, atau tak merasa bahagia, maka itu bukan cinta.............&lt;br /&gt;karena cinta hadir tanpa ada yang memaksa. ia datang pada siapa saja yang menginginkannya. jika cinta hadir tanpa kerelaan hati, pasti tidak akan membuat kita bahagia. karena ada beban yang tersimpan, ada keterpaksaan, ada kecemasan maka ada ketidak bahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta bisa juga adalah kehilangan...karena ketika kita mencintai seseorang, begitu telah didapatkan, makna cinta itu sendiri sudah tak berarti, tak ada alias hilang. begitu kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan (cintai) maka setelah di dapat, maka keinginan sudah terpenuhi dan keinginan (cinta) itupun hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta yang sesungguhnya itu menuntut kerelaan hati, kebesaran jiwa dan keinginan selalu untuk memberi, tanpa berharap kembali (diberi). cinta yang sesungguhnya itu tak pernah berselimutkan kepentingan diri. cinta yang sesungguhnya itu selalu memaafkan kekasihnya, selalu ada dalam sakit atau sehatnya, dalam sedih dan tawanya, dalam ingat dan lupanya. cinta manusia tak seperti itu...............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cinta manusia penuh muatan kepentingan dan berkendaraan nafsu.&lt;br /&gt;maka itu, aku tak pernah bisa bilang cinta pada manusia.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena pemilik cinta sesungguhnya itu adalah sang maha.&lt;br /&gt;satu-satunya yang mencintaiku tanpa syarat dan selalu ada dimana aku ada, dalam kondisi apapun juga........maka kekasih sejatiku adalah 'DIA'&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wata'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cintaku pada manusia, hanyalah hasrat dunia...tanpa bermunafik-ria, selama aku tinggal di dunia aku pasti masih membutuhkannya. tapi kusebut ia bukan cinta, tapi hasrat dunia.&lt;br /&gt;karena memang ia terdiri dari hasrat-hasrat berbau dunia........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ketika ingin melampiaskan hasrat ini pada seseorang, pun tak bisa sembarangan.&lt;br /&gt;tubuhku perlu merasa nyaman. lingkungan sekitar pun perlu merasa aman.&lt;br /&gt;jika keduanya belum yakin terpenuhi, maka, aku pasti akan mencari seribu alasan untuk membuat merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabiah Al adawiyah, pernah bilang; 'tubuh ini bisa kau miliki tapi pikiranku tidak'.&lt;br /&gt;Plato bilang, tubuh adalah penjara jiwa................&lt;br /&gt;aku bilang, kebebasan hanyalah ada di wacana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-4791526668857350376?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/4791526668857350376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=4791526668857350376' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4791526668857350376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/4791526668857350376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/maafkan-aku-cinta.html' title='Maafkan aku cinta...............'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1949844279361890823</id><published>2008-08-22T14:23:00.000+07:00</published><updated>2008-08-22T14:30:48.220+07:00</updated><title type='text'>Ada apa dengan Pembangunan Kota Serpong?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SK5rEmUX4wI/AAAAAAAAACU/LlCF9KXaNxw/s1600-h/Picture+0002.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237241143428113154" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SK5rEmUX4wI/AAAAAAAAACU/LlCF9KXaNxw/s200/Picture+0002.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Begitu ironis, itu kata pertama yang bisa saya ungkapkan ketika melintas diperkampungan Lengkong Serpong Tangerang, khususnya diLengkong Wetan dan Lengkong Gudang. Betapa tidak, sepanjang jalan menuju kota Tangerang dari Tol Jakarta-BSD berdiri perumahan megah yang dirancang dengan arsitektur modern. Perumahan BSD yang juga menjadi penghubung ke pusat kota Tangerang dari arah selatan tertata begitu rapi, megah dan asri. Tentu saja dengan segala fasilitas bisnis, edukasi dan entertainmen-nya. BSD menjadi kota baru yang menyulap perkebunan karet dahulunya menjadi sebuah kota metropolitan yang serba lengkap. Bahkan, mungkin tidak selengkap dipusat kotanya sendiri, Tangerang. Namun ketika saya mencoba menelusuri luasnya perumahan yang sudah menjadi kota tersebut, ada sebuah perkampungan yang berada di tengah perumahan tersebut. Perkampungan itu seolah tersembunyi dibalik pagar batas yang memisahkan antara kawasan perumahan dan perkampungan. Mengapa saya katakan di tengah? Karena memang sepanjang batas perkampungan itu adalah perumahan BSD, sehingga jalan menuju ke perkampungan tersebut pun harus melalui akses perumahan. Apa yang membuat saya mengatakan ironis adalah, ternyata diperkampungan itu, masih terdapat warga yang membuang hajatnya ke tengah kebun atau ke jamban-jamban berempang. Air jamban yang menjadi pembuangan akhir MCK itu terlihat berwarna hijau kehitaman, ditutupi sekedarnya oleh rerimbunan pepohonan. Air jamban yang dibuang pada sebuah galian yang menyerupai empang kecil itu tidak mengalir, tentu saja ini akan menjadi sarang nyamuk dan menimbulkan penyakit. Di samping menimbulkan bau tidak sedap juga sangat merusak pemandangan.&lt;br /&gt;Sekitar 1-4 meter dari empang jamban terdapat sumur yang menjadi tempat keseharian warga MCK. Dimana warga menggunakan sumur tersebut juga untuk keperluan masak dan minum sehari-harinya. Di samping persoalan MCK, diperkampungan itu juga belum terdapat saluran pembuangan limbah rumah tangga (got, selokan) yang memadai. Warga membuang air buangan limbah tersebut kejalan-jalan sehingga air senantiasa menggenang disetiap lintasan. Sebagian warga ada juga yang membuangnya ke empang jamban. Bisa dibayangkan jika musim hujan kemarin luapan air jamban tersebut menggenangi dan menyatu dengan banjir lalu masuk kerumah-rumah penduduk.&lt;br /&gt;Tidak itu saja, warganya pun masih banyak yang memasak dengan kayu bakar. Jadi ironis sekali dengan kondisi yang berada dibalik tembok tersebut. Pemandangan ini menarik perhatian saya dan membuat saya memutuskan untuk tinggal beberapa waktu di kampung itu. Berdasarkan hasil obrolan saya dengan beberapa warga setempat, penghasilan rata-rata warga tersebut diperoleh hanya dari buruh serabutan dan kuli bangunan. Sebagian mengandalkan tabungannya dari kontrakan dan penjualan tanah-tanah kepada para pendatang. Sementara bagi kaum perempuannya, untuk yang berusia di atas 40 tahun, mereka menjadi penyapu jalan perumahan yang diupah sekitar 30-50 ribuan perminggu. Sedangkan mereka yang di bawah 40 tahun, kebanyakan mengandalkan dari hasil pendapatan para suaminya.&lt;br /&gt;Untuk soal pendidikan, jangan ditanya. Jelas dengan kondisi yang terkepung estate megah, tentu mereka tidak akan mampu bersekolah dikawasan kompleks. Sedangkan sekolah madrasah ataupun sekolah pemerintah berjarak lumayan jauh dari kampung itu. Sekalipun mereka mampu menempuh jarak jauhnya sekolah, tetapi kebanyakan mereka tak mampu membayar biaya sekolahnya. Menurut para ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya, sekolah-sekolah disekitar mereka tidak sepenuhnya menjalankan program BOS pemerintah. Sehingga, mereka masih merasa berat untuk menyekolahkan anaknya. Dengan demikian, tingkat pendidikan rata-rata dikampung tersebut kebanyakan hanya lulusan SD/Stanawiyah saja.&lt;br /&gt;Di sisi lain, perhelatan kawasan bisnis dan pembangunan mall-mall di perumahan tersebut seharusnya dapat menyerap tenaga kerja, terutama mereka yang tinggal disekitar kawasan tersebut (Arthur Lewis). Termasuk warga kampung ini. Namun, karena tingkat pendidikan yang rendah menjadikan mereka tidak qualified dalam memenuhi kriteria yang diinginkan. Bahkan untuk menjadi seorang pramuniaga toko pun sekurang-kurangnya harus lulusan sekolah menengah atas. Akibatnya, tingkat perekonomian warga kampung ini tidak berkembang dan kesejahteraannya di bawah rata-rata.&lt;br /&gt;Jika kita melihat secara global, inilah pemandangan kontras antara si kaya dengan si miskin yang hanya dibatasi sebuah tembok. Ibarat film ‘Alice in the wonderland’ ketika membuka pintu gerbang perumahan terlihat kemegahan dan peradaban. Sementara perkampungan ini seolah berjarak dengan teknologi dan modernisasi atau dalam istilah Sjoberg (The Pre-industrial City:1960) disebut masyarakat praindustri. Kondisi ini jelas menimbulkan stratifikasi sosial yang membentuk pola hubungan antar kelas. Bukan tidak mungkin suatu hari stratifikasi sosial ini mengarah pada konflik (Karl Marx). Lebih jauh, berdasarkan teori konflik Marx, munculnya stratifikasi tersebut karena keterpaksaan menerima dan ketidak berdayaan warga asli terhadap para pendatang (kelas atas). Stratifikasi sosial berakibat pula terhadap diskriminasi disegala bentuk. Mulai dari tembok batas perumahan hingga persyaratan tingkat pendidikan yang ditentukan kelompok kompleks untuk calon penjaga toko, yang bagi Marx dianggap sebagai kontrol untuk tetap bisa melanggengkan dominasinya.&lt;br /&gt;Pembangunan sebuah kota, seharusnya dapat menyerap tenaga kerja di perkampungan sekitarnya.. Namun, sumber daya manusia yang tidak sesuai kriteria yang dibutuhkan menjadikan arus urbanisasi besar-besaran. Belum lagi kebijakan pembangunan yang cenderung mengutamakan kota (urban bias) menjadikan tingkat pengangguran semakin tinggi. Akibatnya, masyarakat kampung ini semakin kalah jauh bersaing dengan masyarakat kompleks.&lt;br /&gt;Memang, ungkapan setiap perjuangan pasti ada pengorbanan dan stratifikasi sosial sampai dibidang apapun tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, bahkan sebagian stratifikasi dapat berdampak positif untuk memacu kompetisi ke arah yang lebih baik. Namun setidaknya, ada keselarasan dan kesetaraan yang meminimalisir stratifikasi sosial sehingga perbedaanya tidak terlalu jauh. Dalam masalah ini, konsep simbiosis mutualis menjadi alternatif bagi terciptanya keharmonisan stratifikasi sosial. Dalam arti, hubungan antara pembangunan kota BSD dengan tingkat kesejahteraan warga setempat seharusnya dapat saling menguntungkan. Kesediaan masyarakat Serpong untuk dijadikan sebuah kota oleh sebuah perusahaan pengembang harus dibarengi oleh tanggung jawab pengembang bagi lingkungan sekitarnya. Perusahaan pengembang sebaiknya tidak hanya terfokus kepada pembangunan kotanya saja atau apa yang disebut bias urban (M.Todaro &amp;amp; J.Stilkind, The Dilemma of Urban Development, NY, 1991:6-37) Tetapi juga harus memberikan pengembangan kepada masyarakat sekitarnya (Corporate Social Responsibility). CSR adalah wujud tanggung jawab moral dan sosial perusahaan untuk berperan aktif dalam usaha-usaha pengembangan masyarakat secara luas. Dengan CSR, diharapkan terjadi interaksi dan kemitraan agar tercipta hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan komunitas masyarakat di mana perusahaan tersebut beroperasi. Hal ini akan membantu perusahaan meningkatkan corporate image, layanan jasa, serta kemampuan mengatasi berbagai persoalan sosial untuk mengurangi resiko-resiko jangka panjang.&lt;br /&gt;Aktualisasi CSR merupakan kebijakan praktis dalam menanggulangi pengangguran. Salah satu bentuk CSR yang bisa diberikan adalah dengan membangun fasilitas sekolah, menyediakan sekolah kesetaraan, balai-balai latihan keterampilan, puskesmas, dan lain sebagainya yang tentu saja terjangkau atau bahkan gratis. Tidak hanya itu, bentuk CSR lainnya yang utama adalah memberikan fasilitas pencerdasan dalam bentuk sosialisasi kesehatan, teknologi serta kebersihan lingkungan. Dalam hal ini, bukan hanya tanggung jawab perusahaan pengembang saja, namun juga menjadi tanggung jawab aparatur daerah/desa dan masyarakatnya. Keterlibatan aparatur daerah/desa setempat sangat penting dalam meminimalisir kesenjangan ini, tidak hanya menikmati ‘jatah’ dari imbas pembangunan estate tersebut tetapi juga perlu memikirkan kemajuan warga desanya.&lt;br /&gt;Dengan mudahnya warga kampung mengakses pendidikan, bagi yang putus sekolah bisa disetarakan dan keterampilan-keterampilan lain yang menunjang, industri kota bisa memanfaatkan tenaga kerja dari kampung tersebut secara kompetitif. Demikian pula dengan fasilitas MCK, saluran pembuangan limbah warga serta pengetahuan lainnya yang diberikan pengembang untuk warga kampung tersebut bisa membantu warga untuk hidup lebih sehat dan bersih. Dengan demikian, diharapkan kontras menyolok kehidupan masyarakat dalam kompleks BSD dengan warga kampung setempat dapat diatasi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1949844279361890823?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1949844279361890823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1949844279361890823' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1949844279361890823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1949844279361890823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/ada-apa-dengan-pembangunan-kota-serpong.html' title='Ada apa dengan Pembangunan Kota Serpong?'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FuNqJjkImtY/SK5rEmUX4wI/AAAAAAAAACU/LlCF9KXaNxw/s72-c/Picture+0002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-7358037579461731204</id><published>2008-08-22T14:10:00.001+07:00</published><updated>2008-08-22T14:14:04.050+07:00</updated><title type='text'>POLIGAMY = DOMINASI</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu..Isu yang paling menarik saat ini di negri tercinta Indonesia adalah mengenai pernikahan poligamy. Isu ini mencuat setelah seorang ulama muda yang dianggap mewakili zamannya (modern) melakukan pernikahan untuk kedua kalinya dengan seorang janda muda yang cantik. Pernikahan tersebut dilakukan atas persetujuan istri pertamanya yang ingin membuktikan rasa cinta dan pengabdian kepada Tuhannya, bukan kepada suaminya. Sementara sang suami mengakui pernikahan tersebut dilakukan demi menolong kehidupan seorang janda yang kebetulan adalah karyawannya sendiri.&lt;br /&gt;Sebagai tokoh panutan umat, apa yang telah dilakukannya itu telah banyak mengundang keresahan masyarakat. Betapa tidak, ulama muda itu sudah menjadi contoh keharmonisan rumahtangga yang sakinah dan ideal menurut ukuran umatnya. Kepercayaan umat atas simbol kebaikan, pengetahuan dan pribadi yang tanpa cela seolah ternoda oleh poligamy yang dilakukannya. Seketika kepercayaan dan penghargaan umat sirna, berganti dengan keengganan dan ketidak percayaan. Masyarakat seolah kehilangan tokoh panutan, kaum perempuan terutama, takut para suaminya meniru apa yang dicontohkan gurunya. Maklum saja, guru itu kata istilah orang Jawa, di gugu dan ditiru, bahwa apa yang menjadi perilakunya akan diikuti oleh muridnya. Ketakutan ini jelas beralasan, lantaran apa yang dilakukan sang guru seolah menjadi legitimasi dan sekaligus sosialisasi terhadap perilaku berpoligamy.&lt;br /&gt;Perihal poligamy itu sendiri secara hukum positif sudah ada dalam pasal 4 UU tentang perkawinan tahun 1974. Dimana pada ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa seorang suami diperbolehkan berpoligamy jika istri sudah tidak dapat lagi menjalankan kewajibannya, memiliki cacat tubuh yang tidak bisa disembuhkan lagi atau tidak dapat melahirkan keturunan. Sementara dalam hukum agama (Islam) poligamy juga tidak dilarang sejauh mampu menjalankan apa yang menjadi syaratnya. Dalam surat An-nisa ayat 4 disebutkan bahwa seorang lelaki boleh menikahi dua, tiga sampai empat orang wanita sejauh ia bisa berlaku adil. Akan tetapi sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat adil, jika begitu cukup satu saja.&lt;br /&gt;Jelas, dari kedua pernyataan hukum tersebut mengatakan bahwa poligamy memang diperbolehkan, tapi sebenarnya tidak semudah itu. Ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Misalnya saja dalam hukum positif yang sudah diperbaharui tahun 2004, poligamy harus atas persetujuan pengadilan, persetujuan istri pertama dan secara materi berkecukupan. Sementara dalam hukum agama, poligamy itu harus memenuhi syarat utamanya yakni berlaku adil. Mengapa dalam Alquran disebutkan syaratnya demikian? Karena sesungguhnya zaman dahulu itu laki-laki sangat leluasa untuk sesuka hatinya menikahi wanita-wanita yang diinginkannya. Wanita seolah menjadi sebuah baju yang sekali pakai dan tak berguna. Lalu datang Rosulullah SAW memperbaiki kondisi tersebut. Ia mencoba mengangkat harkat wanita dengan mengurangi jumlah banyaknya berpoligamy menjadi empat orang saja. Suatu batas maksimal dari ukuran yang seharusnya yakni satu.&lt;br /&gt;Al quran memang tidak langsung menyatakan tidak boleh menikahi wanita lebih dari satu, karena rosulullah memahami perbedaan berbagai macam tingkah umatnya serta hikmah-hikmah kebaikan dibalik semuanya. Untuk itu, Alquran menyatakan boleh asal bisa berlaku adil. Kata adil itu sendiri merupakan kunci jawaban dari pernyataan yang hendak disampaikan sebenarnya, yakni satu saja. Hal tersebut dikarenakan manusia cenderung tidak bisa berlaku adil, apalagi yang menyangkut soal hati dan rasa cinta. Sementara adil itu sendiri relatif sifatnya. Jadi jelaslah sebenarnya bahwa Alquran menyatakan sebaiknya tidak berpoligamy, cukup satu istri saja. Disisi lain, membolehkan sampai batas empat orang, bisa saja dilakukan jika peruntukannya jelas membawa manfaat. Misalnya, seorang lelaki yang berkecukupan secara materi dan mengawini seorang janda yang beranak banyak sedangkan si janda tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk menghidupi anak-anaknya. Ini jelas niat dan peruntukkannya. Adapun tidak diharuskan lebih dari empat, ini sebagai ukuran batas kemampuan seorang lelaki yang terkaya sekalipun dalam mengawini mereka agar tetap dapat terkontrol tidak hanya sebatas materinya saja namun juga komponen-komponen yang lain diluar itu.&lt;br /&gt;Dengan demikian, al quran sebenarnya sudah sangat bijaksana memberikan pilihan kepada umatnya. Sudah mempertimbangkan segala aspeknya dengan pilihan-pilihan antara empat dan satu. Jadi tidak sembarangan. Lepas dari itu semua, nilai utama yang bisa diraih disini adalah justru untuk mengangkat harkat wanita bukan justru untuk memposisikan wanita sebagai objek yang mudah dinikahi atas dalil agama. Selain itu pula, seorang suami yang mempoligamy janda-janda miskin yang beranak banyak itu akan melepaskan prasangka-prasangka negatif dari istri pertamanya. Bahkan justru nilai ibadahnya akan terlihat baik oleh sisuami yang memang berniat membantu dan oleh si istri yang ikhlas atas niat baik suaminya.&lt;br /&gt;Jika alasan suami berpoligamy demi meniru perilaku Rosulullah, sebaiknya kita cermati lagi. Rosulullah menikahi istri pertamanya Siti Khodijah, dimana Khodijah itu seorang janda dan telah berusia 40 tahun. Dari sini saja kita sudah bisa melihat jika orientasi Nabi menikahinya bukan karena sex atau fisiknya yang pertama. Jika orientasi pertama Nabi adalah sex (syahwat) dan fisik, pasti Aisyah lah yang akan jadi istri pertamanya. Dimana Aisyah adalah istri Nabi satu-satunya yang perawan. Kedua, Rosulullah adalah karyawan atau bawahan Khodijah, alias Khodijah adalah bosnya Nabi.  Jika lelaki selama ini identik dengan kekuasaan, Nabi justru menunjukkan bahwa dirinya memiliki kerendahan hati sebagai pegawai Khodijah yang notabene perempuan. Jadi awalnya bukan lahir dari arogansi dan egoisme kebanyakan laki-laki. Tapi justru dari rasa penghormatan dan penghargaan Nabi kepada Khodijah yang perempuan janda, lebih tua dan juga majikannya. Ketiga, istri-istri Nabi yang dinikahi selanjutnya juga janda-janda yang ditinggal gugur suaminya dimedan perang, baru setelah itu Aisyah. Aisyah pun bukan seorang ABG yang sedang ranum-ranumnya atau seorang perawan tua. Ia dinikahi Nabi ketika usianya 9 tahun, usia tepat awal perempuan menginjak masa kegadisan atau usia pertama perempuan mendapat menstruasinya. Jadi, Nabi bukan menikahi anak-anak juga, meski Aisyah menjadi istri yang termuda.&lt;br /&gt;Dari semua itu yang perlu dipetik hikmahnya adalah niat dan orientasi Nabi ketika menikahi istri-istrinya bukan diawali oleh egoisme diri. Baik rasa berkuasa sebagai laki-laki, sex, fisik maupun arogansi. Dalam hal ini, sekalipun Muhammad seorang Nabi, ia juga manusia, pernah juga bermasalah dengan para istri-istri yang mencemburuinya. Apalagi kita yang bukan Nabi, tidak berpoligamy saja sering bermasalah apalagi berpoligamy. Ada yang mengatakan;  satu istri satu masalah, dua istri dua masalah, lebih dari dua istri lebih banyak masalah lagi.&lt;br /&gt;Pada realitas sekarang, poligamy yang dilakukan hanya mengutip sebagian dari perilaku Nabi dan sebagian dari dalil ayat dalam Alquran saja. Sebagian dari perilaku Nabi maupun dalil Quran yang ditiru hanya pada ukuran kuantitas saja, yakni boleh poligamy hingga empat orang. Tidak pada kualitas yang terkandung dalam syarat, orientasi dan niat ibadahnya. Perilaku Nabi maupun dalil itu lalu dikonstruksi sedemikian rupa hingga seolah menjadi legitimasi kaum laki-laki untuk bisa menikah lagi. Apalagi dalam ketentuan hukum islam, tidak ada syarat harus meminta izin istri pertama. Kesemuanya itu lalu dimanfaatkan menjadi sebuah tiket kekuasaan laki-laki untuk melanggengkan perbuatannya. Tidak heran jika sekarang banyak suami menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dan lebih muda dari istri pertamanya.&lt;br /&gt;Jika suami berpoligamy pada istri yang lebih cantik dan lebih muda apalagi berpenghasilan, peruntukkannya kurang tepat dan niatnya juga diragukan. Istri mana yang tidak ketir hatinya melihat suami menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dan lebih muda darinya? Dimana unsur nilai ibadah yang sebenarnya?( Sekalipun dikatakan menikah itu sendiri suatu ibadah, pernikahan yang seperti apa? Pernikahan yang dilandasi kasih sayang dan keimanan serta pengetahuan tentunya, sehingga setiap keputusan yang dilakukan selalu atas pertimbangan bersama, tidak sepihak baik lahir maupun batinnya. Termasuk dalam memutuskan untuk berpoligamy). Apa karena cantiknya? Karena mudanya? Tentu ini sangat tidak tepat.  Bisa-bisa justru akan menimbulkan banyak masalah. Misalnya timbul cemburu yang berlebihan satu sama lain, saling bersaing cari perhatian, atau justru mematikan cinta di dalamnya dan merubah tujuan pernikahan dari niat ibadah menjadi niat sekedar cari makan saja? Wallahu alam.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sesholehah apapun istri pertamanya pasti hatinya tidak terlalu ikhlas. Penerimaan si istri pertama dalam hal ini bisa jadi hanya karena kepatuhan semata kepada suami atau lepas sama sekali kepatuhannya kepada suami dan hanya untuk pengujian dirinya kepada Tuhannya saja. Atau juga karena ketidak mandirian secara ekonomi, ini biasanya yang menjadi faktor dominan. Jika ini yang terjadi, maka perempuan yang menjadi istri pertamanya sebenarnya telah membodohi dirinya sendiri. Lepas dari apapun niat dan ungkapan verbalnya. Ini adalah suatu keterpaksaan, dan keterpaksaan adalah ketidak bebasan. Keterpaksaan merupakan kondisi seseorang dibawah tekanan atau paksaan orang lain. Segala sesuatu yang dilakukan atas dasar tekanan atau paksaan adalah sebuah bentuk kesewenangan interferensi. Dalam hal ini seorang filsuf Australia, Philip Pettit mengatakan;&lt;br /&gt;‘When you are not dominated, then, you enjoy the absence  of interference by arbitrary powers, not just in the actual world, but in the range of possible worlds where contingencies of the kind mentioned have a different, less auspicius setting. Those who are attached to the ideal of non interference value the fact of having choice--- the fact of non interference---whether the choice is dominated or not; those who embrace the ideal of non domination value the fact of having undominated choice, but not necessarily the fact of having choice as such.            (Pettit,1997:25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ketika kita tidak didominasi, maka kita menikmati ketiadaan interferensi yang semena-mena dari orang lain (kekuatan lain), tidak hanya dalam dunia yang sebenarnya namun juga dalam dunia yang mungkin kebetulan berbeda. Mereka yang mengikatkan diri dalam cita-cita Non Interferensi pada dasarnya memiliki pilihan—untuk tidak terinterferensi---meskipun pilihan itu didominasi ataupun tidak didominasi, mereka yang memilih cita-cita Non dominasi pada dasarnya memiliki pilihan untuk tidak ingin di dominasi, tetapi tidak mesti memiliki pilihan seperti hal tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam sistem hukum positif kita seperti yang telah disebutkan dalam pasal 4 undang-undang perkawinan tahun 1974, bunyi dari ayat-ayatnya tentang poligamy seolah memposisikan perempuan sebagai pelayan suami saja. Bunyi ayat itu terkandung pengertian jika istri sudah tidak bisa melayani karena cacat atau tidak bisa melahirkan keturunan, suami bisa cari gantinya lagi. Seakan terlihat jika seorang istri itu hanya pelayan nafsu suami saja. Dimana suami (baca=laki-laki) menginginkan suatu kesempurnaan terhadap perempuan yang dijadikan objeknya. Jika kemudian perempuan yang dijadikan istrinya itu ada kecacatan, ia (laki-laki) dengan mudahnya ( legalitas hukum) mencari yang lebih sempurna. Ini sangat tidak adil bagi kaum perempuan. Hukum itu tidak menyebutkan bagaimana jika sebaliknya? Suami yang cacat? Mandul atau tidak berfungsi alat kelaminnya sehingga tidak bisa memuaskan istri? Apakah istri boleh menikah lagi? Dimana letak penghargaan dan nilai kemanusiaan manusia terhadap manusia lain yang memiliki kekurangan dalam dirinya? Apakah menjadi kesalahan perempuan jika ia tidak bisa melahirkan atau cacat, sehingga ia tidak layak mendapat kebahagiaannya? Hukum ini jadi terlihat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Bahkan sangat kontradiktif dengan pasal 28 UUD 45 yang menyatakan setiap orang sama kedudukannya di dalam hukum.&lt;br /&gt;Akibat hukum yang diskriminatif ini, perempuan jelas menjadi korban. Poligamy tidak saja menjadi suatu produk pemicu kekerasan domestik tetapi juga menjadi suatu bentuk komoditi perempuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-7358037579461731204?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/7358037579461731204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=7358037579461731204' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/7358037579461731204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/7358037579461731204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/poligamy-dominasi.html' title='POLIGAMY = DOMINASI'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-1303922478430820262</id><published>2008-08-17T15:16:00.000+07:00</published><updated>2008-08-17T15:23:18.443+07:00</updated><title type='text'>me, in part of mountain...</title><content type='html'>aku sudah berada di tempat yang bisa melihat diriku dimasa lalu dan jauh&lt;br /&gt;hingga sekarang aku hanya bisa diam atau kadang tertawa jika ada mereka yang serupa denganku pada waktu itu...&lt;br /&gt;      maka hidup ini adalah proses.&lt;br /&gt;dan kita akan tau jika usia bukan batasan untuk berproses&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-1303922478430820262?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/1303922478430820262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=1303922478430820262' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1303922478430820262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/1303922478430820262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/08/me-in-part-of-mountain.html' title='me, in part of mountain...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1394077296481782975.post-2034717242997918072</id><published>2008-07-30T13:44:00.000+07:00</published><updated>2008-07-30T13:51:04.963+07:00</updated><title type='text'>Tataplah Ke Depan ...</title><content type='html'>Hidup bagaikan bawang merah,&lt;br /&gt;kita bisa menangis jika mencoba mengupasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup emang sudah susah,&lt;br /&gt;jangan lagi membuatnya bertambah susah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyumlah,&lt;br /&gt;meski kadang senyum tak lantas larutkan nestapa kita&lt;br /&gt;paling tidak ia akan mengobati lara yang melihatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertawalah,&lt;br /&gt;meski ada banyak hal yang tak pantas ditertawakan&lt;br /&gt;namun lepaskan ia untuk menyejukkan dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun,&lt;br /&gt;menyadari hidup tak layak sekadar menekur diri&lt;br /&gt;meratapi hari&lt;br /&gt;menetapkan langkah kaki&lt;br /&gt;untuk esok yang lebih berseri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataplah ke depan&lt;br /&gt;ada hari yang penuh harapan&lt;br /&gt;dengan asa yang sarat keniscayaan&lt;br /&gt;untuk cinta yang tak berkesudahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beb' 300708&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1394077296481782975-2034717242997918072?l=thitamazya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://thitamazya.blogspot.com/feeds/2034717242997918072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1394077296481782975&amp;postID=2034717242997918072' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2034717242997918072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1394077296481782975/posts/default/2034717242997918072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://thitamazya.blogspot.com/2008/07/tataplah-ke-depan.html' title='Tataplah Ke Depan ...'/><author><name>Thita M. Mazya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12620526802315895437</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_FuNqJjkImtY/SGDm3A7HTII/AAAAAAAAAAg/IJ5YgI3X4co/S220/ta-1.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
