Senin, 27 Oktober 2008

bravo you kid!

hari ini aku merasa sedikit lega...pasalnya untuk tahun sekarang siswa yang kuajar terkesan terlalu high power distance dalam menanggapi pelajaran disekolah. kelegaanku bukanlah pada situasi siswanya yang mengalami high power distance, sebaliknya, hari ini aku merasa kelas lebih hidup dari biasanya. keberanian salah satu siswa dalam mengkritisi soal yang kuberikan patut aku hargai. yah, walau bagaimana guru tetap manusia juga. ini bukan apologi tapi fakta. masalahnya banyak diantara kita yang berasumsi guru adalah dewa yang maha betul akan segala yang diajarkannya. bagiku itu tidak berlaku. justru kadang aku banyak belajar dari siswa-siswaku. ketika guru mengalami kekeliruan adalah hal yang biasanya sulit diakui oleh guru sendiri, in the name of wibawa or istilah orang sekarang, 'jaim' alias jaga image. namun, jika kita menyadari bahwa proses belajar mengajar adalah proses siswa dan guru saling belajar, (tidak hanya siswa saja) tentu ini akan menjadi petanda sikap individu yang modern; yang terbuka pada perubahan, kritik dan transparan.

dalam hal ini, bukan sebagai guru aku keliru dalam menjawab soal, namun, argumentasi siswa yang kuat dalam mempertahankan pendapatnya sekaligus bisa menjelaskan dengan baik argumentasinya dari yang aku berikan adalah suatu prestasi buatku. hal ini menunjukkan jika proses penyampaian pelajaranku berhasil. sebagai gurunya tentu saja aku tersenyum bangga, mereka lebih peka, kritis jika mereka memang tau dan memahami apa yang telah diajarkannya. tentu saja pendapat mereka aku hargai dan aku bersepakat. ini, bukan soal kalah menang, namun sisi lain yang selama ini aku coba hidupkan adalah membangun keberanian mereka dalam berfikir kritis.

justru ini membuatku berpikir, ternyata, beginilah caranya membangkitkan rasa 'low power distance' (ketiadaan jarak untuk berinteraksi dengan lawan yang berbeda, baik secara umur, performance maupun intelektual) mereka dikelas. memancing rasa keingintahuan mereka dengan sedikit menyimpang dari keharusan, ternyata mengusik mereka untuk tidak tinggal diam. ini berarti kepekaan mereka terhadap masalah sosial dan lingkungannya masih tinggi. aku berharap mereka bisa lebih terpacu lagi, tidak hanya menjadi kucing tidur yang terbangun ketika kumisnya ditarik.