Senin, 29 September 2008

Monkey thinking..???

Yang tiap hari diperbudak manusia untuk menghidupi kebutuhannya
Diajak keliling kampong untuk beratraksi…demi sekeping rupiah
Dengan leher terikat rantai panjang, mereka menarik, menghentak bahkan kadang mencambukku dengan libasan rantai tersebut. Mengharap aku patuh pada setiap permintaannya
Mereka tak peduli pada lelahku, pada sakitnya rantai yang menjerat leherku…
Mereka tak merasa kasihan padaku…padahal aku merasa kasihan pada mereka..
Aku bi sa hidup tanpa mereka, tapi mereka tak bi sa hidup tanpaku…
Akulah harapan masa depannya, akulah kepala keluarganya, akulah yang memberinya nafkah pada istri dan lima anak mereka…
Jika bukan karena aku kasihan pada mereka, aku mungkin sudah mencabik-cabik wajahnya…
Tapi mereka tak merasa kasihan padaku…ataukah mereka terlalu mencintaiku????
Apakah manusia itu mencintaiku hingga harus membelengguku dengan rantai agar aku tak pergi?
Apakah manusia itu takut kehilanganku hingga mau merawatku dengan kemiskinan mereka sendiri?
Aku bingung dengan cinta manusia dan hewan peliharaannyaa…
Lagi-lagi kupertanyakan batasan cinta dengan nafsu sejauh mana….
Hingga akhirnya kupertanyakan lagi, apakah manusia itu punya cinta??
Apakah itu wujudnya cinta???
Berkilo-kilo meter mereka membawaku keliling desa…
Dengan raut lelah terus mengejar rupiah demi rupiah…setiap kali tampil, alunan gamelan seadanya mengiringi penampilanku…aku harus tetap focus dan konsentrasi! Jika tidak, mereka akan menghentakkan rantai yang akan mencambukku, atau mereka menarik rantai itu hingga aku tak bisa bernafas…mereka tak peduli jika aku sangat kelelahan…tigapuluh kali beratraksi seharian…
Aku benar-benar kelelahan…mataku mulai berbayang, tubuhku gontai kekiri ke kanan…aku tak bisa berdiri tegak lagi…brakkk!!! Aku pun tersungkur…gamelan terus dinyanyikan. Mereka tak tahu aku pingsan, mereka malah bertepuk tangan. Seolah itu menjadi bagian atraksiku. Sang pawang terus menghentak-hentakkan rantainya, menarik tubuhku entah keberbagai arah…aku tetap tersungkur…
Pelan-pelan kugerakkan kaki dan tangan…berupaya lagi untuk bangun, kulihat sekelilingku para manusia itu sedang riang menertawakanku…seorang bocah menghampiri dan menjambak kepalaku…aku Cuma bias diam…dunia disekitarku terasa berputar begitu cepat. Samar-samar ku melihat teman-teman keraku sedang asyik bergelayutan dialam bebas…bercanda dari satu dahan kedahan lainnya…
Tak ada rantai yang menjerat leher mereka, tak ada tarian konyol yang harus tiap hari dilakoninya. Gelak tawa mereka dipucuk pepohonan seolah turut menertawakan nasibku yang menjadi budak manusia.
Andai mereka tahu, aku sedang berjasa…pada manusia yang tak tahu berbalas jasa…
Aku sedang memperpanjang usia dan kehidupan mereka, demi kelima anak-anak mereka…
Jika aku tidak bekerja, kelima anaknya tak bisa makan apa-apa…karena Cuma aku yang mereka punya…
Tak ada kemampuan, tak ada pengetahuan, tak ada kebisaan. Kalo aku boleh bilang, mereka itu tak jauh berbeda denganku. Atau bahkan lebih bodoh dari aku yang Cuma seekor kera. Bagaimana tidak, aku bisa mencarikan mereka uang, aku bisa hidup cari makan sendirian, dilepas dimanapun aku bisa cari makan, tapi mereka….??? Biarlah urusan siapa yang dapat pahala atau tanda jasa, biar menjadi urusan Tuhan. Kalau aku diperbudak manusia, karena entah kecintaanya ataukah karna kepentingannya saja…
Merekapun akan diperbudak lagi oleh kebodohannya, kemiskinannya dan dunia.
Begitu juga manusia yang sudah kaya, mereka memperbudak para pekerjanya dan mereka pun diperbudak lagi oleh uang dan kekuasannya…mereka pikir mereka sudah kaya dan berkuasa, padahal mereka Cuma budak dari uang, kekuasaan dan nafsu mereka saja.
Justru orang yang berkuasa itu adalah orang yang sudah bisa membebaskan dirinya dari segala hasrat dunia. bisa mengendalikan hasrat dirinya. bisa menguasai dirinya dari keinginan-keinginan dan nafsu yang tak pernah ada puasnya…
Selama tubuh keraku masih ada, biarlah kuabdikan hidupku untuk manusia ini. Setidaknya mereka kadang tidak membedakan aku diantara anak-anaknya. Setidaknya aku berbuat baik sesama manusia, eh kera, eh entahlah. Kuharap para manusia yang memperkerjakanku ini belajar hiduplah dariku….(tertanda, kera, yang bukan kura dan tidak kere) 21808thaz.