Sabtu, 23 Agustus 2008

Maafkan aku cinta...............

bagiku, cinta pada manusia itu tidaklah nyata. cinta manusia tak lebih dari muatan hasrat pusar semata. ketika kita mencintai seseorang, sesungguhnya apakah yang terjadi??? keinginan memiliki dia, ingin menguasainya, ingin dia memenuhi apa yang kita ingini, ingin mencumbuinya dengan alih-alih melindungi, menjaga atau dengan bahasa; mencintainya. benarkah semua itu makna dari mencintai? tidakkah itu cuma muatan keinginan kita terhadap seseorang, alias hasrat, nafsu diri ingin menguasai? atas nama cinta, ciuman terjadi, atas nama cinta, kepasrahan menyerahkan diripun terjadi. saat itu biasanya kata-kata yang terucap adalah; 'karena aku mencintaimu' tapi lihatlah lebih jeli. apa iya itu cinta? cinta atau nafsu?

apa bedanya cinta dan nafsu kalau begitu? menurut Shindunata yang mengarang buku 'Anak bajang...Cinta adalah kerelaan melepaskan kekasihnya untuk mencari bahagia. mungkin ini bisa juga berarti, cinta itu seharusnya membebaskan, tidak membelenggu. mencintai dia berarti merelakan dia menjadi dirinya, bukan menjadikannya seperti diri kita. merelakan apa yang bisa membuatnya bahagia, artinya, memberi kebebasan dia mencari apa yang bisa membahagiakan dirinya. tidak justru membelenggu, tidak terikat oleh segala sesuatu yang atas nama 'ingin melindungi'lalu berbuat aturannya sendiri.

cinta, seharusnya membahagiakan, bukan membuat kesengsaraan..............

memang dalam cinta ada pengorbanan. sebagai bentuk kerelaan diri melakukan apa saja demi sang kekasih. namun, sekali lagi...perlu kerelaan hati. jika cinta membuat salah satunya merasa teraniaya, tersiksa, tertekan, atau tak merasa bahagia, maka itu bukan cinta.............
karena cinta hadir tanpa ada yang memaksa. ia datang pada siapa saja yang menginginkannya. jika cinta hadir tanpa kerelaan hati, pasti tidak akan membuat kita bahagia. karena ada beban yang tersimpan, ada keterpaksaan, ada kecemasan maka ada ketidak bahagiaan.

cinta bisa juga adalah kehilangan...karena ketika kita mencintai seseorang, begitu telah didapatkan, makna cinta itu sendiri sudah tak berarti, tak ada alias hilang. begitu kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan (cintai) maka setelah di dapat, maka keinginan sudah terpenuhi dan keinginan (cinta) itupun hilang.

cinta yang sesungguhnya itu menuntut kerelaan hati, kebesaran jiwa dan keinginan selalu untuk memberi, tanpa berharap kembali (diberi). cinta yang sesungguhnya itu tak pernah berselimutkan kepentingan diri. cinta yang sesungguhnya itu selalu memaafkan kekasihnya, selalu ada dalam sakit atau sehatnya, dalam sedih dan tawanya, dalam ingat dan lupanya. cinta manusia tak seperti itu...............

cinta manusia penuh muatan kepentingan dan berkendaraan nafsu.
maka itu, aku tak pernah bisa bilang cinta pada manusia.....

karena pemilik cinta sesungguhnya itu adalah sang maha.
satu-satunya yang mencintaiku tanpa syarat dan selalu ada dimana aku ada, dalam kondisi apapun juga........maka kekasih sejatiku adalah 'DIA'
Allah Subhanahu Wata'ala.

cintaku pada manusia, hanyalah hasrat dunia...tanpa bermunafik-ria, selama aku tinggal di dunia aku pasti masih membutuhkannya. tapi kusebut ia bukan cinta, tapi hasrat dunia.
karena memang ia terdiri dari hasrat-hasrat berbau dunia........

ketika ingin melampiaskan hasrat ini pada seseorang, pun tak bisa sembarangan.
tubuhku perlu merasa nyaman. lingkungan sekitar pun perlu merasa aman.
jika keduanya belum yakin terpenuhi, maka, aku pasti akan mencari seribu alasan untuk membuat merasa nyaman.

Rabiah Al adawiyah, pernah bilang; 'tubuh ini bisa kau miliki tapi pikiranku tidak'.
Plato bilang, tubuh adalah penjara jiwa................
aku bilang, kebebasan hanyalah ada di wacana.