Sabtu, 06 Desember 2008

TARI COKEK KEBUDAYAAN ASLI TANGERANG


Cokek berasal dari Teluk Naga di Tangerang. Menutut versi ini, pada saat itu, daerah Tanjung Kait dikuasai oleh tuan tanah bernama Tan Sio Kek. Seperti biasa tuan tanah kaya lainnya, Tan Sio Kek juga mempunyai sebuah kelompok musik.Pada suatu hari, datang tiga orang bercocing, yaitu rambut yang dikepang satu. Diduga berasal dari daratan China. Ketiga orang ini membawa tiga buah alat musik yaitu, Tehiyan, Su Khong dan Khong ahyan. Ternyata ketiga orang itu juga mahir bermain musik.Ketika malam tiba, ketiga orang tersebut berkenan memainkan alat-alat musiknya. Tiga alat musik yang mereka bawa itu kemudian dimainkan bersama-sama alat musik kampung yang dimiliki oleh grup musik milik tuan tanah Tan Sio Kek. Dari perpaduan bunyi berbagai alat musik yang dimainkan oleh para pemusik tersebut, lahirlah musik Gambang Kromong.Sedangkan para gadis yang menari dengan iringan irama musik itu, kemudian disebut sebagai Cokek, yang diartikan anak buah Tan Sio Kek. Seperti halnya Nie Hukong, Tan Sio Kek lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para cokek, yaitu para penyanyi cokek merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Dalam perkembangannya, walau kelompok Gambang Kromong bila mendapat undangan pentas mendapatkan honor atau bayaran, namun para Cokek, atau penari perempuan itu, tidak dibayar, tetapi mencari bayaran sendiri dari para lelaki yang mengajak mereka menari atau ngibing.Bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk konde bergoyang-goyang. Sumber; ZIARAH BUDAYA KOTA TANGERANG oleh H. Wahidin Halim
alhamdulillah, setidaknya Tangerang memiliki kebudayaannya sendiri, meski ini tidak 100% asli dari Tangerang, karena kebudayaan ini pun dimiliki serupa dengan kebudayaan Betawi. tapi setidaknya, Tangerang juga punya.
sewaktu kecil, saya ingat sekali, betapa tarian ini selalu ada pada setiap hajat orang-orang di Tangerang. Dengan iringan musik gambang kromong para penari berjajar secara horizontal menari sambil sesekali menarik pengunjung untuk menjadi pasangannya. memang agak erotis juga bagi ukuran anak kecil seperti saya waktu itu, tapi sekarang saya melihatnya itu sebagai seni dengan cirinya sendiri. sayang, kebudayaan ini sekarang sudah sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah lagi kelihatan. kemanakah mereka? apakah tidak ada yang mau meneruskan kebudayaan ini hingga sekarang tidak kelihatan lagi? kenapa tidak ada yang mau? padahal, tarian ini bisa sedikit dimodifikasi agar tidak terlalu kelihatan erotisnya dan bisa dipelajari sebagai bagian dari mulok disekolah-sekolah? dengan begitu, tarian ini bisa terus terpelihara dan justru menjadi ciri khas bagi Tangerang sendiri.
ironisnya, banyak sekolah di Tangerang yang justru mengajarkan tarian dari daerah lain dan menjadikannya ekstra kulikuler mereka. kesenian daerah manapun baik untuk dipelajari dan harus dipelihara, tetapi alangkah lebih baiknya jika kita menguasai lebih dulu kesenian budaya daerah sendiri, kan?