Rabu, 24 Juni 2009

Nilai Kuantitas Prestasi

Pada suatu hari ada seorang anak yang seringkali menjadi objek pelecehan teman-temannya. Sebut saja namanya Joko. Dari penampilannya Joko ini memang terlihat kurang rapi, rambut selalu berantakan, dan nilai disekolahpun selalu di bawah rata-rata. Tiap kali pelajaran sekolah, Joko selalu dijadikan objek tudingan. Bicara sedikit saja, selalu menjadi olok-olokan temannya. Ini membuat Joko semakin minder dan merasa tak nyaman jika berada dilingkungan sekolah. Ia akhirnya sering bolos, dan sering mendapat teguran sekolah. Ketika ibu gurunya tengah santai dijam istirahat, sambil menyantap makan siang, matanya tertuju pada headline berita dikoran hari itu. Tentang prestasi seorang anak dalam kejuaran menyanyi internasional. Dibacanya berita itu dengan seksama, ternyata anak yang berprestasi itu tak lain adalah Joko yang selama ini seringkali dianggap aneh oleh teman-temannya.

Selama ini kita menganggap apa yang disebut berprestasi adalah mereka yang pintar dikelas, yang dapat mencapai nilai tertinggi disekolah, mendapat ranking kelas pertama dan mendapat predikat juara kelas. Jadi, yang berprestasi itu adalah mereka yang pinter dan yang pinter selalu mendapat nilai bagus tiap kali ulangan, selalu jadi wakil sekolah tiap kali ada acara dan selalu terpilih pada tiap kali ada kegiatan sekolah.
Kecenderungan bagi anak yang pintar dan selalu mendapat nilai bagus memang begitu. Dengan sendirinya, segala jalur kemudahan dan kesempatan selalu terbuka bahkan menghampiri dirinya. sebaliknya, bagi mereka yang tidak pintar disekolah semua fasilitas itu seolah tidak ada.
Hal ini terjadi, karena sekolah sebagai tempat belajar siswa merupakan sebuah lembaga formil yang sudah terstruktur dan terformat dalam segi metode, kompetensi standard dan materialnya. apa yang menjadi standar penilaian diukur secara nominal. Penilaian ini memang lebih bersifat empiris dan praktis ketimbang penilaian yang bersifat kualitatif. Selama ini kebanyakan sekolah cenderung melakukan penilaian secara kuantitatif, karena penilaian secara kualitatif dianggap tidak representative, tidak praktis dan tidak objektif.
Jika kita lihat kembali pada apa yang menjadi tujuan pendidikan, seperti yang dijelaskan dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 No.1, berbunyi:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jelas sekali maksud dari tujuan pendidikan ini yaitu untuk mencetak siswa-siswi kita menjadi manusia yang berkualitas. Selain memiliki keterampilan yang berguna bagi dirinya kelak namun juga memiliki akhlak yang mulia. Ini artinya potensi yang tumbuh nantinya menjadi sebuah prestasi baik secara akademik maupun secara mental.
Persoalannya adalah, selama ini kebanyakan sekolah senantiasa menggunakan system penilaian terhadap potensi akademik siswa saja dan itupun bersifat kuantitatif. Padahal, penilaian seperti ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya;
1. Diskriminasi. Penempatan nilai berdasarkan ranking kelas bisa menimbulkan perasaan terdiskriminasi bagi siswa. Hal ini berdasarkan adanya potensi siswa yang masing-masing berbeda
2. Mutu hasil pendidikan yang rendah yang mengabaikan aspek-aspek moral, budi pekerti , seni, life skill dan lain sebagainya
3. Adanya persaingan global yang bisa menempatkan yang maju hanya yang punya kemampuan, sedangkan yang kurang akan tertinggal.

Alasan ini juga membuat Depdiknas sempat menerapkan system KBK beberapa waktu lalu. Selain itu, dampak lain yang bisa ditimbulkan dari system ini adalah adanya motivasi untuk berkompetisi yang mengarah pada konflik. Persaingan global akan melahirkan bentuk diskriminasi atau stratifikasi social yang jika tidak bisa dikendalikan akan berujung pada permusuhan dan chaos. Tidak hanya itu, system ini juga bisa memicu timbulnya sikap mental yang tidak sehat. Sebagai contoh; supaya bisa dianggap lulus sekolah, siswa harus bisa mencapai nilai 7 pada tiap mata pelajaran. Kita tahu, potensi tiap siswa itu berbeda, oleh karenanya tidak semua siswa akan memperoleh nilai 7. Akan tetapi, demi bisa lulus, maka sebagian siswa yang kurang mampu tadi akan mengambil cara praktis, yakni dengan mencontek. di satu sisi, jika nilai semua siswa bagus maka semua siswa akan lulus. Jika semua siswa lulus maka sekolah akan mendapat akreditasi baik. Selanjutnya, jika sekolah terakreditasi baik, akan berimbas pada banyaknya siswa yang akan mendaftar disekolah tersebut. Akhirnya pragmatism ini tidak hanya dianut oleh siswanya saja, tetapi juga sekolah. Sekarang kita balik hipotesanya, jika sekolah terakreditasi baik maka semua siswanya harus lulus. Demi siswanya lulus, maka menyontek dibiarkan atau bahkan dipersilakan. Realitas yang terjadi kebanyakan justru hipotesa terbalik ini. Semua karena ingin mencapai tujuan pragmatis. Jika ini yang terjadi, maka sekolah secara tidak langsung telah berkontribusi terhadap pembentukan sikap mental siswa yang tidak sehat tadi. Dan ini tentunya tidak sesuai dengan tujuan pendidikan dalam undang-undang RI.
Oleh karena itu, sebaiknya system pembelajaran itu harus mencakup ; learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Siswa tidak hanya belajar sesuatu untuk mengetahui saja, tetapi juga untuk bisa aktif berbuat sesuatu, menganalisa dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya merangsang kecerdasan cognitive saja tetapi juga aspek konstruktifnya. Adapun yang dimaksud dengan aspek konstruktif, menurut Jean Piaget (1896 - 1980); manusia itu membangun pengetahuannya secara internal dalam diri individu masing-masing melalui proses adaptasi dan organisasi terhadap segala peristiwa eksternal menjadi pengetahuan dan ketika pengetahuan lama dan pengetahuan baru di organisasikan menjadi pengetahuannya yang lebih kompleks maka pengetahuannya akan terbangun secara terus menerus. Dengan demikian, Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. Akhirnya, Von Glaseserfeld 1996, mengatakan bahwa pada dasarnya pengetahuan itu adalah bentukan kita sendiri.
Oleh karena itu penerapan teori konstruktivitas ini sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Dengan penerapan metode konstruktivitas ini, tidak hanya potensi akademik siswa yang muncul tetapi juga potensi non akademiknyapun akan lebih terlihat. Begitu juga dengan system penilaian siswa, sebaiknya juga bersifat konstruktif. Tidak hanya mengedepankan potensi akademik saja, tetapi juga potensi lain yang sesuai dengan tujuan pendidikan dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003. Artinya, system penilaian potensi siswa tidak hanya meliputi bidang akademik saja, tidak juga berdasarkan nominal saja tetapi juga secara kualitatif. Misalnya saja, penghapusan system peringkat kelas yang Alhamdulillah telah diberlakukan hampir diseluruh sekolah di Indonesia. Penilaian dalam setiap bidang studi harus meliputi kedua aspek kuantitatif dan kualitatifnya. Misalnya, penilaian terhadap bidang studi matematika, tidak hanya memasukkan nilai kognitifnya saja, tetapi juga aspek lain seperti; penguasaan materi, analisa teori, nalar rasio dan lain sebagainya. Dalam hal ini beberapa sekolah telah menerapkannya.
Dengan penerapan system penilaian baik secara kuantitatif maupun kualitatif, tentunya setiap siswa akan memiliki penilaian sesuai dengan aspek potensinya masing-masing. Aspek potensi ini menurut kalangan ahli, tergantung dari potensi otak kiri dan otak kanan manusia. Menurut Tony Buzan (Use Your Head: 1993) prestasi akademis seseorang yang cenderung pada logika dan angka (kuantitatif) itu biasanya dikuasai oleh mereka yang memiliki potensi besar pada otak kiri. Sedangkan potensi kualitatif, seperti; imaginasi, analisa, seni dan irama itu dikuasai oleh otak kanan.
Pada akhirnya, apa yang disebut dengan prestasi siswa adalah aktualisasi dari potensi yang dimiliki setiap siswa, baik secara akademisi maupun secara mental. Adapun yang menjadi standar penilaian prestasi selama ini, cenderung bersifat kuantitatif (nominal, angka). Ini membentuk pola pemikiran siapa yang berprestasi, dia yang meraih nilai tertinggi, juara ke satu, dan lain sebagainya. Pola ini menjerumuskan siswa maupun sekolah untuk selalu mengejar angka. Pola ini mengabaikan aspek moralitas yang tidak bisa dinominalkan dengan angka. Seorang anak yang mencontek bisa saja meraih nilai tinggi dan menjadi juara, artinya ia bisa unggul secara kuantitas, tetapi secara kualitas, ia tidak memiliki sikap mental yang sehat. Oleh karena itu, untuk menghasilkan siswa yang berprestasi dan berkualitas, diperlukan system pendidikan yang juga berkualitas. System pendidikan yang berkualitas adalah system yang mampu memadukan aspek kognitif dan konstruktif dalam metode pembelajarannya. System pendidikan yang berkualitas juga harus didukung tidak hanya dengan fasilitas dan dasar aturan yang jelas tetapi juga dengan tenaga pendidiknya yang berkualitas. Tenaga pendidik yang berkualitas dapat menghasilkan siswa yang berprestasi baik secara akademik maupun secara mental.