Jumat, 10 April 2009

cerita saat penyontrengan.....

usai sudah pesta demokrasi yang baru kemaren digelar...nampak banyak wajah kecewa tergurat diwajah-wajah rakyat. kecewa oleh banyak hal tentang penyelenggaraan pemilu ini. sewaktu aku duduk di dekat kerumunan TPS, seorang tua bertanya padaku; " de, doakan ya semoga bapak bisa...maklum, bapak buta huruf dan gak tau warna..." aku menjawab, " pasti bisa pak, bapak tinggal lihat gambar yang sering bapak kenali saja...lalu coret!" kataku tanpa bisa menjelaskan lebih banyak lagi. tadinya aku mau berniat promosi, untuk memilih gambar PNBKI, tapi percuma wong dia buta huruf dan buta warna. kalau kusuruh pilih gambar banteng, banyak yang pake gambar banteng...ya sudah aku bilang saja, gitu, yang bapak kenali sajalah...ini baru satu kejadian, tak lama aku beranjak dari situ melihat simulasi gambar di lembar pemilih yang dipajang di depan TPS tersebut, hmm....ada juga fotoku, tapi orang disekitar situ ketika kutanya, mereka hendak memilih saudaranya yang juga jadi caleg disitu. kerabat, familiy anak cucu mereka yang lebih mengenali caleg tersebut ketimbang aku. sedih juga sih. tapi begitulah kenyataanya, mereka lebih memilih pada nama atau orang yang 'pernah mereka kenal' dari pada gak sama sekali. ini artinya aku kurang begitu dikenali. mungkin juga karena aku kurang sosialisasi. walaupun dikampung itu aku tergolong baru, namun, sejauh yang kutahu warga mengenaliku tapi mereka tetap memilih caleg yang mereka kenal. alasan mereka karena hubungan kekerabatan atau dalam istilah Ferdinand Tonnies, Gemeinschaft lebih kuat. maklum, aku tinggal dikampung yang dikelilingi tembok perumahan elit, BSD. jadi, solidaritas kekerabatan mereka lebih kuat. wal hasil, suaraku tidak banyak diperoleh disitu.

tak lama aku pun melaju pergi, tapi sempat mampir sebentar melihat orang jualan gado-gado yang menggugah seleraku. akupun mampir lalu memesan satu bungkus. seorang ibu muda yang sedang menunggu antrian gado-gado sedang asyik curhat kepada si ibu penjual gado-gado tersebut. aku tertarik mendengarkanya. mereka bilang sekarang mereka tidak bisa memilih, karena nama mereka tidak ada di dalam daftar DPT. padahal waktu pemilihan bupati yang lalu, mereka bisa memilih. alasan ketua rt setempat, data yang dipakai adalah data DPT tahun lalu. tapi anehnya kok nama mere, ka tak ada. terus, mereka bilang; " jangan salahkan kami jika golput, salah sendiri kami gak boleh milih"...


karena tertarik, aku jadi bertanya ke si ibu muda, " ibu kenapa gak milih? jawabnya, kalau si ibu yang orang asli sini aja gak ada datanya disitu apalagi saya yang orang baru...katanya, sudah gak dapat surat panggilan ngapain juga...biarin aja, bukan salah saya. katanya.

sementara si ibu yang sebelahnya nyeletuk, " kalau saya mba, males milih, karena kagak ngarti, pegimane milihnye, kagak ngarti juga siape yang mesti dipilih saking banyaknya tuh partai..ribet!! selorohnya...

uhh....ironis ya...aku jadi mikir; kalau warga aslinya saja masih banyak yang tidak terdata, dan tidak masuk daftar pemilih, bagaimana warga pendatang yang tinggal dikontrak-kontrakan dan mereka tidak pulang kampung untuk memilih? sudah pasti mereka golput kan??

usai pesananku selesai akupun pamit pulang. sepanjang jalan menuju kerumah, aku sengaja memutar ke jalan raya dan mampir sebentar ke toko buah. disitu aku berniat membeli jeruk. si mba penjaga toko kuperhatikan tangannya tak ada yang tercelup tinta hitam maka akupun iseng bertanya, "mbak, tadi milih gak? si mba itupun tersenyum sipu, dan menjawab;" gak bu, soalnya saya mesti jaga toko jadi gak sempet milih"...wow!! pikirku dalam hati. tambah lagi yang golput karena alasan mesti kerja. kalau mereka yang dikantoran sih enak bisa libur untuk memilih, tetapi bagi mereka yang penjual dan berdagang??? pastikan dihadapkan sama pilihan, jualan menghasilkan uang atau, jaga toko daripada dipecat daripada nyontreng pemilu yang mereka juga gak paham mo pilih siapa/yang mana...

kesimpulannya, kupikir, pemerintah mesti belajar dari kejadian pemilu sekarang. tapi kayaknya tahun-tahun kemarin juga gak jauh beda masalahnya. tapi kok gak da perbaikan ya?

paling gak pemerintah mesti memikirkan lagi cara praktis untuk masyarakat supaya bisa memilih. pemerintah meski memikirkan nasib mereka yang buta huruf, buta warna, tuna netra, pekerja buruh yang tetap mesti masuk kerja di saat pemilu, mereka yang urban ke kota jauh dari kampungnya dan gak bisa pulang kampung untuk sekedar memilih. mereka yang sedang dirawat di rumahsakit, dan lain-lainnya....

mesti ada cara praktis dan lebih baik yang bisa mengantisipasi semua persoalan tersebut.
tidak dengan lembaran yang sangat lebar dan memakan waktu untuk sekedar membuka lembarannya saja....

pemerintah juga mestinya memikirkan lagi data pemilih yang tidak terdata tersebut, bagaimana mengantisipasinya...aku jadi mikir, sebenarnya kita ini punya data valid gak sihh tentang berapa sebenarnya jumlah penduduk indonesia ini yang berhak memilih???? gimana juga hak si pemilih itu biar gak dobel-dobel....

aku rasa pemerintah mesti pikirin hal tersebut...jika tidak, ini memberikan peluang untuk banyak terjadinya kecurangan, rekayasa dan floating suara...