Senin, 20 April 2009

hari ini aku terluka...jika idealisme pendidikan yang seharusnya menjadi wadah produksi generasi bangsa ternodai oleh pendidik itu sendiri.



lembaga pendidikan adalah tempat dimana putra putri bangsa kita mengenyam nilai-nilai dan norma serta pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. sekolah, adalah tempat putra putri kita mengenal dan belajar, bagaimana menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlak!.tempat belajar untuk menjadi pribadi yang mandiri, santun, bermoral dan berintelektual. sekolah merupakan agen sosialisasi yang penting ke dua setelah keluarga. bagaimana mereka menjadi nanti adalah tergantung bagaimana pendidik mendidiknya sekarang ini.

barangkali tak heran, jika korupsi di negri ini sudah menjadi tradisi. jika merunut ke belakang, bisa jadi peran sekolah menjadi salah satu sumber kontribusinya. perilaku korupsi adalah perilaku yang dilandasi oleh kecenderungan manusia yang tak pernah merasa puas dan tidak pernah merasa cukup. merasa ingin serba ada, tanpa harus banyak mengeluarkan keringat kerja keras dan menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat. untuk itu , korupsi berteman dekat dengan suap, karena pola pikir dan latar belakang yang sama. akibatnya, tidak hanya merusak akhlak individu tersebut tapi juga merusak negara!. bayangkan jika semua berpola perilaku begitu, tentu kebenaran dan kebaikan akan hilang, kita akan tersesat dan kerusakan akan terjadi dimana-mana. tidak hanya krisis kepercayaan, kita juga akan kehilangan jatidiri, anomie-frustasi-derpresi lalu bisa-bisa gantung diri. bukan cuma itu, Tuhanpun akan memberikan konsekwensinya. dalam arti, jika kita tidak bisa memelihara diri sendiri, bagaimana bisa memelihara negara, bagaimana bisa memelihara dunia? jika dunia tak lagi terpelihara, tumbuhan, gunung, lautan semua akan murka...

betapa ngeri jika kita melihat akhir dari sikap suap dan korupsi ini, tapi benarkah, sekolah menjadi salah satu faktor pengkontribusi sikap dan nilai-nilai yang salah ini????

contoh kecil saja, ketika ulangan disekolah, guru pasti melarang menyontek. karana sikap menyontek adalah cikal bakal lahirnya sikap korup dan suap. tetapi, karena tidak menyontek nilai anak menjadi jelek. karena nilai si anak jelek, guru mendapat teguran pihak sekolah. pertanyaannya adalah; apakah guru tidak maksimal mengajarnya, ataukah memang siswanya yang terbatas kemampuannya??? apapun alasan itu, berdampak akhirnya pada kredibilitas sekolah. sementara setiap sekolah tengah berlomba dan berkompetisi dengan sekolah lain untuk menjadi sekolah yang terbaik di kotanya, kalau perlu terbaik se Indonesia. untuk itu, sekolah akan berusaha semaksimal mungkin mengupayakan karakater building, set image, dan mengejar sertifikat-sertifikat kelayakan sebagai sekolah terbaik.

konsekwensi dari semua itu akhirnya adalah; sekolah dan pendidik/guru akan berupaya, bahkan dengan segala cara untuk bisa meraih sekolahnya sebagai sekolah terbaik. salah satu caranya adalah, ketika si anak dengan nilai jelek tadi, menjadi hambatan sekolah untuk mendapat 'good image' yang akan berpengaruh pada akreditasi, prestasi dan reputasi, maka, ...............dibuatlah 'shortcut'nya. setelah melewati standar prosedur remedial, nilai si anak masih belum memadai, kemudian si anak pun diberi tugas pengganti semudah mungkin, seperti; kliping paper. atau kadang, lebih ekstrim lagi, nilai dari guru (atau kadang dari guru itu sendiri) langsung menyulap angka seketika, dan persoalanpun selesai.

sekilas standar prosedur it memang baik, namun ketidak maksimalan siswa dan guru disitu menyisakan pola perilaku yang pragmatis, (instant behaviour). tidak memacu siswa untuk belajar keras, tapi cukup memenuhi standar prosedur (ikut remedial selama 1-3 kali berturut-turut tak peduli hasilnya tetap jelek) siswa sudah dianggap lulus.

kembali pada persoalan menyontek, jika dikelas pada saat ulangan guru melarang siswa menyontek, tapi ketika dihadapkan pada kepentingan sekolah demi untuk mendapatkan 'good image', reputasi dan akreditas bahkan iso sekalipun akhirnya lembaga pendidikan yang dalam hal ini adalah kepala sekolah, guru dan karyawan pun menjadi bersikap konformis (kompromis).

konformis dalam hal ini adalah guru bukan hanya membiarkan siswanya menyontek, terlebih lagi, guru memberikan jawaban contekannya itu sendiri kepada para siswanya!. ironisnya lagi, semua itu atas instruksi kepala sekolah!. jika sudah demikian, tidakkah sudah tergambar dikepala kita akan menjadi seperti apakah potret pendidikan di negri ini nanti? atau akan seperti apakah sikap mental putra putri bangsa ini nanti???
namun, lepas dari semua itu, yang lebih ironisnya lagi adalah jika ada orangtua yang juga konformis dengan kondisi ini. demi alasan anak-anaknya, tentu.

betapa ngeri membayangkan semuanya...............
semoga saja tidak terjadi di kota ini, tidak juga di negeri ini.

untuk itu, marilah kita berdoa, semoga lembaga pendidikan yang ada di negri kita ini tidak sedemikian rupa, tidak menjadi salah satu unit kontribusi terhadap cikal bakal sikap suap dan korupsi. semoga sekolah-sekolah di negri ini, menjadikan siswa-siswinya penghantar masa depan yang berkepribadian, beriman, cerdas dan berakhlak. menjadikan putra-putri generasi penerus bangsa ini lebih baik, demi Indonesia yang lebih baik lagi...amin.

ya allah ya robbi, maafkan hambamu ini, jika dalam menjalani profesi yang dianggap orang mulia ini justru tidak seperti kelihatannya. ya allah ya robbi, maafkan idealisme ini, jika engkau anggap salah. dan jauhkan aku dari kezaliman-kezaliman dan kerusakan iman di dunia ini. amin.