Senin, 25 Agustus 2008

SEBUAH NEGARA DALAM KERETA

Saat itu adalah perjalanan saya menuju kota Bogor. Dengan menggunakan kereta api saya mencoba menghilangkan penat kota Jakarta bersama seorang teman. Selama ini, bukan tidak pernah saya menggunakan jasa kereta tetapi sangat jarang dan bisa dihitung dengan jari selama hidup saya naik kereta dalam kota. Selebihnya saya lebih sering berkendaraan sendiri atau naik motor ojek.Selama dalam perjalanan itu, saya sudah menghitung lebih dari 20 jenis dagangan yang ditawarkan. Belum termasuk pekerja jasa dan sejenisnya seperti pengamen, pengemis, peminta dana sumbangan, penyapu kereta, penyanyi karoke serta penyaji atraksi topeng monyet. Mereka terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai anak dibawah umur sampai kakek dan nenek-nenek.Sementara dari segi komunitas masyarakat yang ada dikereta tersebutpun beraneka ragam. Ada komunitas pelajar, pekerja, pedagang, pengusaha bahkan sampai komunitas masyarakat yang memiliki keunikan tersendiri seperti para punker hampir mendominasi pengamatan saya selama perjalanan dikereta. Belakangan diketahui, memang komunitas para punk ini lumayan banyak di kota Bogor.Kereta api bukan saja menjadi alat transportasi yang murah meriah dan anti macet, namun juga menjadi ajang bisnis yang strategis. Banyaknya transaksi jual beli dalam kereta seolah menjadi dunia tersendiri, kereta api menjadi semacam ‘walking store’ yang bebas pajak dan bebas biaya sewa tempat.Disisi lain, padatnya jumlah penumpang dan para pedagang seolah tidak mengganggu kenyamanan penggunanya. Hal ini nampaknya juga tidak disia-siakan oleh para pencopet dan para pencabul jahil untuk memperoleh kesempatan. Diantara desakan dan sesaknya isi gerbong, mereka beraksi untuk mencuri. Sementara para pencabul jahil tak kalah saing untuk bisa menikmati asyiknya berdempetan dengan penumpang wanita dan sesekali mendorongkan badannya seolah mengikuti liuknya laju kereta. Tak jarang mereka menempatkan tangan-tangan jahilnya diposisi vital wanita sehingga ketika terjadi hentakan dan tarikan rem kereta tangan tersebut mendarat dilahan yang tepat.Rasanya saya tidak sempat memperhatikan pemandangan indah diluar kereta sepanjang perjalanan itu. Padahal tujuan saya adalah agar bisa menikmati kota-kota yang terlewati beserta pemandangannya. Hal ini, dikarenakan pemandangan di dalam kereta ternyata begitu beragam dan lebih menarik perhatian. Dunia dalam kereta adalah salah satu sisi kehidupan tersendiri, seperti sebuah ‘negara’ kecil berjalan (moving country) . Betapa tidak, semua yang terlihat dalam sebuah kota ada dan tumplek komplit di dalamnya. Sebuah negara yang mirip dengan konsep negara alami yang diidealkan John Locke. Negara yang bebas untuk mengatur orang-orang dan hartanya, dimana tak seorangpun boleh merugikan orang lain dalam hidupnya, kesehatannya, kebebasannya atau kepemilikannya (locke: 2002:818). Masing-masing survive bagi dirinya, sehingga seolah tidak lagi memerlukan seorang presiden untuk menjadi pemimpinnya. Bukan saja mereka tidak sempat memikirkan soal negara, barangkali (pemimpin) negaranya itu sendiri pun tidak sempat memikirkan nasib mereka, seonggok komunitas dalam sebuah kereta.Komunitas dalam kereta seolah menjadi tersubordinasi dari dunia luar kereta. Di Barat, masyarakat yang terpinggirkan biasanya membentuk komunitasnya sendiri di bawah stasiun-stasiun kereta, atau yang disebut ‘underground people’. Di Indonesia, justru komunitas itu terbentuk di dalam kereta itu sendiri.Negara dalam kereta tidak saja tak terjangkau pajak dan biaya sewa tempat, namun juga tak terjangkau oleh hukum. Tindak kekerasan terhadap perempuan melalui tangan-tangan jahil oknum penumpang, pencopetan, serta hak-hak perlindungan anak tidak terlihat disini. Tidak hanya itu, pelacuran dalam kereta yang sudah menjadi fenomena lebih tak tersentuh lagi. Jangankan dalam kereta, dalam keseharian saja di negara ini belum jelas aturan yang berkenaan membahas soal pelacuran. Maka tak heran, bila transaksi esek-esek dalam kereta menjadi peluang yang aman bagi para laki-laki dan perempuan jalang. Selain itu, hak-hak dimana anak seharusnya mendapat perlindungan hukum, dalam negara kereta itu tidak berlaku. Seperti tiga orang bocah yang berusia sekitar 4 hingga 7 tahun yang asyik bermain gamelan, gendang dan menarik-narik monyetnya untuk dipertunjukkan. Padahal, saat itu jam menunjukkan pukul 20.15 wib. Mereka beratraksi mulai pagi hingga kereta usai. Tak kenal sekolah, tak kenal lelah, demi recehan rupiah. Salah seorang bocah yang terkecil menangis, ketika monyet yang dikendalikannya tidak mau beraksi menuruti perintahnya. Wajah mungilnya menunjukkan kekesalan dan lelah. Miris sekali rasanya hati, ketika melihat tiga orang bocah cilik yang sedang beratraksi topeng monyet itu. Miris juga hati ketika melihat si monyet yang lehernya terikat rantai panjang berlari kemudian ditarik dengan cara dihentakkan oleh bocah . Saya jadi merasa ikut tercekik melihatnya. Diluar itu, atraksi ini sangat menarik perhatian para penumpang. Tidak saja bocah-bocah itu pandai bermain gendang dan gamelan tetapi juga lebih jauh lagi, mereka begitu kuat dan tahan bantingan; baik secara fisik maupun mentalnya.Bukan hanya bocah-bocah itu saja yang bekerja sebagai penyaji topeng monyet, masih banyak bocah-bocah pekerja lain yang memanfaatkan situasi dalam kereta tersebut. Diantaranya ada yang menjadi penyapu kereta. Tentu saja bocah itu bukanlah pekerja kebersihan resmi kereta, namun mereka menyapu secara sukarela berharap penumpang yang iba memberinya rupiah. Ada juga yang menjajakan mainan, rokok, buah-buahan hingga peminta-minta. Bocah-bocah itu mencoba survive di negara kereta dan harus bersaing dengan mereka yang dewasa. Hal tersebut sangat rawan kekerasan, mengingat usia mereka yang masih belia dan tekanan, ancaman bahkan kekerasan fisik dari orang dewasa bisa saja mereka alami. Mereka dibentuk oleh kondisi hingga bisa jadi, kekerasan dan ancaman sudah bukan sesuatu yang menakutkan mereka lagi. Hukum dalam negara kereta seperti hukum alam, siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Namun, dilihat dari kondisi tersebut yang sudah berjalan lama, akhirnya terbentuk juga suatu solidaritas diantara sesama pekerja. Antara pekerja anak dan orang dewasa tampak terjalin suatu keharmonisan untuk menjalankan aktivitasnya masing-masing tanpa saling mengganggu. Barangkali, kesamaan tujuan dan kesamaan kondisi dalam menempuh cara untuk mempertahankan hiduplah yang mengkonformiskan mereka. Akhirnya secara alami mereka belajar untuk saling menghargai, meski kekerasan tentu tak kan begitu saja hilang dirasakan.Kereta, menjadi kantor, ruko, pasar, kafe, dan bahkan hotel bagi mereka yang tuna wisma. Kereta menjadi tempat beraneka transaksi bisnis, baik barang maupun jasa. Tempat dealing bisnis pengusaha maupun dealing kencan lelaki hidung belang. Kereta juga menjadi sarana bisnis yang efektif dan efisien dalam hal biaya; cukup dengan membeli tiket seharga 2000an bahkan ada yang tidak perlu membayar asal tidak ketahuan petugas tiketnya. Tak ada pungutan pajak, sewa tempat, biaya keamanan, kebersihan atau biaya-biaya lainnya. Cakupan wilayahnya antar kota, cepat, tidak macet dan strategis.Kehidupan dalam kereta berjalan secara begitu saja, seolah tidak memerlukan sebuah negara karena mereka menjadi negara dalam negara dengan aturan dan sistem yang alami. Kereta menjadi sarana yang tepat bagi mereka yang ingin membangun self esteem atau personality. Kereta menjadi tempat uji nyali bagi mereka yang tidak punya rasa percaya diri. Sebut saja kegigihan tiga bocah penyaji topeng monyet atau segelintir anak muda dengan gaya rambut punk dan warnanya yang menyala, begitu eksis tak tergubris oleh rasa minder dan cuek saja. Tak ada beban, tak memikirkan takut ketinggalan trend merek versace atau lainnya. Bagi para punker, tak perlu kocek mahal untuk bisa menjadi diri yang berbeda. Serta bagi bocah pekerja, tak perlu sekolah mahal untuk bisa menghidupi dirinya.Fenomena dalam kereta menjadi aspirasi bahkan inspirasi bagi mereka yang kehabisan gagasan dalam kreativitasnya.