Jumat, 22 Agustus 2008

POLIGAMY = DOMINASI

Beberapa waktu yang lalu..Isu yang paling menarik saat ini di negri tercinta Indonesia adalah mengenai pernikahan poligamy. Isu ini mencuat setelah seorang ulama muda yang dianggap mewakili zamannya (modern) melakukan pernikahan untuk kedua kalinya dengan seorang janda muda yang cantik. Pernikahan tersebut dilakukan atas persetujuan istri pertamanya yang ingin membuktikan rasa cinta dan pengabdian kepada Tuhannya, bukan kepada suaminya. Sementara sang suami mengakui pernikahan tersebut dilakukan demi menolong kehidupan seorang janda yang kebetulan adalah karyawannya sendiri.
Sebagai tokoh panutan umat, apa yang telah dilakukannya itu telah banyak mengundang keresahan masyarakat. Betapa tidak, ulama muda itu sudah menjadi contoh keharmonisan rumahtangga yang sakinah dan ideal menurut ukuran umatnya. Kepercayaan umat atas simbol kebaikan, pengetahuan dan pribadi yang tanpa cela seolah ternoda oleh poligamy yang dilakukannya. Seketika kepercayaan dan penghargaan umat sirna, berganti dengan keengganan dan ketidak percayaan. Masyarakat seolah kehilangan tokoh panutan, kaum perempuan terutama, takut para suaminya meniru apa yang dicontohkan gurunya. Maklum saja, guru itu kata istilah orang Jawa, di gugu dan ditiru, bahwa apa yang menjadi perilakunya akan diikuti oleh muridnya. Ketakutan ini jelas beralasan, lantaran apa yang dilakukan sang guru seolah menjadi legitimasi dan sekaligus sosialisasi terhadap perilaku berpoligamy.
Perihal poligamy itu sendiri secara hukum positif sudah ada dalam pasal 4 UU tentang perkawinan tahun 1974. Dimana pada ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa seorang suami diperbolehkan berpoligamy jika istri sudah tidak dapat lagi menjalankan kewajibannya, memiliki cacat tubuh yang tidak bisa disembuhkan lagi atau tidak dapat melahirkan keturunan. Sementara dalam hukum agama (Islam) poligamy juga tidak dilarang sejauh mampu menjalankan apa yang menjadi syaratnya. Dalam surat An-nisa ayat 4 disebutkan bahwa seorang lelaki boleh menikahi dua, tiga sampai empat orang wanita sejauh ia bisa berlaku adil. Akan tetapi sesungguhnya manusia itu tidak bisa berbuat adil, jika begitu cukup satu saja.
Jelas, dari kedua pernyataan hukum tersebut mengatakan bahwa poligamy memang diperbolehkan, tapi sebenarnya tidak semudah itu. Ada syarat-syarat lain yang harus dipenuhi. Misalnya saja dalam hukum positif yang sudah diperbaharui tahun 2004, poligamy harus atas persetujuan pengadilan, persetujuan istri pertama dan secara materi berkecukupan. Sementara dalam hukum agama, poligamy itu harus memenuhi syarat utamanya yakni berlaku adil. Mengapa dalam Alquran disebutkan syaratnya demikian? Karena sesungguhnya zaman dahulu itu laki-laki sangat leluasa untuk sesuka hatinya menikahi wanita-wanita yang diinginkannya. Wanita seolah menjadi sebuah baju yang sekali pakai dan tak berguna. Lalu datang Rosulullah SAW memperbaiki kondisi tersebut. Ia mencoba mengangkat harkat wanita dengan mengurangi jumlah banyaknya berpoligamy menjadi empat orang saja. Suatu batas maksimal dari ukuran yang seharusnya yakni satu.
Al quran memang tidak langsung menyatakan tidak boleh menikahi wanita lebih dari satu, karena rosulullah memahami perbedaan berbagai macam tingkah umatnya serta hikmah-hikmah kebaikan dibalik semuanya. Untuk itu, Alquran menyatakan boleh asal bisa berlaku adil. Kata adil itu sendiri merupakan kunci jawaban dari pernyataan yang hendak disampaikan sebenarnya, yakni satu saja. Hal tersebut dikarenakan manusia cenderung tidak bisa berlaku adil, apalagi yang menyangkut soal hati dan rasa cinta. Sementara adil itu sendiri relatif sifatnya. Jadi jelaslah sebenarnya bahwa Alquran menyatakan sebaiknya tidak berpoligamy, cukup satu istri saja. Disisi lain, membolehkan sampai batas empat orang, bisa saja dilakukan jika peruntukannya jelas membawa manfaat. Misalnya, seorang lelaki yang berkecukupan secara materi dan mengawini seorang janda yang beranak banyak sedangkan si janda tidak memiliki kemampuan secara ekonomi untuk menghidupi anak-anaknya. Ini jelas niat dan peruntukkannya. Adapun tidak diharuskan lebih dari empat, ini sebagai ukuran batas kemampuan seorang lelaki yang terkaya sekalipun dalam mengawini mereka agar tetap dapat terkontrol tidak hanya sebatas materinya saja namun juga komponen-komponen yang lain diluar itu.
Dengan demikian, al quran sebenarnya sudah sangat bijaksana memberikan pilihan kepada umatnya. Sudah mempertimbangkan segala aspeknya dengan pilihan-pilihan antara empat dan satu. Jadi tidak sembarangan. Lepas dari itu semua, nilai utama yang bisa diraih disini adalah justru untuk mengangkat harkat wanita bukan justru untuk memposisikan wanita sebagai objek yang mudah dinikahi atas dalil agama. Selain itu pula, seorang suami yang mempoligamy janda-janda miskin yang beranak banyak itu akan melepaskan prasangka-prasangka negatif dari istri pertamanya. Bahkan justru nilai ibadahnya akan terlihat baik oleh sisuami yang memang berniat membantu dan oleh si istri yang ikhlas atas niat baik suaminya.
Jika alasan suami berpoligamy demi meniru perilaku Rosulullah, sebaiknya kita cermati lagi. Rosulullah menikahi istri pertamanya Siti Khodijah, dimana Khodijah itu seorang janda dan telah berusia 40 tahun. Dari sini saja kita sudah bisa melihat jika orientasi Nabi menikahinya bukan karena sex atau fisiknya yang pertama. Jika orientasi pertama Nabi adalah sex (syahwat) dan fisik, pasti Aisyah lah yang akan jadi istri pertamanya. Dimana Aisyah adalah istri Nabi satu-satunya yang perawan. Kedua, Rosulullah adalah karyawan atau bawahan Khodijah, alias Khodijah adalah bosnya Nabi. Jika lelaki selama ini identik dengan kekuasaan, Nabi justru menunjukkan bahwa dirinya memiliki kerendahan hati sebagai pegawai Khodijah yang notabene perempuan. Jadi awalnya bukan lahir dari arogansi dan egoisme kebanyakan laki-laki. Tapi justru dari rasa penghormatan dan penghargaan Nabi kepada Khodijah yang perempuan janda, lebih tua dan juga majikannya. Ketiga, istri-istri Nabi yang dinikahi selanjutnya juga janda-janda yang ditinggal gugur suaminya dimedan perang, baru setelah itu Aisyah. Aisyah pun bukan seorang ABG yang sedang ranum-ranumnya atau seorang perawan tua. Ia dinikahi Nabi ketika usianya 9 tahun, usia tepat awal perempuan menginjak masa kegadisan atau usia pertama perempuan mendapat menstruasinya. Jadi, Nabi bukan menikahi anak-anak juga, meski Aisyah menjadi istri yang termuda.
Dari semua itu yang perlu dipetik hikmahnya adalah niat dan orientasi Nabi ketika menikahi istri-istrinya bukan diawali oleh egoisme diri. Baik rasa berkuasa sebagai laki-laki, sex, fisik maupun arogansi. Dalam hal ini, sekalipun Muhammad seorang Nabi, ia juga manusia, pernah juga bermasalah dengan para istri-istri yang mencemburuinya. Apalagi kita yang bukan Nabi, tidak berpoligamy saja sering bermasalah apalagi berpoligamy. Ada yang mengatakan; satu istri satu masalah, dua istri dua masalah, lebih dari dua istri lebih banyak masalah lagi.
Pada realitas sekarang, poligamy yang dilakukan hanya mengutip sebagian dari perilaku Nabi dan sebagian dari dalil ayat dalam Alquran saja. Sebagian dari perilaku Nabi maupun dalil Quran yang ditiru hanya pada ukuran kuantitas saja, yakni boleh poligamy hingga empat orang. Tidak pada kualitas yang terkandung dalam syarat, orientasi dan niat ibadahnya. Perilaku Nabi maupun dalil itu lalu dikonstruksi sedemikian rupa hingga seolah menjadi legitimasi kaum laki-laki untuk bisa menikah lagi. Apalagi dalam ketentuan hukum islam, tidak ada syarat harus meminta izin istri pertama. Kesemuanya itu lalu dimanfaatkan menjadi sebuah tiket kekuasaan laki-laki untuk melanggengkan perbuatannya. Tidak heran jika sekarang banyak suami menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dan lebih muda dari istri pertamanya.
Jika suami berpoligamy pada istri yang lebih cantik dan lebih muda apalagi berpenghasilan, peruntukkannya kurang tepat dan niatnya juga diragukan. Istri mana yang tidak ketir hatinya melihat suami menikah lagi dengan wanita yang lebih cantik dan lebih muda darinya? Dimana unsur nilai ibadah yang sebenarnya?( Sekalipun dikatakan menikah itu sendiri suatu ibadah, pernikahan yang seperti apa? Pernikahan yang dilandasi kasih sayang dan keimanan serta pengetahuan tentunya, sehingga setiap keputusan yang dilakukan selalu atas pertimbangan bersama, tidak sepihak baik lahir maupun batinnya. Termasuk dalam memutuskan untuk berpoligamy). Apa karena cantiknya? Karena mudanya? Tentu ini sangat tidak tepat. Bisa-bisa justru akan menimbulkan banyak masalah. Misalnya timbul cemburu yang berlebihan satu sama lain, saling bersaing cari perhatian, atau justru mematikan cinta di dalamnya dan merubah tujuan pernikahan dari niat ibadah menjadi niat sekedar cari makan saja? Wallahu alam.
Oleh karena itu, sesholehah apapun istri pertamanya pasti hatinya tidak terlalu ikhlas. Penerimaan si istri pertama dalam hal ini bisa jadi hanya karena kepatuhan semata kepada suami atau lepas sama sekali kepatuhannya kepada suami dan hanya untuk pengujian dirinya kepada Tuhannya saja. Atau juga karena ketidak mandirian secara ekonomi, ini biasanya yang menjadi faktor dominan. Jika ini yang terjadi, maka perempuan yang menjadi istri pertamanya sebenarnya telah membodohi dirinya sendiri. Lepas dari apapun niat dan ungkapan verbalnya. Ini adalah suatu keterpaksaan, dan keterpaksaan adalah ketidak bebasan. Keterpaksaan merupakan kondisi seseorang dibawah tekanan atau paksaan orang lain. Segala sesuatu yang dilakukan atas dasar tekanan atau paksaan adalah sebuah bentuk kesewenangan interferensi. Dalam hal ini seorang filsuf Australia, Philip Pettit mengatakan;
‘When you are not dominated, then, you enjoy the absence of interference by arbitrary powers, not just in the actual world, but in the range of possible worlds where contingencies of the kind mentioned have a different, less auspicius setting. Those who are attached to the ideal of non interference value the fact of having choice--- the fact of non interference---whether the choice is dominated or not; those who embrace the ideal of non domination value the fact of having undominated choice, but not necessarily the fact of having choice as such. (Pettit,1997:25)

(ketika kita tidak didominasi, maka kita menikmati ketiadaan interferensi yang semena-mena dari orang lain (kekuatan lain), tidak hanya dalam dunia yang sebenarnya namun juga dalam dunia yang mungkin kebetulan berbeda. Mereka yang mengikatkan diri dalam cita-cita Non Interferensi pada dasarnya memiliki pilihan—untuk tidak terinterferensi---meskipun pilihan itu didominasi ataupun tidak didominasi, mereka yang memilih cita-cita Non dominasi pada dasarnya memiliki pilihan untuk tidak ingin di dominasi, tetapi tidak mesti memiliki pilihan seperti hal tersebut).

Begitu pula dalam sistem hukum positif kita seperti yang telah disebutkan dalam pasal 4 undang-undang perkawinan tahun 1974, bunyi dari ayat-ayatnya tentang poligamy seolah memposisikan perempuan sebagai pelayan suami saja. Bunyi ayat itu terkandung pengertian jika istri sudah tidak bisa melayani karena cacat atau tidak bisa melahirkan keturunan, suami bisa cari gantinya lagi. Seakan terlihat jika seorang istri itu hanya pelayan nafsu suami saja. Dimana suami (baca=laki-laki) menginginkan suatu kesempurnaan terhadap perempuan yang dijadikan objeknya. Jika kemudian perempuan yang dijadikan istrinya itu ada kecacatan, ia (laki-laki) dengan mudahnya ( legalitas hukum) mencari yang lebih sempurna. Ini sangat tidak adil bagi kaum perempuan. Hukum itu tidak menyebutkan bagaimana jika sebaliknya? Suami yang cacat? Mandul atau tidak berfungsi alat kelaminnya sehingga tidak bisa memuaskan istri? Apakah istri boleh menikah lagi? Dimana letak penghargaan dan nilai kemanusiaan manusia terhadap manusia lain yang memiliki kekurangan dalam dirinya? Apakah menjadi kesalahan perempuan jika ia tidak bisa melahirkan atau cacat, sehingga ia tidak layak mendapat kebahagiaannya? Hukum ini jadi terlihat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Bahkan sangat kontradiktif dengan pasal 28 UUD 45 yang menyatakan setiap orang sama kedudukannya di dalam hukum.
Akibat hukum yang diskriminatif ini, perempuan jelas menjadi korban. Poligamy tidak saja menjadi suatu produk pemicu kekerasan domestik tetapi juga menjadi suatu bentuk komoditi perempuan.