Kamis, 11 Maret 2010

PERANAN MAJLIS TAKLIM DALAM MENGEMBANGKAN KUALITAS PEREMPUAN INDONESIA

Ketika berbicara mengenai majlis taklim, sebenarnya kita sudah bicara mengenai pendidikan alternative untuk kaum perempuan…
(Majilis taklim “Al Ghifariyah” Lengkongwetan, Peng(k)ajian bulanan. Pimp. Thita Mazya)


Selama ini, sector pendidikan formal masih banyak menyisakan ruang yang tidak dapat diakses oleh kaum perempuan. Ditingkat pendidikan formal, jumlah laki-laki masih lebih besar yang mengeyam pendidikan ketimbang perempuan. Tercatat, berdasarkan data BPS tahun 2003, penduduk Indonesia yang berumur 10 tahun ke atas yang masih buta huruf sebanyak hampir 15 juta orang dan kebanyakan juga perempuan (67,9% dibanding laki-laki sekitar 32,1%). Sementara, penduduk perempuan usia 20 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah jumlahnya 5,43% lebih kecil dibanding penduduk laki-laki yang berjumlah sekitar 11,56%.
Adapun ruang pendidikan formal yang kurang memberi perhatian pada kebutuhan kaum perempuan, antara lain; pendidikan tentang akidah agama, baca tulis Alquran, kesehatan reproduksi perempuan, trafficiking, kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi perempuan, hak-hak dan fiqih kaum perempuan dan lain sebagainya. System pendidikan formal juga tidak bisa mengakses mereka yang sudah lanjut usia, karena ada batasan umur ketika seseorang hendak masuk sekolah. Oleh karena itu, pendidikan alternative menjadi sangat penting, salah satu jenis pendidikan alternative itu adalah mejlis taklim.

Mejlis taklim merupakan sebuah wadah yang dibentuk untuk mengajarkan tentang hal-hal keagamaan. Dalam hal agama, islam terutama, laki-laki tidak boleh menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Oleh karena itu dalam proses pengajaran tersebut laki-laki dipisahkan dari perempuan, maka ada pengajian laki-laki ada juga pengajian perempuan. Kelompok pengajian ini kemudian berkembang tidak hanya berfokus pada soal baca tulis Alquran saja, tetapi kesemua hal menyangkut soal agama dan keyakinan. Dari situlah kemudian kelompok pengajian itu menjadi majlis taklim, yang artinya tempat belajar atau menuntut ilmu. Dikarenakan yang berkembang hingga sekarang adalah pengajian oleh kaum perempuan, maka, pengajian atau mejlis taklim ini identik dengan kegiatan perempuan. Pada masa sekarang, fungsi majlis taklim semakin berkembang. Tidak hanya menjadi tempat belajar tentang agama saja, tetapi juga menjadi tempat belajar semua aspek kehidupan social, pendidikan, ekonomi bahkan politik. Mejlis taklim kemudian menjadi wadah pendidikan alternative yang paling strategis dapat menembus berbagai persoalan dan pemberdayaan bagi kaum perempuan.

Peran Perempuan dalam Keluarga
Perempuan sebagai mahluk social memiliki setidaknya dua peran penting dalam hidupnya; yaitu peran di dalam keluarga dan peran di masyarakat. Di dalam keluarga, perempuan adalah istri sekaligus ibu bagi rumahtangganya. Ia yang menjadi pelita bagi sakinah wa mawaddahnya sebuah keluarga. Sebagai ibu, perempuan memiliki peranan dominan dalam membentuk karakteristik anak-anaknya. Ibu paling berperan dalam mendidik anaknya, seperti kata mutiara dari Ahmad Syauqi; “ ummi madrosati; ibu adalah bangunan utama, jika engkau persiapkan anak-anakmu dengan sungguh-sungguh, maka engkau telah mempersiapkan sebuah generasi bangsa yang harum namanya”. Dan sebaik-baiknya pengalaman/pengajaran orangtua kepada anaknya adalah pendidikan adab yang mulia (al-akhlaq al-karimah).

Oleh karena itu perempuan atau para ibu harus cerdas, harus sekolah. Karena sekolah adalah wadah pendidikan formal yang bisa membantu kita cerdas. Namun, kebanyakan pendidikan formal kurang mampu menampung berbagai persoalan tentang perempuan. Persoalan tentang hak-hak kesehatan reproduksi, hak-hak perempuan, misalnya, atau tentang undang-undang kekerasan dalam rumah tangga, tidak banyak disosialisasikan disitu. Padahal, fenomena-fenomena deviasi terhadap perempuan adalah realitas sehari-hari yang membutuhkan penanganan dan pencegahan dini.

Perempuan seringkali dibilang pasif, lemah dan tidak kritis, tetapi jika kita perhatikan apa yang sudah perempuan lakukan terhadap keluarganya? Mulai bangun tidur; membangunkan anak & suami untuk sholat, memandikan anak, masak dan menyiapkan sarapan untuk mereka, menyiapkan baju-bajunya. Selama suami dan anak bekerja/bersekolah, ibu membersihkan rumah; menyapu, ngepel, cuci piring dan baju serta memasak lagi untuk makan siang nanti. Lepas anaknya pulang sekolah; menyuapi makan siang, merapikan baju dan bukunya menemani tidur siang sambil membacakan buku, lalu menyetrika baju, menyiapkan lagi untuk makan malam, menemani belajar anak, menyiapkan susu sebelum tidur, hingga menemani mereka tidur, plus belum kalau bapaknya minta jatah, ia harus melayaninya juga. Itu bagi perempuan yang tidak bekerja, sudah sebegitu padatnya pekerjaan mereka, belum lagi perempuan yang merangkap bekerja, belum lagi, perempuan yang menjadi orangtua tunggal! Yang harus mengerjakan semuanya sendirian termasuk mencari nafkah dan menjadi bapak bagi anak-anaknya. Betapa luar biasanya perempuan yang dibilang lemah dan pasif itu.
Satu hal yang belum terbiasa di Indonesia, adalah melihat apa yang dilakukan iburumah tangga seperti itu dianggap bukan suatu pekerjaan. Pekerjaan ibu rumah tangga seperti itu dianggap sebagai kategori ‘pengangguran’, karena dilihat tidak menghasilkan uang. Ini salah!, bahwa justru status menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang berat dan mulia, bahkan mungkin lebih tanpa tanda jasa dibanding dengan guru. Selama ini, kita mengabaikannya dan cenderung tak menyadari jika pekerjaan menjadi ibu rumah tangga itu jauh lebih berat, mendidik anak agar menjadi anak sholeh dan berguna itu tidak mudah!. Ibu itu adalah guru seumur hidup dan 24 penuh bagi anak-anaknya. Tapi selama ini sepertinya semua diukur oleh angka nominal, jika tidak menghasilkan nominal ya dianggap pengangguran. Pandangan seperti ini harus berubah! Perempuan harus tetap bangga menjadi ibu rumah tangga, adapun karir dan prestasi lain adalah sebuah nilai tambah.
Ironisnya, di tengah beratnya beban perempuan dan ibu rumah tangga, kekerasan seringkali juga menimpa. Salah sedikit saja dengan sang suami, sudah habis menjadi bulan-bulanan. Menjadi alasan untuk perselingkuhan, melakukan kekerasan fisik dan ancaman. Misalnya saja, istri yang kelelahan mengurusi rumah tangga dan pekerjaannya lalu tak sanggup melayani keinginan biologis suami di malam hari, harus menanggung akibatnya. Suami memukul, mengardik, berselingkuh, bahkan hingga menceraikannya. Jika sudah begitu, perempuan kebanyakan tak berdaya. Mengapa? Inilah masalahnya; kebanyakan perempuan tak berdaya dalam kondisi seperti ini lantaran karena kurangnya pengetahuan mereka dan ketidak mandiriannya. Anak yang banyak , tak punya keahlian dan ketergantungan pada suami menjadikan kaum perempuan lebih banyak ‘diam’, nrimo saja dan mengalah.

islam memang mengajarkan kepatuhan istri kepada suami, namun bukan berarti pengabaian hak-hak istri oleh suami. Justru, islam mengajarkan suami agar menghormati juga istri-istri mereka seperti kata rosulullah dalam hadistnya;
“Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya”
(HR Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).
Islam juga mengajarkan etika suami pada istrinya, seperti dalam QS. An-Nisa (4) : 1;
“Dan bergaullah dengan mereka (isterimu) secara patut. Apabila kamu benci kepada mereka (hendaklah kamu sabar) karena boleh jadi kamu benci kepada sesuatu, sedang Allah menjadikan kebaikan yang banyak di dalamnya”.

dalam surat Al-baqarah :222 tentang larangan menggauli istri dalam keadaan haid, menggauli dari dubur maupun sodomi. Serta dalam hadist HR Bukhari & Muslim;
“Apabila kamu menggauli isterimu maka pergaulilah dengan lemah-lembut”.

Demikian juga islam mengatur tentang kewajiban suami kepada istrinya, seperti menyediakan rumah tinggal atau memberi nafkah;
“tempatkanlah istrimu dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka dan menyedihkan hatinya….” At-thalaq : (6-7) atau Al-baqarah: 228

Jadi jelaslah, jika islam pun mengajarkan ketersalingan antara suami dengan istri. Saling menghargai, saling menghormati hak-haknya sebagai suami-istri, saling memahami kesetaraan social diantara keduanya. Kepatuhan istri kepada suami lebih kepada menghormati suami. Demikian juga suami, sebagai imam, pemimpin dalam keluarga bukan berarti menjadi pendominasi. Karena pada dasarnya, baik istri maupun suami adalah sama-sama pemimpin keluarga, seperti sabda Rasulullah s.a.w.;
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas (rakyat) yang dipimpinnya. Suami adalah pemimpin di dalam keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas mereka; dan istri adalah (juga) pemimpin di rumah suaminya, dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Sungguh, setiap kalian adalah pemimpin, dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.” (H.R. muttafaq ‘alayh, dari Ibnu Umar r.a)

Seandainya kita mau melihat contoh kehidupan rosulullah dengan Siti Khodijah yang perbedaan usia lumayan jauh, 15 tahun!. Dari sisi status social maupun usia, jelas Siti Khodijah lebih tua dan lebih kaya di banding rosulullah, akan tetapi rumah tangga mereka bisa berjalan baik-baik saja. Atau Rosulullah dengan Siti Aisyah yang juga sangat jauh selisih usianya, tetap rumah tangga mereka juga baik-baik saja. Mengapa kita perlu membina rumahtangga? Dalam suatu ayat telah difirmankan Allah bahwa;
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir “(QS. Ar-Rum [30]: 21).
Membina rumah tangga dalam sebuah istilah sama artinya dengan membangun sebuah mesjid, yakni membangun ibadah kepada allah swt. Salah satu alasan kita beribadah kepada allah adalah supaya kita mendapat ketenangan dan berumah tangga adalah upaya mencari tempat dimana kita bisa memperoleh rasa tenang. Tenang untuk bisa bercurah kasih sayang, tenang untuk menghadapi kesulitan karena ada pasangan, tenang untuk mengarungi kehidupan karena ada yang kita jadikan pegangan, ada yang menjadikan kita pasangan. Seperti firman allah;
"Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Al Qur'an, 36:36)

Konsep berpasang-pasangan pada mahluk ini jelas menunjukkan arti memasangkan atau menyatukan dari yang berbeda, yakni jantan dan betina atau lelaki dan perempuan. Bukan pasangan dalam arti betina dan betina ataupun sebaliknya. Konsep berpasang-pasangan inipun telah dikuatkan juga oleh penemuan Paul Dirac yang meraih Nobel pada tahun 1933 dengan apa yang disebutnya sebagai “parite” . Ia menemukan bahwa setiap materi di dunia ini berpasangan dengan lawan jenisnya, yakni anti materi. Jadi jelaslah, jika tidak ada penciptaan Allah yang tidak ada tujuannya. Begitu pula dengan tujuan dipasang-pasangkannya manusia, diantaranya adalah untuk meraih sakinah mawaddah warohmah.

Bagaimana konsep sakinah mawaddah warohmah itu bisa diperoleh? Antara lain dengan;
1) mengerahkan kemampuan seluruh komponen keluarga agar dapat mengelola perbedaan menjadi sebuah sinergi yang saling menguatkan dan saling menguntungkan.
2) Menghindari sikap terlalu menonjolkan diri dan dominasi. Mengutamakan sikap saling menghargai dan menyadari adanya kesamaan hak antara suami/istri.
3) Menjadi tauladan yang baik bagi anak-anaknya.
Suami-istri yang menjadi orangtua bagi anak-anaknya merupakan sumber transformasi nilai-nilai pembentuk karakteristik mereka. Seorang anak adalah seperti sehelai kertas putih, suci, seperti tabularasa (John locke) atau fitrah seperti kata Rasulullah, “orang tuanyalah yang (potensial) menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Dengan kata lain, pengalaman, atau peran yang orangtua mainkanlah yang akan menjadikan mereka seperti apa. Dan keluarga adalah pena yang menggoreskan pengalaman-pengalaman tersebut buat anak-anaknya. Oleh karena itu, harus ada komunikasi yang baik antar keluarga, saling mendengarkan dan mencoba mengatasi perbedaan bersama-sama. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sakinah, insya allah akan menjadi anak yang sholeh, yang menjadi tabungan pahalanya kelak.
Demikian islam mengajarkan terciptanya keluarga sakinah mawaddah warohmah, yang jauh dari adanya kekerasan dalam rumah tangga, jauh sebelum ditetapkannya UU-nya yakni, UU no.23 tahun 2004 tentang KDRT.

Peran Perempuan dalam Masyarakat

Selain dalam rumah tangga, perempuan juga mempunyai peran penting dalam masyarakatnya. Kita hidup tak bisa sendiri-sendiri, selalu membutuhkan oranglain, disitulah pentingnya berteman, bersahabat dan bertetangga. Bagaimana peran social perempuan dimasyarakat? Salah satunya adalah melalui mejlis taklim. Dengan wadah alternative inilah perempuan Indonesia banyak memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar lagi, mencerdaskan diri dan beraktualisasi guna meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sebagai perempuan mandiri. Adapun majlis taklim yang menjadi wadah pendidikan alternative perempuan, memiliki beberapa fungsi diantaranya;

a. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan agama
Sebagai sarana pendidikan secara umum, peranan majlis taklim sangat besar. System pembelajaran yang bermetode klasik, mentransmisi ilmu dengan taken for granted. Figure guru/ustazah menjadi sangat berperan sebagai panutan bagi murid-muridnya. Metode ini dalam istilah Paulo Freire sebagai metode bejana; dimana murid menerima bulat-bulat pengetahuan dari sang guru seperti sebuah bejana kosong yang diisi ilmu. Demikian juga pada mejlis taklim, murid-murid yang berasal dari latar belakang yang bermacam-macam berkumpul mendengarkan ceramah ustazahnya. Pada umumnya mereka sangat nurut dan patuh pada gurunya serta memiliki loyalitas yang tinggi. Selama ini, majlis taklim memberikan pembekalan-pembekalan seputar pengetahuan agama dan kehidupan social yang dibutuhkan warga sehari-hari. Adapun materi yang diberikan dalam pembekalan agama ini antara lain; Baca tulis Alquran, Aqidah akhlak, Fiqih wanita, Tafsir hadist, Ibadah muamalah dan lain sebagainya.

Fokus utama pembekalan ini adalah mengajarkan bagaimana kedudukan seorang perempuan dalam mengatur rumah tangganya, bersosialisasi dengan masyarakat dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa. Sayangnya, kelemahan system pembelajaran ini adalah kurangnya ruang dialog dan diskusi yang kritis, karena sifatnya yang pasif. Disisi lain, kelemahan ini bisa menjadi peluang bagi seorang pemimpin majlis taklim untuk membentuk dan memberdayakan kelompoknya sesuai dengan yang dibutuhkan. Karenanya penting, bagi seorang pemimpin mejlis taklim memiliki wawasan dan intelektual yang bervisi ke depan.

System Paule Freire dalam Majlis Taklim
Dalam rangka meningkatkan kualitas system pembelajaran majlis taklim, saya sebagai salah satu pimpinan majlis taklim, mencoba memberikan pendidikan yang membebaskan. Seperti yang disebutkan Paulo Freire, bahwa pendidikan itu seharusnya membebaskan; membebaskan dari kemiskinan, dari ketertindasan. Majlis taklim, sudah berupaya kearah itu, mencoba membebaskan kaum perempuan mulai dari buta huruf, buta Alquran hingga mereka mengerti akan peran dan hak-haknya dimasyarakat. Apa yang diberikan dalam mejlis taklim dus, sudah menyerupai apa yang dikatakan freire. Tidak hanya memberikan teori saja, meski diberikan dalam bentuk ceramah akan tetapi langsung juga pada aplikasinya. Ada tiga tahap model pendidikan ini dalam menghadapi realitas; pertama, tahap investigasi. Dimana dalam pemberian materi ceramah, seorang ustazah selalu mencontohkan peristiwa yang terjadi sehari-hari. Ustazah memberikan tuntunan untuk melihat fenomena-fenomena yang terjadi disekitar masyarakatnya, tentu dengan menyisipkan nilai-nilai agama di dalamnya. Kedua, tahap tematisasi; dimana murid-murid majlis taklim setelah diajak melihat fenomena social yang ada kemudian diajak untuk memetakan, mengelompokkan persoalan-persoalan yang terjadi. Dengan kata lain, mengidentifikasi persoalan dan menjadikannya sebagai cermin dan hikmah kehidupan. Ketiga, tahap problematisasi, yaitu murid diajak juga untuk bisa berpendapat, mengkritisi dan menganalisa persoalan-persoalan yang terjadi, berharap agar murid mampu melakukan atau mensikapi lingkungan yang bersituasi demikian. Sehingga, sikap praksis tersebut membawa kesadaran masyarakat akan kebijaksanaan dalam bertindak dan berperilaku.

Konsep praksis ini, sekarang menjadi bagian system pembelajaran di majlis taklim yang saya pimpin. Konsep yang mengedepankan system dialogis, menghilangkan secara bertahap suasana formalitas dalam proses belajar-mengajar dan fungsi ustazah yang menjadi fasilitator, bukan lagi menjadi sosok guru atau ustazah yang serba bisa, bukan juga yang selalu merasa paling pintar. Secara bertahap, tongkat kepemimpinan harus diwariskan, oleh karenanya metode praksis dengan prinsip aksi dan refleksi ini menjadi sangat penting untuk melihat kapabilitas calon-calon ustazah unggulan.

b. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan ekonomi rakyat
Dengan peserta majlis taklim yang berasal dari seluruh Jabotabek, katakanlah jika dalam sebuah kelurahan/desa terdapat 5-10 majlis taklim dan setiap majlis taklim beranggotakan 200 orang, maka ditiap desa saja sudah 1000 orang. Jika jumlah kecamatan rata-rata pada setiap wilayah terdapat 10 kecamatan maka itu sudah berjumlah 10.000 orang perwilayah. Bayangkan jika jumlah itu dikalikan dengan jumlah wilayah yang ada di sepanjang Jabodetabek? Tentu sangat banyak!. Jumlah tersebut sangat sayang jika tidak diberdayakan. Sebagaimana kita ketahui, perputaran ekonomi itu sebenarnya berpusat ditangan perempuan. Perempuan atau ibu-ibu rumah tangga yang mengatur keuangan keluarga. Mereka dapat melakukan dua pekerjaan ekonomi sekaligus! Sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen. Hal ini terlihat dalam setiap kehadiran mereka di majlis taklim; majlis taklim tak hanya digunakan sebagai tempat mereka belajar menimba ilmu, akan tetapi juga sebagai pusat bisnis. Mereka menawarkan aneka jajanan, belanjaan hingga barang jasa. Pada majlis taklim terdapat semua kalangan strata social masyarakat, dan perputaran bisnis perempuan terjadi disini sehingga menjadi sasaran tepat ekonomi bisnis rakyat. Karena itu, majlis taklim pun mengelola perputaran keuangan mereka melalui koperasi internal yang nonformal (kopwani= koperasi wanita Assuryaniyah). System koperasi yang sangat sederhana tanpa struktur organisasi yang formil, telah dijalankan sebagai wadah saling bantu atau simpan pinjam. Sayangnya, hingga kini belum sempat terbentuk system koperasi majlis taklim yang terpadu; yang membentuk bank-bank kecil sebagai wadah perputaran transaksi bisnis mereka, memberikan pinjaman modal maupun sebagai tempat menabung mereka. Barangkali inilah yang akan menjadi rencana majlis taklim ke depan.

c. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan social

Sebagai sarana pendidikan social, majlis taklim sangat potensial dijadikan tempat sosialisasi berbagai produk social. Disini, tak hanya belajar agama saja, tetapi nilai-nilai dalam kehidupan keseharian pun diajarkan tentu bersumberkan norma agama. Perempuan sebagai anggota majlis taklim juga sebagai istri, ibu, mertua, dan bagian dari lingkungan masyarakatnya yang tak luput juga dari berbagai masalah. Persoalan-persoalan kekerasan dalam rumah tangga, diskriminasi, traficiking, hak dan kewajiban juga menjadi bagian kehidupan mereka. Rata-rata, para ibu anggota mejlis taklim ini pun mengalami persoalan yang sama. Kebanyakan dari mereka mengalami persoalan kekerasan dalam rumah tangga. Untuk itu, majlis taklim pun menjadi tempat bercurah, berkeluh kesah dan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun juga, majlis taklim memberikan peranan besar bagi anggotanya, menampung aspirasi mereka, mendengarkan persoalan mereka turut berbagi bersama dan saling menguatkan dengan nilai-nilai akidah agama. Hal ini dapat mengantisipasi tingginya nilai kematian akibat bunuh diri. Seperti kita ketahui tingkat kematian akibat bunuh diri salah satu penyebabnya adalah tidak ada tempat berbagi. Tidak bisa mengeluarkan persoalan dalam dirinya pada orang lain, lantaran tak ada yang bisa dijadikan tempat untuk itu. Lalu hidup menyendiri dan terjerat bunuh diri. Disini, majlis taklim justru memberikan ruang untuk saling berbagi dan saling menguatkan diri (konseling).

Sebenarnya, majlis taklim bisa menjadi pilar utama pendidikan berbasis kesetaraan, dalam arti setara secara social atau bahasa kininya emansipasi. Ketokohan pemimpin majlis taklim yang menjadi panutan dan tuntunan sangat potensial menciptakan peluang-peluang bagi perkembangan kemajuan kaum perempuan. Banyak pengetahuan yang belum bisa menembus ruang majlis taklim lantaran minimnya sumber daya manusia yang dapat mengakses hal tersebut. Tak heran jika selama ini majlis taklim hanya menjadi pusat belajar agama saja. Padahal, majlis taklim bisa bergandengan tangan dengan LSM-LSM perempuan maupun instansi-instansi pemerintah untuk bekerjasama dalam memberdayakan sesama mereka. Pendidikan tentang kesehatan reproduksi perempuan, pendidikan tentang hak-hak kaum perempuan, tentang kepemimpinan, diskriminasi dan life skill masih banyak yang belum tersentuh ke dalam. Padahal, agama saja mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan, agama juga mengajarkan untuk mencari ilmu sampai kenegri cina dan mengajarkan juga tentang hak-hak dan kewajiban terhadap sesama. Jadi, sebenarnya ini bisa menjadi sebuah sinergi pemberdayaan yang saling menguatkan.

d. Majlis taklim sebagai sarana pendidikan politik
Setiap tahun, sehabis lebaran, majlis taklim kami selalu membuka ruang bagi jemaahnya untuk bersilaturahmi (open house). Dari setiap tahun acara itu diadakan selalu berjumlah di atas 10.000 orang. Dengan jumlah jemaah anggota mejlis taklim sebanyak itu, tidakkah potensial untuk dimanfaatkan? Jumlah sebanyak itu bisa menggiring seorang calon pejabat politik menuju kemenangannya. Lepas dari itu, pendidikan politik dalam mejlis taklim adalah sebuah proses pembelajaran. Bagaimana ibu-ibu mejlis taklim ini bisa memahami situasi politik, bisa memilih pemimpin yang sesuai kriterianya, bisa mengantisipasi keadaan jika ada kebijakan politik yang tidak berpihak pada mereka serta yang penting adalah mereka memahami partisipasi politiknya bukan sekedar ikut-ikutan saja. Tetapi lebih kepada kesadaran mereka akan perlunya demokrasi dan bijak dalam berpihak.

Disisi lain, sebagai sarana pendidikan politik, majlis taklim pun tak luput dari bargening-bargening politik para elit. Mereka ingin memanfaatkan jumlah besar para jemaah yang mayoritasnya memang perempuan. Jumlah anggota Majlis taklim yang besar menjadi salah satu sasaran incaran kemenangan mereka. Terlebih lagi, adanya peraturan yang mengharuskan porsi 30% posisi pemerintahan harus diisi oleh kaum perempuan. Disinilah pentingnya peranan majlis taklim dan Inilah kekuatan bargening majlis taklim dalam mensikapi dan memperjuangkan peranan kaum perempuan. Demikian tanpa disadari, majlis taklim yang tadinya hanya wadah pengajian keagamaan yang jauh sebetulnya dari perbincangan politik namun ternyata bisa mempunyai andil besar justru dalam perpolitikan itu sendiri.

Begitulah kiranya, mulai saat ini kita tak boleh lagi memandang remeh majlis-majlis taklim mengingat perannya yang begitu besar. Terlebih lagi sekarang, keanggotaan mejlis taklim menjadi syarat tak tertulis terhadap status social dan eksistensi seseorang dilingkungannya.
Suatu hari nanti, majlis taklim akan menjadi pusat pendidikan alternative terpadu dan menjadi sarana utama pemberdayaan dan peningkatan kualitas, baik secara EQ, IQ, maupun ESQ kaum perempuan. Insya allah, amin.