Selasa, 14 Oktober 2008

ANDAI AKU JADI ‘SESUATU ‘ DI TANGERANG.


Melihat perkembangan kota tangerang selama tiga puluh lima tahun masa saya dibesarkan dikota ini, bisa dibilang lambat dan tidaklah terlalu menggembirakan. Sekalipun tangerang telah terbagi ke dalam kewilayahan kotamadya dan kabupaten, bahkan rencananya nanti ada pengembangan lagi menjadi tangerang selatan namun tetap saja secara statistic tidak mengalami peningkatan yang menonjol. Dari segi perencanaan tata kota, infrastruktur, sector pendidikan, regulasi hingga kebudayaan, tangerang belum banyak mengalami perubahan. Barangkali, jika tidak ada pengembang-pengembang real estate yang membangun dikota ini, mungkin tangerang masih jauh tertinggal. Mengapa demikian?, secara umum, hadirnya para pengembang real estate yang membangun perumahan-perumahan elit telah banyak dengan sendirinya membangun sebuah perubahan. Perubahan yang sangat berpengaruh terhadap pola hidup dan struktur masyarakat. Misalnya saja, konsep salah satu pengembang yang menslogankan sebagai kota mandiri, telah benar-benar membangun sebuah kota yang memang secara structural mandiri seperti; membangun fasilitas jalan, transportasi dan lain sebagainya. Pengaruhnya terlihat pada pembenahan pola hidup masyarakat yang tadinya sangat tradisional menjadi lebih modern, tersedianya banyak lapangan pekerjaan dengan banyaknya dibangun ruko-ruko, mall, pasar modern dan fasilitas social lainnya serta peningkatan kualitas pendidikan yang telah banyak menghadirkan sekolah-sekolah swasta yang cukup ternama. Dengan sendirinya, laju pertumbuhan ekonomi dikota inipun mengalami pergerakan.
Pengembang vs pemerintah kota tangerang.
Jika dilihat dari sisi perkembangan kota, tangerang telah lumayan mengalami kemajuan. Salah satunya berkat campur tangannya para pengembang perumahan ini tadi. Perkembangan ini telah dibuktikan dengan bergesernya pusat kota yang menjadi sentral perhatian masyarakat dari yang tadinya berada di depan gedung DPRD dekat mesjid agung tangerang hingga alun-alun beralih ke mall Sumarecon, Gading Serpong, Lippo Karawaci dan Bumi Serpong Damai. Pusat kota tangerang hampir tidak memiliki daya tarik lagi bagi masyarakatnya, sebagian besar sudah beralih ke kabupaten yang kebetulan banyak memiliki perumahan estate.
Hadirnya para pengembang yang turut membangun tangerang ini, selain berdampak positif bagi masyarkat dalam menyediakan lapangan pekerjaan, alternative sarana pendidikan, hingga fasilitas rekreasi masyarakat juga memberi dampak yang kurang menyehatkan. Misalnya saja, dengan mengkondisikan lahan agar bisa dibeli oleh pengembang dengan harga murah tanpa memikirkan keberlangsungan hidup terutama penggantian lahan yang dibelinya dengan lahan lain bagi sipenjual. Mengingat kondisi masyarakat tradisionil yang kurang bisa memahami regulasi, kurang bisa memanfaatkan hasil penjualan tanahnya pada pengembang serta kurangnya tingkat pendidikan mereka, sehingga yang terjadi adalah mereka kehilangan lahan untuk survive hidupnya dan uang yang diperoleh sebagai hasil penjualan yang tidak terkelola secara baik membuat mereka dengan cepat menjadi miskin. Secara psikologis, ketika mereka mendapatkan uang hasil penjualan lahannya itu dipergunakan untuk sesaat mereka dapat menikmati gaya hidup perkotaan. Masyarakat tradisionil cenderung menghabiskannya pada barang-barang yang bersifat material tanpa berfikir untuk ditabung dan sebagainya, akibatnya ketika uangnya habis, mereka tidak mendapatkan apa-apa; tanah sudah tidak ada, uangpun begitu. Jika demikian yang terjadi, ini berdampak besar terhapap meningkatnya jumlah kemiskinan. Ditambah lagi dengan tidak adanya kapabilitas mereka untuk bisa survive, selain berladang.
Selain itu, dengan dibangunnya perumahan-perumahan estate dikawasan ini, telah membangunkan pula jarak kontras antara si kaya dan si miskin. Ini terlihat sekali seperti dikampong-kampung yang terkepung oleh perumahan elit. Dimana masyarakat masih banyak yang memasak dengan kayu bakar dan MCK yang dibuat sembarangan saja dengan empang yang berdekatan dengan sumber air sumur. Sedangkan jarak antara kampong dan perumahan hanya dibatasi oleh pagar beton saja. Ironis sekali. Hal ini perlu dipertanyakan peran CSR ( Coorporate Social Responsibility ) dari para pengembang terhadap lingkungan sekitarnya. Bagimana tanggung jawab social si pengembang terhadap kesejahteraan masyarakat yang tinggal disekitarnya, sehingga pengembang tidak hanya semata-mata mencari untung saja. Jika ada upaya yang kongkret dari pengembang untuk CSR seperti menyediakan fasos fasum, sekolah, balai warga, puskesmas, koperasi dan lain sebagainya untuk kesejahteraan warga sekitarnya, setidaknya dapat menjaga keseimbangan alam, mengurangi kesenjangan.
Di pihak lain, pemerintah setempat juga tidak banyak memberi peran yang berarti bagi pembangunan kota tangerang. Pembangunan infrastruktur belum terlihat mengalami kemajuan, masih banyak jalanan rusak, fasilitas umum yang kurang baik, dan kurang lengkap serta lain sebagainya. Pemerintah seolah hanya berfokus pada urusan politik, yang menyangkut masing-masing kepentingan jabatannya hingga kurang kreatif dalam usaha memajukan wilayah kota tangerang. Entah karena sikap mental yang terkonstruksi sejak zaman colonial ataukah memang proses perekrutan sumber daya manusianya yang kurang memenuhi standar atau jugakah karena kurangnya kesadaran akan sense of belonging terhadap kota ini yang membuat mereka menjadi hanya sekedar ‘gugur kewajiban’ dalam memenuhi tugasnya saja. Pemerintah kurang peka terhadap apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya, pemerintah juga kurang peka terhadap apa yang menjadi kekurangan kota ini untuk kemudian memajukannya. Sekalinya membuat sebuah regulasi, justru malah meresahkan warganya terutama kaum perempuan. Regulasi yang dimaksud disini salah satunya adalah PP Daerah No. 8 th.2005 terutama dalam pasal 4 ayat (1) yang berbunyi; “ Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur dilarang berada di jalan-jalan umum, dilapangan-lapangan, dirumah penginapan, losmen, hotel, asrama, rumah penduduk/kontrakan, warung kopi, tempat hiburan, gedung tempat tontonan, disudut-sudut jalan atau dilorong-lorong jalan atau ditempat lain di daerah,” adalah peraturan yang jelas-jelas berdasarkan asumsi belaka, dan ini tidak sesuai dengan asas pembentukan peraturan perundangan yang diatur dalam pasal 5 UU no. 10 th2004. Peraturan yang seperti ini bisa menyesatkan, salah-salah, perempuan yang bekerja dengan shif malam bisa disangka pelacur, dan ini justru bisa menjadi pelanggaran hak asasi manusia.
Oleh karena itu sebagai warga tangerang yang lahir dan besar di kota ini, saya sangat peduli dan mencintai tangerang. Saya ingin tangerang ini maju, mandiri dan menarik banyak investor kesini. Ketika keinginan untuk memajukan kota ini terlintas, ternyata banyak sekali yang mesti dibenahi. Namun, setidaknya berani memulai daripada tidak pernah sama sekali, sekecil apapun bentuknya. Persoalanya ketika hendak memulai adalah hendak memulai dari mana? Mana lebih dulu yang harus dibenahi? Meskipun berfikir untuk skala kota kecil, tetap dibutuhkan perencanaan yang matang dan serius. Akhirnya, berlagak layaknya seorang pemimpin, saya mencoba memetakan persoalan dengan mengumpulkan apa-apa saja yang mesti dikurang atau ditambahi di kota ini. Diantaranya adalah sebagai berikut;
1. Pertama yang menjadi tujuan atau focus utamanya adalah membentuk dahulu apa yang menjadi cirri dan karakteristik kota tangerang. Apa yang menjadi kepribadian kota tangerang hingga bisa membedakannya dengan kota-kotalain. bagi saya ini penting, selama ini kota tangerang tidak terasa istimewa lantaran tidak memiliki cirri budaya, tidak memiliki identitas sehingga tidak memiliki daya jual yang menarik investor datang. Jika kita lihat Jogjakarta yang terkenal sebagai kota gudeg, kerajinan tangan dan kota pelajar. Bogor terkenal sebagai kota talas, asinan dan pertanian, tangerang? Tangerang tidak memiliki ciri khas. Oleh karena itu, tangerang mesti membentuk karakteristiknya, membentuk kebudayannya lebih dahulu sehingga tangerang memiliki kepribadian yang dikenali kota lain. Tentu saja untuk membentuk karakteristik kota tangerang ini, kita mesti melihat dulu sumber daya potensial yang ada. Tangerang tidak kalah kaya dalam memiliki sumber daya alam, ada pantai, air terjun, persawahan, industry, dan lain sebagainya yang bisa dikelola. Tangerang juga memiliki kebudayaan local seperti tari cokek yang khas, makanan khas, bahasa khas, tempat-tempat bersejarah serta bangunan-bangunan khas. Tangerang juga memiliki kekhasan dalam lokalitas masyarakatnya seperti etnis Cina Benteng yang berwarna kulit beda dari kebanyakan etnis Cina pada umumnya. Tidakkah semua ini sangat potensial untuk dikelola dan membentuk kepribadian kota?
2. Secara khusus, pertama-tama yang harus dibenahi adalah persoalan tata kota. Guna menciptakan penataan kota yang teratur, tidak tumpang tindih dan tertib, baik dari segi bangunan, jalan-jalan maupun lokalisasi tempat-tempat pendidikan dan industry.
3. lalu penertiban kartu identitas penduduk, yang alangkah baiknya kartu tersebut disertai juga sebagai kartu asuransi social masyarakat. Numerisasi yang tersentral, sehingga tidak bisa diduplikasi dan multiguna. Hal ini berguna dalam mengantisipasi hak pilih ganda dan mempermudah pengidentifikasian warganya.
4. penertiban system dan struktur organisasi yang lebih ramping, padat dan efisien.; Menempatkan tenaga yang memiliki keterampilan dalam mengatasi beberapa masalah, baik secara administrative maupun social. Sehingga tidak perlu memperkerjakan banyak pegawai yang hasilnya juga tidak efektif. Selain itu, kelengkapan perangkat kerja yang serba komputerized, berteknologi sangat diperlukan guna mempermudah akses dalam bekerja. Menyederhanakan birokrasi. Tidak mempersulit warga dalam memperoleh hak-haknya. Apalagi harus membayar biaya-biaya ekstra sebagai upah uang lelah dan sebagainya. Tetapi tetap harus tegas dalam menentapkan regulasi yang ada. Misalnya pemberian izin bersyarat yang berkonsekuensi kebaikan bagi kedua belah pihak. Menertibkan oknum-oknum yang terbiasa dengan upah ekstra, korupsi dan pungutan-pungutan liar lainnya. Serta proses kerja yang disiplin dan professional.
5. Membenahi sector pendidikan. membangun pusat perpustakaan terbesar dan terlengkap di tangerang sebagai wadah data base dan pengetahuan bagi para warganya. Sebagai konsekuensi, setiap sekolah wajib memiliki ruang perpustakaan yang menyediakan kebutuhan pendidikan bagi para muridnya.
§ Menyediakan sarana hotspot dibeberapa tempat tertentu
§ Mewajibkan setiap anak untuk menguasai computer dan bahasa inggris sedini mungkin, tanpa melupakan bahasa local dan akidah agama.
§ Menstandarkan uang sekolah baik bagi swasta maupun negri, hingga pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang mahal untuk dijangkau. Atau memberikan pinjaman biaya sekolah yang bisa dilunasi setelah sekolah selesai.
6. Membenahi kebutuhan sekunder masyarakat.
Membuat tempat hiburan masyarakat yang terlengkap di kota tangerang, yang dikelola oleh swasta dan pemerintah. Seperti; dunia fantasi ancol di tangerang atau Disneyland di tangerang. Membuat tempat berkesenian terlengkap di tangerang yang memenuhi standar internasional. Dimana para seniman bisa mengekspresikan diri baik untuk pementasan drama, film, music, konser klasik dan lain sebagainya. Membuat tempat olah raga terlengkap di tangerang, sehingga mau olah raga apa saja bisa ditandingkan di tangerang.
7. Membenahi sikap mental masyarakat.
v Membiasakan menghijaukan lahan yang ada, sekurang-kurangnya menyediakan tanaman disetiap pekarangan dan mewajibkan menanam apotik hidup disetiap rumah warga.
Ø Membiasakan back to nature, daur ulang, dan pengaturan pemisahan sampah organic dan non organic.
Ø Mengantisipasi persoalan sampah kota dengan membuat pembuangan sampah disetiap desa, lengkap dengan peralatan prosesinya sehingga sampah bisa berdaya guna dan sampah tidak menjadi sampah.
Ø Mewajibkan sekolah bagi setiap generasi bangsa, apapun alasannya minimal sampai tamat SMA.
8. Bagi perusahan besar yang berinvestasi di kota ini, bisa menggantikan pembayaran pajaknya dengan memberikan bea siswa bagi setiap generasi bangsa yang cerdas, maupun yang tidak mampu. Mempersiapkan setiap desa dengan keahlian/keistimewaannya masing-masing untuk mandiri, seperti membentuk desa kerajinan dsb. Menyediakan ruang public setidaknya dimasing-masing kecamatan. Ruang public yang merupakan ruang kebebasan masyarakat untuk berekspresi dan berekreasi. Ruang bebas berdemonstrasi, memaki, berkreasi dsb.. asal bebas bertanggungjawab.
Akhirnya, meski barangkali belum semua tertuang apa yang mestinya dibenahi dan disempurnakan setidaknya, impian mewujudkan kota kecilku yang tercinta ini lewat siapa saja yang hendak menjadi pemimpinnya semoga gagasan-gagasan ini bisa terwakili. 131008