Selasa, 18 November 2008

eksteriorisasi.........


once in our lifetime, pasti pernah mengalami yang namanya disorientasi, alineasi dan stagnasi. sesuatu yang 'this is not me', 'who am i ?' atau 'where am i supposed to do..?' sesuatu yang menjadi sesuatu dalam benak dan pikiran namun sulit tergambarkan dalam kongkritisasinya. sesuatu yang mencoba untuk mengeluarkan dan mengungkapkannya menjadi 'wujud' sesuatu yang bisa dimaknai, dipahami, maupun dilihat. namun, pengalaman telah membentuk sebuah sejarah, seperti kata Rocky Gerung; ' sejarah memerlukan peristiwa dan peristiwa memerlukan tokoh, hingga sejarah dapat menjadi sejarah yang selalu dikenang. sejarah inilah pengalaman yang sebenarnya sudah terperangkap dalam objektivasi ketidak bebasan. sejarah merupakan pengalaman dari upaya membendakan keberadaan, hingga memunculkan apa yang Rocky sebut dengan sensasi politik. objektivasi dari sensasi politik itu diantaranya merupakan rutinitas pemberian penghargaan bagi siapa yang ditunjuknya sebagai pahlawan.


dalam hal ini, sesuatu yang menjadi alineasi, terutama dalam diri, selalu mencari simbol kebendaan agar bisa terepresentasikan secara faktual, sekalipun tidak sepenuhnya simbol representasi tersebut mewakili makna yang sesungguhnya. sesuatu inilah yang bisa disebut juga sebagai eksteriorisasi.


pembendaan terhadap keberadaan itu merupakan ketidak berdayaan diri dalam membebaskan kedalaman ungkapan-ungkapan yang ada dibenak tadi. sejak ketidak berdayaan tersebut muncul, maka sejak itulah ketidak bebasan berada. sesuatu yang sudah menjadi pengalaman dan sejarah tadi menjadi penguasa bagi ketidak berdayaan kita, dan membuat belenggu yang membatasi gagasan-gagasan dan daya kreasi yang unlimited berhiruk pikuk dalam wacana kita. ini merupakan bentuk ketidak bebasan dalam tataran diri. bagaimana dalam tataran yang lebih luas lagi?


agama merupakan tataran yang lebih luas, tataran sosial dimana setiap individu membutuhkannya sebagai pedoman. agama itu sendiri merupakan keyakinan yang sudah terobjektivasi. bahkan kini agama sudah terlembaga menjadi sebuah konstruksi keyakinan yang terstruktur dan bersifat mendominasi. orang sudah tidak melihat lagi agama sebagai sesuatu yang religius mistis, tetapi agama sudah menjadi sebuah organisasi kekuasaan. dimana para umatnya dibentuk untuk memiliki loyalitas yang tinggi, tanpa pamrih (konsep ikhlas), dan mau mengikuti segala apa yang disebutnya sebagai ajaran, norma dan hukum-hukumnya. bahkan, pada zaman dahulu, kekuasaan gereja lebih berpengaruh ketimbang kekuasaan raja.


mengapa agama menjadi wujud objektivasi ?


Tuhan dalam penciptaannya, selalu memberikan pasangan. ada langit, ada bumi. ada siang ada malam, ada dunia ada akhirat, hingga dengan inilah kita memiliki konsep tentang angka dua. dua merupakan konsep yang lahir untuk memudahkan manusia dalam kehidupannya. dua yang membuat manusia bisa memilih jalan hidupnya setelah melalui 'dua' dalam keduanya. artinya, Tuhan memberikan kebebasan sepenuhnya pada manusia, untuk bertindak, berfikir dan memutuskan apa yang hendak dilakukannya. Tuhan hanya fasilitator dari penciptaanya bagi manusia. Tuhan membebaskan manusia untuk memilih dengan cara apa mereka menjalani hidupnya. Tuhan memberi petunjuk, yang lengkap dengan konsekwensinya. karenanyalah kebenaran hanya milik Tuhan. Seperti yang dikatakan Nikolay Bardiayev, 'sesuatu yang bisa disebut sebagai kebenaran, jika ia bisa membebaskan'. Tuhan yang maha benar, bukanlah merupakan personifikasi dari keharusan manusia menjalankan norma. Tuhan adalah fasilitator, pelindung bagi kebebasan manusia. oleh karena itu, agama yang benar adalah agama yang membebaskan. Bardiayev meyakini jika manusia semakin meyakini agamanya (Tuhan) niscaya mereka disatu sisi memang menjadi semakin mistis, namun disisi lain, dapat mencegah mereka dari kecenderungan membendakan Tuhan dan memenjarakan Tuhan dalam konsep agamanya tersebut.


dengan kata lain, jika semakin manusia menemukan jalan kebenarannya, maka semakin ia mendekati kebebasannya. dan jika manusia sudah menemukan kebebasannya, maka ia semakin merasakan kebersatuannya bersama sang pencipta; manunggaling kawulo gusti. dalam hal ini, konsep pemikiran Bardiayev serupa dengan konsep 'aku adalah Tuhan-nya Syech Siti Jenar, atau ' Anal Haqq' -nya Al-Hallaj.

eksteriorisasi, dengan begitu, merupakan upaya pembelengguan wacana. karena ketika ia menjadi interiorisasi, disitulah kebebasan sebenarnya berada. sekalipun eksteriorisasi ingin tidak terobjektivasi, barangkali hanya bayi-bayi mungil yang menangis ketika minta disusui-lah yang belum terkontaminasi oleh perangkap objektivikasi dunia. karena kita yang justru mewarnai dengan segala persepsi untuk merepresentasi maksudnya.

kebebasan, bagi Bardiayev, dalam bukunya yang berjudul'Kebebasan kreatif' merupakan sesuatu yang kreatif bagi semua yang memberinya ruang untuk mengaktualisasikan dirinya dan merupakan subversif bagi yang hendak memenjarakannya. sedangkan bagiku; ' sekali lagi,.......
..........kebebasan hanya ada dalam wacana............22:57-181108