Rabu, 27 Agustus 2008

Multikulturalisme- PerempuanWamena

Desa Jiwika terletak di lembah,dikelilingi dinding pegunungan Jayawijaya dengan ketinggian 4750 m, dpl. Oleh filsuf Belanda di beri nama Lembah Baliem,karena dihuni oleh masyarakat atau’’suku bangsa’’yang berkulit hitam,dan kaum lelakinya memakai koteka,dan perempuan memaki rumbai-rumbai dengan dada terbuka tanpa busana,dengan suhu rata-rata 12.4 derajat celcius dan curah hujan rata-rata 2.082 mm atau 233 hari dalam setahun sehingga cocok untuk bercocok tanam,yang terkenal hasil umbi-umbian,dengan 53 jenis varitas.Sebelum Indonesia merdeka beberapa antropolog baik luar maupun dalam negri seperti Jan boeliars,Van de Bergh,Hoagenband HI,Penters,OFM,Van Nunen,Chairol Haider,Wen Sargine ,Koentjaraningrat, Parsudi Suparlan dan lain-lain, telah mengangkat irian jaya ke dalam berbagai manuskrip, juga menjadi sasaran misi zending. Pastor,pendeta,suster,dan para penginjil katolik dan keristen.Desa Jiwika didiami oleh suku dani yang merupakan salah satu suku dari 375 suku yang ada di Irian Jaya. Pada umumnya mereka sangat tergantung pada alam, dengan kondisi budaya yang sederhana dan saling ketergantungannya dengan alam membuat mereka bisa menjaga ekosistem yang ada.Perjodohan Perempuan WamenaPerempuan di Jiwika cenderung kawin pada usia muda, karena pemilihan jodoh ditentukan oleh orang tuanya, setelah haid pertama orang tua sudah berhak untuk mengawinkan anak gadisnya dengan lelaki selera orang tuanya. Untuk anak laki-laki usia kawin diatas 15 tahun atau sesudah masa inisiasi selesai, anak laki-laki harus rajin membantu ibunya karena mas kawin yang berupa babi dimiliki ibunya. Bila anak laki tidak mau membantu ibunya bisa menjadi anak yang malang atau kurang beruntung karena ibunya bisa marah dan tidak akan memberikan mas kawinnya sehingga ia tidak bisa kawin dan menjadi perjaka tua, karena dianggap pemalas kadang menjadi gila dan disisihkan masyarakat.Pertemuan jodoh di desa jiwika disebut pesta Mawe,diadakan setiap lima tahun sekali dari tiap-tiap desa,pesta diadakan di tempal lapangan terbuka dan dihadiri oleh mereka yang memenuhi syarat seperti mas kawin,usia dan lain-lain.pada umumnya yang datang perempuan yang sudah menstrusi dan laki laki yang punya babi,apabila laki laki menginginkan perempuan maka orang tua perempuan didekati dan tawar menawar, mas kawin tergantung tawaran minimum 4 ekor Babi.biasanya orang laki laki yang sudah punya istri juga bisa ikut asal punya banyak babi.dan dalam perjodohan anak gadis sebelumnya tidak pernah kenal.PerceraianDalam kasus perceraian biasanya disebabkan oleh si istri yang menyeleweng karena kurang perhatian dari suami dan sering terjadi pertengkaran dalam keluarga. Biasanya si istri yang melakuan penyelewengan di biarkan oleh suaminya karena semakin sering ia melakukan penyelewengan, semakin banyak pula denda yang suami dapatkan. Suami akan menuntut pria yang melakuan penyelewengan dengan istrinya dengan denda 20 ekor Babi.KematianBila ada anggota keluarga yang meninggal, maka perempuanlah yang harus melakuan ritual duka cita dengan cara melumuri seluruh tubuhnya dengan Lumpur selama satu tahun. Selain itu mereka juga harus memotong jari-jarinya sampai ruas, tergantung berapa banyak saudaranya yang meninggal. Ada juga yang harus dilakukan perempuan selain kedua hal tersebut, yaitu dengan mengiris kupingnya sedikit demi sedikit dengan sembilu, namun meskipun menyakitkan mereka tetap melaksanakanya dengan iklas demi adat istiadat bahkan mereka tetap ceria menikmatinya meskipun sebenarnya mereka diperalat oleh adat istiadat setempat.Perempuan Wamena dan beban kerjaAda cara lain untuk mengurangi beban kerja yang berat bagi perempuan di desa Jiwika yaitu dengan menyuruh suaminya kawin lagi. Semakin banyak babi yang mereka miliki tak cukup tenaga istri untuk mengurusnya, semakin leluasa suami kawin lagi. Dengan menyuruh suami kawin lagi beban kerja dapat dipikul bersama. Bagi perempuan Irian, adalah tabu bila yang menjadi urusan rumah tangga dibantu oleh suami karena perbuatan itu bukan suatu penghormatan yang baik bagi suaminya. Bagi mereka, semakin babi terurus semakin makmur status social mereka, karenanya mereka kadang lebih memperhatikan babi mereka ketimbang anaknya sendiri bahkan ada yang sampai menyusui babi (bukan baby) nya. Kemudian dengan datangnya para misionaris barulah mereka mengubah kebiasaannya tersebut. [1](sumber diperoleh melalui media Journal Perempuan edisi XIII tahun 2000).
Melihat kasus perempuan Wamena mengingatkan hal yang serupa dengan kasus Sati yang terjadi di India. Perempuan janda yang menceburkan dirinya kedalam pembakaran mayat suaminya adalah tradisi penghormatan istri terhadap suami, begitu pula jari-jari tangan perempuan Waimena yang harus dipotong tiap kali ada saudaranya yang meninggal atau mengiris telinga mereka dengan sembilu adalah tradisi penghormatan mereka terhadap anggota keluarganya yang berduka.Ini adalah gambaran perempuan yang oleh Gayatri Spivak disebut dengan subaltern.[2] Perempuan-perempuan yang terjajah oleh adat istiadat mereka. Seperti halnya teori Spivak mengatakan bahwa perempuan subaltern itu mengalami kekerasan epistemis; terjajah baik secara internal maupun eksternal. Secara internal mereka terjajah oleh adat istiadat masyarakat mereka yang jelas merugikan pihak perempuan disatu sisi (pascakolonial) dan mengukuhkan dominasi patriarkhi disisi lain.(kolonialis, imperialis Barat atau dunia kesatu).Perempuan sebagai pascakolonial yang tidak identik dengan dunia ketiga oleh Spivak dimaksudkan bahwa meskipun perempuan telah berupaya untuk mencapai rekognisinya untuk homogenitas entosentris (Barat, kolonial atau dunia pertama) akan sama halnya untuk semakin mengukuhkan peranan etnosentris itu sebagai logosentris dalam kultur masyarakat tersebut. Akhirnya memposisikan perempuan sebagai subordinat. Artinya kembali diposisi sebagai subaltern, posisi yang tetap terjajah karena dalam proses aplikasinya perempuan justru akan dihadapkan kepada persoalan-persoalan baru.Sebagai contoh dari kasus sati di India, yang berawal dari tradisi yang merugikan perempuan dengan penceburan dirinya dalam pembakaran kemudian tradisi tersebut dihapuskan oleh kolonial Inggris dalam upaya penyelamatan perempuan. Begitu pula dengan kasus perempuan Waimena yang harus memikul beban berat kehidupannya dan cara penghormatan mereka yang harus mengorbankan pemotongan jari-jari tangannya. Sampai misi zending datang untuk mengikis adat itu secara perlahan.Upaya tersebut memposisikan perempuan sebagai yang diselamatkan oleh lelaki…..akibat kolonialisme yang kemudian membuat perempuan lebih memiliki emansipasi….atau pascakolonial yang bergantung pada dunia pertama. Bentuk-bentuk yang hanya dirubah dari tradisi menjadi legal, karena legalitas erat kaitannya dengan konstitusi dan konstitusi merupakan produk kolonial dunia pertama. Yang pada akhirnya tetap saja perempuan diposisi yang disingkirkan, terjajah dan menjadi subaltern.Secara eksternal yang dimaksudkan adalah, posisi perempuan setelah peralihan good society oleh kolonialis tadi, dimana perempuan berupaya untuk satu suara (identitas cultural kolektif ) dapat berbicara atas nama mereka sendiri pun masih tetap mengandalkan intelektual kolonialisme sebagai penguatnya. Sehingga perempuan kemudian terposisikan sebagai subordinat, subaltern.Kolonialisme telah menekan masyarakat lewat mekanisme Oedipus Complex begitu kata Guattari dan Deleuze, [3] dengan kata lain, kolonialisme itu seolah menjadi Oedipus Complex dalam istilah Freud; kecenderungan untuk bergantung, mencintai ataupun berpihak kepada ibunya. Kolonialis disini adalah ibu bagi para dunia ketiga. Kolonialisme masuk melalui berbagai cara, salah satunya adalah dengan kekerasan fisik, pemaksaan melalui proses deteritorialisasi. Proses ini yang kemudian menjalin relasi antara kelompok penjajah dan yang dijajah, namun proses ini dengan sendirinya akan mengarah pada reteritorialisasi atau akulturasi, dimana ada persinggungan antara kebudayaan yang menjajah dan yang dijajah yang kemudian menghasilkan sesuatu yang baru. Hibriditas ras adalah salah satu kemungkinan produk akulturasi yang bisa muncul dari persinggungan dua kebudayaan ini.[4]Kiranya hal seperti itulah yang terjadi di Waimena, kehadiran para misi zending, misionaris adalah kata lain dari kolonialis yang masuk dengan cara penginjilan dan mereka menempati wilayah-wilayah jajahannya (deteritorialisasi) dan mengembangkan ajarannya sehingga ada pertukaran kebudayaan antara adat tradisi memotong jari, mengiris telinga dan melumuri tubuh dengan Lumpur ataupun mengurangi beban kerja perempuan Waimena dengan konstruksi yang lebih modern, lebih beradab; (adat tersebut dihilangkan perlahan) menurut versi kolonialis. Kemudian dari persinggungan kultur ini menghasilkan hibriditas ras baru, pascakolonial. (Seperti halnya Spivak yang menganalogikan perempuan subaltern dengan pascakolonial. )Peralihan evolusi tradisi yang merugikan perempuan oleh kolonialis yang kemudian dirubah menjadi yang lebih baik dan beradab adalah tujuan lain dari kepentingan dunia pertama dalam membangun good image-nya. Upaya memproklamirkan dirinya tetap sebagai negara dunia pertama dengan membangun masyarakat sipil yang baik, memperbaiki adat yang merugikan masyarakat, terutama perempuan adalah salah satunya. Sehingga, masyarakat yang tadinya tidak baik menjadi baik atau masyarakat yang baik dilahirkan dari kekacauan masyarakat sebelumnya. Pendapat Spivak ini serupa pula dengan istilah konsep hibriditasnya Deleuze dan Gauttari, dimana hibriditas merupakan sebuah keniscayaan dalam relasi yang selalu beragam. Dengan kata lain, kemurnian selalu berada dalam ketidak murnian.[5] (Negara yang baik terlahir dari kekacauan negara itu sebelumnya).Kembali pada Spivak yang mencoba mendongkrak wacana kekuasaan dunia pertama dalam studi pascakolonial dengan strategi dekonstruksi yang juga aplikasi dari teorinya Derrida. Menurut Spivak, dekonstruksi bukanlah sekadar praktek pembongkaran belaka, yakni pembongkaran kesalahan, melainkan lebih sebagai upaya untuk memeriksa bagaimana kebenaran-kebenaran itu diproduksi dalam dan melalui formasi-formasi social dan politik.[6]Sama halnya dengan Spivak, melihat kondisi perempuan seperti Waimena bagi Trinh Minh-ha adalah gambaran perempuan dunia ketiga.[7] Perempuan dengan beban pekerjaan yang lebih berat daripada lelaki seperti dalam kehidupan suku Dani di Waimena, memberi makan suami dan anak dipagi hari, menggemburkan tanah ladang, mengurus ternak babi, mencari garam ke bukit hingga waktu makan malam tiba adalah pekerjaan rutin perempuan disana. Belum lagi pengorbanan mereka untuk mengiris telinga, melumuri tubuh dengan Lumpur hingga pemotongan jari tangan mereka bagi familiy mereka yang meninggal adalah tradisi yang harus dijalani mereka.Tidak hanya itu, dalam hal perjodohan pun, perempuan Waimena dihargai sama dengan seekor babi; bila seseorang mamak memiliki babi maka ia dapat melamarkan anaknya untuk mempersunting gadis sesuai seleranya. Disisi lain, semakin banyak babi semakin mempermudah suami, bahkan dianjurkan istrinya untuk kawin lagi; dengan demikian beban pekerjaan perempuan itu teratasi.Gambaran ini adalah realitas dari dunia ketiga bagi Trinh. Sebuah bangsa yang terbelakang, terjajah dan tersingkirkan. Meski patut diakui bila akhirnya menjadi powerlees state, perempuan menjadi terlemahkan karenanya. Beban kerja serta tradisi yang merugikan perempuan Waimena adalah konstruksi tradisi atau proses layering yang membentuk continuitas chain, atau Oedipus Complex menurut Deleuze, yang membuat kaum perempuan tak berdaya. Dengan demikian selalu bergantung pada kekuasaan dunia pertama, patriarkhi yang hanya beralih fungsi tetapi berstatus sama; penjajah.Walaupun perempuan di Waimena itu seolah tidak merasakannya justru menikmatinya sebagai tradisi leluhur mereka yang harus diterimakan. Perempuan seolah harus menerima takdir mereka sebagai dunia ketiga; yang terjajah. Oleh karenanya Spivak ingin mengupayakan emansipasi yang terbentuk pascakolonialis tersebut dalam sebuah homogenitas identitas cultural, kolektif dan satu suara agar mereka kaum perempuan bisa mewakili sendiri dirinya.Begitu juga dengan Trinh Minh-ha, gambaran perempuan Waimena yang tetap terlihat bahagia dengan tradisi yang membelenggu kebebasannya itu merupakan pemandangan umum yang terjadi didunia yang terjajah. Minh mengupayakan perempuan untuk bisa melihat dirinya melalui kacamatanya sendiri dan tidak melulu melalui kacamata patriarkhi, dunia pertama. Minh dengan alasan itu ingin menghadapkan perempuan pada realita yang sebenarnya, membangunkan perempuan dari tidurnya agar dapat mensejajarkan mereka dengan dunia pertama. Setidaknya seperti yang sudah dilakukan negara-negara dunia ketiga yang bersatu dan membangun diri dengan mempertaruhkan identitas dan budaya mereka pada dunia pertama telah membuka mata mereka akan kekuatan dunia ketiga yang ternyata patut pula diperhitungkan.
Kesimpulan
Gambaran kehidupan perempuan di Waimena terutama soal pemotongan jari perempuan sebagai tradisi, merupakan contoh serupa yang dipaparkan Gayatri Spivak dengan kasus sati-nya di India. Bagi Spivak perempuan menjadi subaltern baik itu secara internal tradisional maupun secara eksternal kolonial. Oleh karenanya Spivak berupaya untuk mendongkrak fenomena tersebut melalui teori dekonstruksinya Derrida dan wacananya yang ingin membentuk kolektifitas identitas cultural perempuan. Spivak berharap dan tidak setuju dengan konsep subaltern bagi perempuan.Demikian juga bagi Trinh Minh-ha, gambaran kehidupan perempuan Waimena yang terhinakan tersebut merupakan wacana yang terjadi didunia ketiga. Dunia yang selalu dikategorikan sebagai yang tersisih, urban, kumuh dan rendah. Perempuan sebagai dunia ketiga bagi Minh terjadi karena adanya proses infinite layering yang membentuk Oedipus Complex dalam istilah Deleuze sehingga selalu ada asal usul kolonialisme dalam pembentukannya. Dan ini yang diupayakan Minh agar perempuan/dunia ketiga dapat melihat dirinya sendiri tanpa meminjam lagi kacamata kolonialis, sehingga upaya tersebut dapat membuat dunia ketiga tidak lagi dipandang sebelah mata oleh dunia Barat. Begitu juga dengan yang dipaparkan Edward Said dalam bukunya Orientalisme, dimana ada ketidak seimbangan dari cara Barat dalam melihat Timur.[8]Kalau boleh dilihat, kata kolonialisme umumnya dipahami sebagai penguasaan banga Barat atas Timur yang dimulai sejak petualangan bangsa-bangsa Eropa dari abad kelima belas hingga duapuluh. Namun, seperti kata J.C. Young, bentuk-bentuk kolonialis diperluas lagi wacananya menjadi bersifat lintas waktu.[9] Dimana persoalan-persoalan pascakolonialis ini belum juga selesai hingga sekarang, persoalan dari negara-negara yang pernah dijajah mengalami proses yang berbeda-beda, seperti India yang dijajah Inggris, berbeda dengan Indonesia yang dijajah Belanda.Budaya bangsa yang pernah terjajah hingga saat ini masih menyisakan produk-produk jajahannya meski telah melewati masa penjajahan tersebut, sebagai misal di Indonesia yang masih menggunakan peraturan perundang-undangan warisan penjajah yang didalamnya tidak banyak memuat hak-hak kaum perempuan dan tentu saja menjadi sangat merugikan kaum perempuan. Tidak hanya itu, ideology ras putih lebih tinggi disbanding ras coklat dan warna lainnnya juga merupakan kolonialisme yang mereka bangun untuk pengukuhan dominasi dirinya. Hingga kini, kolonialis itu masih saja ada hanya saja masuk dengan jalan yang berbeda.
Reference;-
Edward Said, Orientalisme, Pustaka Bandung, 1978- M.H. Nurul Huda, Membongkar Kekerasan Epistemis, Kanisius, Jogja, 2004- Trinh Minh-ha, Infinite Layer/Third World, 1989, acuan dosen- Sunaryo, Rasisme dalam Hasrat Kolonialisme, Kanisius, Jogja,2004- Tatik Cahyani, Perempuan Waimena, Journal Perempuan edisi XIII th.2000- Gayatri Spivak, Can Subaltern Speak? 1988, Acuan dosen- Gilles Deleuze dan Felix Guattari, A thausand Plateaus, Univ of Minnesota Press, 1991[1] Tatik Cahyani, Perempuan Waimena, Journal Perempuan edisi XIII th.2000[2] Gayatri Spivak, Can Subaltern Speak? 1988, Acuan dosen, hal.610[3] Sunaryo, Rasisme dalam Hasrat Kolonialisme, Kanisius, Jogja,2004 hal.124[4] ibid, Sunaryo…lihat juga Gilles Deleuze dan Felix Guattari, A thausand Plateaus, Univ of Minnesota Press, 1991,hal.202[5] ibid Sunaryo hal.128[6] M.H. Nurul Huda, Membongkar Kekerasan Epistemis, Kanisius, Jogja, 2004 hal.113[7] Trinh Minh-ha, Infinite Layer/Third World, 1989, acuan dosen hal. 607[8] Edward Said, Orientalisme, Pustaka Bandung, 1978 hal.6[9] Ibid Sunaryo hal.125